Di pengujung Surat Al-Qari'ah ayat 9, Allah subhanahu wa ta'ala memberikan peringatan pamungkas yang menggetarkan hati tentang nasib mereka yang ringan timbangan kebaikannya: Fa ummuhu hawiyah (tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah). Ayat ini merupakan puncak dari narasi Surat Al-Qari'ah yang bertujuan menyentak kesadaran manusia akan dahsyatnya Hari Kiamat. Sering kali, kita terjebak dalam pemahaman tawakal yang keliru, mengira bahwa berserah diri berarti boleh berhenti beramal. Padahal, ayat ini menegaskan bahwa tanpa amal yang memberatkan timbangan, tempat kembali kita adalah jurang kebinasaan.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan pemilihan kata yang sangat mendalam namun menakutkan dalam ayat ini. Kata Umm (أُمّ) secara harfiah berarti ibu. Neraka Hawiyah disebut sebagai "ibu" bagi para pendosa karena neraka tersebut akan mendekap dan memeluk mereka erat-erat, persis seperti seorang ibu yang mendekap anaknya yang terjatuh, namun ini adalah pelukan azab yang tiada akhir. Mereka yang di dunia enggan berlelah-lelah dalam ketaatan dengan dalih "pasrah pada takdir", kelak akan menemukan bahwa tempat bernaung mereka hanyalah jurang api.
Tawakal yang benar harus senantiasa diiringi dengan ikhtiar dan rasa takut akan dosa. Perhatikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berikut:
"Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang dikurungnya, ia tidak memberinya makan dan tidak juga melepasnya hingga ia dapat mencari makan dari hewan bumi sampai mati." [Sunan Ibnu Majah 4206, derajat: tidak tersedia]
Menariknya, Imam Az-Zuhri saat meriwayatkan hadits ini memberikan catatan penting bahwa peringatan semacam ini disampaikan "supaya seseorang itu tidak hanya bertawakkal dan tidak berputus asa." Wanita tersebut zalim dan tidak beramal saleh, lalu mengabaikan ikhtiar yang benar. Kita tidak bisa sekadar bertawakal mengharap rahmat Allah jika tangan kita masih menahan hak makhluk lain atau enggan beramal.
Untuk membangun tawakal yang menyelamatkan kita dari Hawiyah, mari terapkan langkah berikut:
- Iringi tawakal dengan ikhtiar maksimal. Jangan jadikan tawakal sebagai alasan untuk malas beribadah atau bekerja. Tawakal adalah kepasrahan hati, sedangkan amal adalah kewajiban fisik.
- Periksa kembali timbangan harian. Tanyakan pada diri sendiri setiap malam, apakah hari ini lebih banyak amal saleh yang memberatkan timbangan kebaikan, atau kelalaian yang meringankannya.
- Jauhi kezaliman sekecil apa pun. Sebagaimana wanita yang masuk neraka karena menzalimi seekor kucing, dosa yang diremehkan bisa menyeret kita ke dalam dekapan Hawiyah.
Tawakal sejati adalah kepasrahan hati yang lahir setelah keringat ikhtiar dan amal saleh kita teteskan. والله أعلم
Daftar hadits di bawah ini diberikan ke AI sebagai konteks RAG. Klik untuk membaca teks lengkap.
Musnad Ahmad 1006
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ يَعْنِي الطَّوِيلَ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِأَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَوَامَّ الْإِبِلِ نُصِيبُهَا قَالَ ضَالَّةُ الْمُسْلِمِ حَرَقُ النَّارِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] berkata, telah menceritakan kepada kami [Humaid] yaitu Ath-Thawil, telah menceritakan kepada kami [Al Hasan] dari [Mutharrif] dari [Bapaknya] ada seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah, jika ada unta yang telah tertidur, apakah kami bisa mengambilnya?. Beliau bersabda: "Barang yang hilang dari seorang muslim adalah api neraka yang membakar."
Musnad Ahmad 1967
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَسْلَمُ أَبُو عِمْرَانَ عَنْ هُبَيْبٍ الْغِفَارِيِّ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَطِئَ عَلَى إِزَارِهِ خُيَلَاءَ وَطِئَ فِي نَارِ جَهَنَّمَTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ishaq] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Lahi'ah] dari [Yazid bin Abu Habib] ia berkata, telah mengabarkan kepadaku [Aslam Abu Imran] dari [Hubaib Al Ghifari] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menginjak kainnya karena sombong, maka ia akan menginjaknya kelak di dalam neraka."
Musnad Ahmad 525
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَسْلَمُ أَبُو عِمْرَانَ عَنْ هُبَيْبٍ الْغِفَارِيِّ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَطِئَ عَلَى إِزَارِهِ خُيَلَاءَ وَطِئَ فِي نَارِ جَهَنَّمَTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ishaq] berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Lahi'ah] dari [Yazid bin Abu Habib] berkata; telah mengabarkan kepadaku [Aslam Abu 'Imron] dari [Hubaib Mughfil Al Ghifari] berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Barangsiapa yang menginjak sarungnya karena sombong, maka dia menginjak Neraka Jahannam".
Musnad Ahmad 2831
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْجَذْمِيِّ عَنِ الْجَارُودِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ضَالَّةُ الْمُسْلِمِ حَرَقُ النَّارِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahab], telah menceritakan kepada kami [Khalid] dari [Yazid bin Abdullah bin Syikhkhir] dari [Abu Muslim Al Jadzmi] dari [Al Jarud] bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Hewan (barang) seorang muslim yang hilang adalah pembakar api neraka."
Musnad Ahmad 3491
حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ عُتْبَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ مُعَيْقِيبٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِTerjemahan. Telah bercerita kepada kami [Khalaf bin Al Walid] telah bercerita kepada kami [Ayyub bin 'Utbah] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Abu Salamah] dari [Mu'aiqib] berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Celakalah tumit-tumit (yang tidak tersentuh air, merupakan bagian) dari neraka."
Shahih Bukhari 5736 shahih
حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى ثَلَاثِ طَرَائِقَ رَاغِبِينَ رَاهِبِينَ وَاثْنَانِ عَلَى بَعِيرٍ وَثَلَاثَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَأَرْبَعَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَعَشَرَةٌ عَلَى بَعِيرٍ وَيَحْشُرُ بَقِيَّتَهُمْ النَّارُ تَقِيلُ مَعَهُمْ حَيْثُ قَالُوا وَتَبِيتُ مَعَهُمْ حَيْثُ بَاتُوا وَتُصْبِحُ مَعَهُمْ حَيْثُ أَصْبَحُوا وَتُمْسِي مَعَهُمْ حَيْثُ أَمْسَوْاTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Mu'alla bin Asad] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] dari [Ibnu Thawus] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bersabda: "Manusia dikumpulkan di hari kiamat dengan tiga jalan, untuk manusia yang harap-harap cemas, dua jalan untuk mereka yang menunggang unta, tiga jalan lagi untuk mereka yang menunggang unta, empat jalan lagi untuk mereka yang menunggang unta, dan sepuluh jalan lagi untuk mereka yang menunggang unta, sedang sisanya disatukan oleh neraka, neraka itu selalu menyertai mereka ketika mereka tidur siang, tidur malam, berpagi hari, dan bersore hari."
Musnad Ahmad 2830
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ وَأَحْمَدُ الْحَدَّادُ قَالَ ثَنَا سُفْيَانُ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ الشِّخِّيرِ عَنِ الْجَارُودِ الْعَبْدِيِّ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَضَالَّةُ الْمُسْلِمِ حَرَقُ النَّارِ فَلَا تَقْرَبَنَّهَاTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq], telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dan [Ahmad Al Haddad] ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Khalid Al Hadza`] dari [Yazid bin Abdullah bin Syikhkhir] dari [Mutharrif bin Syikhkhir] dari [Al Jarud Al 'Abdi] secara marfu' kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Hewan (barang) seorang muslim yang hilang adalah pembakar api neraka, maka janganlah sekali-kali kamu mendekatinya."
Sunan Ibnu Majah 4206
قَالَ الزُّهْرِيُّ وَحَدَّثَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلَتْ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْقَالَ الزُّهْرِيُّ لِئَلَّا يَتَّكِلَ رَجُلٌ وَلَا يَيْئَسَ رَجُلٌTerjemahan. (Masih dari jalur periwayatan yang sama dengan hadits sebelumnya) [Az Zuhri] berkata; dan telah menceritakan kepadaku [Humaid bin Abdurrahman] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Seorang wanita masuk neraka karena seekor kucing yang di karungnya, ia tidak memberinya makan dan tidak juga melepasnya hingga ia dapat mencari makan dari hewan bumi sampai mati." Az Zuhri berkata; "Supaya seseorang itu tidak hanya bertawakkal dan tidak berputus asa."