← Daftar Pelajaran
Hari 112 · Al-Qiyamah · Ayat 1–40

Manusia dan hari kiamat (Al-Qiyamah)

Sumpah demi jiwa yang menyesal; hari wajah berseri dan hari wajah gelap; kematian di tangan Allah.

Niat Hari 112 · Al-Qiyamah ayat 1–40

Tetapkan niat sebelum mulai

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”

(HR. Bukhari & Muslim)

Du'a sebelum membaca Al-Quran:

رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Rabbi zidni ‘ilma

Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. (QS. Taha: 114)

Pilih niat hari ini:

Maqasid Surah Al-Qiyamah القيٰمة
Hari Kiamat · Makkiyyah · 40 ayat

Tema sentral

Surah Al-Qiyamah secara sentral membahas kepastian dan realitas Hari Kiamat, menyoroti tanda-tandanya, kebangkitan kembali, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah. Surah ini menekankan keimanan akan akhirat sebagai motivasi utama untuk beramal saleh dan meninggalkan kemungkaran.

Maqasid (tujuan surah)

  • Menegaskan kepastian datangnya Hari Kiamat dan kebangkitan.
  • Menjelaskan kondisi manusia saat kematian dan di akhirat.
  • Mengajak manusia merenungkan penciptaan untuk membenarkan kebangkitan.

Ayat kunci

Tujuan & Pesan Inti

Maqasid Surah, Al-Qiyamah

Surah ini menegaskan kepastian hari kiamat dan hisab, serta mengingatkan manusia agar tidak terbuai kehidupan dunia.

Tema Sentral

Surah Al-Qiyamah berfokus pada kepastian hari kebangkitan dan pertanggungjawaban amal manusia di hadapan Allah. Allah menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak untuk menyatukan kembali tulang-belulang manusia yang telah hancur, membantah keraguan kaum musyrikin yang mengingkari hari akhir.

Selain itu, surah ini menyoroti kondisi jiwa manusia, terutama jiwa yang selalu menyalahkan dirinya sendiri (nafs lawwamah) atas dosa dan kelalaian. Pesan moral yang dominan adalah peringatan agar manusia tidak terlalu mencintai dunia yang fana dan mengabaikan akhirat yang kekal.

Konteks Turunnya

Surah ini diturunkan di Makkah saat kaum musyrikin secara terang-terangan menolak konsep kebangkitan setelah kematian. Mereka menantang Nabi Muhammad dengan pertanyaan meremehkan tentang kapan kiamat terjadi dan bagaimana tulang yang hancur bisa utuh kembali. Allah merespons tantangan tersebut dengan penegasan kekuasaan-Nya yang tak terbatas.

Tujuan / Maqasid (4)
  • Menegaskan kepastian hari kiamat dan kekuasaan Allah membangkitkan manusia dari kematian.
  • Menggugah kesadaran manusia melalui sumpah dengan jiwa yang selalu mencela dirinya sendiri (nafs lawwamah).
  • Memperingatkan manusia dari sifat tergesa-gesa dan cinta berlebihan terhadap gemerlap dunia.
  • Menjelaskan sakaratul maut sebagai momen penyesalan bagi mereka yang lalai.
Hikmah Utama (4)
  • Jadikan penyesalan atas dosa sebagai motivasi untuk bertaubat, karena jiwa yang menyalahkan diri sendiri sangat dihargai oleh Allah.
  • Jangan biarkan kesibukan pekerjaan dan urusan dunia membuat kita lupa mempersiapkan bekal untuk hari akhir.
  • Ingatlah bahwa setiap anggota tubuh, bahkan ujung jari kita, akan dibentuk kembali dan dimintai pertanggungjawaban.
  • Hadapi ujian dunia dengan sabar, menyadari bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan sejati yang harus diutamakan.
Munasabah

Surah Al-Muddassir sebelumnya diakhiri dengan peringatan tentang neraka bagi mereka yang mendustakan hari pembalasan. Surah Al-Qiyamah kemudian merinci bagaimana dahsyatnya hari pembalasan itu terjadi. Setelah itu, surah Al-Insan menjelaskan proses penciptaan manusia dari ketiadaan hingga menjadi makhluk yang diuji dengan ketaatan.

Kaitan Sehari-Hari
  • Situasi Terjebak dalam rutinitas kerja yang padat hingga menunda-nunda waktu shalat.

    Pesan surah Dunia ini fana dan menyilaukan, jangan sampai ia mengalahkan prioritas akhirat kita.

    Langkah kecil Pasang alarm adzan dan segera tinggalkan pekerjaan sejenak saat waktunya tiba.

  • Situasi Merasa bersalah setelah melakukan kesalahan atau maksiat namun ragu untuk bertaubat.

    Pesan surah Jiwa yang menyesali dosa (nafs lawwamah) adalah tanda kebaikan dan keimanan yang masih hidup.

    Langkah kecil Ucapkan istighfar dengan penuh penyesalan dan bertekad tidak mengulanginya.

  • Situasi Menghadapi penyakit parah atau mengingat kematian orang terdekat yang terasa menakutkan.

    Pesan surah Kematian adalah gerbang pasti menuju pertemuan dengan Allah yang harus dipersiapkan, bukan sekadar ditakuti.

    Langkah kecil Baca doa husnul khatimah setiap selesai shalat fardhu hari ini.

Amalan dari Maqasid

Muhasabah Harian

Surah ini memuliakan nafs lawwamah, yaitu jiwa yang terus mengevaluasi dan mencela dirinya atas kekurangan dalam beramal. Muhasabah membantu kita menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Cara praktis Luangkan waktu 5 menit sebelum tidur untuk mengevaluasi amal baik dan buruk yang dilakukan hari ini, lalu tutup dengan istighfar.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, luangkan waktu 5 menit dalam kesunyian untuk merenungkan tujuan hidup Anda dan beristighfar atas kelalaian yang telah lalu.

Ayat Kunci (3)
  • Ayat 2 Sumpah Allah dengan jiwa yang mencela diri sendiri menunjukkan kemuliaan muhasabah dalam Islam.
  • Ayat 14 Menegaskan bahwa pada akhirnya manusia adalah saksi yang paling tahu atas perbuatannya sendiri.
  • Ayat 20 Mengungkap akar masalah manusia, yaitu terlalu mencintai dunia yang cepat berlalu.

Al-Qiyamah · 1
﴿ 1 ﴾

لَآ اُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ

Lā uqsimu biyaumil-qiyāmah(ti).

Aku bersumpah demi hari Kiamat.

Al-Qiyamah · 2
﴿ 2 ﴾

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

Wa lā uqsimu bin nafsil-lawwāmah(ti).

Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).

Al-Qiyamah · 3
﴿ 3 ﴾

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَلَّنْ نَّجْمَعَ عِظَامَهٗ ۗ

Ayaḥsabul-insānu allan najma‘a ‘iẓāmah(ū).

Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?

Al-Qiyamah · 4
﴿ 4 ﴾

بَلٰى قٰدِرِيْنَ عَلٰٓى اَنْ نُّسَوِّيَ بَنَانَهٗ

Balā qādirīna ‘alā an nusawwiya banānah(ū).

Tentu, (bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.

Al-Qiyamah · 5
﴿ 5 ﴾

بَلْ يُرِيْدُ الْاِنْسَانُ لِيَفْجُرَ اَمَامَهٗۚ

Bal yurīdul-insānu liyafjura amāmah(ū).

Akan tetapi, manusia hendak berbuat maksiat terus-menerus.

Al-Qiyamah · 6
﴿ 6 ﴾

يَسْـَٔلُ اَيَّانَ يَوْمُ الْقِيٰمَةِۗ

Yas'alu ayyāna yaumul-qiyāmah(ti).

Dia bertanya, “Kapankah hari Kiamat itu?”

Al-Qiyamah · 7
﴿ 7 ﴾

فَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ

Fa iżā bariqal-baṣar(u).

Apabila mata terbelalak (ketakutan),

Al-Qiyamah · 8
﴿ 8 ﴾

وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ

Wa khasafal-qamar(u).

bulan pun telah hilang cahayanya,

Al-Qiyamah · 9
﴿ 9 ﴾

وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ

Wa jumi‘asy-syamsu wal-qamar(u).

serta matahari dan bulan dikumpulkan,

Al-Qiyamah · 10
﴿ 10 ﴾

يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ

Yaqūlul-insānu yauma'iżin ainal-mafarr(u).

pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”

Al-Qiyamah · 11
﴿ 11 ﴾

كَلَّا لَا وَزَرَۗ

Kallā lā wazar(a).

Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung.

Al-Qiyamah · 12
﴿ 12 ﴾

اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمُسْتَقَرُّۗ

Ilā rabbika yauma'iżinil-mustaqarr(u).

(Hanya) kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu.

Al-Qiyamah · 13
﴿ 13 ﴾

يُنَبَّؤُا الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍۢ بِمَا قَدَّمَ وَاَخَّرَۗ

Yunabba'ul-insānu yauma'iżim bimā qaddama wa akhkhar(a).

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dia kerjakan dan apa yang telah dia lalaikan.

Al-Qiyamah · 14
﴿ 14 ﴾

بَلِ الْاِنْسَانُ عَلٰى نَفْسِهٖ بَصِيْرَةٌۙ

Balil-insānu ‘alā nafsihī baṣīrah(tun).

Bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri

Al-Qiyamah · 15
﴿ 15 ﴾

وَّلَوْ اَلْقٰى مَعَاذِيْرَهٗۗ

Wa lau alqā ma‘āżīrah(ū).

walaupun dia mengemukakan alasan-alasan(-nya).

Al-Qiyamah · 16
﴿ 16 ﴾

لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ

Lā tuḥarrik bihī lisānaka lita‘jala bih(ī).

Jangan engkau (Nabi Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Qur’an) karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya.

Al-Qiyamah · 17
﴿ 17 ﴾

اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ

Inna ‘alainā jam‘ahū wa qur'ānah(ū).

Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya.

Al-Qiyamah · 18
﴿ 18 ﴾

فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ

Fa iżā qara'nāhu fattabi‘ qur'ānah(ū).

Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu.

Al-Qiyamah · 19
﴿ 19 ﴾

ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ

Ṡumma inna ‘alainā bayānah(ū).

Kemudian, sesungguhnya tugas Kami (pula)-lah (untuk) menjelaskannya.

Al-Qiyamah · 20
﴿ 20 ﴾

كَلَّا بَلْ تُحِبُّوْنَ الْعَاجِلَةَۙ

Kallā bal tuḥibbūnal-‘ājilah(ta).

Sekali-kali tidak! Bahkan, kamu mencintai kehidupan dunia,

Al-Qiyamah · 21
﴿ 21 ﴾

وَتَذَرُوْنَ الْاٰخِرَةَۗ

Wa tażarūnal-‘ākhirah(ta).

dan mengabaikan (kehidupan) akhirat.

Al-Qiyamah · 22
﴿ 22 ﴾

وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌۙ

Wujūhuy yauma'iżin nāḍirah(tun).

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri

Al-Qiyamah · 23
﴿ 23 ﴾

اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ

Ilā rabbihā nāẓirah(tun).

(karena) memandang Tuhannya.

Al-Qiyamah · 24
﴿ 24 ﴾

وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍۢ بَاسِرَةٌۙ

Wa wujūhuy yauma'iżim bāsirah(tun).

Wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram

Al-Qiyamah · 25
﴿ 25 ﴾

تَظُنُّ اَنْ يُّفْعَلَ بِهَا فَاقِرَةٌ ۗ

Taẓunnu ay yuf‘ala bihā fāqirah(tun).

(karena) mereka yakin akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang sangat dahsyat.

Al-Qiyamah · 26
﴿ 26 ﴾

كَلَّآ اِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَۙ

Kallā iżā balagatit-tarāqiy(a).

Sekali-kali tidak! Apabila (nyawa) telah sampai di kerongkongan,

Al-Qiyamah · 27
﴿ 27 ﴾

وَقِيْلَ مَنْ ۜرَاقٍۙ

Wa qīla man…rāq(in).

dan dikatakan (kepadanya), “Siapa yang (dapat) menyembuhkan?”

Al-Qiyamah · 28
﴿ 28 ﴾

وَّظَنَّ اَنَّهُ الْفِرَاقُۙ

Wa ẓanna annahul-firāq(u).

Dia pun yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia),

Al-Qiyamah · 29
﴿ 29 ﴾

وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِۙ

Waltaffatis-sāqu bis-sāq(i).

dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan).

Al-Qiyamah · 30
﴿ 30 ﴾

اِلٰى رَبِّكَ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْمَسَاقُ ۗ ࣖ

Ilā rabbika yauma'iżinil-masāq(u).

Kepada Tuhanmulah pada hari itu (manusia) digiring.

Al-Qiyamah · 31
﴿ 31 ﴾

فَلَا صَدَّقَ وَلَا صَلّٰىۙ

Falā ṣaddaqa wa lā ṣallā.

Dia tidak membenarkan (Al-Qur’an dan Rasul) dan tidak melaksanakan salat.

Al-Qiyamah · 32
﴿ 32 ﴾

وَلٰكِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۙ

Wa lākin każżaba wa tawallā.

Akan tetapi, dia mendustakan (Al-Qur’an) dan berpaling (dari kebenaran).

Al-Qiyamah · 33
﴿ 33 ﴾

ثُمَّ ذَهَبَ اِلٰٓى اَهْلِهٖ يَتَمَطّٰىۗ

Ṡumma żahaba ilā ahlihī yatamaṭṭā.

Kemudian, dia pergi kepada keluarganya dengan menyombongkan diri.

Al-Qiyamah · 34
﴿ 34 ﴾

اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۙ

Aulā laka fa'aulā.

Celakalah kamu! Maka, celakalah!

Al-Qiyamah · 35
﴿ 35 ﴾

ثُمَّ اَوْلٰى لَكَ فَاَوْلٰىۗ

Ṡumma aulā laka fa'aulā.

Kemudian, celakalah kamu! Maka, celakalah!

Al-Qiyamah · 36
﴿ 36 ﴾

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ

Ayaḥsabul-insānu ay yutraka sudā(n).

Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?

Al-Qiyamah · 37
﴿ 37 ﴾

اَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّنْ مَّنِيٍّ يُّمْنٰى

Alam yaku nuṭfatam mim maniyyiy yumnā.

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)?

Al-Qiyamah · 38
﴿ 38 ﴾

ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوّٰىۙ

Ṡumma kāna ‘alaqatan fa khalaqa fa sawwā.

Kemudian, (mani itu) menjadi sesuatu yang melekat, lalu Dia menciptakan dan menyempurnakannya.

Al-Qiyamah · 39
﴿ 39 ﴾

فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْاُنْثٰىۗ

Fa ja‘ala minhuz-zaujainiż-żakara wal-unṡā.

Lalu, Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan.

Al-Qiyamah · 40
﴿ 40 ﴾

اَلَيْسَ ذٰلِكَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ࣖ

Alaisa żālika biqādirin ‘alā ay yuḥyiyal-mautā.

Bukankah (Allah) itu kuasa (pula) menghidupkan orang mati?

Langkah Tadabbur

  1. 1
    Bacaan
    +10 XP
  2. 2
    Kosakata
    +20 XP
  3. 3
    Asbab an-Nuzul
    +10 XP
  4. 4
    Tafsir
    +15 XP
  5. 5
    Munasabah
    +10 XP
  6. 6
    Kuis
    +30 XP
  7. 7
    Renungan
    +25 XP
  8. 8
    Amalan
    +15 XP
  9. 9
    Hafalan
    +20 XP
Eksplorasi lanjutan

Setelah Hari 112, lanjutkan tema Surat Al-Qiyamah