وَٱلنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ
Wan-najmi iżā hawā.
Demi bintang ketika terbenam,
النجم
Bintang · 62 ayat
Surah An-Najm menegaskan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ dan wahyu yang diterimanya, menantang kepercayaan pagan akan patung berhala serta menyoroti pentingnya akuntabilitas akhirat. Surah ini menyeru manusia untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah dan mempersiapkan diri menghadapi hari perhitungan, menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang akan menanggung dosa orang lain di akhirat.
Menegaskan kebenaran wahyu yang dibawa Nabi Muhammad dan kekuasaan mutlak Allah atas seluruh ciptaan.
Surah An-Najm berpusat pada penegasan bahwa Al-Quran adalah wahyu murni dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad. Surah ini membantah tuduhan kaum musyrik yang meragukan kebenaran risalah dan pengalaman spiritual Nabi saat peristiwa Isra Mikraj.
Selain itu, surah ini menyoroti kebatilan berhala-berhala yang disembah kaum musyrik, yang hanya berupa nama-nama tanpa hakikat. Allah menegaskan sifat-sifat-Nya sebagai Pencipta yang mematikan, menghidupkan, memberi kekayaan, dan membinasakan umat-umat terdahulu yang ingkar.
Pesan moral yang dominan adalah ajakan untuk meninggalkan keraguan, meyakini kebenaran wahyu, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah melalui sujud dan ibadah yang tulus.
Surah ini diturunkan di Makkah saat kaum musyrik gencar menuduh Nabi Muhammad sesat dan mengarang Al-Quran. Allah menurunkannya untuk membela kehormatan Nabi, menguatkan hati beliau, dan mematahkan argumen penyembah berhala.
Surah An-Najm berhubungan erat dengan surah sebelumnya, At-Tur, yang diakhiri dengan perintah bertasbih di waktu malam dan saat bintang terbenam, lalu An-Najm diawali dengan sumpah demi bintang. Setelah An-Najm, surah Al-Qamar melanjutkan tema peringatan dengan bukti-bukti kekuasaan Allah yang lebih nyata seperti terbelahnya bulan.
Situasi Merasa ragu dengan ajaran Islam karena banyaknya opini manusia di media sosial.
Pesan surah Al-Quran adalah wahyu mutlak, bukan opini manusia yang bisa salah.
Langkah kecil Membaca satu halaman Al-Quran beserta terjemahannya untuk menguatkan keyakinan.
Situasi Mengalami kesedihan mendalam atau kebahagiaan yang meluap-luap.
Pesan surah Allah yang memberikan tawa dan tangis, semuanya adalah ujian.
Langkah kecil Mengucapkan Alhamdulillah dalam keadaan senang maupun sedih.
Situasi Merasa lelah dengan dosa dan kesalahan masa lalu.
Pesan surah Allah Maha Luas ampunan-Nya bagi mereka yang menjauhi dosa besar.
Langkah kecil Melakukan salat tobat dua rakaat dan memperbanyak istigfar hari ini.
Surah ini diakhiri dengan perintah untuk bersujud dan beribadah kepada Allah. Ini adalah respons terbaik seorang hamba saat menyadari kebesaran wahyu dan kekuasaan Allah.
Cara praktis Lakukan sujud tilawah saat membaca ayat terakhir surah ini, atau lakukan sujud syukur saat mendapat nikmat hari ini.
Hari ini, tahan diri dari berdebat soal agama tanpa ilmu, dan lakukan satu sujud syukur atas nikmat kesehatan.
9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.
Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.
و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ ابْنِ أَشْوَعَ عَنْ عَامِرٍ عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَفَأَيْنَ قَوْله{ ثُمَّ دَنَا …
Dan telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] telah menceritakan kepada kami [Zakariya'] dari [Ibnu Asywa'] dari [Amir] dari [Masruq] dia berkata, "Aku b…
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ{ وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى }قَالَ رَأَى …
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Ali bin Mushir] dari [Abdul Malik] dari [Atha'] dari [Abu Hurairah] tentang firman Allah: (Sungguh dia telah …
حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ{ لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى …
Telah menceritakan kepada kami [Qabishah] Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Al A'masy] dari [Ibrahim] dari ['Alqamah] dari [Abdullah radliallahu 'anhu] mengenai firman Allah: Sesungguhnya …
Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.
Dalam perjalanan meniti jalan tawakal, seringkali hati merasa gentar saat menghadapi ketidakpastian duniawi. Surat An-Najm ayat 18 hadir sebagai sauh bagi jiwa yang sedang berjuang, لَقَدْ رَاٰى مِ…
Dalam menjalani kehidupan, seringkali hati kita goyah karena berbagai ketidakpastian yang menguji tawakal. Padahal, Allah SWT telah memberikan teladan agung melalui peristiwa Isra Mi'raj dalam Sura…
Dalam perjalanan ruhani menuju ketenangan, seringkali kita terjebak dalam upaya mengontrol segala hasil akhir, melupakan bahwa ada kebesaran Allah yang melampaui jangkauan akal manusia. Pada Surat…
Di tengah beratnya ujian kehidupan, seringkali hati merasa lelah karena beban duniawi yang tampak begitu besar. Namun, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan penghiburan agung dalam Surat An-Najm aya…
Dalam perjalanan menapaki ujian hidup, seringkali kita merasa terombang-ambing oleh ketidakpastian. Allah SWT memberikan arah bagi jiwa yang sedang berjuang melalui Surat An-Najm ayat 14, yang berb…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Warna Tajwid
Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.
✓ Warna aktif
Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).
وَٱلنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ
Wan-najmi iżā hawā.
Demi bintang ketika terbenam,
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ
Mā ḍalla ṣāḥibukum wa mā gawā.
kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru,
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ
Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā.
dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحَىٰ
In huwa illā waḥyuy yūḥā.
Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)
عَلَّمَهُۥ شَدِيدُ ٱلْقُوَىٰ
‘Allamahū syadīdul-quwā.
yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)
ذُو مِرَّةٍ فَٱسْتَوَىٰ
Żū mirrah(tin), fastawā.
lagi mempunyai keteguhan. Lalu, ia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli
وَهُوَ بِٱلْأُفُقِ ٱلْأَعْلَىٰ
Wa huwa bil-ufuqil-a‘lā.
ketika dia berada di ufuk yang tinggi.
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ
Ṡumma danā fa tadallā.
Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَىٰ
Fa kāna qāba qausaini au adnā.
sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).
فَأَوْحَىٰٓ إِلَىٰ عَبْدِهِۦ مَآ أَوْحَىٰ
Fa auḥā ilā ‘abdihī mā auḥā.
Lalu, dia (Jibril) menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) apa yang Dia wahyukan.
مَا كَذَبَ ٱلْفُؤَادُ مَا رَأَىٰٓ
Mā każabal-fu'ādu mā ra'ā.
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
أَفَتُمَـٰرُونَهُۥ عَلَىٰ مَا يَرَىٰ
Afa tumārūnahū ‘alā mā yarā.
Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?
وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.
Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,
عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ
‘Inda sidratil-muntahā.
(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.
عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ
‘Indahā jannatul-ma'wā.
Di dekatnya ada surga tempat tinggal.
إِذْ يَغْشَى ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ
Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.
(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.
مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ
Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.
Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).
لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَـٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ
Laqad ra'ā min āyāti rabbihil-kubrā.
Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.
أَفَرَءَيْتُمُ ٱللَّـٰتَ وَٱلْعُزَّىٰ
Afa ra'aitumul-lāta wal-‘uzzā.
Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza,
وَمَنَوٲةَ ٱلثَّالِثَةَ ٱلْأُخْرَىٰٓ
Wa manātaṡ-ṡāliṡatal-ukhrā.
serta Manata (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?
أَلَكُمُ ٱلذَّكَرُ وَلَهُ ٱلْأُنثَىٰ
Alakumuż-żakaru wa lahul-unṡā.
Apakah (pantas) bagi kamu (anak) laki-laki dan bagi-Nya (anak) perempuan?
تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰٓ
Tilka iżan qismatun ḍīzā.
Itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.
إِنْ هِىَ إِلَّآ أَسْمَآءٌ سَمَّيْتُمُوهَآ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَـٰنٍۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَمَا تَهْوَى ٱلْأَنفُسُۖ وَلَقَدْ جَآءَهُم مِّن رَّبِّهِمُ ٱلْهُدَىٰٓ
In hiya illā asmā'un sammaitumūhā antum wa ābā'ukum mā anzalallāhu bihā min sulṭān(in), iy yattabi‘ūna illaẓ-ẓanna wa mā tahwal-anfus(u), wa laqad jā'ahum mir rabbihimul-hudā.
(Berhala-berhala) itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu ada-adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)-nya. Mereka hanya mengikuti dugaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu. Padahal, sungguh, mereka benar-benar telah didatangi petunjuk dari Tuhan mereka.
أَمْ لِلْإِنسَـٰنِ مَا تَمَنَّىٰ
Am lil-insāni mā tamannā.
Apakah manusia akan mendapat segala yang diinginkannya?
فَلِلَّهِ ٱلْأَخِرَةُ وَٱلْأُولَىٰ
Fa lillāhil-ākhiratu wal-ūlā.
(Tidak!) Milik Allahlah kehidupan akhirat dan dunia.
۞ وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ لَا تُغْنِى شَفَـٰعَتُهُمْ شَيْــًٔا إِلَّا مِنۢ بَعْدِ أَن يَأْذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرْضَىٰٓ
Wa kam mim malakin fis-samāwāti lā tugnī syafā‘atuhum syai'an illā mim ba‘di ay ya'żanallāhu limay yasyā'u wa yarḍā.
Betapa banyak malaikat di langit yang syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna, kecuali apabila Allah telah mengizinkan(-nya untuk diberikan) kepada siapa yang Dia kehendaki dan ridai.
إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْأَخِرَةِ لَيُسَمُّونَ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةَ تَسْمِيَةَ ٱلْأُنثَىٰ
Innal-lażīna lā yu'minūna bil-ākhirati layusammūnal-malā'ikata tasmiyatal-unṡā.
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan.
وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْــًٔا
Wa mā lahum bihī min ‘ilm(in), iy yattabi‘ūna illaẓ-ẓann(a), wa innaẓ-ẓanna lā yugnī minal-ḥaqqi syai'ā(n).
Padahal, mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.
فَأَعْرِضْ عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا ٱلْحَيَوٲةَ ٱلدُّنْيَا
Fa a‘riḍ ‘am man tawallā, ‘an żikrinā wa lam yurid illal-ḥayātad-dun-yā.
Tinggalkanlah (Nabi Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami (Al-Qur’an) dan hanya menginginkan kehidupan dunia!
ذَٲلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ ٱلْعِلْمِۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱهْتَدَىٰ
Żālika mablaguhum minal-‘ilm(i), inna rabbaka huwa a‘lamu biman ḍalla ‘an sabīlih(ī), wa huwa a‘lamu bimanihtadā.
Itulah kadar pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmulah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.
وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَـٰٓـــُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَحْسَنُواْ بِٱلْحُسْنَى
Wa lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ(i), liyajziyal-lażīna asā'ū bimā ‘amilū wa yajziyal-lażīna aḥsanū bil-ḥusnā.
Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian,) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).
ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَـٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٲحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٲسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِى بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْۖ فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمْۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ
Allażīna yajtanibūna kabā'iral-iṡmi wal-fawāḥisya illal-lamam(a), inna rabbaka wāsi‘ul-magfirah(ti), huwa a‘lamu bikum iż ansya'akum minal-arḍi wa iż antum ajinnatun fī buṭūni ummahātikum, falā tuzakkū anfusakum, huwa a‘lamu bimanittaqā.
(Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunan-Nya. Dia lebih mengetahui dirimu sejak Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih berupa janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.
أَفَرَءَيْتَ ٱلَّذِى تَوَلَّىٰ
Afa ra'aital-lażī tawallā.
Tidakkah engkau melihat orang yang berpaling (dari Al-Qur’an)?
وَأَعْطَىٰ قَلِيلاً وَأَكْدَىٰٓ
Wa a‘ṭā qalīlaw wa akdā.
Dia memberikan sedikit (dari apa yang telah disepakati), lalu menahan sisanya.
أَعِندَهُۥ عِلْمُ ٱلْغَيْبِ فَهُوَ يَرَىٰٓ
A‘indahū ‘ilmul-gaibi fahuwa yarā.
Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib, sehingga dia dapat melihat(-nya)?
أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِى صُحُفِ مُوسَىٰ
Am lam yunabba' bimā fī ṣuḥufi mūsā.
Apakah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran (kitab suci yang diturunkan kepada) Musa
وَإِبْرَٲهِيمَ ٱلَّذِى وَفَّىٰٓ
Wa ibrāhīmal-lażī waffā.
dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang telah memenuhi janji setianya?
أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
Allā taziru wāziratuw wizra ukhrā.
(Dalam lembaran-lembaran itu terdapat ketetapan) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Wa al laisa lil-insāni illā mā sa‘ā.
bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,
وَأَنَّ سَعْيَهُۥ سَوْفَ يُرَىٰ
Wa anna sa‘yahū saufa yurā.
bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya),
ثُمَّ يُجْزَٮٰهُ ٱلْجَزَآءَ ٱلْأَوْفَىٰ
Ṡumma yujzāhul-jazā'al-aufā.
kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna,
وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلْمُنتَهَىٰ
Wa anna ilā rabbikal-muntahā.
bahwa sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
Wa annahū huwa aḍḥaka wa abkā.
bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا
Wa annahū huwa amāta wa aḥyā.
bahwa sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,
وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ
Wa annahū khalaqaz-zaujainiż-żakara wal-unṡā.
bahwa sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan
مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَىٰ
Min nuṭfatin iżā tumnā.
dari mani ketika dipancarkan
وَأَنَّ عَلَيْهِ ٱلنَّشْأَةَ ٱلْأُخْرَىٰ
Wa anna ‘alaihin nasy'atal-ukhrā.
bahwa sesungguhnya Dialah yang menetapkan penciptaan yang lain (kebangkitan setelah mati),
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَىٰ
Wa annahū huwa agnā wa aqnā.
bahwa sesungguhnya Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan,
وَأَنَّهُۥ هُوَ رَبُّ ٱلشِّعْرَىٰ
Wa annahū huwa rabbusy-syi‘rā.
bahwa sesungguhnya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi‘ra,
وَأَنَّهُۥٓ أَهْلَكَ عَادًا ٱلْأُولَىٰ
Wa annahū ahlaka ‘ādanil-ūlā.
dan bahwa sesungguhnya Dialah yang telah membinasakan (kaum) ‘Ad yang terdahulu
وَثَمُودَاْ فَمَآ أَبْقَىٰ
Wa ṡamūda famā abqā.
dan (kaum) Samud. Tidak seorang pun ditinggalkan-Nya (hidup).
وَقَوْمَ نُوحٍ مِّن قَبْلُۖ إِنَّهُمْ كَانُواْ هُمْ أَظْلَمَ وَأَطْغَىٰ
Wa qauma nūḥim min qabl(u), innahum kānū hum aẓlama wa aṭgā.
Sebelum itu kaum Nuh juga (dibinasakan). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lebih zalim dan lebih durhaka.
وَٱلْمُؤْتَفِكَةَ أَهْوَىٰ
Wal-mu'tafikata ahwā.
Dia juga menjungkirbalikkan negeri kaum Lut,
فَغَشَّـٰهَا مَا غَشَّىٰ
Fa gasysyāhā mā gasysyā.
lalu Dia menimbuninyadengan apa yang menimpanya.
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكَ تَتَمَارَىٰ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbika tatamārā.
Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang masih kamu ragukan?
هَـٰذَا نَذِيرٌ مِّنَ ٱلنُّذُرِ ٱلْأُولَىٰٓ
Hāżā nażīrum minan-nużuril-ūlā.
Ini (Nabi Muhammad) adalah salah seorang pemberi peringatan di antara para pemberi peringatan yang terdahulu.
أَزِفَتِ ٱلْأَزِفَةُ
Azifatil-āzifah(tu).
(Hari Kiamat) yang dekat makin mendekat.
لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ ٱللَّهِ كَاشِفَةٌ
Laisa lahā min dūnillāhi kāsyifah(tun).
Tidak ada yang akan dapat mengungkapkan (terjadinya hari itu) selain Allah.
أَفَمِنْ هَـٰذَا ٱلْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ
Afamin hāżal-ḥadīṡi ta‘jabūn(a).
Maka, apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?
وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ
Wa taḍḥakūna wa lā tabkūn(a).
Kamu mentertawakan dan tidak menangisi(-nya),
وَأَنتُمْ سَـٰمِدُونَ
Wa antum sāmidūn(a).
sedangkan kamu lengah (darinya).
فَٱسْجُدُواْ لِلَّهِ وَٱعْبُدُواْ ۩
Fasjudū lillāhi wa‘budū.
Bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).