Surah Al-Qiyamah (75) memiliki hubungan tematik yang kuat dengan surah sebelumnya, Al-Muddaththir (74), dan surah sesudahnya, Ad-Dahr/Al-Insan (76). Al-Muddaththir diakhiri dengan peringatan tentang api neraka dan penolakan orang kafir terhadap hari kebangkitan, yang kemudian dijawab dan dipertegas di Al-Qiyamah dengan sumpah Allah atas hari Kiamat dan jiwa yang menyesali diri. Penolakan terhadap kebangkitan kembali tulang-belulang di Al-Qiyamah menjadi jembatan menuju Ad-Dahr yang membahas penciptaan manusia dari setetes air mani, mengisyaratkan kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali apa yang telah Dia ciptakan.
Secara internal, surah ini dimulai dengan sumpah Allah (ayat 1-2) untuk menegaskan kepastian hari Kiamat dan keberadaan jiwa yang menyesal. Ayat-ayat berikutnya (3-6) membantah keraguan manusia tentang kebangkitan dan menyoroti kecenderungan manusia untuk terus-menerus berbuat maksiat karena mengingkari akhirat. Kemudian, surah ini menggambarkan kengerian tanda-tanda Kiamat (7-10) dan ketidakmampuan manusia melarikan diri dari takdir tersebut (11-12), di mana setiap manusia akan dihadapkan pada perbuatan baik dan buruknya (13-15). Transisi yang menarik terjadi pada ayat 16-19, di mana Allah menenangkan Nabi Muhammad tentang proses penerimaan wahyu, menjamin hafalan dan penjelasannya. Penegasan ini mengakhiri bagian yang berfokus pada hari Kiamat dengan mengingatkan bahwa kebenaran wahyu adalah mutlak, yang kemudian kembali mengkritik manusia yang mencintai dunia (ayat 20) sebagai akar pengingkaran mereka terhadap hari akhir.