وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ
Wan-najmi iżā hawā.
Demi bintang ketika terbenam,
Pengalaman Rasulullah saat Mi'raj; Al-Quran bukan khayalan; perintah sujud.
Surah An-Najm menegaskan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ dan wahyu yang diterimanya, menantang kepercayaan pagan akan patung berhala serta menyoroti pentingnya akuntabilitas akhirat. Surah ini menyeru manusia untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah dan mempersiapkan diri menghadapi hari perhitungan, menekankan bahwa tidak ada seorang pun yang akan menanggung dosa orang lain di akhirat.
Menegaskan kebenaran wahyu yang dibawa Nabi Muhammad dan kekuasaan mutlak Allah atas seluruh ciptaan.
Surah An-Najm berpusat pada penegasan bahwa Al-Quran adalah wahyu murni dari Allah, bukan karangan Nabi Muhammad. Surah ini membantah tuduhan kaum musyrik yang meragukan kebenaran risalah dan pengalaman spiritual Nabi saat peristiwa Isra Mikraj.
Selain itu, surah ini menyoroti kebatilan berhala-berhala yang disembah kaum musyrik, yang hanya berupa nama-nama tanpa hakikat. Allah menegaskan sifat-sifat-Nya sebagai Pencipta yang mematikan, menghidupkan, memberi kekayaan, dan membinasakan umat-umat terdahulu yang ingkar.
Pesan moral yang dominan adalah ajakan untuk meninggalkan keraguan, meyakini kebenaran wahyu, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah melalui sujud dan ibadah yang tulus.
Surah ini diturunkan di Makkah saat kaum musyrik gencar menuduh Nabi Muhammad sesat dan mengarang Al-Quran. Allah menurunkannya untuk membela kehormatan Nabi, menguatkan hati beliau, dan mematahkan argumen penyembah berhala.
Surah An-Najm berhubungan erat dengan surah sebelumnya, At-Tur, yang diakhiri dengan perintah bertasbih di waktu malam dan saat bintang terbenam, lalu An-Najm diawali dengan sumpah demi bintang. Setelah An-Najm, surah Al-Qamar melanjutkan tema peringatan dengan bukti-bukti kekuasaan Allah yang lebih nyata seperti terbelahnya bulan.
Situasi Merasa ragu dengan ajaran Islam karena banyaknya opini manusia di media sosial.
Pesan surah Al-Quran adalah wahyu mutlak, bukan opini manusia yang bisa salah.
Langkah kecil Membaca satu halaman Al-Quran beserta terjemahannya untuk menguatkan keyakinan.
Situasi Mengalami kesedihan mendalam atau kebahagiaan yang meluap-luap.
Pesan surah Allah yang memberikan tawa dan tangis, semuanya adalah ujian.
Langkah kecil Mengucapkan Alhamdulillah dalam keadaan senang maupun sedih.
Situasi Merasa lelah dengan dosa dan kesalahan masa lalu.
Pesan surah Allah Maha Luas ampunan-Nya bagi mereka yang menjauhi dosa besar.
Langkah kecil Melakukan salat tobat dua rakaat dan memperbanyak istigfar hari ini.
Surah ini diakhiri dengan perintah untuk bersujud dan beribadah kepada Allah. Ini adalah respons terbaik seorang hamba saat menyadari kebesaran wahyu dan kekuasaan Allah.
Cara praktis Lakukan sujud tilawah saat membaca ayat terakhir surah ini, atau lakukan sujud syukur saat mendapat nikmat hari ini.
Hari ini, tahan diri dari berdebat soal agama tanpa ilmu, dan lakukan satu sujud syukur atas nikmat kesehatan.
وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ
Wan-najmi iżā hawā.
Demi bintang ketika terbenam,
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ
Mā ḍalla ṣāḥibukum wa mā gawā.
kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى
Wa mā yanṭiqu ‘anil-hawā.
dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).
اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ
In huwa illā waḥyuy yūḥā.
Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)
عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰىۙ
‘Allamahū syadīdul-quwā.
yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)
ذُوْ مِرَّةٍۗ فَاسْتَوٰىۙ
Żū mirrah(tin), fastawā.
lagi mempunyai keteguhan. Lalu, ia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli
وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰىۗ
Wa huwa bil-ufuqil-a‘lā.
ketika dia berada di ufuk yang tinggi.
ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ
Ṡumma danā fa tadallā.
Dia kemudian mendekat (kepada Nabi Muhammad), lalu bertambah dekat,
فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰىۚ
Fa kāna qāba qausaini au adnā.
sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).
فَاَوْحٰىٓ اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰىۗ
Fa auḥā ilā ‘abdihī mā auḥā.
Lalu, dia (Jibril) menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Nabi Muhammad) apa yang Dia wahyukan.
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰى
Mā każabal-fu'ādu mā ra'ā.
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى
Afa tumārūnahū ‘alā mā yarā.
Apakah kamu (kaum musyrik Makkah) hendak membantahnya (Nabi Muhammad) tentang apa yang dilihatnya itu (Jibril)?
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ
Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.
Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى
‘Inda sidratil-muntahā.
(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ
‘Indahā jannatul-ma'wā.
Di dekatnya ada surga tempat tinggal.
اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ
Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.
(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya.
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى
Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.
Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya).
لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى
Laqad ra'ā min āyāti rabbihil-kubrā.
Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar.
Dan telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] telah menceritakan kepada kami [Zakariya'] dari [Ibnu Asywa'] da…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Ali bin Mushir] dari [Abdul Malik] dari [Atha'] dari [Abu Hurairah…
Telah menceritakan kepada kami [Qabishah] Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Al A'masy] dari [Ibrahim] dari ['Alqamah] dari [Abdullah radliallahu …
Dalam perjalanan meniti jalan tawakal, seringkali hati merasa gentar saat menghadapi ketidakpastian duniawi. Surat An-Najm ayat 18 hadir sebagai sauh bagi ji…
Dalam menjalani kehidupan, seringkali hati kita goyah karena berbagai ketidakpastian yang menguji tawakal. Padahal, Allah SWT telah memberikan teladan agung…
Dalam perjalanan ruhani menuju ketenangan, seringkali kita terjebak dalam upaya mengontrol segala hasil akhir, melupakan bahwa ada kebesaran Allah yang melam…