لَآ أُقْسِمُ بِيَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ
Lā uqsimu biyaumil-qiyāmah(ti).
Aku bersumpah demi hari Kiamat.
القيٰمة
Hari Kiamat · 40 ayat
Surah Al-Qiyamah secara sentral membahas kepastian dan realitas Hari Kiamat, menyoroti tanda-tandanya, kebangkitan kembali, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Surah ini menekankan keimanan akan akhirat sebagai motivasi utama untuk beramal saleh dan meninggalkan kemungkaran.
Surah ini menegaskan kepastian hari kiamat dan hisab, serta mengingatkan manusia agar tidak terbuai kehidupan dunia.
Surah Al-Qiyamah berfokus pada kepastian hari kebangkitan dan pertanggungjawaban amal manusia di hadapan Allah. Allah menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak untuk menyatukan kembali tulang-belulang manusia yang telah hancur, membantah keraguan kaum musyrikin yang mengingkari hari akhir.
Selain itu, surah ini menyoroti kondisi jiwa manusia, terutama jiwa yang selalu menyalahkan dirinya sendiri (nafs lawwamah) atas dosa dan kelalaian. Pesan moral yang dominan adalah peringatan agar manusia tidak terlalu mencintai dunia yang fana dan mengabaikan akhirat yang kekal.
Surah ini diturunkan di Makkah saat kaum musyrikin secara terang-terangan menolak konsep kebangkitan setelah kematian. Mereka menantang Nabi Muhammad dengan pertanyaan meremehkan tentang kapan kiamat terjadi dan bagaimana tulang yang hancur bisa utuh kembali. Allah merespons tantangan tersebut dengan penegasan kekuasaan-Nya yang tak terbatas.
Surah Al-Muddassir sebelumnya diakhiri dengan peringatan tentang neraka bagi mereka yang mendustakan hari pembalasan. Surah Al-Qiyamah kemudian merinci bagaimana dahsyatnya hari pembalasan itu terjadi. Setelah itu, surah Al-Insan menjelaskan proses penciptaan manusia dari ketiadaan hingga menjadi makhluk yang diuji dengan ketaatan.
Situasi Terjebak dalam rutinitas kerja yang padat hingga menunda-nunda waktu shalat.
Pesan surah Dunia ini fana dan menyilaukan, jangan sampai ia mengalahkan prioritas akhirat kita.
Langkah kecil Pasang alarm adzan dan segera tinggalkan pekerjaan sejenak saat waktunya tiba.
Situasi Merasa bersalah setelah melakukan kesalahan atau maksiat namun ragu untuk bertaubat.
Pesan surah Jiwa yang menyesali dosa (nafs lawwamah) adalah tanda kebaikan dan keimanan yang masih hidup.
Langkah kecil Ucapkan istighfar dengan penuh penyesalan dan bertekad tidak mengulanginya.
Situasi Menghadapi penyakit parah atau mengingat kematian orang terdekat yang terasa menakutkan.
Pesan surah Kematian adalah gerbang pasti menuju pertemuan dengan Allah yang harus dipersiapkan, bukan sekadar ditakuti.
Langkah kecil Baca doa husnul khatimah setiap selesai shalat fardhu hari ini.
Surah ini memuliakan nafs lawwamah, yaitu jiwa yang terus mengevaluasi dan mencela dirinya atas kekurangan dalam beramal. Muhasabah membantu kita menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Cara praktis Luangkan waktu 5 menit sebelum tidur untuk mengevaluasi amal baik dan buruk yang dilakukan hari ini, lalu tutup dengan istighfar.
Hari ini, luangkan waktu 5 menit dalam kesunyian untuk merenungkan tujuan hidup Anda dan beristighfar atas kelalaian yang telah lalu.
9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.
Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا قُطْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ مَا…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib]; Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Adam]; Telah menceritakan kepada kami [Quthbah] dari [Al A'masy] dari [Muslim] dari [Masruq] dari ['Abdullah] dia…
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ و…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Al Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] berkata, Rasul…
و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ و…
Dan Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] ia berkata, saya telah membacakan kepada [Malik] dari [Abdullah bin Dinar] dari [Ibnu Umar] radliallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasa…
Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.
Surat Al-Qiyamah ditutup dengan sebuah pertanyaan retoris yang mengguncang jiwa dalam ayat 40, Alaysa dzaalika biqaadirin 'ala an yuhyiya almawtaa. Ayat ini merupakan konklusi logis dari rangkaian…
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Qiyamah ayat 39: faja’ala minhu az-zawjaini adz-dzakara wal-untsa (Lalu, Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan). Ayat ini merupa…
Dalam perjalanan hidup yang penuh ketidakpastian, sering kali hati kita goyah karena beban tawakal yang terasa berat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita akan hakikat asal-usul manusia dala…
Dalam Surat Al-Qiyamah ayat 37, Allah SWT berfirman, a lam yaku nuthfatan mim maniyyiy yumna (Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan?). Ayat ini merupakan bagian dari argumen kuat dalam…
Dalam menapaki jalan kehidupan, seringkali kita merasa lelah atau kehilangan arah, seolah-olah perjuangan kita tidak memiliki tujuan akhir yang jelas. Al-Qur'an menjawab kegelisahan ini dalam Surat…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Warna Tajwid
Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.
✓ Warna aktif
Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).
لَآ أُقْسِمُ بِيَوْمِ ٱلْقِيَـٰمَةِ
Lā uqsimu biyaumil-qiyāmah(ti).
Aku bersumpah demi hari Kiamat.
وَلَآ أُقْسِمُ بِٱلنَّفْسِ ٱللَّوَّامَةِ
Wa lā uqsimu bin nafsil-lawwāmah(ti).
Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَـٰنُ أَلَّن نَّجْمَعَ عِظَامَهُۥ
Ayaḥsabul-insānu allan najma‘a ‘iẓāmah(ū).
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?
بَلَىٰ قَـٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّىَ بَنَانَهُۥ
Balā qādirīna ‘alā an nusawwiya banānah(ū).
Tentu, (bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.
بَلْ يُرِيدُ ٱلْإِنسَـٰنُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُۥ
Bal yurīdul-insānu liyafjura amāmah(ū).
Akan tetapi, manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus.
يَسْــَٔلُ أَيَّانَ يَوْمُ ٱلْقِيَـٰمَةِ
Yas'alu ayyāna yaumul-qiyāmah(ti).
Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”
فَإِذَا بَرِقَ ٱلْبَصَرُ
Fa iżā bariqal-baṣar(u).
Apabila mata terbelalak (ketakutan),
وَخَسَفَ ٱلْقَمَرُ
Wa khasafal-qamar(u).
bulan pun telah hilang cahayanya,
وَجُمِعَ ٱلشَّمْسُ وَٱلْقَمَرُ
Wa jumi‘asy-syamsu wal-qamar(u).
serta matahari dan bulan dikumpulkan,
يَقُولُ ٱلْإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ ٱلْمَفَرُّ
Yaqūlul-insānu yauma'iżin ainal-mafarr(u).
pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”
كَلَّا لَا وَزَرَ
Kallā lā wazar(a).
Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung.
إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمُسْتَقَرُّ
Ilā rabbika yauma'iżinil-mustaqarr(u).
(Hanya) kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.
يُنَبَّؤُاْ ٱلْإِنسَـٰنُ يَوْمَئِذِۭ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ
Yunabba'ul-insānu yauma'iżim bimā qaddama wa akhkhar(a).
Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dia kerjakan dan apa yang telah dia lalaikan.
بَلِ ٱلْإِنسَـٰنُ عَلَىٰ نَفْسِهِۦ بَصِيرَةٌ
Balil-insānu ‘alā nafsihī baṣīrah(tun).
Bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ
Wa lau alqā ma‘āżīrah(ū).
walaupun dia mengemukakan alasan-alasan(-nya).
لَا تُحَرِّكْ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِۦٓ
Lā tuḥarrik bihī lisānaka lita‘jala bih(ī).
Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya.
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُۥ وَقُرْءَانَهُۥ
Inna ‘alainā jam‘ahū wa qur'ānah(ū).
Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya.
فَإِذَا قَرَأْنَـٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ
Fa iżā qara'nāhu fattabi‘ qur'ānah(ū).
Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu.
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُۥ
Ṡumma inna ‘alainā bayānah(ū).
Kemudian, sesungguhnya tugas Kami (pula)-lah (untuk) menjelaskannya.
كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ ٱلْعَاجِلَةَ
Kallā bal tuḥibbūnal-‘ājilah(ta).
Sekali-kali tidak! Bahkan, kamu mencintai kehidupan dunia,
وَتَذَرُونَ ٱلْأَخِرَةَ
Wa tażarūnal-‘ākhirah(ta).
dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ
Wujūhuy yauma'iżin nāḍirah(tun).
Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Ilā rabbihā nāẓirah(tun).
(karena) memandang Tuhannya.
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذِۭ بَاسِرَةٌ
Wa wujūhuy yauma'iżim bāsirah(tun).
Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram
تَظُنُّ أَن يُفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ
Taẓunnu ay yuf‘ala bihā fāqirah(tun).
(karena) mereka yakin akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat.
كَلَّآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلتَّرَاقِىَ
Kallā iżā balagatit-tarāqiy(a).
Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai di kerongkongan,
وَقِيلَ مَنْۜ رَاقٍ
Wa qīla man…rāq(in).
dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang (dapat) menyembuhkan?”
وَظَنَّ أَنَّهُ ٱلْفِرَاقُ
Wa ẓanna annahul-firāq(u).
Dia pun yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia),
وَٱلْتَفَّتِ ٱلسَّاقُ بِٱلسَّاقِ
Waltaffatis-sāqu bis-sāq(i).
dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan).
إِلَىٰ رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ ٱلْمَسَاقُ
Ilā rabbika yauma'iżinil-masāq(u).
Kepada Tuhanmulah pada hari itu (manusia) digiring.
فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلَّىٰ
Falā ṣaddaqa wa lā ṣallā.
Dia tidak membenarkan (Al-Qur’an dan Rasul) dan tidak melaksanakan salat.
وَلَـٰكِن كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ
Wa lākin każżaba wa tawallā.
Akan tetapi, dia mendustakan (Al-Qur’an) dan berpaling (dari kebenaran).
ثُمَّ ذَهَبَ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ يَتَمَطَّىٰٓ
Ṡumma żahaba ilā ahlihī yatamaṭṭā.
Kemudian, dia pergi kepada keluarganya dengan menyombongkan diri.
أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰ
Aulā laka fa'aulā.
Celakalah kamu! Maka, celakalah!
ثُمَّ أَوْلَىٰ لَكَ فَأَوْلَىٰٓ
Ṡumma aulā laka fa'aulā.
Kemudian, celakalah kamu! Maka, celakalah!
أَيَحْسَبُ ٱلْإِنسَـٰنُ أَن يُتْرَكَ سُدًى
Ayaḥsabul-insānu ay yutraka sudā(n).
Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِىٍّ يُمْنَىٰ
Alam yaku nuṭfatam mim maniyyiy yumnā.
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)?
ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ
Ṡumma kāna ‘alaqatan fa khalaqa fa sawwā.
Kemudian, (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Dia menciptakan dan menyempurnakannya.
فَجَعَلَ مِنْهُ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ
Fa ja‘ala minhuz-zaujainiż-żakara wal-unṡā.
Lalu, Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.
أَلَيْسَ ذَٲلِكَ بِقَـٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحْــِۧىَ ٱلْمَوْتَىٰ
Alaisa żālika biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā.
Bukankah (Allah) itu kuasa (pula) menghidupkan orang mati?