1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Al-Fil (سورة الفيل) adalah surah ke-105 dalam mushaf Al-Qur'an, terdiri dari lima ayat yang sangat padat makna. Berdasarkan kesepakatan (ijma') para ulama tafsir dan ahli Al-Qur'an, surah ini tergolong sebagai surah Makkiyah, yaitu surah yang diturunkan di Mekah sebelum peristiwa Hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam karyanya Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an mengkategorikannya sebagai surah Makkiyah tanpa ada perselisihan di kalangan ulama. Demikian pula, Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menegaskan, "Surah ini adalah Makkiyah menurut kesepakatan semua ulama."
Dalam urutan kronologis penurunan wahyu, surah ini menempati urutan ke-19. Para ulama seperti Az-Zarkashi dalam Al-Burhan fi 'Ulum al-Qur'an dan riwayat yang masyhur dari Jabir bin Zaid menempatkannya turun setelah Surah Al-Kafirun dan sebelum Surah Al-Falaq. Posisi ini menempatkan Surah Al-Fil pada periode awal hingga pertengahan dakwah di Mekah. Ini adalah masa ketika Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang masih berjumlah sedikit menghadapi penentangan yang sengit, intimidasi, dan penganiayaan dari kaum kafir Quraisy. Pesan-pesan yang turun pada periode ini umumnya berfokus pada penguatan akidah, peneguhan hati Nabi ﷺ dan kaum mukminin, serta memberikan peringatan keras kepada kaum musyrikin dengan menyebutkan kisah-kisah umat terdahulu yang dibinasakan karena kesombongan dan penolakan mereka terhadap risalah Allah.
Konteks dakwah pada saat itu sangatlah berat. Kaum Quraisy, yang merupakan kaum Nabi ﷺ sendiri, menolak ajaran tauhid secara terang-terangan. Mereka menggunakan segala cara, mulai dari ejekan, fitnah, hingga siksaan fisik, untuk menghentikan dakwah Islam. Dalam suasana yang penuh tekanan inilah, Allah menurunkan Surah Al-Fil. Surah ini tidak datang dalam ruang hampa, melainkan sebagai sebuah pengingat yang sangat kuat dan relevan bagi penduduk Mekah saat itu. Ia mengingatkan mereka akan sebuah peristiwa besar yang terjadi tidak lama sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, sebuah peristiwa yang mereka semua ketahui dan bahkan menjadi tonggak penanggalan mereka, yaitu Peristiwa Pasukan Gajah ('Am al-Fil).
Dengan demikian, surah ini berfungsi ganda: sebagai peneguh hati bagi kaum muslimin bahwa Allah Mahakuasa untuk melindungi hamba-Nya dan rumah-Nya (Ka'bah), sebagaimana Dia telah melakukannya di masa lalu; dan sebagai ancaman terselubung bagi kaum Quraisy, bahwa kekuatan dan kekuasaan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan Allah. Jika Allah mampu menghancurkan pasukan gajah Abrahah yang perkasa, maka Dia pun sangat mampu untuk membinasakan kaum Quraisy yang menentang utusan-Nya, meskipun mereka adalah penjaga Ka'bah sekalipun.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Dalam disiplin ilmu 'Ulum al-Qur'an, asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) biasanya merujuk pada peristiwa atau pertanyaan spesifik yang terjadi pada masa Nabi ﷺ yang kemudian menjadi latar belakang langsung turunnya sebuah ayat atau surah. Namun, untuk Surah Al-Fil, para ulama besar di bidang ini, seperti Imam Al-Wahidi dalam kitabnya Asbab an-Nuzul dan Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, tidak menyebutkan adanya riwayat sabab nuzul yang spesifik dalam pengertian tersebut. Artinya, surah ini tidak turun sebagai jawaban atas pertanyaan seorang sahabat atau sebagai komentar langsung atas sebuah insiden yang baru saja terjadi di Mekah pada masa dakwah.
Sebaliknya, surah ini turun sebagai sebuah tadzkir (peringatan) dan ibrah (pelajaran) dengan merujuk pada sebuah peristiwa sejarah besar yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab, khususnya penduduk Mekah. Peristiwa yang dimaksud adalah serangan pasukan bergajah pimpinan Abrahah al-Asyram, gubernur Yaman di bawah kekuasaan Kerajaan Aksum (Habasyah), yang bertujuan untuk menghancurkan Ka'bah. Peristiwa ini terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, sekitar 570 atau 571 Masehi, yang kemudian dikenal sebagai Tahun Gajah ('Am al-Fil).
Oleh karena itu, "sebab turunnya" surah ini bukanlah sebuah kejadian kecil, melainkan keseluruhan narasi historis tentang kegagalan Abrahah. Allah menurunkan surah ini untuk mengingatkan kaum Quraisy, yang banyak di antara sesepuh mereka menyaksikan langsung peristiwa itu atau mendengar ceritanya dari orang tua mereka, tentang nikmat agung dan perlindungan luar biasa yang telah Allah berikan kepada mereka dan kepada Baitullah. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menjelaskan bahwa ini adalah salah satu nikmat Allah kepada kaum Quraisy, di mana Allah menyelamatkan mereka dari tentara Habasyah yang telah bertekad menghancurkan Ka'bah. Allah menghancurkan musuh mereka dan menunjukkan kekuasaan-Nya yang mutlak.
Dengan demikian, meskipun tidak ada sabab nuzul dalam artian teknis, konteks historis dari Peristiwa Gajah itu sendiri adalah inti dari pesan dan tujuan diturunkannya surah ini. Ia berfungsi sebagai argumen yang tak terbantahkan bagi penduduk Mekah tentang kekuasaan Allah dan kesucian Baitullah, yang seharusnya mendorong mereka untuk menyembah Tuhan Yang Esa yang telah melindunginya, bukan berhala-berhala yang tidak berdaya.
3. Konteks Historis & Sosial
Untuk memahami kedalaman pesan Surah Al-Fil, kita harus menyelami detail peristiwa historis yang menjadi latar belakangnya. Kisah ini diriwayatkan secara terperinci dalam kitab-kitab sirah, terutama As-Sirah an-Nabawiyyah oleh Ibn Hisham, dan juga diuraikan oleh para mufasir agung seperti Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan dan Ibn Kathir.
Kisah ini bermula dari Abrahah al-Asyram, seorang panglima dari Kerajaan Aksum (Habasyah/Ethiopia) yang berhasil merebut kekuasaan di Yaman. Untuk menunjukkan kekuasaannya dan menyaingi Ka'bah di Mekah yang menjadi pusat spiritual dan ziarah bangsa Arab, Abrahah membangun sebuah katedral yang sangat megah di Shan'a, ibu kota Yaman. Bangunan ini ia namakan Al-Qullays. Tujuannya adalah untuk mengalihkan ritual haji bangsa Arab dari Ka'bah ke katedralnya. Ia secara terbuka mendeklarasikan niatnya ini, yang tentu saja menyulut kemarahan dan kebencian di kalangan bangsa Arab yang sangat memuliakan Ka'bah.
Ibn Hisham meriwayatkan bahwa kemarahan ini memuncak ketika seorang pria dari suku Kinanah (yang berkerabat dengan Quraisy) pergi ke Shan'a dan melumuri dinding Al-Qullays dengan kotoran pada malam hari sebagai bentuk penghinaan. Ketika Abrahah mengetahui hal ini, amarahnya meledak. Ia bersumpah akan membalas dendam dengan menghancurkan Ka'bah hingga rata dengan tanah.
Abrahah kemudian mempersiapkan pasukan yang sangat besar dan kuat, yang belum pernah disaksikan oleh bangsa Arab sebelumnya. Pasukan ini dilengkapi dengan seekor gajah perang yang sangat besar bernama Mahmud, yang ditempatkan di barisan terdepan untuk merobohkan dinding Ka'bah. Dalam perjalanannya menuju Mekah, Abrahah menaklukkan setiap suku Arab yang mencoba menghalanginya. Seorang pemimpin Yaman bernama Dzu Nafar mencoba melawannya, namun ia dikalahkan dan ditawan. Begitu pula dengan Nufail bin Habib al-Khath'ami yang juga mencoba melawan namun akhirnya menyerah dan menjadi penunjuk jalan bagi pasukan Abrahah.
Ketika pasukan Abrahah tiba di Al-Mughammas, sebuah lokasi di dekat Mekah, mereka merampas harta penduduk, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad ﷺ dan pemimpin kaum Quraisy saat itu. Abdul Muthalib kemudian mendatangi Abrahah untuk bernegosiasi. Abrahah, yang pada awalnya terkesan dengan wibawa Abdul Muthalib, menjadi kecewa ketika Abdul Muthalib hanya meminta kembali unta-untanya dan tidak memohon agar Ka'bah tidak dihancurkan.
Di sinilah dialog legendaris terjadi. Ketika Abrahah bertanya mengapa ia hanya peduli pada untanya, Abdul Muthalib menjawab dengan kalimat yang menunjukkan keimanan yang mendalam, "Adapun unta-unta itu, akulah pemiliknya. Sedangkan Baitullah (Ka'bah), ia memiliki Tuhannya sendiri yang akan melindunginya" (inna lil-ibili rabban wa inna lil-baiti rabban sayamna'uhu). Jawaban ini, sebagaimana dicatat oleh At-Tabari, menunjukkan keyakinan bahwa perlindungan Ka'bah berada di luar kemampuan manusia dan berada sepenuhnya dalam kekuasaan Ilahi.
Setelah mengembalikan unta-unta Abdul Muthalib, Abrahah memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju menuju Mekah. Namun, keajaiban terjadi. Gajah Mahmud, yang menjadi andalan mereka, tiba-tiba berhenti dan berlutut, menolak untuk berjalan selangkah pun ke arah Ka'bah. Setiap kali mereka mengarahkannya ke selatan, utara, atau timur, ia bangkit dan berlari. Namun, begitu diarahkan ke Mekah, ia kembali berlutut. Di tengah kebingungan inilah, pertolongan Allah datang.
Seperti yang digambarkan dalam surah, Allah mengirimkan thairan ababil, burung-burung yang datang secara berbondong-bondong. Para ulama tafsir, mengutip riwayat dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu dan 'Ikrimah, menjelaskan bahwa ababil berarti berkelompok-kelompok atau bergelombang. Burung-burung ini membawa batu-batu kecil dari sijjil (tanah liat yang dibakar). Setiap burung membawa tiga batu: satu di paruhnya dan dua di cakarnya. Mereka melempari pasukan Abrahah dengan batu-batu tersebut. Meskipun kecil, batu-batu itu memiliki daya hancur yang luar biasa. Siapa pun yang terkena batu itu akan hancur dan binasa. Tubuh mereka melepuh dan daging mereka berjatuhan. Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil mengutip berbagai riwayat yang menggambarkan kengerian yang menimpa pasukan tersebut.
Pasukan Abrahah menjadi panik dan lari tunggang-langgang, binasa di sepanjang jalan. Abrahah sendiri terkena batu itu dan tubuhnya membusuk sedikit demi sedikit hingga ia mati mengenaskan setibanya kembali di Yaman. Allah menjadikan tipu daya mereka sia-sia dan mengubah mereka menjadi seperti 'asfin ma'kul, daun-daun kering yang dimakan ulat, hancur berkeping-keping. Peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi seluruh bangsa Arab, meninggikan status Ka'bah dan kaum Quraisy sebagai penduduk Tanah Suci yang dilindungi Tuhan.
4. Tema Sentral Surah
Tema sentral Surah Al-Fil adalah penegasan atas kekuasaan absolut Allah (qudratullah) dan perlindungan-Nya terhadap apa yang Dia sucikan, serta peringatan keras terhadap kesombongan dan kezaliman.
Demonstrasi Kekuasaan Allah yang Tak Terbatas: Surah ini secara gamblang menunjukkan bahwa kekuatan militer, teknologi (gajah perang pada masa itu), dan perencanaan manusia yang paling canggih sekalipun tidak ada artinya di hadapan kehendak Allah. Allah menggunakan makhluk-Nya yang tampak lemah (burung-burung kecil) untuk mengalahkan pasukan yang perkasa. Ini adalah pesan abadi bahwa kemenangan dan kekalahan sepenuhnya berada di tangan Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman, kisah ini merupakan salah satu tanda (ayat) kebesaran Allah yang paling agung. Allah bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ (dan kepada kita semua), "Tidakkah engkau memperhatikan...?" Ini adalah ajakan untuk merenungkan bukti nyata ini agar iman semakin kokoh.
Perlindungan Ilahi terhadap Baitullah: Ka'bah adalah rumah pertama yang dibangun untuk ibadah kepada Allah di muka bumi. Peristiwa Gajah menegaskan statusnya yang suci dan bahwa ia berada di bawah perlindungan langsung dari Tuhannya. Ini adalah nikmat besar bagi kaum Quraisy, yang karena keberadaan Ka'bah di tengah mereka, mereka dihormati dan aman dalam perjalanan mereka. Pesan ini sangat relevan bagi kaum Quraisy pada masa Nabi, yang justru menyekutukan Tuhan Pemilik Ka'bah dengan berhala-berhala.
Ancaman bagi Para Penentang Risalah: Secara implisit, surah ini merupakan ancaman bagi kaum Quraisy. Pesannya seolah-olah mengatakan: "Wahai Quraisy, ingatlah bagaimana Tuhanmu membinasakan pasukan Abrahah yang jauh lebih kuat darimu ketika mereka hendak menyerang Rumah-Nya. Tidakkah kalian takut bahwa Tuhan yang sama akan membinasakan kalian karena kalian menentang dan menyakiti Rasul-Nya, yang jauh lebih mulia di sisi-Nya daripada sekadar bangunan Ka'bah?" Imam At-Tabari menyoroti bagaimana surah ini mengingatkan nikmat Allah kepada Quraisy agar mereka bersyukur dan taat.
Hubungan (munasabah) surah ini dengan surah berikutnya, Surah Quraisy, sangatlah erat dan tidak terpisahkan. Surah Al-Fil menceritakan bagaimana Allah menghancurkan musuh yang mengancam keamanan Mekah. Surah Quraisy melanjutkan dengan menjelaskan buah dari keamanan tersebut: kebiasaan kaum Quraisy untuk bepergian (berdagang) di musim dingin dan musim panas dengan aman. Karena nikmat keamanan (diselamatkan dari pasukan gajah) dan nikmat kecukupan (diberi makan dari kelaparan) inilah, maka Allah memerintahkan mereka, "Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) Rumah ini (Ka'bah)." Banyak ulama salaf, termasuk Ubay bin Ka'ab, menganggap keduanya seolah-olah satu surah karena keterkaitan tematik yang sangat kuat ini.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Dalam kitab-kitab hadits primer maupun sekunder, tidak ditemukan riwayat hadits yang shahih atau hasan yang secara spesifik menyebutkan keutamaan khusus bagi orang yang membaca Surah Al-Fil. Tidak ada anjuran untuk membacanya pada waktu tertentu atau untuk tujuan tertentu di luar konteks ibadah umum.
Ini adalah sebuah prinsip penting dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah: keutamaan sebuah amalan ibadah harus didasarkan pada dalil yang sahih dari Al-Qur'an atau Sunnah Nabi ﷺ. Jika tidak ada dalil khusus, maka kita tidak boleh menetapkannya. Menetapkan keutamaan tanpa dalil dapat terjerumus ke dalam perbuatan bid'ah.
Namun, ketiadaan hadits tentang keutamaan khusus tidak mengurangi kemuliaan surah ini. Surah Al-Fil tetaplah bagian dari Kalamullah yang agung. Membacanya, mempelajarinya, dan mentadabburinya termasuk dalam keumuman dalil-dalil tentang keutamaan membaca Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan 'Alif Lam Mim' itu satu huruf, tetapi 'Alif' satu huruf, 'Lam' satu huruf, dan 'Mim' satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, no. 2910, dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani).
Selain itu, ada sebuah riwayat yang menunjukkan praktik sahabat dalam menggabungkan surah ini dengan surah berikutnya dalam shalat. Diriwayatkan bahwa 'Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah membaca Surah Al-Fil pada rakaat pertama dan Surah Quraisy pada rakaat kedua dalam shalat Maghrib. Riwayat lain menyebutkan beliau menggabungkan keduanya dalam satu rakaat. Praktik ini, sebagaimana disebutkan oleh para mufasir seperti Al-Qurthubi, menguatkan pandangan tentang adanya hubungan tematik yang sangat erat antara kedua surah tersebut.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para ulama salaf, dari kalangan sahabat dan tabi'in, telah memberikan penjelasan berharga mengenai detail lafaz dan makna dalam Surah Al-Fil. Penafsiran mereka menjadi rujukan utama bagi para mufasir setelahnya.
Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, sang turjuman al-Qur'an (penerjemah Al-Qur'an), memberikan penjelasan kunci untuk beberapa istilah. Mengenai thairan ababil, beliau menafsirkannya sebagai "burung yang datang berkelompok-kelompok, sebagian mengikuti sebagian yang lain." (Diriwayatkan oleh At-Tabari). Mengenai sijjil, beliau menjelaskan bahwa kata ini berasal dari bahasa Persia yang di-arab-kan, yang aslinya adalah sang dan gil, berarti "batu" dan "tanah liat". Jadi, hijarah min sijjil adalah batu yang berasal dari tanah liat yang mengeras atau dibakar. (Diriwayatkan oleh At-Tabari dalam Jami' al-Bayan).
'Ikrimah, murid senior dari Ibn Abbas, memberikan deskripsi lebih detail tentang burung-burung tersebut. Ia berkata, "Itu adalah burung-burung hijau yang keluar dari laut, kepalanya seperti kepala binatang buas." Riwayat lain darinya menyebutkan, "Kepalanya seperti kepala burung pemangsa." Deskripsi-deskripsi ini, meskipun tidak dapat dipastikan kebenarannya secara mutlak, menunjukkan upaya para salaf untuk memahami keajaiban peristiwa tersebut.
Mujahid bin Jabr, salah satu imam tafsir dari kalangan tabi'in, juga menegaskan bahwa ababil berarti "berkelompok-kelompok dan beriringan."
Qatadah bin Di'amah, seorang tabi'in lainnya, menjelaskan konteks peristiwa ini sebagai sebuah irhas (tanda-tanda awal kenabian) untuk Nabi Muhammad ﷺ. Allah melindungi Mekah dan Ka'bah dari kehancuran untuk mempersiapkan kedatangan nabi terakhir yang akan diutus dari kota tersebut. Ini adalah pandangan yang dipegang oleh banyak ulama, termasuk Ibn Kathir, yang menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi untuk meninggikan kemuliaan Baitullah sebagai persiapan bagi pengutusan Nabi Muhammad ﷺ yang lahir pada tahun yang sama.
Para ulama khalaf (generasi setelahnya) membangun di atas fondasi ini. Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib membahas aspek retorika dari surah ini, bagaimana pertanyaan retoris "Alam tara" (Tidakkah engkau memperhatikan?) memiliki efek yang sangat kuat untuk menarik perhatian pendengar dan membuat mereka mengakui sebuah kebenaran yang tidak bisa mereka sangkal. Ia juga membahas bagaimana Allah menisbatkan perbuatan itu langsung kepada Diri-Nya (fa'ala Rabbuka - Tuhanmu telah bertindak), menunjukkan intervensi Ilahi yang langsung dan disengaja.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Surah Al-Fil, meskipun singkat dan menceritakan peristiwa masa lalu, sarat dengan pelajaran abadi yang sangat relevan bagi kehidupan seorang muslim di setiap zaman.
Keyakinan Penuh pada Kekuasaan Allah: Di dunia modern di mana kekuatan diukur dengan teknologi militer, pengaruh ekonomi, dan kekuatan politik, surah ini mengingatkan kita bahwa ada kekuatan yang jauh lebih tinggi, yaitu kekuasaan Allah. Seorang mukmin tidak boleh merasa kecil hati atau putus asa ketika melihat kekuatan musuh-musuh Islam yang tampak superior. Sebagaimana Allah menghancurkan pasukan gajah dengan burung-burung kecil, Dia mampu memberikan kemenangan kepada hamba-hamba-Nya dari arah yang tidak terduga. Ini menanamkan tawakkul (rasa bersandar) yang sejati kepada Allah.
Akibat dari Kesombongan dan Kedengkian: Motivasi Abrahah adalah kesombongan dan kedengkian terhadap kemuliaan Ka'bah. Ia ingin membangun tandingan dan memaksakan kehendaknya. Surah ini adalah pelajaran keras bahwa kesombongan akan selalu berakhir dengan kehinaan dan kehancuran. Setiap individu, pemimpin, atau bangsa yang bertindak dengan arogansi, menentang syariat Allah, dan mencoba memadamkan cahaya-Nya, pasti akan menghadapi sunnatullah (ketetapan Allah) yang sama.
Pentingnya Mempelajari Sejarah untuk Mengambil Pelajaran: Allah memulai surah ini dengan ajakan untuk "melihat" atau "memperhatikan" sejarah. Ini mengajarkan kita bahwa sejarah bukanlah sekadar kumpulan cerita masa lalu, melainkan sumber ibrah (pelajaran) yang berharga. Dengan mempelajari bagaimana Allah berurusan dengan umat-umat terdahulu, baik yang taat maupun yang durhaka, kita dapat memahami pola-pola ketetapan Allah dan mengambil langkah yang benar dalam hidup kita, baik secara individu maupun kolektif.
Perlindungan Allah Tidak Datang Karena Nasab atau Status, Tapi Karena Iman: Kaum Quraisy diselamatkan bukan karena kesalehan mereka, saat itu mereka adalah penyembah berhala, tetapi karena kemuliaan Baitullah dan sebagai persiapan untuk risalah yang akan datang. Namun, ketika kaum Quraisy yang sama kemudian menentang risalah Nabi Muhammad ﷺ, status mereka sebagai penjaga Ka'bah tidak lagi melindungi mereka dari azab Allah (seperti kekalahan di Perang Badar). Pelajarannya adalah, perlindungan dan pertolongan Allah terikat pada keimanan dan ketaatan, bukan pada status sosial, garis keturunan, atau kedekatan geografis dengan tempat-tempat suci.
8. Penutup & Doa
Surah Al-Fil adalah sebuah monumen abadi dalam Al-Qur'an yang mengisahkan tentang intervensi Ilahi yang menakjubkan untuk melindungi Rumah-Nya yang suci dan menghancurkan arogansi manusia. Ia adalah surah yang menggetarkan hati, membangkitkan rasa takjub akan kekuasaan Allah, dan menanamkan keyakinan yang kokoh di hati orang-orang beriman. Pesan utamanya jelas: tidak ada kekuatan yang dapat menandingi kekuatan Allah, dan setiap tipu daya yang ditujukan untuk menentang kebenaran-Nya pada akhirnya akan hancur dan sia-sia.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran yang mendalam dari surah yang agung ini, memperkuat tawakal kita kepada Allah, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesombongan yang dapat mengundang murka-Nya.
Allahumma faqqihna fi diinika wa 'allimna at-ta'wil. Rabbana anzilna munzalan mubarakan wa anta khairul munzilin.
(Ya Allah, berikanlah kami pemahaman yang mendalam dalam agama-Mu dan ajarkanlah kami takwilnya. Ya Tuhan kami, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat).
والله أعلم
(Dan Allah Maha Mengetahui yang sebenarnya).