عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ
‘Abasa wa tawallā.
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
عبس
Bermuka Masam · 42 ayat
Surah 'Abasa berpusat pada teguran ilahi kepada Nabi Muhammad SAW mengenai prioritas dakwah. Surah ini menekankan pentingnya kesetaraan dalam menyampaikan risalah Islam, tidak memandang status sosial, serta memberikan perhatian kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, terlepas dari latar belakang mereka. Intinya adalah bimbingan untuk mengelola interaksi dakwah dengan bijak dan adil, sesuai prinsip-prinsip syariat Islam.
Peringatan agar tidak membeda-bedakan manusia dalam berdakwah dan pengingat akan kebesaran Allah serta Hari Kiamat.
Surah ini menyoroti nilai sejati seorang manusia di hadapan Allah yang tidak diukur dari status sosial, melainkan dari ketakwaannya. Allah menegur Nabi Muhammad dengan lembut karena berpaling dari seorang buta yang tulus mencari kebenaran demi melayani pemuka Quraisy. Ini menegaskan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah dan setiap pencari kebenaran berhak mendapat perhatian yang sama.
Selain itu, surah ini menjabarkan nikmat-nikmat Allah yang melimpah pada manusia, mulai dari proses penciptaan hingga rezeki berupa makanan dan tumbuhan, sebagai pengingat agar manusia bersyukur dan tidak angkuh. Kesombongan manusia sangat tidak beralasan mengingat asal mula penciptaannya yang lemah.
Di akhir surah, digambarkan kedahsyatan Hari Kiamat di mana setiap orang akan sibuk dengan urusannya sendiri. Ikatan keluarga akan terputus, dan wajah-wajah manusia akan terbagi menjadi dua golongan, yakni yang berseri-seri karena iman dan yang tertutup debu kehinaan karena kekafiran.
Surah ini diturunkan di Makkah saat Nabi sedang berdakwah kepada para pemuka Quraisy dengan harapan mereka masuk Islam dan memperkuat posisi umat. Tiba-tiba datang Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat buta yang miskin, meminta diajarkan agama. Teguran Allah turun untuk meluruskan prioritas dakwah agar lebih menghargai pencari kebenaran tanpa memandang status sosial.
Surah 'Abasa berhubungan erat dengan surah sebelumnya, An-Nazi'at, yang membahas kedahsyatan Hari Kiamat dan kebangkitan. Surah ini melanjutkannya dengan rincian keadaan manusia yang lari dari keluarganya di hari itu. Sementara dengan surah sesudahnya, At-Takwir, keduanya sama-sama menggambarkan peristiwa alam yang mengerikan saat Kiamat tiba.
Situasi Bertemu orang biasa atau bawahan yang bertanya tentang agama atau kebaikan.
Pesan surah Hargai ketulusan mereka, jangan abaikan demi melayani orang yang lebih berkuasa.
Langkah kecil Luangkan waktu sejenak untuk menjawab atau mendengarkan mereka dengan tulus dan senyuman.
Situasi Merasa bangga dengan pencapaian karir atau kekayaan saat ini.
Pesan surah Manusia diciptakan dari setetes air mani dan sangat bergantung pada rezeki dari Allah.
Langkah kecil Ucapkan istigfar dan akui di dalam hati bahwa semua kesuksesan adalah titipan Allah semata.
Situasi Terlalu sibuk mengurus urusan dunia hingga menunda-nunda ibadah.
Pesan surah Pada hari Kiamat, semua ikatan duniawi akan terputus dan kita akan berdiri sendiri.
Langkah kecil Tetapkan alarm untuk shalat tepat waktu hari ini dan jangan tunda demi pekerjaan.
Surah ini mengajarkan kesetaraan dalam memberikan perhatian kepada siapa saja yang ingin belajar agama atau kebaikan. Kita dianjurkan untuk menyambut tulus setiap niat baik tanpa melihat status sosial.
Cara praktis Berikan perhatian penuh dan jangan bermain ponsel saat ada orang yang mengajak bicara tentang hal-hal yang bermanfaat.
Hari ini, berikan senyuman dan sapaan hangat kepada orang yang sering terabaikan di sekitarmu, seperti petugas kebersihan atau penjaga keamanan.
9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.
Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاقَالَ أ…
Telah menceritakan kepada kami [Umar bin Hafsh] Telah menceritakan kepada kami [bapakku] Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] Telah menceritakan kepadaku [Amru bin Murrah] dari [Sa'id bin Jubair…
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍأَمَرَهُ أَنْ يُسَبِّحَ فِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا يَعْنِي قَوْلَهُ{ وَإِ…
Telah menceritakan kepada kami [Adam] Telah menceritakan kepada kami [Warqa] dari [Ibnu Abu Najih] dari [Mujahid] ia berkata; [Ibnu Abbas] menyuruhnya untuk bertashbih di akhir semua shalat sebagaiman…
Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.
Surat 'Abasa ditutup dengan sebuah peringatan keras pada ayat 42: اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ (Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka). Ayat ini menjadi penutup dari rang…
Dalam surah 'Abasa ayat 41, Allah Ta'ala menggambarkan kondisi orang-orang yang berpaling dari kebenaran di hari kiamat dengan lafaz tarhaquha qatarah. Ayat ini merupakan bagian dari penutup surah…
Dalam Surat 'Abasa ayat 40, Allah SWT berfirman: wa wujuhuy yauma'idzin 'alaiha ghabarah. Ayat ini merupakan bagian dari penggambaran kontras nasib manusia di hari kiamat, di mana Allah memaparkan…
Dalam rangkaian akhir surat 'Abasa, Allah SWT memaparkan gambaran kontras antara nasib manusia di hari kebangkitan. Pada ayat 39, Allah berfirman: ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ (wajah-wajah yang tertaw…
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat ‘Abasa ayat 38: wujuhuy yauma’idzim musfirah (pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri). Ayat ini merupakan bagian dari penutup surat yang men…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Warna Tajwid
Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.
✓ Warna aktif
Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).
عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ
‘Abasa wa tawallā.
Dia (Nabi Muhammad) berwajah masam dan berpaling
أَن جَآءَهُ ٱلْأَعْمَىٰ
An jā'ahul-a‘mā.
karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.
وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ
Wa mā yudrīka la‘allahū yazzakkā.
Tahukah engkau (Nabi Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)
أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكْرَىٰٓ
Au yażżakkaru fatanfa‘ahuż-żikrā.
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran sehingga pengajaran itu bermanfaat baginya?
أَمَّا مَنِ ٱسْتَغْنَىٰ
Ammā manistagnā.
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (para pembesar Quraisy),
فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ
Fa anta lahū taṣaddā.
engkau (Nabi Muhammad) memberi perhatian kepadanya.
وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ
Wa mā ‘alaika allā yazzakkā.
Padahal, tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).
وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسْعَىٰ
Wa ammā man jā'aka yas‘ā.
Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
وَهُوَ يَخْشَىٰ
Wa huwa yakhsyā.
sedangkan dia takut (kepada Allah),
فَأَنتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
Fa anta ‘anhu talahhā.
malah engkau (Nabi Muhammad) abaikan.
كَلَّآ إِنَّهَا تَذْكِرَةٌ
Kallā innahā tażkirah(tun).
Sekali-kali jangan (begitu)! Sesungguhnya (ajaran Allah) itu merupakan peringatan.
فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ
Faman syā'a żakarah(ū).
Siapa yang menghendaki tentulah akan memperhatikannya
فِى صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ
Fī ṣuḥufim mukarrmah(tin).
di dalam suhuf yang dimuliakan (di sisi Allah),
مَّرْفُوعَةٍ مُّطَهَّرَةِۭ
Marfū‘atim muṭahharah(tin).
yang ditinggikan (kedudukannya) lagi disucikan
بِأَيْدِى سَفَرَةٍ
Bi'aidī safarah(tin).
di tangan para utusan (malaikat)
كِرَامِۭ بَرَرَةٍ
Kirāmim bararah(tin).
yang mulia lagi berbudi.
قُتِلَ ٱلْإِنسَـٰنُ مَآ أَكْفَرَهُۥ
Qutilal-insānu mā akfarah(ū).
Celakalah manusia! Alangkah kufur dia!
مِنْ أَىِّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ
Min ayyi syai'in khalaqah(ū).
Dari apakah Dia menciptakannya?
مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُۥ فَقَدَّرَهُۥ
Min nuṭfah(tin), khalaqahū fa qaddarah(ū).
Dia menciptakannya dari setetes mani, lalu menentukan (takdir)-nya.
ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ
Ṡummas-sabīla yassarah(ū).
Kemudian, jalannya Dia mudahkan.
ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقْبَرَهُۥ
Ṡumma amātahū fa aqbarah(ū).
Kemudian, Dia mematikannya lalu menguburkannya.
ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ
Ṡumma iżā syā'a ansyarah(ū).
Kemudian, jika menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ أَمَرَهُۥ
Kallā lammā yaqḍi mā amarah(ū).
Sekali-kali jangan (begitu)! Dia (manusia) itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.
فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَـٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ
Falyanẓuril-insānu ilā ṭa‘āmih(ī).
Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
أَنَّا صَبَبْنَا ٱلْمَآءَ صَبًّا
Annā ṣababnal-mā'a ṣabbā(n).
Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah.
ثُمَّ شَقَقْنَا ٱلْأَرْضَ شَقًّا
Ṡumma syaqaqnal-arḍa syaqqā(n).
Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.
فَأَنۢبَتْنَا فِيهَا حَبًّا
Fa'ambatnā fīhā ḥabbā(n).
Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian,
وَعِنَبًا وَقَضْبًا
Wa ‘inabaw wa qaḍbā(n).
anggur, sayur-sayuran,
وَزَيْتُونًا وَنَخْلاً
Wa zaitūnaw wa nakhlā(n).
zaitun, pohon kurma,
وَحَدَآئِقَ غُلْبًا
Wa ḥadā'iqa gulbā(n).
kebun-kebun (yang) rindang,
وَفَـٰكِهَةً وَأَبًّا
Wa fākihataw wa abbā(n).
buah-buahan, dan rerumputan.
مَّتَـٰعًا لَّكُمْ وَلِأَنْعَـٰمِكُمْ
Matā‘al lakum wa li'an‘āmikum.
(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.
فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ
Fa iżā jā'atiṣ-ṣākhkhah(tu).
Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala),
يَوْمَ يَفِرُّ ٱلْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ
Yauma yafirrul-mar'u min akhīh(i).
pada hari itu manusia lari dari saudaranya,
وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ
Wa ummihī wa abīh(i).
(dari) ibu dan bapaknya,
وَصَـٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ
Wa ṣāḥibatihī wa banīh(i).
serta (dari) istri dan anak-anaknya.
لِكُلِّ ٱمْرِىٍٕ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
Likullimri'im minhum yauma'iżin sya'nuy yugnīh(i).
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ
Wujūhuy yauma'iżim musfirah(tun).
Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri,
ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ
Ḍāḥikatum mustabsyirah(tun).
tertawa lagi gembira ria.
وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ
Wa wujūhuy yauma'iżin ‘alaihā gabarah(tun).
Pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram)
تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ
Tarhaquhā qatarah(tun).
dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan).
أُوْلَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَفَرَةُ ٱلْفَجَرَةُ
Ulā'ika humul-kafaratul-fajarah(tu).
Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.