← Kembali ke pelajaran
Hari 100 Langkah 1 / 9 +10 XP

Bacaan

Baca pelan. Tap setiap kata untuk lihat arti per-kata. Resapi makna sebelum lanjut.

Panduan warna Tajwid
  • Ghunnah (dengung)
  • Qalqalah (pantulan)
  • Ikhfa' (samar)
  • Ikhfa' Syafawi
  • Iqlab (pembalikan)
  • Idgham Bighunnah
  • Idgham Bilaghunnah
  • Idgham Syafawi
  • Idgham Mutajanisain / Mutaqaribain
  • Mad Thabi'i (2 harakat)
  • Mad Jaiz (2/4/6 harakat)
  • Mad Wajib Muttasil (4-5)
  • Mad Lazim (6 harakat)
  • Hamzah Wasl / huruf tak dibaca / Lam Syamsiyah

Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).

Al-Munafiqun · 1
﴿ 1 ﴾

إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُنَـٰفِقُونَ قَالُواْ نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ لَكَـٰذِبُونَ

إِذَا
idhā
Apabila
جَآءَكَ
jāaka
datang kepadamu
ٱلْمُنَـٰفِقُونَ
l-munāfiqūna
orang-orang munafik
قَالُوا۟
qālū
mereka berkata
نَشْهَدُ
nashhadu
Kami bersaksi
إِنَّكَ
innaka
sesungguhnya kamu
لَرَسُولُ
larasūlu
sungguh adalah Rasul
ٱللَّهِ ۗ
l-lahi
Allah
وَٱللَّهُ
wal-lahu
Dan Allah
يَعْلَمُ
yaʿlamu
Dia mengetahui
إِنَّكَ
innaka
sesungguhnya kamu
لَرَسُولُهُۥ
larasūluhu
adalah utusan-Nya
وَٱللَّهُ
wal-lahu
dan Allah
يَشْهَدُ
yashhadu
bersaksi
إِنَّ
inna
bahwa
ٱلْمُنَـٰفِقِينَ
l-munāfiqīna
orang-orang munafik
لَكَـٰذِبُونَ
lakādhibūna
mereka benar-benar pendusta

Iżā jā'akal-munāfiqūna qālū nasyhadu innaka larasūlullāh(i), wallāhu ya‘lamu innaka larasūluh(ū), wallāhu yasyhadu innal-munāfiqīna lakāżibūn(a).

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Nabi Muhammad), mereka berkata, “Kami bersaksi bahwa engkau adalah benar-benar utusan Allah.” Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar utusan-Nya. Allah pun bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar para pendusta.

Al-Munafiqun · 2
﴿ 2 ﴾

ٱتَّخَذُوٓاْ أَيْمَـٰنَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّهُمْ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

ٱتَّخَذُوٓا۟
ittakhadhū
mereka mengambil
أَيْمَـٰنَهُمْ
aymānahum
sumpah mereka
جُنَّةًۭ
junnatan
sebagai penutup
فَصَدُّوا۟
faṣaddū
maka mereka berpaling
عَن
ʿan
dari
سَبِيلِ
sabīli
jalan
ٱللَّهِ ۚ
l-lahi
Allah
إِنَّهُمْ
innahum
Sesungguhnya, mereka
سَآءَ
sāa
jahat adalah
مَا
apa
كَانُوا۟
kānū
mereka dahulu
يَعْمَلُونَ
yaʿmalūna
mereka melakukan

Ittakhażū aimānahum junnatan faṣaddū ‘an sabīlillāh(i), innahum sā'a mā kānū ya‘malūn(a).

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai lalu mereka menghalang-halangi (orang lain) dari jalan Allah. Sesungguhnya apa yang selalu mereka kerjakan itu sangatlah buruk.

Al-Munafiqun · 3
﴿ 3 ﴾

ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمْ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ

ذَٰلِكَ
dhālika
Itu
بِأَنَّهُمْ
bi-annahum
adalah karena mereka
ءَامَنُوا۟
āmanū
mereka beriman
ثُمَّ
thumma
kemudian
كَفَرُوا۟
kafarū
mereka kafir
فَطُبِعَ
faṭubiʿa
maka disegel
عَلَىٰ
ʿalā
atas
قُلُوبِهِمْ
qulūbihim
hati mereka
فَهُمْ
fahum
maka mereka
لَا
jangan
يَفْقَهُونَ
yafqahūna
mereka memahami

Żālika bi'annahum āmanū ṡumma kafarū faṭubi‘a ‘alā qulūbihim fahum lā yafqahūn(a).

Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian kufur. Maka, hati mereka dikunci sehingga tidak dapat mengerti.

Al-Munafiqun · 4
﴿ 4 ﴾

۞ وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ‌ۖ وَإِن يَقُولُواْ تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ‌ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ‌ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ‌ۚ هُمُ ٱلْعَدُوُّ فَٱحْذَرْهُمْ‌ۚ قَـٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ‌ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

۞ وَإِذَا
wa-idhā
Dan ketika
رَأَيْتَهُمْ
ra-aytahum
kamu melihat mereka
تُعْجِبُكَ
tuʿ'jibuka
menyenangkanmu
أَجْسَامُهُمْ ۖ
ajsāmuhum
tubuh mereka
وَإِن
wa-in
dan jika
يَقُولُوا۟
yaqūlū
mereka berbicara
تَسْمَعْ
tasmaʿ
suara yang samar
لِقَوْلِهِمْ ۖ
liqawlihim
terhadap perkataan mereka
كَأَنَّهُمْ
ka-annahum
seolah-olah mereka
خُشُبٌۭ
khushubun
potongan-potongan kayu
مُّسَنَّدَةٌۭ ۖ
musannadatun
disandarkan
يَحْسَبُونَ
yaḥsabūna
Mereka mengira
كُلَّ
kulla
setiap
صَيْحَةٍ
ṣayḥatin
teriakan
عَلَيْهِمْ ۚ
ʿalayhim
atas mereka
هُمُ
humu
mereka
ٱلْعَدُوُّ
l-ʿaduwu
adalah musuh
فَٱحْذَرْهُمْ ۚ
fa-iḥ'dharhum
maka waspadalah terhadap mereka
قَـٰتَلَهُمُ
qātalahumu
Semoga membinasakan mereka
ٱللَّهُ ۖ
l-lahu
Allah
أَنَّىٰ
annā
Bagaimana
يُؤْفَكُونَ
yu'fakūna
mereka dipalingkan

Wa iżā ra'aitahum tu‘jibuka ajsāmuhum, wa iy yaqūlū tasma‘ liqaulihim, ka'annahum khusyubum musannadah(tun), yaḥsabūna kulla ṣaiḥatin ‘alaihim, humul-‘aduwwu faḥżarhum, qātalahumullāh(u), annā yu'fakūn(a).

Apabila engkau melihat mereka, tubuhnya mengagumkanmu. Jika mereka bertutur kata, engkau mendengarkan tutur katanya (dengan saksama karena kefasihannya). Mereka bagaikan (seonggok) kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan (kutukan) ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka, waspadalah terhadap mereka. Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?

Al-Munafiqun · 5
﴿ 5 ﴾

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ ٱللَّهِ لَوَّوْاْ رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ

وَإِذَا
wa-idhā
Dan ketika
قِيلَ
qīla
dikatakan
لَهُمْ
lahum
bagi mereka
تَعَالَوْا۟
taʿālaw
Kemarilah
يَسْتَغْفِرْ
yastaghfir
akan memohon ampun
لَكُمْ
lakum
bagi kalian
رَسُولُ
rasūlu
Rasul
ٱللَّهِ
l-lahi
Allah
لَوَّوْا۟
lawwaw
mereka memalingkan
رُءُوسَهُمْ
ruūsahum
kepala mereka
وَرَأَيْتَهُمْ
wara-aytahum
dan kamu melihat mereka
يَصُدُّونَ
yaṣuddūna
menghalangi
وَهُم
wahum
sedangkan mereka
مُّسْتَكْبِرُونَ
mus'takbirūna
sombong

Wa iżā qīla lahum ta‘ālau yastagfir lakum rasūlullāhi lawwau ru'ūsahum wa ra'aitahum yaṣuddūna wa hum mustakbirūn(a).

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman) agar Rasulullah memohonkan ampunan bagimu,” mereka membuang muka dan engkau melihat mereka menolak (ajakan itu) sambil menyombongkan diri.

Al-Munafiqun · 6
﴿ 6 ﴾

سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَهُمْ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَـٰسِقِينَ

سَوَآءٌ
sawāon
(Itu) sama
عَلَيْهِمْ
ʿalayhim
bagi mereka
أَسْتَغْفَرْتَ
astaghfarta
apakah kamu memohon ampun
لَهُمْ
lahum
bagi mereka
أَمْ
am
atau
لَمْ
lam
Tidak
تَسْتَغْفِرْ
tastaghfir
memohon ampun
لَهُمْ
lahum
bagi mereka
لَن
lan
Tidak akan
يَغْفِرَ
yaghfira
akan mengampuni
ٱللَّهُ
l-lahu
Allah
لَهُمْ ۚ
lahum
bagi mereka
إِنَّ
inna
Sesungguhnya
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
لَا
tidak
يَهْدِى
yahdī
memberi petunjuk
ٱلْقَوْمَ
l-qawma
kaum itu
ٱلْفَـٰسِقِينَ
l-fāsiqīna
orang-orang yang durhaka

Sawā'un ‘alaihim astagfarta lahum am lam tastagfir lahum, lay yagfirallāhu lahum, innallāha lā yahdil-qaumal-fāsiqīn(a).

Sama saja bagi mereka apakah engkau (Nabi Muhammad) memohonkan ampunan untuk mereka atau tidak, Allah tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum fasik.

Al-Munafiqun · 7
﴿ 7 ﴾

هُمُ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنفِقُواْ عَلَىٰ مَنْ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّواْ‌ۗ وَلِلَّهِ خَزَآئِنُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ

هُمُ
humu
mereka
ٱلَّذِينَ
alladhīna
mereka yang
يَقُولُونَ
yaqūlūna
mereka berkata
لَا
Jangan
تُنفِقُوا۟
tunfiqū
membelanjakan
عَلَىٰ
ʿalā
atas
مَنْ
man
barang siapa
عِندَ
ʿinda
ada pada
رَسُولِ
rasūli
Rasul
ٱللَّهِ
l-lahi
Allah
حَتَّىٰ
ḥattā
hingga
يَنفَضُّوا۟ ۗ
yanfaḍḍū
mereka bubar
وَلِلَّهِ
walillahi
dan bagi Allah
خَزَآئِنُ
khazāinu
perbendaharaan
ٱلسَّمَـٰوَٰتِ
l-samāwāti
langit
وَٱلْأَرْضِ
wal-arḍi
dan bumi
وَلَـٰكِنَّ
walākinna
tetapi
ٱلْمُنَـٰفِقِينَ
l-munāfiqīna
orang-orang munafik
لَا
jangan
يَفْقَهُونَ
yafqahūna
mereka memahami

Humul-lażīna yaqūlūna lā tunfiqū ‘alā man ‘inda rasūlillāhi ḥattā yanfaḍḍū, wa lillāhi khazā'inus-samāwāti wal-arḍ(i), wa lākinnal-munāfiqīna lā yafqahūn(a).

Merekalah orang-orang yang berkata (kepada kaum Ansar), “Janganlah bersedekah kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah sampai mereka bubar (meninggalkan Rasulullah),” padahal milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengerti.

Al-Munafiqun · 8
﴿ 8 ﴾

يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى ٱلْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ ٱلْأَعَزُّ مِنْهَا ٱلْأَذَلَّ‌ۚ وَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَـٰكِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

يَقُولُونَ
yaqūlūna
mereka berkata
لَئِن
la-in
Jika
رَّجَعْنَآ
rajaʿnā
kami kembali
إِلَى
ilā
kepada
ٱلْمَدِينَةِ
l-madīnati
Al-Madinah
لَيُخْرِجَنَّ
layukh'rijanna
pasti akan mengusir
ٱلْأَعَزُّ
l-aʿazu
yang lebih mulia
مِنْهَا
min'hā
darinya
ٱلْأَذَلَّ ۚ
l-adhala
diberi tangguh
وَلِلَّهِ
walillahi
tetapi bagi Allah
ٱلْعِزَّةُ
l-ʿizatu
adalah kehormatan
وَلِرَسُولِهِۦ
walirasūlihi
dan untuk Rasul-Nya
وَلِلْمُؤْمِنِينَ
walil'mu'minīna
dan bagi orang-orang mukmin
وَلَـٰكِنَّ
walākinna
tetapi
ٱلْمُنَـٰفِقِينَ
l-munāfiqīna
orang-orang munafik
لَا
jangan
يَعْلَمُونَ
yaʿlamūna
mereka mengetahui

Yaqūlūna la'ir raja‘nā ilal-madīnati layukhrijannal-a‘azzu minhal-ażall(a), wa lillāhil-‘izzatu wa lirasūlihī wa lil-mu'minīna wa lākinnal-munāfiqīna lā ya‘lamūn(a).

Mereka berkata, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (dari perang Bani Mustaliq), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana,” padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin. Akan tetapi, orang-orang munafik itu tidak mengetahui.

Al-Munafiqun · 9
﴿ 9 ﴾

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٲلُكُمْ وَلَآ أَوْلَـٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ‌ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَـٰسِرُونَ

يَـٰٓأَيُّهَا
yāayyuhā
Wahai
ٱلَّذِينَ
alladhīna
kamu (yang)
ءَامَنُوا۟
āmanū
beriman
لَا
jangan
تُلْهِكُمْ
tul'hikum
mengalihkanmu
أَمْوَٰلُكُمْ
amwālukum
harta kalian
وَلَآ
walā
dan tidak
أَوْلَـٰدُكُمْ
awlādukum
anak-anakmu
عَن
ʿan
dari
ذِكْرِ
dhik'ri
(peringatan)
ٱللَّهِ ۚ
l-lahi
Allah
وَمَن
waman
Dan barangsiapa
يَفْعَلْ
yafʿal
dia melakukan
ذَٰلِكَ
dhālika
itu
فَأُو۟لَـٰٓئِكَ
fa-ulāika
maka mereka itu
هُمُ
humu
mereka
ٱلْخَـٰسِرُونَ
l-khāsirūna
orang-orang yang merugi

Yā ayyuhal-lażīna āmanū lā tulhikum amwālukum wa lā aulādukum ‘an żikrillāh(i), wa may yaf‘al żālika fa ulā'ika humul-khāsirūn(a).

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Al-Munafiqun · 10
﴿ 10 ﴾

وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقْنَـٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

وَأَنفِقُوا۟
wa-anfiqū
Dan infakkanlah
مِن
min
dari
مَّا
apa
رَزَقْنَـٰكُم
razaqnākum
Kami telah memberimu rezeki
مِّن
min
dari
قَبْلِ
qabli
sebelum
أَن
an
[bahwa]
يَأْتِىَ
yatiya
datang
أَحَدَكُمُ
aḥadakumu
kepada salah seorang di antara kamu
ٱلْمَوْتُ
l-mawtu
kematian
فَيَقُولَ
fayaqūla
dan dia berkata
رَبِّ
rabbi
Tuhanku
لَوْلَآ
lawlā
Mengapa tidak
أَخَّرْتَنِىٓ
akhartanī
Engkau menunda saya
إِلَىٰٓ
ilā
kepada
أَجَلٍۢ
ajalin
suatu batas waktu
قَرِيبٍۢ
qarībin
dekat
فَأَصَّدَّقَ
fa-aṣṣaddaqa
maka aku akan bersedekah
وَأَكُن
wa-akun
dan aku menjadi
مِّنَ
mina
di antara
ٱلصَّـٰلِحِينَ
l-ṣāliḥīna
orang-orang saleh

Wa anfiqū mimmā razaqnākum min qabli ay ya'tiya aḥadakumul-mautu fa yaqūla rabbi lau lā akhkhartanī ilā ajalin qarīb(in), fa aṣṣaddaqa wa akum minaṣ-ṣāliḥīn(a).

Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.”

Al-Munafiqun · 11
﴿ 11 ﴾

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا‌ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

وَلَن
walan
Namun tidak akan pernah
يُؤَخِّرَ
yu-akhira
akan ditunda
ٱللَّهُ
l-lahu
demi Allah
نَفْسًا
nafsan
jiwa
إِذَا
idhā
apabila
جَآءَ
jāa
telah datang
أَجَلُهَا ۚ
ajaluhā
batas waktunya
وَٱللَّهُ
wal-lahu
Dan Allah
خَبِيرٌۢ
khabīrun
Maha Mengetahui
بِمَا
bimā
tentang apa
تَعْمَلُونَ
taʿmalūna
kalian kerjakan

Wa lay yu'akhkhirallāhu nafsan iżā jā'a ajaluhā, wallāhu khabīrum bimā ta‘malūn(a).

Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.