Allah SWT membuka Surat At-Tin dengan sumpah, Wa-t-tini wa-z-zaitun (Demi buah Tin dan Zaitun). Ayat pertama ini merupakan pembuka yang meletakkan landasan tauhid dan pengagungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah. Dalam konteks tawakal, sumpah ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah pengatur segala sesuatu di alam semesta, termasuk pertumbuhan pohon yang paling sederhana sekalipun. Sumpah ini menjadi fondasi bagi hamba yang sedang diuji ketawakalannya, bahwa Dia yang menumbuhkan Tin dan Zaitun di tempat-tempat mulia adalah Dzat yang sama yang mengatur urusan hidup kita.
Al-Hafiz Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa penyebutan Tin dan Zaitun merujuk pada tempat-tempat diutusnya para Nabi, yang menjadi saksi sejarah bahwa Allah senantiasa membimbing hamba-Nya melalui wahyu. Ini adalah bentuk tawakal tertinggi, yakni menyandarkan hati pada janji Allah setelah menempuh jalan ketaatan. Ketika kita merasa buntu dalam tawakal, ingatlah bahwa Allah telah bersumpah atas tempat-tempat yang menjadi bukti kasih sayang-Nya kepada para nabi.
Rasulullah SAW memberikan teladan betapa mulianya surat ini dalam shalat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bara bin 'Azib, beliau bersabda:
"Barangsiapa di antara kalian membaca: Wa-t-tini wa-z-zaitun sampai akhir ayat Alaisal-lahu bi-ahkamil-hakimin (Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?), hendaknya ia mengucapkan: Bala, wa ana 'ala dzalika minasy-syahidin (Benar, dan aku termasuk orang yang bersaksi atas hal itu)." [Sunan Abu Dawud 740, derajat: tidak tersedia].
Kesaksian ini adalah inti dari tawakal. Kita mengakui bahwa Allah adalah sebaik-baik penentu keputusan atas segala masalah yang kita hadapi.
Langkah konkret untuk menguatkan tawakal:
- Perbaharui kesaksian dalam shalat. Saat membaca akhir Surat At-Tin, hadirkan keyakinan bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik bagi kondisi kita saat ini.
- Sadari proses. Sebagaimana Tin dan Zaitun butuh waktu untuk tumbuh dan berbuah, tawakal menuntut kita bersabar dalam proses, bukan sekadar menuntut hasil instan.
- Mengambil sebab yang diberkahi. Sebagaimana anjuran menggunakan zaitun karena keberkahannya, tawakal harus dibarengi dengan ikhtiar yang halal dan sesuai syariat.
Menyerahkan urusan kepada Allah adalah bentuk penghormatan kita pada keadilan-Nya. Wallahu a'lam.
Daftar hadits di bawah ini diberikan ke AI sebagai konteks RAG. Klik untuk membaca teks lengkap.
Muwatta Malik 160
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّهُ قَالَصَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ فَقَرَأَ فِيهَا بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِTerjemahan. Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Yahya bin Sa'id] dari ['Adi bin Tsabit Al Anshari] dari [Al Barra bin 'Azib] dia berkata; "Saya shalat isya bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau membaca: WATT-TIIN WAZZAITUN (Demi Buah Tin dan Demi Buah Zaitun) ."
Shahih Bukhari 4266 shahih
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَدِيٌّ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي سَفَرٍ فَقَرَأَ فِي الْعِشَاءِ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ{ تَقْوِيمٍ }الْخَلْقِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Hajjaj bin Minhal] Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku [Adi] ia berkata; Aku telah mendengar [Al Baraa`] radliallahu 'anhu, bahwasanya; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam suatu perjalanan, lalu pada saat shalat Isya` yakni pada salah satu raka'atnya beliau membaca, "AT TIINI WAZ ZAITUUN." Dan maksud istilah taqwiim adalah alkhalq, atau penciptaan.
Sunan Abu Dawud 1017
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ قَالَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى بِنَا الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ فَقَرَأَ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin Umar] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Adi bin Tsabit] dari [Al Barra`] dia berkata; "Kami pernah bepergian bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau mengerjakan shalat Isya', di salah satu raka'atnya beliau membaca: "At Tiin waz zaitun."
Shahih Bukhari 725 shahih
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَدِيٍّ قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي سَفَرٍ فَقَرَأَ فِي الْعِشَاءِ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Walid] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari ['Adi] berkata, "Aku mendengar [Al Bara'], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika safar (bepergian) pada shalat 'Isya membaca pada salah satu dari dua rakaatnya dengan 'WAT TIINI WAZ ZAITUUN'."
Shahih Muslim 690 shahih
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّهُ قَالَصَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ فَقَرَأَ بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Laits] dari [Yahya, dan dia adalah Ibnu Sa'id] dari ['Adi bin Tsabit] dari [al-Bara' bin 'Azib] bahwasanya dia berkata, "Saya shalat Isya bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam maka beliau membaca, 'At-Tin wa az-Zaitun'."
Sunan Nasai 988
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَصَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَتَمَةَ فَقَرَأَ فِيهَا بِالتِّينِ وَالزَّيْتُونِTerjemahan. Telah mengabarkan kepada kami [Qutaibah] dari [Malik] dari [Yahya bin Sa'id] dari ['Adi bin Tsabit] dari [Al Bara' bin 'Azib] dia berkata, "Aku pernah shalat Isya' bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, dan beliau Shallallallahu'alaihi wasallam membaca: Wattiini waz-zaituun (Surat. At-Tiin)."
Sunan Abu Dawud 740
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الزُّهْرِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنِي إِسْمَعِيلُ بْنُ أُمَيَّةَ سَمِعْتُ أَعْرَابِيًّا يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ مِنْكُمْ{ وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ }فَانْتَهَى إِلَى آخِرِهَا{ أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ }فَلْيَقُلْ بَلَى وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنْ الشَّاهِدِينَ وَمَنْ قَرَأَ{ لَا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ }فَانْتَهَى إِلَى{ أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى }فَلْيَقُلْ بَلَى وَمَنْ قَرَأَ{ وَالْمُرْسَلَاتِ }فَبَلَغَ{ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ }فَلْيَقُلْ آمَنَّا بِاللَّهِقَالَ إِسْمَعِيلُ ذَهَبْتُ أُعِيدُ عَلَى الرَّجُلِ الْأَعْرَابِيِّ وَأَنْظُرُ لَعَلَّهُ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي أَتَظُنُّ أَنِّي لَمْ أَحْفَظْهُ لَقَدْ حَجَجْتُ سِتِّينَ حَجَّةً مَا مِنْهَا حَجَّةٌ إِلَّا وَأَنَا أَعْرِفُ الْبَعِيرَ الَّذِي حَجَجْتُ عَلَيْهِTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad Az Zuhri] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] telah menceritakan kepadaku [Isma'il bin Umayyah] saya mendengar [seorang arab badui] berkata; saya mendengar [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa di antara kalian membaca; "WAT TIIN WAZ ZAITUN (Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun), " sampai akhir ayat "ALAISALLAHU BI AHKAMIL HAAKIMIIN (Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?) " hendaknya ia mengucapkan; "Benar, dan kami menjadi saksi untuk itu." Dan barangsiapa membaca; "LAA UQSIMU BIYAUMIL QIYAAMAH (Aku bersumpah demi hari kiamat), hingga akhir ayat "ALAISA DZAALIKA BI QAADIRIN `ALAA AIYYUHYIYAL MAUTA (Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?), maka hendaklah ia mengatakan; benar." Dan barangsiapa membaca; WAL MURSALAATI `URFA (Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan) sampai dengan; FA BIAIYYI HADITSIN BA`DAHU YU`MINUN (Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quraan ini mereka akan beriman?), maka hendaknya ia mengatakan; aku beriman kepada Allah." Isma'il berkata: aku pergi untuk melihat apakah dia menjaganya, Dan dia adalah seorang badui, dia berkata; "wahai saudaraku, apakah kamu mengira bahwa aku tidak menjaganya, sungguh aku telah berhaji sebanyak enam puluh kali, tidaklah ada pada satu tahun pun kecuali aku mengetahui unta yang dulu aku pakai untuk berhaji."
Musnad Ahmad 842
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَطَاءٍ الشَّامِيِّ عَنْ أَبِي أَسِيدٍ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍTerjemahan. Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abdullah bin 'Isa] dari ['Atho`Asy-Syami] dari [Abu Asid] dengan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Makanlah buah zaitun dan dan pakailah minyak rambut dari buah zaitun, karena buah itu dari pohon yang berbarakah"