الۤمّۤصۤ ۚ
Alif lām mīm ṣād.
Alif Lām Mīm Ṣād.
Kisah Adam, Iblis, Musa, dan umat-umat terdahulu; pelajaran dari al-A'raf.
Surah Al-A'raf, sebuah surah Makkiyyah, secara komprehensif memaparkan tema sentral tentang keniscayaan wahyu dan akibat dari penerimaan atau penolakan terhadapnya. Surah ini mengukuhkan kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ dengan menempatkannya dalam sebuah pola sejarah yang panjang, yaitu perjuangan abadi antara kebenaran yang dibawa para nabi dan kebatilan yang diusung oleh Iblis beserta para pengikutnya. Melalui kisah-kisah Adam, Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu'aib, dan Musa, surah ini menunjukkan bahwa inti ajaran ilahi (tauhid) selalu sama, begitu pula dengan sifat penolakan dari kaum yang sombong. Nama surah, Al-A'raf (Tempat Tertinggi), menyoroti tema pertanggungjawaban akhir di Hari Kiamat, di mana nasib setiap jiwa ditentukan oleh respons mereka terhadap petunjuk Allah di dunia.
Pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan sejak masa Nabi Adam hingga akhir zaman.
Surah Al-A'raf menguraikan sejarah panjang perjuangan para nabi dalam menegakkan tauhid, mulai dari kisah Nabi Adam dan tipu daya iblis, hingga kisah umat-umat terdahulu yang dibinasakan karena keangkuhan mereka. Surah ini menekankan pentingnya mengikuti wahyu Allah dan bahaya kesombongan yang menghalangi seseorang dari menerima kebenaran.
Selain itu, surah ini juga menggambarkan keadaan di akhirat kelak, khususnya tentang Ashabul A'raf, yaitu orang-orang yang berada di tempat tertinggi antara surga dan neraka karena kebaikan dan keburukan mereka seimbang. Hal ini menjadi pengingat kuat akan keadilan Allah dan pentingnya memperbanyak amal saleh di dunia.
Surah ini diturunkan di Makkah saat umat Islam mengalami penindasan dan penolakan keras dari kaum musyrikin. Surah ini hadir untuk menguatkan hati Nabi Muhammad dan para sahabat dengan menceritakan kesabaran para nabi terdahulu. Pesannya jelas bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang melawan kebatilan.
Surah Al-A'raf melanjutkan tema Surah Al-An'am yang fokus pada tauhid dan akidah, dengan memberikan bukti sejarah empiris melalui kisah para nabi. Setelah Al-A'raf, Surah Al-Anfal menyusul dengan panduan praktis tentang hukum perang dan interaksi dengan musuh, sebagai kelanjutan logis dari perjuangan menegakkan kebenaran.
Situasi Merasa lebih baik, lebih pintar, atau lebih kaya dari orang lain.
Pesan surah Kesombongan adalah sifat iblis yang menyebabkan ia terusir dari rahmat Allah.
Langkah kecil Ucapkan istighfar saat merasa sombong dan cari satu kebaikan dari orang yang diremehkan.
Situasi Tergoda untuk mengikuti tren berpakaian yang melanggar syariat.
Pesan surah Pakaian adalah nikmat Allah untuk menutup aurat, namun pakaian takwa adalah yang terbaik.
Langkah kecil Periksa kembali isi lemari dan pilihlah pakaian yang paling sesuai dengan tuntunan syariat saat keluar rumah.
Situasi Menghadapi masalah berat dan bingung harus meminta tolong kepada siapa.
Pesan surah Allah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap.
Langkah kecil Luangkan waktu lima menit setelah salat untuk berdoa dengan suara pelan dan penuh kerendahan hati.
Surah ini banyak menyoroti pentingnya kerendahan hati di hadapan Allah, baik melalui kisah para nabi maupun adab berdoa. Berdoa dengan tadharru' atau merendahkan diri adalah kunci turunnya rahmat.
Cara praktis Berdoalah di sepertiga malam terakhir dengan suara lirih, mengakui kelemahan diri, dan memohon ampunan secara tulus.
Hari ini, berdoalah kepada Allah dengan suara pelan dan penuh kerendahan hati, sebutkan satu kelemahanmu dan mintalah bimbingan-Nya.
الۤمّۤصۤ ۚ
Alif lām mīm ṣād.
Alif Lām Mīm Ṣād.
كِتٰبٌ اُنْزِلَ اِلَيْكَ فَلَا يَكُنْ فِيْ صَدْرِكَ حَرَجٌ مِّنْهُ لِتُنْذِرَ بِهٖ وَذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Kitābun unzila ilaika falā yakun fī ṣadrika ḥarajum minhu litunżira bihī wa żikrā lil-mu'minīn(a).
(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad), maka janganlah engkau sesak dada karenanya supaya dengan (kitab itu) engkau memberi peringatan, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.
اِتَّبِعُوْا مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ
Ittabi‘ū mā unzila ilaikum mir rabbikum wa lā tattabi‘ū min dūnihī auliyā'(a), qalīlam mā tażakkarūn(a).
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu ikuti pelindung selain Dia. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.
وَكَمْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا فَجَاۤءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا اَوْ هُمْ قَاۤىِٕلُوْنَ
Wa kam min qaryatin ahlaknāhā fa jā'ahā ba'sunā bayātan au hum qā'ilūn(a).
Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan. Siksaan Kami datang (menimpa penduduknya) pada malam hari atau pada saat mereka beristirahat pada siang hari.
فَمَا كَانَ دَعْوٰىهُمْ اِذْ جَاۤءَهُمْ بَأْسُنَآ اِلَّآ اَنْ قَالُوْٓا اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
Famā kāna da‘wāhum iż jā'ahum ba'sunā illā an qālū innā kunnā ẓālimīn(a).
Maka, ketika siksaan Kami datang menimpa mereka, keluhan mereka tidak lain hanyalah ucapan “Sesungguhnya kami adalah orang-orang zalim.”
فَلَنَسْـَٔلَنَّ الَّذِيْنَ اُرْسِلَ اِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَٔلَنَّ الْمُرْسَلِيْنَۙ
Fa lanas'alannal-lażīna ursila ilaihim wa lanas'alannal-mursalīn(a).
Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul. Pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul.
فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيْهِمْ بِعِلْمٍ وَّمَا كُنَّا غَاۤىِٕبِيْنَ
Fa lanaquṣṣanna ‘alaihim bi‘ilmiw wa mā kunnā gā'ibīn(a).
Kemudian, pasti akan Kami kabarkan (hal itu) kepada mereka berdasarkan ilmu (Kami). Sedikit pun Kami tidak pernah gaib (jauh dari mereka).
وَالْوَزْنُ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْحَقُّۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Wal-waznu yauma'iżinil-ḥaqq(u), faman ṡaqulat mawāzīnuhū fa ulā'ika humul-mufliḥūn(a).
Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang beruntung.
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَظْلِمُوْنَ
Wa man khaffat mawāzīnuhū fa ulā'ikal-lażīna khasirū anfusahum bimā kānū bi'āyātinā yaẓlimūn(a).
Siapa yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ࣖ
Wa laqad makkannākum fil-arḍi wa ja‘alnā lakum fīhā ma‘āyisy(a), qalīlam mā tasykurūn(a).
Sungguh, Kami benar-benar telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan Kami sediakan di sana (bumi) penghidupan untukmu. (Akan tetapi,) sedikit sekali kamu bersyukur
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Hisyam] dari [Bapaknya] dari ['Abdullah bin Az Zubair] mengenai firman Al…
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin An Nadlr] Telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Mu'adz] Telah menceritakan kepada kami [Bapakku] Telah…
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 10: "Sungguh, Kami benar-benar telah menempatkan kamu sekalian di bumi dan Kami sediakan di sana penghidupan untu…
Dalam meniti jalan kehidupan, seringkali kita merasa bimbang antara usaha dan kepasrahan. Surat Al-A'raf ayat 9 memberikan pengingat yang tajam: Wa man khaff…
Dalam kehidupan yang penuh ketidakpastian, sering kali kita merasa cemas akan hasil akhir dari ikhtiar yang kita lakukan. Allah Ta'ala memberikan penawar bag…