1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah At-Tahrim (التحريم) adalah surah ke-66 dalam mushaf Al-Qur’an, terdiri dari 12 ayat, dan termasuk surah Madaniyyah. Para ulama sepakat bahwa surah ini turun di Madinah setelah hijrah Nabi Muhammad ﷺ. Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul menyebutkan bahwa surah ini diturunkan pada periode Madinah, terkait dengan peristiwa rumah tangga Nabi ﷺ. Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul juga mengklasifikasikannya sebagai surah Madaniyyah. Tidak ada riwayat yang menyebut urutan nuzul spesifik surah ini dalam daftar turunnya wahyu, namun berdasarkan konteks peristiwa, para ulama memperkirakan surah ini turun sekitar tahun 6-7 H, ketika kehidupan keluarga Nabi ﷺ diuji dengan kecemburuan istri-istri beliau. Periode ini merupakan masa stabilnya Daulah Islam di Madinah, setelah Perang Khandaq dan Perjanjian Hudaibiyah, sebelum Fathu Makkah.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Riwayat yang paling shahih dan masyhur adalah tentang minuman madu yang diharamkan Nabi ﷺ. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih (Kitab at-Talaq, Bab: “Lima tuharrimu ma ahalla Allahu laka”, no. 5267) dan Muslim (Shahih Muslim, Kitab at-Talaq, no. 1474) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Bahwasanya Nabi ﷺ biasa minum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Maka aku dan Hafshah bersepakat bahwa siapa saja dari kami yang didatangi Nabi ﷺ, hendaklah ia berkata: ‘Engkau makan Maghafir (sejenis tumbuhan berbau busuk)?’ Aku (Aisyah) berkata: ‘Wahai Rasulullah, aku mencium bau Maghafir padamu.’ Beliau bersabda: ‘Tidak, tetapi aku minum madu di rumah Zainab binti Jahsy, dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Lalu aku bersumpah, janganlah engkau ceritakan kepada siapa pun.’ Maka turunlah ayat: Yā ayyuha an-nabiyyu lima tuharrimu ma ahalla Allahu laka…”
Riwayat ini juga dicatat oleh Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul (hal. 267) dan As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul (hal. 241). Dalam riwayat tersebut, Nabi ﷺ mengharamkan madu yang halal karena ingin menyenangkan hati istri-istrinya. Ayat 1-2 turun sebagai teguran sekaligus memberikan keringanan (kafarat sumpah) agar beliau tidak perlu terus-menerus mengharamkan yang halal.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Selain riwayat madu, terdapat juga riwayat tentang rahasia Nabi ﷺ yang dibocorkan oleh Hafshah kepada Aisyah. Riwayat ini menjadi latar belakang ayat 3-5. Diriwayatkan oleh Bukhari (no. 4914) dan Muslim (no. 1479) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Aku terus ingin bertanya kepada Umar tentang dua istri Nabi ﷺ yang disebut dalam firman Allah In tatuuba ila Allahi faqad saghat qulubukuma… Sampai Umar pergi haji dan aku bersamanya… lalu aku bertanya: ‘Wahai Amirul Mukminin, siapakah dua istri itu?’ Umar menjawab: ‘Aisyah dan Hafshah.’”
Namun, riwayat ini tidak menyebutkan detail rahasia yang dimaksud. Dalam Tafsir ath-Thabari (Jami' al-Bayan, 28/136), disebutkan dari Qatadah bahwa rahasia itu adalah perihal Nabi ﷺ yang mengharamkan budak wanitanya (Mariyah al-Qibtiyyah) atas dirinya untuk menyenangkan hati Hafshah. Pendapat ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari beberapa tabi’in. Sementara itu, Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (18/191) menguatkan bahwa rahasia itu adalah tentang madu, dan ayat 3 menegur Hafshah yang membocorkan rahasia Nabi ﷺ kepada Aisyah. Tidak ada riwayat yang secara jelas menyebutkan peristiwa lain selain itu, sehingga sebagian ulama menggabungkan kedua riwayat.
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (8/181) menyebutkan bahwa asbab an-nuzul surah ini terkait dengan dua kejadian: (1) sumpah Nabi ﷺ untuk tidak minum madu, dan (2) kisah Hafsah yang membocorkan rahasia. Beliau menegaskan bahwa semua riwayat dapat dikompromikan karena surah ini turun berkenaan dengan beberapa peristiwa dalam rumah tangga Nabi ﷺ. As-Sa’di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman (hlm. 845) juga mengemukakan hal senada dan menyebutkan bahwa ayat 6 tentang menjaga keluarga dari neraka merupakan nasihat umum yang terkait dengan tanggung jawab kepala keluarga.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Ayat 6-12 tidak memiliki riwayat asbab khusus yang terperinci. Namun, ayat 6 secara umum turun sebagai perintah menjaga diri dan keluarga dari api neraka, dan ini relevan dengan konteks keluarga Nabi ﷺ yang ditegur sebelumnya. Ayat 7 (seruan kepada orang kafir) tidak terkait langsung dengan peristiwa tertentu, melainkan merupakan peringatan umum. Ayat 8-9 tentang tobat nasuha dan jihad juga merupakan petunjuk bagi kaum mukminin. Sedangkan ayat 10-12 berisi perumpamaan tentang istri Nuh, istri Luth, istri Fir’aun, dan Maryam, yang berfungsi sebagai pelajaran tentang iman dan kekufuran dalam ikatan keluarga. Semua ini disampaikan tanpa latar belakang spesifik, namun konteks makro surah ini adalah perbaikan moral keluarga dan sosial.
3. Konteks Historis & Sosial
Madinah pada masa itu telah menjadi pusat pemerintahan Islam. Masyarakat muslim terbiasa dengan kehidupan berpoligami, namun kecemburuan di antara istri-istri Nabi ﷺ merupakan ujian yang wajar. Aisyah dan Hafshah, yang masih muda dan cerdas, sering kali bersaing dalam mendapatkan perhatian Nabi ﷺ. Peristiwa madu dan pembocoran rahasia menunjukkan bagaimana Allah ﷻ mendidik istri-istri Nabi agar lebih berhati-hati dan menjaga kehormatan rumah tangga. Secara sosial, surah ini mengajarkan bahwa seorang suami, meskipun seorang nabi, tidak boleh mengharamkan yang halal demi menyenangkan salah satu pihak. Allah juga menegaskan bahwa ikatan pernikahan tidak mengubah status kenabian, dan siapa pun yang durhaka akan mendapat balasan. Di sisi lain, perumpamaan tentang istri-istri para nabi dan Maryam menunjukkan bahwa keselamatan seseorang tergantung pada imannya, bukan pada hubungan darah atau perkawinan.
4. Tema Sentral Surah
Tema utama Surah At-Tahrim adalah tarbiyah (pendidikan) bagi kaum mukminin dalam hal kejujuran, menepati janji, dan menjaga rahasia. Juga penegasan tentang kekuasaan Allah dalam menetapkan syariat. Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa surah ini mengajarkan adab terhadap Nabi ﷺ dan keluarganya. Tema lain adalah taubat nasuha (taubat yang sebenar-benarnya) dan ancaman bagi orang munafik. Menurut As-Sa’di, surah ini menggabungkan antara pendidikan individu dan peringatan kolektif. Munasabah dengan surah sebelumnya (At-Talaq) cukup jelas: At-Talaq berbicara tentang talak dan hukum keluarga, sementara At-Tahrim berbicara tentang menjaga keharmonisan dan tidak melampaui batas Allah.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Tidak ada hadits shahih khusus yang menyebutkan keutamaan membaca Surah At-Tahrim. Namun, secara umum, membaca Al-Qur’an memiliki keutamaan besar. Nabi ﷺ bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim no. 804). Sebagian ulama menyebutkan bahwa ayat 8 (tobat nasuha) memiliki keutamaan tersendiri, dan dianjurkan membacanya ketika bertobat. Namun, tidak ada riwayat dari Nabi ﷺ atau sahabat yang secara khusus mengamalkan surah ini secara rutin.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan “mengapa engkau mengharamkan” sebagai larangan terhadap sesuatu yang halal hanya karena sumpah. Mujahid dan Qatadah menambahkan bahwa Nabi ﷺ bersumpah tidak akan minum madu, lalu Allah memerintahkan kafarat. Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Zaid bahwa ayat itu turun karena Nabi ﷺ pernah mengharamkan seorang budak perempuannya (Mariyah) atas dirinya. Al-Qurthubi lebih memilih riwayat madu karena lebih shahih. As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul mengumpulkan semua riwayat dan menyimpulkan bahwa surah ini turun secara bertahap terkait beberapa peristiwa. Ulama khalaf semisal As-Sa’di dan Syinqithi menekankan aspek adab terhadap Rasulullah dan pentingnya tobat nasuha.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
- Jangan mengharamkan yang halal hanya karena ingin menyenangkan manusia; setiap muslim berhak menikmati karunia Allah dengan syukur.
- Sumpah yang baik harus ditepati, namun jika ternyata lebih baik melanggarnya, maka bayarlah kafarat dan jangan terus-menerus mengharamkan.
- Menjaga rahasia suami/istri adalah kewajiban; membocorkannya tanpa izin dapat merusak kepercayaan dan menyebabkan konflik.
- Tanggung jawab kepala keluarga sangat besar; ia harus mengajak keluarganya kepada ketaatan agar terhindar dari neraka.
- Taubat nasuha (murni dan tulus) mengundang ampunan Allah dan keselamatan di akhirat.
- Perumpamaan tentang istri Nuh dan Luth mengingatkan bahwa hubungan keluarga tidak menjamin keselamatan tanpa iman, sedangkan Asiyah binti Muzahim dan Maryam menjadi teladan bahwa iman dapat menyelamatkan meskipun dalam lingkungan yang buruk.
Pelajaran-pelajaran ini relevan bagi keluarga modern yang sering diuji kepercayaan dan keharmonisannya. Surah ini mengajarkan pentingnya komunikasi yang baik, saling menghormati, dan kembali kepada syariat dalam menyelesaikan masalah rumah tangga.
8. Penutup & Doa
Surah At-Tahrim merupakan bukti kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya. Melalui teguran yang lembut, Allah membimbing hamba-Nya agar tetap berada di jalan yang lurus. Pesan utamanya adalah kejujuran, taubat, dan tanggung jawab dalam keluarga. Semoga kita semua termasuk orang yang menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Amin.
اللهم فقهنا في الدين وعلمنا التأويل، وارزقنا العمل بالقرآن، واجعلنا من أهل القرآن الذين هم أهلك وخاصتك. آمين. والله أعلم.