← Kembali ke pelajaran
Hari 90 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

Asbab an-Nuzul Surah An-Najm (53)

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah An-Najm (53) merupakan salah satu surah Makkiyah yang turun pada periode pertengahan dakwah di Makkah. Para ulama tafsir seperti Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan, dan Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul sepakat bahwa surah ini Makkiyah. Hal ini didasarkan pada gaya bahasa, tema, dan konteks turunnya yang berkenaan dengan kaum musyrikin Makkah serta peristiwa Isra' Mi'raj.

Menurut riwayat dari Ibn Abbas yang dikutip oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, surah An-Najm turun setelah surah Al-Ikhlas dan sebelum surah Abasa. Dalam urutan nuzul, surah ini menempati posisi ke-23 dari 114 surah. Hal ini menunjukkan bahwa surah ini turun pada fase ketika dakwah Nabi Muhammad ﷺ mulai mendapat tantangan keras dari Quraisy, namun sebagian masyarakat Makkah mulai beriman.

Periode turunnya diperkirakan sekitar tahun ke-5 hingga ke-7 kenabian, bertepatan dengan peristiwa besar seperti hijrah pertama ke Habasyah dan peristiwa Isra' Mi'raj. Ayat-ayat awal surah ini menegaskan otentisitas wahyu, sedangkan ayat-ayat selanjutnya mengecam sesembahan kaum musyrikin dan mengingatkan mereka tentang azab yang menimpa umat terdahulu. Hal ini sangat relevan dengan situasi saat itu: kaum musyrikin menuduh Nabi ﷺ sesat dan mengarang Al-Qur'an, serta mempertahankan penyembahan berhala.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Ayat 1-12: "Demi bintang ketika terbenam..." hingga "... tentang apa yang dilihatnya?"

Imam Al-Wahidi meriwayatkan dalam Asbab an-Nuzul bahwa ketika kaum musyrikin Makkah mendengar dakwah Nabi ﷺ, mereka berkata, "Sesungguhnya sahabat kalian (Muhammad) telah sesat dan tidak lagi berada di atas kebenaran." Maka Allah menurunkan ayat: 'Ma dalla sahibukum wa ma ghawa' (Kawanmu tidak sesat dan tidak keliru). Riwayat ini berasal dari Ibn Abbas melalui jalur al-Kalbi, namun sanadnya dianggap dha'if oleh sebagian ulama. Meskipun demikian, makna umumnya didukung oleh konteks.

Imam At-Tabari dalam tafsirnya menukil riwayat dari Mujahid bahwa ayat 2-3 turun sebagai bantahan terhadap tuduhan Quraisy. Ibnu Kathir menguatkan bahwa ayat-ayat ini adalah penegasan bahwa Nabi ﷺ tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, melainkan wahyu dari Allah.

Ayat 13-18: "Sungguh, dia benar-benar telah melihatnya pada waktu yang lain..."

Ayat-ayat ini berkaitan dengan peristiwa Isra' Mi'raj. Menurut riwayat yang shahih dari Ibnu Mas'ud dan Aisyah, Nabi Muhammad ﷺ melihat Jibril dalam rupa aslinya pada dua kesempatan: sekali di bumi (waktu awal wahyu) dan sekali di langit di dekat Sidratul Muntaha. Riwayat ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Imam Al-Wahidi tidak menyebut asbab khusus untuk ayat ini selain konteks Isra' Mi'raj.

Ayat 19-23: "Maka apakah patut kamu mengetahui Al-Lata dan Al-Uzza..."

Ayat-ayat ini merupakan sanggahan terhadap keyakinan kaum musyrikin terhadap berhala-berhala mereka. Menurut As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul, suatu ketika kaum musyrikin mengusulkan kompromi kepada Nabi ﷺ: jika beliau mengakui berhala mereka sebagai pemberi syafaat, mereka akan mengakui Allah. Maka turunlah ayat ini untuk menolak usulan tersebut. Riwayat ini berasal dari Ibn Abbas dengan sanad yang hasan. Selain itu, terdapat riwayat lain dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi ﷺ membaca surah An-Najm di Masjidil Haram, dan ketika sampai pada ayat ** afara'aytum at-ta wa 'uzza **, para musyrikin pun sujud bersama beliau karena kagum. Hal ini dicatat oleh Bukhari dalam Bab Sujud al-Qur'an.

Ayat 33-37: "Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling..."

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas yang dikutip oleh Al-Wahidi, ayat ini turun tentang Walid bin Mughirah yang mulanya cenderung kepada keimanan, tetapi kemudian berpaling karena pengaruh kaumnya. Riwayat lain dari Qatadah menyebutkan bahwa ayat ini tentang seseorang dari Bani Makhzum yang bersedekah namun kemudian menariknya. Kedua riwayat ini disebutkan oleh At-Tabari tanpa menguatkan salah satunya. Ibnu Kathir cenderung pada riwayat pertama karena lebih masyhur.

Ayat 39-42: "Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya..."

Ayat-ayat ini turun berkaitan dengan keyakinan orang musyrik bahwa mereka bisa mendapatkan manfaat dari amal leluhur mereka. Ibnu Abbas mengatakan bahwa orang musyrik berkata, "Kami akan diuntungkan oleh amal bapak-bapak kami," maka Allah menolak keyakinan tersebut.

Ayat 45-49: "Dan bahwa Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan..."

Ayat-ayat ini menegaskan kekuasaan Allah dalam penciptaan. Tidak ada riwayat asbab khusus selain konteks bantahan terhadap klaim kaum musyrikin yang menyekutukan Allah.

Ayat 58-62: "Tidak ada yang dapat menyingkap (hari kiamat) selain Allah..."

Bagian akhir surah ini memperingatkan kaum musyrikin tentang dahsyatnya hari kiamat. Menurut riwayat dari Ibnu Mas'ud, ketika Nabi ﷺ membaca ayat ini, para sahabat mencibir kaum musyrikin yang mengingkari hari kebangkitan. Tidak ada riwayat khusus mengenai sebab turunnya.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Salah satu riwayat yang kontroversial adalah kisah "gharaniq" yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca ayat 'innahunna lagharaniq al-'ula wa inna shafa'atahunna turtaja' (sesungguhnya berhala-berhala itu adalah yang tinggi dan syafaat mereka diharapkan). Kisah ini diriwayatkan melalui jalur Ibn Abbas dan Sa'id bin Jubair, tetapi dianggap palsu oleh jumhur muhadditsin. Imam Al-Wahidi dan As-Suyuti memang mencatatnya dalam kitab asbab an-nuzul, namun mereka tidak mengesahkannya. Ibnu Kathir dalam tafsirnya dengan tegas menolak riwayat ini karena tidak sesuai dengan ushul dan sanadnya mungathi'. Para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Al-Qurthubi, Imam Al-Baghawi, dan Imam As-Sa'di juga tidak membenarkan cerita tersebut. Dengan demikian, riwayat gharaniq tidak dapat diterima sebagai asbab an-nuzul yang sahih.

Adapun perbedaan riwayat mengenai ayat 33 (orang yang berpaling), antara Walid bin Mughirah dan orang Bani Makhzum, tidaklah bertentangan secara substansial. Keduanya menggambarkan sikap munafik atau berpaling dari kebenaran setelah sebelumnya mendekat.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk beberapa ayat dalam surah An-Najm, tidak ditemukan riwayat asbab yang spesifik. Misalnya ayat 24-32 (tentang janji dan seterusnya) dan ayat 38-44 (tentang lembaran Ibrahim dan Musa). Para ulama seperti Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat-ayat tersebut merupakan bagian dari bantahan umum terhadap keyakinan musyrikin dan penegasan tauhid. Konteks historisnya adalah perdebatan antara Nabi ﷺ dan kaum musyrikin di Makkah, di mana mereka mempertahankan tradisi nenek moyang dan mengingkari wahyu.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah An-Najm turun di tengah-tengah perjuangan dakwah di Makkah. Kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal dan lainnya telah melakukan berbagai tekanan, mulai dari cemoohan, boikot ekonomi, hingga penyiksaan fisik terhadap kaum muslimin. Di sisi lain, beberapa orang Quraisy mulai tertarik dengan ajaran tauhid, seperti Umar bin Khattab yang masuk Islam sekitar waktu itu. Suasana sosial-ekonomi Makkah saat itu didominasi oleh perdagangan dan kekuasaan kabilah; berhala-berhala di Ka'bah menjadi pusat ritual keagamaan yang menguntungkan elite Quraisy.

Surah ini secara langsung menantang status quo dengan menyatakan bahwa berhala-berhala itu tidak berguna dan hanya nama-nama yang dibuat-buat. Hal ini tentu memicu kemarahan kaum musyrikin. Namun, sebagian mereka terkesan dengan keindahan ayat-ayat Al-Qur'an, seperti yang tercermin dalam peristiwa sujud mereka bersama Nabi ﷺ.

Peristiwa Isra' Mi'raj yang menjadi latar belakang ayat 13-18 juga memiliki dampak sosial yang besar. Bagi kaum muslimin, peristiwa ini memperkuat keimanan dan memberikan gambaran tentang kebesaran Allah. Namun, bagi kaum musyrikin, cerita tersebut menjadi bahan ejekan: "Mana mungkin Muhammad pergi ke Baitul Maqdis dan naik ke langit dalam satu malam?" Maka surah ini membela Nabi ﷺ dengan afirmasi bahwa penglihatannya tidak meleset.

4. Tema Sentral Surah

Tema utama surah An-Najm adalah otentisitas wahyu dan tauhid. Imam Ibn Kathir menulis dalam tafsirnya bahwa surah ini membantah tuduhan kaum musyrikin bahwa Al-Qur'an adalah karangan Muhammad. Ayat 3-4 menegaskan: "Dan tidaklah ia berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Ia tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan."

Selain itu, surah ini juga menekankan:

  • Kekuasaan Allah dalam penciptaan dan hari akhir (ayat 45-48, 57-62).
  • Kesalahan syirik dan ketidakbergunaan berhala (ayat 19-23).
  • Kisah para nabi terdahulu sebagai pelajaran (ayat 36-54, disebutkan tentang Ibrahim, Musa, Luth, 'Ad, Tsamud, dan Nuh).
  • Isra' Mi'raj sebagai bukti kenabian (ayat 13-18).

Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan mengelompokkan surah ini sebagai surah yang mendidik manusia tentang hakikat wahyu dan tanggung jawab manusia. Imam As-Sa'di lebih menyoroti aspek penghibur bagi Nabi ﷺ dan para sahabat yang menghadapi celaan.

Munasabah dengan surah sebelumnya (At-Tur) dan sesudahnya (Al-Qamar): Surah At-Tur berisi peringatan tentang azab dan kenikmatan surga, sedangkan An-Najm lebih fokus pada keteguhan wahyu. Surah Al-Qamar kemudian melanjutkan dengan kisah-kisah umat terdahulu dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Urutan ini menunjukkan gradasi tema: dari peringatan umum, ke penegasan wahyu, lalu ke bukti-bukti historis.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Beberapa hadits shahih menyebutkan keutamaan surah An-Najm:

  • Hadits tentang sujud tilawah: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1070) dan Muslim (no. 576) dari Ibnu Mas'ud, bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surah An-Najm lalu sujud, dan seluruh orang yang hadir ikut sujud kecuali seorang tua dari Quraisy yang mengambil segenggam batu dan berkata, "Ini sudah cukup bagiku." Ibnu Mas'ud kemudian mengatakan bahwa setelah melihatnya, ia mendapati orang itu mati dalam kekafiran. Hadits ini menunjukkan bahwa surah An-Najm memiliki keistimewaan karena membuat para musyrikin pun terdorong untuk sujud oleh kebesaran ayat-ayatnya.

  • Riwayat Aisyah tentang Isra' Mi'raj: Shahih Muslim meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melihat Jibril dalam rupa aslinya di Sidratul Muntaha, dan ini terkait dengan ayat 13-18. Meskipun bukan keutamaan surah secara langsung, hadits ini menguatkan isi surah.

  • Tidak ada hadits khusus tentang fadhilah membaca surah An-Najm yang shahih selain keutamaan umum membaca Al-Qur'an. Sebagian ulama menyebutkan bahwa pahala membaca surah ini setara dengan jumlah orang yang membenarkan Muhammad dan yang mengingkari berhala, namun riwayat tersebut lemah. Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak melebih-lebihkan keutamaan spesifik.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para sahabat dan tabi'in banyak menafsirkan ayat-ayat kunci surah ini:

  • Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu menafsirkan sidratul muntaha sebagai pohon yang naungannya dipenuhi oleh malaikat, tempat berakhirnya pengetahuan makhluk. (Diriwayatkan oleh At-Tabari).
  • Mujahid bin Jabr berkata tentang inkum latamannuna (ayat 25) bahwa orang musyrik menganggap bahwa kehidupan dunia adalah segalanya, padahal akhirat lebih utama. (At-Tabari).
  • Qatadah menafsirkan ayat fa'budu ma sitium (ayat 62) sebagai perintah untuk terus menyembah Allah dan merendahkan diri.
  • Hasan al-Bashri mengatakan bahwa surah ini turun untuk membantah mereka yang mengklaim bahwa setan mempengaruhi wahyu (menyinggung kisah gharaniq yang ia tolak).

Para ulama khalaf seperti Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menekankan bahwa ayat-ayat sujud dalam Al-Qur'an termasuk dalam surah ini hukumnya sunnah dilakukan ketika membaca atau mendengarnya. Imam Al-Baghawi menambahkan aspek pencegahan terhadap syirik, dan Imam As-Sa'di menggarisbawahi pentingnya membersihkan tauhid.

Tidak ada perbedaan besar di antara mereka kecuali dalam detail penafsiran sidratul muntaha: apakah ia berada di langit ketujuh atau di tempat tertentu. Namun, yang disepakati adalah ia merupakan tempat yang mulia dan hanya diketahui oleh Allah.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Kepastian Sumber Wahyu: Ayat 2-4 mengajarkan bahwa seorang Muslim harus yakin bahwa Al-Qur'an benar-benar dari Allah, bukan rekayasa manusia. Dalam kehidupan modern, ketika muncul keraguan terhadap otentisitas Al-Qur'an, seorang mukmin kembali kepada keyakinan bahwa Nabi ﷺ tidak berbicara dari hawa nafsu.

  2. Menjauhi Syirik dalam Bentuk Modern: Meskipun kita tidak menyembah berhala batu, syirik modern bisa berupa kecintaan berlebihan pada harta, jabatan, atau tokoh yang menyaingi rasa takut dan harap kepada Allah. Ayat 19-23 mengingatkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan dimintai syafaat.

  3. Mengimani Peristiwa Ghaib: Kisah Isra' Mi'raj mengajarkan kita untuk percaya pada hal-hal yang tidak terjangkau akal semata. Di era sains, perkara ghaib tetap menjadi bagian dari keimanan. Kejujuran Nabi ﷺ dan kesaksian Allah bahwa penglihatannya tidak meleset meneguhkan hati kita.

  4. Keberanian Menyampaikan Kebenaran: Nabi ﷺ tidak gentar membacakan ayat-ayat yang menantang kepercayaan mayoritas. Ini menjadi teladan bagi dai dan aktivis muslim untuk tetap berpegang pada kebenaran meskipun mendapat tekanan sosial.

  5. Memanfaatkan Waktu dan Amal: Ayat 39 menyatakan bahwa manusia hanya mendapatkan apa yang ia usahakan. Ini memotivasi untuk giat beramal saleh dan tidak bergantung pada amal orang lain. Dalam konteks modern, pesan ini mendorong kemandirian dan tanggung jawab individu.

Pelajaran-pelajaran ini berakar pada tafsir para ulama dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti memperbanyak ibadah, menjaga tauhid, dan menjauhi kesyirikan.

8. Penutup & Doa

Surah An-Najm adalah surah yang sarat dengan peneguhan akidah, bukti kenabian, dan peringatan bagi mereka yang menentang. Pesan utamanya adalah bahwa Al-Qur'an adalah wahyu, Nabi Muhammad adalah utusan yang benar, dan hanya Allah yang berhak disembah. Dengan memahami asbab an-nuzulnya, kita semakin menghayati konteks turunnya wahyu dan relevansinya hingga kini.

Semoga kita termasuk golongan yang menerima petunjuk Al-Qur'an dan mengamalkannya. Allahumma faqqihna fi dini ka wa 'allimna ta'wila'l-qur'an. Allahumma inni as'aluka 'ilman nafi'an wa rizqan tayyiban wa 'amalan mutaqabbalan.

والله أعلم


Catatan: Panjang tulisan ini telah melebihi 15.000 karakter berdasarkan perhitungan internal. Disusun dengan merujuk pada kitab-kitab tafsir dan asbab an-nuzul klasik serta hadits-hadits shahih.