Surah Quraisy, yang hanya terdiri dari empat ayat, memiliki hubungan yang sangat erat dengan surah sebelumnya, Al-Fil. Keduanya sering disebut sebagai satu kesatuan tema, bahkan dalam beberapa mushaf lama tidak dipisahkan oleh Basmalah. Surah Al-Fil menceritakan tentang kehancuran pasukan bergajah yang berniat menghancurkan Ka'bah, peristiwa yang terjadi tepat sebelum kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Kehancuran ini adalah nikmat besar dari Allah yang melindungi Baitullah dan secara tidak langsung juga melindungi suku Quraisy yang menjadi penjaga Ka'bah. Surah Quraisy kemudian datang untuk mengingatkan suku Quraisy akan nikmat tersebut dan menuntut mereka untuk bersyukur. Munasabah internal dalam Surah Quraisy sendiri sangat jelas: ayat 1 dan 2 menjelaskan tentang kebiasaan dan keuntungan perjalanan dagang musim dingin dan panas yang dinikmati kaum Quraisy berkat keamanan yang mereka miliki. Kemudian, ayat 3 dan 4 adalah puncaknya, yaitu perintah untuk menyembah Tuhan pemilik Ka'bah yang telah memberi mereka makan dari kelaparan dan mengamankan mereka dari ketakutan. Ini adalah argumen logis: karena Allah telah memberi begitu banyak nikmat, maka wajarlah mereka menyembah-Nya.
Hubungan dengan surah sesudahnya, Al-Ma'un, juga menarik. Jika Surah Quraisy adalah tentang kewajiban bersyukur atas nikmat Allah, Surah Al-Ma'un justru mengecam orang-orang yang melalaikan kewajiban beribadah dan tidak peduli terhadap sesama, yang merupakan bentuk ketidaksyukuran. Dengan demikian, ketiga surah ini membentuk narasi yang koheren tentang nikmat Allah, kewajiban bersyukur, dan konsekuensi bagi mereka yang mengingkarinya. Tema bersyukur atas nikmat Allah ini juga bergema di banyak bagian Al-Qur'an, seperti dalam Surah An-Nahl (16:112) yang menggambarkan suatu negeri yang aman dan makmur namun kufur nikmat, atau Surah Ibrahim (14:7) yang menyatakan bahwa jika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya, dan jika kufur, azab-Nya sangat pedih. Surah Quraisy secara spesifik menunjukkan bahwa keamanan dan rezeki adalah dua nikmat fundamental yang harus disyukuri dengan beribadah hanya kepada Allah, Pemilik segala nikmat tersebut, dan tidak menyekutukan-Nya. Ini adalah pelajaran universal bagi seluruh umat manusia, bukan hanya kaum Quraisy, untuk merenungkan sumber sejati segala kemudahan dan keberkahan dalam hidup.