← Kembali ke pelajaran
Hari 112 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Qiyamah adalah surah Makkiyah berdasarkan ijma' ulama. Imam As-Suyuti dalam Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an dan Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul menegaskan bahwa surah ini turun sebelum hijrah, di Mekah. Urutan turunnya menurut sebagian riwayat adalah setelah Surah Al-Qari'ah dan sebelum Surah Al-Humazah, termasuk dalam fase Mekah akhir ketika tekanan Quraisy semakin keras. Surah ini terdiri dari 40 ayat yang sangat kuat dalam menegakkan akidah hari akhir, menggetarkan jiwa manusia, dan membantah keraguan kaum musyrik. Tema utamanya adalah kepastian hari kiamat, kebangkitan, pembalasan, serta adab menerima wahyu.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Ayat 16-19: Larangan Tergesa-gesa dalam Menerima Wahyu

Riwayat paling shahih dan masyhur adalah mengenai ayat 16-19. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya (Kitab Tafsir, no. 5044) dan Imam Muslim (no. 448) dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika turun wahyu kepada beliau, beliau menggerakkan lidahnya dengan cepat untuk menghafalnya. Maka Allah menurunkan ayat: 'Jangan engkau gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Qur'an karena hendak tergesa-gesa (menguasai)-nya. Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya. Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya tugas Kami (pula)-lah (untuk) menjelaskannya.'" (Q.S. Al-Qiyamah: 16-19). Dalam riwayat Muslim ditambahkan: "Maka apabila Jibril datang kepada Nabi, beliau diam mendengarkan. Apabila Jibril selesai, barulah beliau membacanya."

Ayat 1-4: Pertanyaan Kaum Musyrik tentang Hari Kiamat

Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat 1-4 turun berkenaan dengan 'Adiyy bin Abi Rabi'ah dan Akhnasy bin Syuraiq yang datang kepada Nabi dan bertanya tentang hari kiamat. Setelah Nabi menjelaskan, mereka berkata, "Demi Allah, seandainya kami melihat dengan mata kepala sendiri, kami tetap tidak akan percaya." Maka turunlah ayat: "Aku bersumpah demi hari Kiamat, dan Aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Tentu, (bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna." (QS. 75:1-4). Riwayat lain dari At-Tabari dan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat 3-4 turun ketika seorang laki-laki mendatangi Nabi dan berkata, "Wahai Muhammad, siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?" Maka Allah menjawab dengan ayat tersebut.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain riwayat di atas, tidak ada riwayat lain yang signifikan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat 36-40 juga memiliki asbab nuzul, yaitu ketika seorang musyrik – konon al-Ash bin Wa'il – mengambil tulang yang telah hancur dan meremukkannya di hadapan Nabi seraya berkata, "Apakah Allah dapat menghidupkan ini?" Maka turunlah ayat "Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan sia-sia? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan, kemudian menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Dia menjadikan darinya dua jenis, laki-laki dan perempuan? Bukankah (Allah) yang berbuat demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (QS. 75:36-40). Namun, riwayat ini tidak disebutkan oleh Al-Wahidi dan As-Suyuti dalam kitab asbab an-nuzul mereka. Oleh karena itu, kami tidak memastikannya. Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari mengomentari bahwa riwayat tentang 'Adiyy bin Abi Rabi'ah adalah hasan. Adapun riwayat tentang laki-laki tak bernama, sanadnya shahih. Intinya, semua riwayat ini menguatkan bahwa surah ini turun untuk menegaskan kekuasaan Allah atas kebangkitan.

2.3 Catatan untuk Ayat Lain yang Tidak Memiliki Riwayat Khusus

Untuk ayat 5-15 dan 20-35, tidak ada riwayat spesifik yang menyebutkan asbab an-nuzulnya. Para ulama seperti Imam At-Tabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan As-Sa'di tidak menyebutkan sebab khusus. Namun, ayat-ayat ini secara kontekstual merupakan lanjutan dari tema hari kiamat dan celaan terhadap sikap manusia yang mendustakan dan mencintai dunia. Oleh karena itu, kita dapat memahami bahwa keseluruhan surah ini adalah satu kesatuan yang memperkuat tema sentral tentang keniscayaan hari akhir. Konteks umum turunnya surah ini adalah ketika kaum Quraisy sering memperolok Nabi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kapan terjadinya kiamat, seperti disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur'an. Surah ini menjadi jawaban yang tegas dan gamblang.

3. Konteks Historis & Sosial

Pada periode Mekah, kaum Quraisy sangat materialistis dan terikat pada kehidupan dunia. Mereka menolak gagasan adanya kehidupan setelah mati karena itu bertentangan dengan kepentingan mereka. Mereka juga menekan kaum muslimin secara fisik dan psikologis. Surah Al-Qiyamah turun untuk memperkuat akidah sahabat dan menantang kaum musyrik dengan bukti-bukti logis dan gambaran yang menggetarkan. Keadaan sosial saat itu adalah stratifikasi yang tajam, dan dakwah Islam mengancam status quo. Ayat-ayat awal surah ini secara khusus merespons keraguan dan ejekan tokoh Quraisy seperti 'Adiyy bin Abi Rabi'ah yang terkenal kaya dan berpengaruh. Mereka sering bertanya, "Kapankah hari kiamat itu?" dengan nada mengejek. Maka Allah menjawab dengan sumpah yang agung dan penegasan akan kekuasaan-Nya.

4. Tema Sentral Surah

Tema utama surah ini adalah penegasan akan kepastian hari kiamat, kebangkitan, dan pembalasan. Juga terkandung tema tentang wahyu dan cara penerimaannya oleh Nabi. Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menyebutkan bahwa surah ini berisi peringatan keras bagi orang-orang yang mendustakan dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Munasabah dengan surah sebelumnya (Surah Al-Muddaththir) yang berisi perintah dakwah, surah ini memberikan motivasi dengan mengingatkan akhirat. Dengan surah sesudahnya (Surah Al-Insan), ada hubungan tentang penciptaan manusia dan balasan. Surah ini menampilkan argumen yang kuat: dari penciptaan manusia yang sempurna, Allah mampu menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak ada hadits shahih khusus yang menyebutkan keutamaan surah Al-Qiyamah secara spesifik. Namun, terdapat hadits umum tentang keutamaan membaca Al-Qur'an, seperti sabda Nabi: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim, no. 804). Juga hadits: "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat." (HR. Tirmidzi, no. 2910, hasan shahih). Oleh karena itu, membaca surah Al-Qiyamah termasuk dalam keutamaan ini. Khusus untuk ayat 22-23 tentang melihat Allah, terdapat hadits shahih yang menjelaskan bahwa orang beriman akan melihat Tuhannya di akhirat, sebagaimana mereka melihat bulan purnama. (HR. Bukhari, no. 7437 dan Muslim, no. 182).

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Ibnu Abbas menafsirkan an-nafs al-lawwamah sebagai jiwa yang menyesal atas keburukan yang dilakukan. Mujahid mengatakan ia adalah jiwa yang menyesal. Qatadah mengatakan ia adalah jiwa orang mukmin yang selalu mencela dirinya sendiri. Hasan Al-Bashri juga berpendapat serupa. Tentang ayat 23, "ila rabbiha nazhirah", ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Ahmad, Bukhari, Muslim menetapkan bahwa orang beriman akan melihat Allah di akhirat, berdasarkan hadits shahih. Adapun Mu'tazilah menolak. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa ayat ini termasuk dalil ru'yatullah (melihat Allah) di akhirat. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an juga membahas panjang lebar tentang masalah ini, menguatkan pendapat Ahlus Sunnah. Lebih lanjut, ayat-ayat tentang sakaratul maut (ayat 26-30) ditafsirkan oleh para ulama sebagai gambaran dahsyatnya kematian, terutama bagi orang kafir. Imam At-Tabari meriwayatkan dari beberapa tabi'in bahwa saat sakaratul maut, seorang mukmin akan merasakan beratnya kematian, tetapi akhirnya mendapat kabar gembira, sedangkan orang kafir akan disiksa.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Pentingnya persiapan untuk hari akhir: Surah ini mengingatkan bahwa hari kiamat pasti datang, oleh karena itu setiap muslim hendaknya mempersiapkan bekal iman dan amal saleh. Jangan terlena dengan kehidupan dunia yang sementara.

  2. Adab menerima ilmu: Kisah turunnya ayat 16-19 mengajarkan agar kita tidak tergesa-gesa dalam menuntut ilmu, tetapi mendengarkan dengan saksama dan merenungkannya. Dalam konteks modern, ini relevan dengan etika belajar dan menerima informasi.

  3. Muhasabah (introspeksi diri): Konsep an-nafs al-lawwamah menunjukkan bahwa seorang mukmin senantiasa mengevaluasi dirinya dan menyesali kekurangan. Ini merupakan ciri orang beriman yang selalu ingin memperbaiki diri. Renungkan: Apakah kita sudah menjadi jiwa yang menyesali dosa dan berusaha bertaubat?

  4. Kematian sebagai pengingat: Gambaran sakaratul maut dalam surah ini mengingatkan bahwa kematian tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beramal saleh. Jangan menunda taubat, karena ajal bisa datang sewaktu-waktu.

  5. Keyakinan akan melihat Allah: Bagi orang beriman, harapan tertinggi adalah melihat wajah Allah di surga. Surah ini menegaskan bahwa orang mukmin akan berseri-seri memandang Tuhannya. Hal ini menjadi motivasi terbesar untuk beribadah dengan ikhlas dan istiqamah.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Qiyamah adalah surah yang sarat dengan pelajaran akidah, terutama tentang hari akhir. Semoga kita termasuk orang yang beriman kepada hari kiamat, senantiasa mempersiapkan diri, dan dijauhkan dari sikap mendustakan. Allahumma faqqihna fi dini wa 'allimna ta'wila al-Qur'an, wa inniyal-ladzi qara'ahu fa innahu shafi'un lahu yawma al-qiyamah. Wallahu a'lam.