Dalam perjalanan menapaki tawakal, seringkali hati merasa cemas karena kita terlalu sibuk memandang hasil yang belum tampak, alih-alih menundukkan pandangan kepada keagungan Allah. Allah SWT berfirman dalam An-Nazi'at ayat 9, absharuha khasyi'ah (pandangannya tertunduk). Ayat ini berada di tengah rangkaian ayat yang menggambarkan kedahsyatan hari kiamat, di mana manusia tidak lagi memiliki daya kecuali tunduk sepenuhnya di hadapan kebesaran Allah.
Mufassir besar, Hafiz Ibn Kathir, menjelaskan bahwa ayat ini melukiskan kondisi orang-orang yang dahulu mendustakan hari kebangkitan. Kini, di hadapan kenyataan yang tak terelakkan, mereka tidak lagi memiliki kesombongan. Pandangan mereka tertunduk lemas karena rasa takut yang luar biasa. Jika di dunia mereka berpaling dari kebenaran, di akhirat mereka dipaksa tunduk. Bagi seorang mukmin, khasyi'ah (ketundukan) ini adalah inti dari tawakal. Tawakal bukan sekadar berharap, namun memposisikan hati dalam keadaan tunduk total kepada takdir-Nya sebelum segala sesuatunya terjadi.
Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menjaga pandangan dan kekhusyukan dalam ibadah agar hati tetap terhubung dengan Rabb-nya. Beliau bersabda dalam doa ruku':
"Ya Allah, kepada-Mu aku ruku', kepada-Mu aku pasrah, dan kepada-Mu aku bertawakal. Pendengaranku, pandanganku, darahku, dagingku, tulangku, dan persendianku semua khusyu' (tunduk) kepada Allah, Rabb semesta alam." [Sunan Nasai 1039, derajat: tidak tersedia]
Doa ini adalah kunci tawakal. Ketika Anda merasa cemas akan masa depan, sadarilah bahwa ketergantungan pada hasil duniawi seringkali membuat pandangan hati kita "liar" dan tidak tenang.
Refleksi amaliah untuk menguatkan tawakal:
- Latih ketundukan fisik dan hati saat shalat. Jangan membiarkan pandangan mata berkelana, karena Rasulullah SAW melarang menoleh dalam shalat sebagai bentuk perampasan setan terhadap kekhusyukan [Sunan Abu Dawud 763, derajat: tidak tersedia].
- Saat cemas melanda, ucapkan doa ruku' di atas sebagai pengingat bahwa seluruh organ tubuh Anda, termasuk pandangan Anda, sudah tunduk dalam genggaman Allah.
- Ubah fokus dari "bagaimana cara saya mendapatkan hasil" menjadi "bagaimana cara saya menunjukkan ketundukan (khasyi'ah) di setiap proses".
Tawakal yang benar akan melahirkan ketenangan karena ia berpijak pada ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta. والله أعلم
Daftar hadits di bawah ini diberikan ke AI sebagai konteks RAG. Klik untuk membaca teks lengkap.
Musnad Ahmad 3163
قَالَوَرَأَيْتُهُ يَنْصَرِفُ مَرَّةً عَنْ يَمِينِهِ وَمَرَّةً عَنْ شِمَالِهِTerjemahan. (Masih dari jalur yang sama dengan hadits sebelumnya, dari [Hulub]) Ia berkata; Dan saya melihat beliau menoleh ke kanan sekali dan menoleh ke kiri sekali.
Muwatta Malik 353
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَلَمْ يَكُنْ يَلْتَفِتُ فِي صَلَاتِهِTerjemahan. Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Nafi'], bahwa [Ibnu Umar] tidak pernah menoleh dalam shalatnya."
Sunan Nasai 1040
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ حِمْيَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ وَذَكَرَ آخَرَ قَبْلَهُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا يَقُولُ إِذَا رَكَعَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ أَنْتَ رَبِّي خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَلَحْمِي وَدَمِي وَمُخِّي وَعَصَبِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَTerjemahan. Telah mengabarkan kepada kami [Yahya bin 'Utsman] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Himyar] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Syu'aib] dari [Muhammad bin Al Munkadir] dan yang lain menyebutkan sebelumnya yaitu dari ['Abdurrahman Al A'raj] dari [Muhammad bin Maslamah] bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam apabila berdiri untuk shalat sunnah maka beliau saat ruku' membaca doa - yang artinya -, "Ya Allah, kepada-Mu aku ruku', kepada-Mu aku pasrah, kepada-Mu aku bertawakal. Pendengaranku, pandanganku, darahku, dagingku, tulangku, dan persendianku semua khusyu' (tunduk) kepada Allah, Rabb semesta alam."
Sunan Nasai 1039
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ الْحِمْصِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو حَيْوَةَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ أَنْتَ رَبِّي خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَدَمِي وَلَحْمِي وَعَظْمِي وَعَصَبِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالِمِينَTerjemahan. Telah mengabarkan kepada kami [Yahya bin 'Utsman Al Himshi] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Haiwah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Syu'aib] dari [Muhammad bin Al Munkadir] dari [Jabir bin 'Abdullah] dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, bahwa apabila beliau Shallallahu'alaihi wasallam ruku' maka beliau mengucapkan doa -yang artinya-, "Ya Allah, kepada-Mu aku ruku' kepada-Mu aku pasrah. dan kepada- Mu aku bertawakal. Pendengaranku, pandanganku, darahku, dagingku, tulangku, dan persendianku semua khusyu ' (tunduk) kepada Allah, Rabb semesta alam."
Sunan Ibnu Majah 1000
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ بْنُ يَحْيَى عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَرْفَعُوا أَبْصَارَكُمْ إِلَى السَّمَاءِ أَنْ تَلْتَمِعَ يَعْنِي فِي الصَّلَاةِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Abu Syaibah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Thalhah bin Yahya] dari [Yunus] dari [Az Zuhri] dari [Salim] dari [Ibnu Umar] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian mengangkat pandangan kalian ke atas langit hingga mata kalian buta. " -Yakni dalam shalat-.
Sunan Nasai 1038
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَمِّي الْمَاجِشُونُ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَكَعَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَعِظَامِي وَمُخِّي وَعَصَبِيTerjemahan. Telah mengabarkan kepada kami ['Amr bin 'Ali] dia berkata; telah menceritakan kepada kami ['Abdurrahman bin Mahdi] dia berkata; telah menceritakan kepada kami ['Abdul 'Aziz bin Abu Salamah] dia berkata; telah menceritakan kepada kami pamanku [Al Majisyun bin Abu Salamah] dari ['Abdurrahman Al A'raj] dari ['Ubaidullah bin Abu Rafi'] dari [Ali bin Abu Thalib] bahwa apabila Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam ruku' maka beliau mengucapkan Alloohumma laka Roka'tu walaka aslamtu, wabika aamantu khosya'a laka sam'ii wa bashorii wa'izhoomii wamukhkhii wa 'ashobii yang artinya, 'Ya Allah, kepada-Mu aku ruku', kepada-Mu aku pasrah, dan kepada-Mu aku beriman Pendengaranku, pandanganku, tulangku, otakku, dan persendianku semua khusyu' (tunduk) kepada-Mu."
Musnad Ahmad 1885
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ قَالَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا قَذَفَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي قَلْبِ امْرِئٍ خِطْبَةَ امْرَأَةٍ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَاTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Tsaur] dari [seorang laki-laki Bashrah] dari [Muhamamd bin Maslamah] ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika Allah 'azza wajalla telah memasukkan ke dalam hati seseorang keinginan untuk meminang seorang wanita, maka tidak mengapa jika ia melihatnya."
Sunan Abu Dawud 763
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ الْأَشْعَثِ يَعْنِي ابْنَ سُلَيْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْتِفَاتِ الرَّجُلِ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ إِنَّمَا هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Abu Al Ahwash] dari [Al Asy'ats yaitu Ibnu Sulaim] dari [ayahnya] dari [Masruq] dari [Aisyah radliallahu 'anha] dia berkata; aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam perihal menolehnya seseorang dalam shalatnya, beliau menjawab: "Itu merupakan suatu bentuk perampasaan yang di kerjakan syetan terhadap shalat seorang hamba."