وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ
Wal-laili iżā yagsyā.
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
الّيل
Malam · 21 ayat
Surah Al-Lail menegaskan perbedaan fundamental antara orang yang bertakwa dan dermawan dengan orang yang kikir dan durhaka. Surah ini menjelaskan bahwa jalan menuju kebahagiaan abadi adalah melalui kedermawanan dan ketakwaan, sementara jalan menuju kesengsaraan adalah melalui kekikiran dan penolakan kebenaran, dengan ganjaran dan balasan yang setimpal bagi setiap golongan.
Menegaskan bahwa jalan hidup manusia berbeda-beda, ada yang dermawan dan bertakwa, ada pula yang bakhil.
Surah Al-Lail menyoroti polarisasi amal perbuatan manusia dan akibat dari pilihan tersebut. Allah bersumpah dengan fenomena alam yang berlawanan, seperti malam dan siang, serta penciptaan laki-laki dan perempuan, untuk menegaskan bahwa usaha manusia juga sangat beragam dan bertolak belakang.
Bagian utama surah ini membagi manusia ke dalam dua golongan besar. Golongan pertama adalah mereka yang suka memberi, bertakwa, dan membenarkan adanya kebaikan, sehingga Allah akan memudahkan jalan mereka menuju kebahagiaan. Golongan kedua adalah mereka yang bakhil, merasa serba cukup, dan mendustakan kebenaran, sehingga jalan menuju kesengsaraan akan dimudahkan bagi mereka.
Pesan moral dominan dari surah ini adalah pentingnya kedermawanan dan pembersihan jiwa dari sifat kikir. Harta yang ditumpuk tidak akan bermanfaat di akhirat, sedangkan harta yang diinfakkan semata-mata untuk mencari rida Allah akan menyelamatkan dan mensucikan jiwa.
Surah ini diturunkan di Makkah pada masa awal kenabian ketika kesenjangan sosial dan penindasan terhadap kaum lemah sangat nyata. Pesan ini ditujukan untuk memotivasi para sahabat yang menginfakkan hartanya untuk membebaskan budak muslim yang disiksa. Surah ini meneguhkan hati umat Islam bahwa pengorbanan mereka tidak akan sia-sia di sisi Allah.
Surah Asy-Syams sebelumnya membahas penyucian jiwa secara umum, sedangkan Surah Al-Lail merincikan salah satu cara utama menyucikan jiwa, yaitu melalui kedermawanan. Setelahnya, Surah Ad-Duha memberikan contoh nyata tentang kasih sayang Allah dan perintah untuk peduli pada kaum dhuafa, yang sejalan dengan semangat berbagi dalam Surah Al-Lail.
Situasi Merasa berat mengeluarkan uang untuk sedekah karena takut tabungan berkurang.
Pesan surah Allah berjanji akan memberikan kemudahan bagi mereka yang memberi dan bertakwa.
Langkah kecil Sisihkan nominal kecil namun rutin hari ini untuk kotak amal atau donasi online.
Situasi Menghadapi jalan buntu atau urusan pekerjaan yang terasa sangat sulit dan rumit.
Pesan surah Kesulitan bisa jadi teguran agar kita lebih peduli pada sekitar dan tidak merasa serba bisa.
Langkah kecil Bantu satu kesulitan teman kerja atau keluarga hari ini, lalu niatkan agar Allah memudahkan urusan kita.
Situasi Melakukan kebaikan tetapi merasa kecewa karena tidak mendapat apresiasi dari orang yang dibantu.
Pesan surah Kebaikan sejati dilakukan murni untuk mencari rida Allah, bukan untuk balasan atau pujian manusia.
Langkah kecil Lakukan satu kebaikan secara rahasia hari ini tanpa memberi tahu siapa pun.
Surah ini menekankan bahwa memberikan harta untuk menyucikan diri dan mencari rida Allah adalah jalan menuju kemudahan. Amal ini melatih keikhlasan dan mengikis sifat bakhil.
Cara praktis Berikan sedekah atau bantuan kepada seseorang yang membutuhkan tanpa mencantumkan nama atau identitas Anda.
Hari ini, berikan sebagian rezeki Anda kepada orang yang membutuhkan dengan niat murni karena Allah, tanpa mengharapkan ucapan terima kasih.
9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.
Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُأَنَّ أُنَاسًا أُرُوا…
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari [Salim bin Abdullah] dari [Ibnu Umar] radliallahu 'anhu; ada beberapa o…
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ و…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Al Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] berkata, Rasul…
و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَاعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ و…
Dan Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] ia berkata, saya telah membacakan kepada [Malik] dari [Abdullah bin Dinar] dari [Ibnu Umar] radliallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasa…
Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.
Dalam perjalanan meniti jalan ketaatan, seringkali hati diliputi kecemasan akan hasil akhir dari ikhtiar yang kita lakukan. Allah SWT berfirman dalam penutup rangkaian ayat tentang balasan bagi ora…
Dalam meniti jalan kehidupan, seringkali kita terjebak pada keinginan agar setiap amal yang kita lakukan membuahkan balasan manusiawi atau hasil yang instan. Padahal, Allah SWT menegaskan dalam Sur…
Dalam meniti jalan ketakwaan yang murni, Allah SWT mengabadikan sifat hamba-hamba-Nya yang ikhlas melalui surat Al-Lail ayat 19: wama li-ahadin 'indahu min ni'matin tujza. Ayat ini menjadi penegas…
Dalam perjalanan menapaki jalan ketakwaan, Allah SWT menunjukkan hakikat tawakal yang sesungguhnya melalui Surat Al-Lail ayat 18: Alladzii yu'tii maalahu yatazakka (yang menginfakkan hartanya untuk…
Dalam menapaki jalan kehidupan yang penuh ketidakpastian, sering kali kita merasa bimbang antara berserah diri atau berupaya. Al-Quran menjawab kegelisahan ini melalui Surah Al-Lail ayat 17, yang b…
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Warna Tajwid
Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.
✓ Warna aktif
Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).
وَٱلَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ
Wal-laili iżā yagsyā.
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
وَٱلنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّىٰ
Wan-nahāri iżā tajallā.
demi siang apabila terang benderang,
وَمَا خَلَقَ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰٓ
Wa mā khalaqaż-żakara wal-unṡā.
dan demi penciptaan laki-laki dan perempuan,
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ
Inna sa‘yakum lasyattā.
sesungguhnya usahamu benar-benar beraneka ragam.
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَٱتَّقَىٰ
Fa ammā man a‘ṭā wattaqā.
Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa
وَصَدَّقَ بِٱلْحُسْنَىٰ
Wa ṣaddaqa bil-ḥusnā.
serta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga),
فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ
Fa sanuyassiruhū lil-yusrā.
Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan).
وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسْتَغْنَىٰ
Wa ammā man bakhila wastagnā.
Adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah)
وَكَذَّبَ بِٱلْحُسْنَىٰ
Wa każżaba bil-ḥusnā.
serta mendustakan (balasan) yang terbaik,
فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْعُسْرَىٰ
Fa sanuyassiruhū lil-‘usrā.
Kami akan memudahkannya menuju jalan kesengsaraan.
وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُۥٓ إِذَا تَرَدَّىٰٓ
Wa mā yugnī ‘anhu māluhū iżā taraddā.
Hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa.
إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَىٰ
Inna ‘alainā lal-hudā.
Sesungguhnya Kamilah yang (berhak) memberi petunjuk.
وَإِنَّ لَنَا لَلْأَخِرَةَ وَٱلْأُولَىٰ
Wa inna lanā lal-ākhirata wal-ūlā.
Sesungguhnya milik Kamilah akhirat dan dunia.
فَأَنذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّىٰ
Fa anżartukum nāran talaẓẓā.
Aku memperingatkanmu dengan neraka yang menyala-nyala.
لَا يَصْلَـٰهَآ إِلَّا ٱلْأَشْقَى
Lā yaṣlāhā illal-asyqā.
Tidak masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
ٱلَّذِى كَذَّبَ وَتَوَلَّىٰ
Allażī każżaba wa tawallā.
yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari keimanan).
وَسَيُجَنَّبُهَا ٱلْأَتْقَى
Wa sayujannabuhal-atqā.
Akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa,
ٱلَّذِى يُؤْتِى مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ
Allażī yu'tī mālahū yatazakkā.
yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak).
وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُۥ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰٓ
Wa mā li'aḥadin ‘indahū min ni‘matin tujzā.
Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas,
إِلَّا ٱبْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِ ٱلْأَعْلَىٰ
Illabtigā'a wajhi rabbihil-a‘lā.
kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi.
وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ
Wa lasaufa yarḍā.
Sungguh, kelak dia akan mendapatkan kepuasan (menerima balasan amalnya).