← Daftar Pelajaran
Hari 103 · At-Tahrim · Ayat 1–12

Taubat yang sungguh-sungguh (At-Tahrim)

Seruan taubat nasuha; contoh istri nabi yang durhaka dan yang taat sebagai pelajaran.

Niat Hari 103 · At-Tahrim ayat 1–12

Tetapkan niat sebelum mulai

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”

(HR. Bukhari & Muslim)

Du'a sebelum membaca Al-Quran:

رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Rabbi zidni ‘ilma

Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. (QS. Taha: 114)

Pilih niat hari ini:

Maqasid Surah At-Tahrim التحريم
Pengharaman · Madaniyyah · 12 ayat

Tema sentral

Surah ini membahas bimbingan ilahi kepada Nabi Muhammad SAW mengenai insiden pengharaman hal yang halal, menekankan pentingnya ketaatan kepada hukum Allah di atas preferensi pribadi dan menjaga keharmonisan rumah tangga. Surah ini juga memberi peringatan kepada istri-istri Nabi, serta mengajarkan tentang tanggung jawab individu dan keluarga dalam menjaga diri dari api neraka.

Maqasid (tujuan surah)

  • Melindungi kehormatan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW dari fitnah.

Ayat kunci

Tujuan & Pesan Inti

Maqasid Surah, At-Tahrim

Menjaga batasan hukum Allah dalam keluarga dan pentingnya melindungi diri serta keluarga dari api neraka.

Tema Sentral

Surah At-Tahrim menyoroti dinamika kehidupan rumah tangga, khususnya keluarga Nabi Muhammad, untuk memberikan pelajaran bagi seluruh umat. Tema utamanya adalah penegasan bahwa hak menghalalkan dan mengharamkan mutlak milik Allah, serta pentingnya menjaga keharmonisan tanpa melanggar syariat-Nya.

Selain itu, surah ini menekankan urgensi bertaubat dengan sebenar-benarnya (taubat nasuha) dan tanggung jawab setiap pemimpin keluarga untuk menyelamatkan diri dan keluarganya dari siksa neraka. Sifat Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang sangat ditonjolkan bagi mereka yang mau kembali kepada-Nya.

Di akhir surah, Allah memberikan perumpamaan wanita-wanita beriman dan kafir sebagai bukti nyata. Hal ini menegaskan bahwa hidayah dan kesalehan adalah urusan individu yang tidak selalu bergantung pada status ketaatan pasangan hidup.

Konteks Turunnya

Surah ini diturunkan di Madinah untuk merespons dinamika rumah tangga Nabi Muhammad ketika beliau mengharamkan sesuatu yang halal demi menyenangkan istri-istrinya. Pesan ini ditujukan kepada seluruh umat Islam agar menjadikan hukum Allah sebagai standar tertinggi di atas perasaan atau tuntutan keluarga. Surah ini juga turun untuk memotivasi umat agar serius menjaga iman keluarga mereka di tengah berbagai ujian.

Tujuan / Maqasid (4)
  • Menegaskan bahwa otoritas menetapkan aturan halal dan haram hanyalah milik Allah semata.
  • Mengingatkan setiap mukmin untuk melindungi diri dan keluarganya dari ancaman api neraka.
  • Mengajak umat Islam untuk melakukan taubat nasuha atas segala kesalahan masa lalu.
  • Menjelaskan bahwa ikatan keluarga tidak bisa menyelamatkan seseorang dari azab Allah jika ia tidak beriman.
Hikmah Utama (4)
  • Cinta kepada keluarga tidak boleh membuat kita melanggar batasan syariat Allah.
  • Tanggung jawab terbesar orang tua bukan sekadar memberi nafkah materi, tetapi menyelamatkan keluarga dari api neraka melalui pendidikan agama.
  • Pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi mereka yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan bertekad tidak mengulangi dosa.
  • Kesalehan adalah tanggung jawab pribadi, lingkungan buruk tidak menghalangi ketaatan seperti istri Firaun, dan lingkungan baik tidak menjamin iman seperti istri Nabi Nuh.
Munasabah

Surah At-Tahrim berkaitan erat dengan surah sebelumnya, At-Talaq, yang juga membahas hukum-hukum keluarga dan perceraian. Jika At-Talaq membahas penyelesaian konflik rumah tangga melalui perpisahan yang baik, At-Tahrim membahas cara menjaga keharmonisan rumah tangga dengan tetap mematuhi batasan Allah. Keduanya melengkapi panduan Islam dalam membina keluarga yang bertakwa.

Kaitan Sehari-Hari
  • Situasi Terjebak dalam tuntutan gaya hidup keluarga yang melebihi batas kemampuan atau melanggar syariat.

    Pesan surah Jangan mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram hanya demi menyenangkan pasangan atau anak.

    Langkah kecil Diskusikan batasan keuangan dan agama dengan pasangan secara lembut namun tegas hari ini.

  • Situasi Merasa khawatir dengan pergaulan anak di era digital yang penuh fitnah.

    Pesan surah Menjaga keluarga dari api neraka adalah kewajiban utama yang membutuhkan usaha aktif.

    Langkah kecil Luangkan waktu 15 menit malam ini untuk mengobrol dengan anak tentang nilai-nilai iman.

  • Situasi Merasa terpuruk karena dosa masa lalu dan ragu apakah Allah akan mengampuni.

    Pesan surah Allah memerintahkan taubat nasuha, yaitu taubat yang tulus dan membawa perubahan nyata.

    Langkah kecil Lakukan shalat taubat dua rakaat sebelum tidur dan beristighfar dengan penuh penyesalan.

Amalan dari Maqasid

Evaluasi Agama Keluarga

Surah ini menekankan pentingnya menjaga diri dan keluarga dari neraka serta tidak melanggar syariat demi menyenangkan manusia. Evaluasi rutin membantu memastikan arah keluarga tetap di jalan Allah.

Cara praktis Ajak keluarga berkumpul sejenak untuk membaca satu ayat Al-Quran dan maknanya, lalu saling mengingatkan dalam kebaikan.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, ucapkan istighfar 100 kali dengan niat taubat nasuha dan doakan keselamatan akhirat untuk seluruh anggota keluarga Anda.

Ayat Kunci (3)
  • Ayat 1 Menegaskan bahwa hak menetapkan syariat hanya milik Allah, bukan manusia.
  • Ayat 6 Perintah tegas untuk mendidik dan melindungi keluarga dari siksa neraka.
  • Ayat 8 Perintah untuk bertaubat dengan taubat nasuha agar kesalahan dihapuskan oleh Allah.

At-Tahrim · 1
﴿ 1 ﴾

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Yā ayyuhan-nabiyyu lima tuḥarrimu mā aḥallallāhu lak(a), tabtagī marḍāta azwājik(a), wallāhu gafūrur raḥīm(un).

Wahai Nabi (Muhammad), mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan hati istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

At-Tahrim · 2
﴿ 2 ﴾

قَدْ فَرَضَ اللّٰهُ لَكُمْ تَحِلَّةَ اَيْمَانِكُمْۚ وَاللّٰهُ مَوْلٰىكُمْۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

Qad faraḍallāhu lakum taḥillata aimānikum, wallāhu maulākum, wa huwal-‘alīmul-ḥakīm(u).

Sungguh, Allah telah mensyariatkan untukmu pembebasan diri dari sumpahmu. Allah adalah pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

At-Tahrim · 3
﴿ 3 ﴾

وَاِذْ اَسَرَّ النَّبِيُّ اِلٰى بَعْضِ اَزْوَاجِهٖ حَدِيْثًاۚ فَلَمَّا نَبَّاَتْ بِهٖ وَاَظْهَرَهُ اللّٰهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهٗ وَاَعْرَضَ عَنْۢ بَعْضٍۚ فَلَمَّا نَبَّاَهَا بِهٖ قَالَتْ مَنْ اَنْۢبَاَكَ هٰذَاۗ قَالَ نَبَّاَنِيَ الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ

Wa iż asarran-nabiyyu ilā ba‘ḍi azwājihī ḥadīṡā(n), falammā nabba'at bihī wa aẓharahullāhu ‘alaihi ‘arrafa ba‘ḍahū wa a‘raḍa ‘am baḍ(in), falammā nabba'ahā bihī qālat man amba'aka hāżā, qāla nabba'aniyal-‘alīmul-khabīr(u).

(Ingatlah) ketika Nabi membicarakan secara rahasia suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Kemudian, ketika dia menceritakan (peristiwa) itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukannya (kejadian ini) kepadanya (Nabi), dia (Nabi) memberitahukan (kepada Hafsah) sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain. Ketika dia (Nabi) memberitahukan (pembicaraan) itu kepadanya (Hafsah), dia bertanya, “Siapa yang telah memberitahumu hal ini?” Nabi menjawab, “Yang memberitahuku adalah Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

At-Tahrim · 4
﴿ 4 ﴾

اِنْ تَتُوْبَآ اِلَى اللّٰهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوْبُكُمَاۚ وَاِنْ تَظٰهَرَا عَلَيْهِ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ مَوْلٰىهُ وَجِبْرِيْلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِيْنَۚ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَعْدَ ذٰلِكَ ظَهِيْرٌ

In tatūbā ilallāhi faqad ṣagat qulūbukumā, wa in taẓāharā ‘alaihi fa innallāha huwa maulāhu wa jibrīlu wa ṣāliḥul-mu'minīn(a), wal-malā'ikatu ba‘da żālika ẓahīr(un).

Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, sungguh hati kamu berdua telah condong (pada kebenaran) dan jika kamu berdua saling membantu menyusahkan dia (Nabi), sesungguhnya Allahlah pelindungnya. Demikian juga Jibril dan orang-orang mukmin yang saleh. Selain itu, malaikat-malaikat (juga ikut) menolong.

At-Tahrim · 5
﴿ 5 ﴾

عَسٰى رَبُّهٗٓ اِنْ طَلَّقَكُنَّ اَنْ يُّبْدِلَهٗٓ اَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنْكُنَّ مُسْلِمٰتٍ مُّؤْمِنٰتٍ قٰنِتٰتٍ تٰۤىِٕبٰتٍ عٰبِدٰتٍ سٰۤىِٕحٰتٍ ثَيِّبٰتٍ وَّاَبْكَارًا

‘Asā rabbuhū in ṭallaqakunna ay yubdilahū azwājan khairam minkunna muslimātim mu'minātin qānitātin tā'ibātin ‘ābidātin sā'iḥātin ṡayyibātiw wa abkārā(n).

Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang berserah diri, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang beribadah, dan yang berpuasa, baik yang janda maupun yang perawan.

At-Tahrim · 6
﴿ 6 ﴾

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nāraw waqūduhan-nāsu wal-ḥijāratu ‘alaihā malā'ikatun gilāẓun syidādul lā ya‘ṣūnallāha mā amarahum wa yaf‘alūna mā yu'marūn(a).

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

At-Tahrim · 7
﴿ 7 ﴾

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَۗ اِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ

Yā ayyuhal-lażīna kafarū lā ta‘tażīrul-yaum(a), innamā tujzauna mā kuntum ta‘malūn(a).

Wahai orang-orang yang kufur, janganlah kamu mencari-cari alasan pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan (sesuai dengan) apa yang selama ini kamu kerjakan.

At-Tahrim · 8
﴿ 8 ﴾

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَاۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū tūbū ilallāhi taubatan naṣūḥā(n), ‘asā rabbukum ay yukaffira ‘ankum sayyi'ātikum wa yudkhilakum jannātin tajrī min taḥtihal-anhār(u), yauma lā yukhzillāhun-nabiyya wal-lażīna āmanū ma‘ah(ū), nūruhum yas‘ā baina aidīhim wa bi'aimānihim yaqūlūna rabbanā atmim lanā nūranā wagfir lanā, innaka ‘alā kulli syai'in qadīr(un).

Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersamanya. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

At-Tahrim · 9
﴿ 9 ﴾

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنٰفِقِيْنَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْۗ وَمَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

Yā ayyuhan-nabiyyu jāhidil-kuffāra wal-munāfiqīna wagluẓ ‘alaihim, wa ma'wāhum jahannam(u), wa bi'sal-maṣīr(u).

Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah (neraka) Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.

At-Tahrim · 10
﴿ 10 ﴾

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Ḍaraballāhu maṡalal lil-lażīna kafarumra'ata nūḥiw wamra'ata lūṭ(in), kānatā taḥta ‘abdaini min ‘ibādinā ṣāliḥaini fa khānatāhumā falam yugniyā ‘anhumā minallāhi syai'aw wa qīladkhulan-nāra ma‘ad-dākhilīn(a).

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”

At-Tahrim · 11
﴿ 11 ﴾

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ

Wa ḍaraballāhu maṡalal lil-lażīna āmanumra'ata fir‘aun(a), iż qālat rabbibni lī ‘indaka baitan fil jannati wa najjinī min fir‘auna wa ‘amalihī wa najjinī minal qaumiẓ-ẓālimīn(a).

Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”

At-Tahrim · 12
﴿ 12 ﴾

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ ࣖ ۔

Wa maryamabnata ‘imrānal-latī aḥṣanat farjahā fa nafakhnā fīhi mir rūḥinā wa ṣaddaqat bikalimāti rabbihā wa kutubihī wa kānat minal-qānitīn(a).

Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat.

Langkah Tadabbur

  1. 1
    Bacaan
    +10 XP
  2. 2
    Kosakata
    +20 XP
  3. 3
    Asbab an-Nuzul
    +10 XP
  4. 4
    Tafsir
    +15 XP
  5. 5
    Munasabah
    +10 XP
  6. 6
    Kuis
    +30 XP
  7. 7
    Renungan
    +25 XP
  8. 8
    Amalan
    +15 XP
  9. 9
    Hafalan
    +20 XP
Eksplorasi lanjutan

Setelah Hari 103, lanjutkan tema Surat At-Tahrim