← Daftar Pelajaran
Hari 54 · Al-Isra' · Ayat 1–7

Isra Mi'raj dan perintah shalat (Al-Isra')

Perjalanan malam agung Rasulullah; shalat lima waktu; wasiat moral Al-Quran.

Niat Hari 54 · Al-Isra' ayat 1–7

Tetapkan niat sebelum mulai

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”

(HR. Bukhari & Muslim)

Du'a sebelum membaca Al-Quran:

رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Rabbi zidni ‘ilma

Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. (QS. Taha: 114)

Pilih niat hari ini:

Maqasid Surah Al-Isra' الاسراۤء
Memperjalankan Malam Hari · Makkiyyah · 111 ayat

Tema sentral

Surah Al-Isra' menggarisbawahi keesaan Allah, kenabian Muhammad, dan ajaran moral Islam. Ia membahas peristiwa Isra' Mi'raj sebagai mukjizat dan menguraikan prinsip-prinsip syariat, termasuk adab berinteraksi dengan orang tua, hak anak yatim, serta larangan perbuatan keji, menegaskan bahwa semua perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Surah ini juga menekankan kebenaran Al-Qur'an dan tantangan terhadap mereka yang menolaknya.

Maqasid (tujuan surah)

  • Menjelaskan Isra' Mi'raj sebagai bukti kebesaran Allah dan kenabian Muhammad.

Ayat kunci

Tujuan & Pesan Inti

Maqasid Surah, Al-Isra'

Menegaskan kebesaran Allah, kemuliaan Al-Quran, dan panduan akhlak mulia bagi umat Islam dalam membangun peradaban.

Tema Sentral

Surah ini berpusat pada pemuliaan Allah, peristiwa Isra Mikraj, dan penetapan syariat yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta, keluarga, serta masyarakat. Di dalamnya terdapat panduan etika universal yang sangat rinci, seperti perintah berbakti kepada orang tua, memenuhi janji, menjaga harta anak yatim, dan larangan berbuat zalim.

Selain itu, surah ini menegaskan bahwa Al-Quran adalah mukjizat terbesar dan petunjuk paling lurus bagi umat manusia. Kisah Bani Israil juga disinggung sebagai pelajaran penting tentang kehancuran suatu bangsa akibat kesombongan dan kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi.

Konteks Turunnya

Diturunkan pada masa-masa sulit di Makkah, menjelang hijrah ke Madinah, setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Surah ini hadir untuk menghibur Nabi Muhammad melalui peristiwa agung Isra Mikraj dan membekali umat dengan pondasi hukum serta akhlak untuk membangun masyarakat baru.

Tujuan / Maqasid (5)
  • Menegaskan keesaan Allah dan menyucikan-Nya dari segala bentuk sekutu.
  • Menjelaskan kedudukan Al-Quran sebagai petunjuk yang paling lurus dan penyembuh jiwa.
  • Mengajak manusia untuk membangun akhlak mulia, terutama berbakti kepada kedua orang tua.
  • Mengingatkan manusia akan kepastian hari kiamat dan balasan atas setiap amal perbuatan.
  • Menggugah kesadaran tentang bahaya kesombongan dan sikap melampaui batas di muka bumi.
Hikmah Utama (4)
  • Setiap kesulitan yang dihadapi dengan sabar pasti akan diikuti dengan kemuliaan dari Allah, sebagaimana peristiwa Isra Mikraj setelah tahun kesedihan.
  • Berbakti kepada orang tua, terutama saat mereka berusia lanjut, adalah kunci keberkahan hidup dan jalan meraih ridha Allah.
  • Al-Quran adalah penyembuh bagi penyakit hati dan petunjuk terbaik dalam menghadapi berbagai kebingungan hidup.
  • Sikap boros dan menghamburkan harta untuk kesia-siaan akan menjauhkan manusia dari keberkahan dan mendekatkannya pada sifat setan.
Munasabah

Surah An-Nahl sebelumnya diakhiri dengan perintah bersabar, lalu Surah Al-Isra' dibuka dengan tasbih dan mukjizat sebagai buah dari kesabaran Nabi. Surah Al-Kahfi sesudahnya sama-sama membahas keajaiban kekuasaan Allah dan pentingnya berlindung pada petunjuk-Nya dari fitnah dunia.

Kaitan Sehari-Hari
  • Situasi Merasa lelah dan kehilangan kesabaran saat merawat orang tua yang sudah sepuh.

    Pesan surah Ucapkan kata-kata mulia, jangan membentak mereka, dan rendahkan diri dengan penuh kasih sayang.

    Langkah kecil Cium tangan orang tua Anda dan doakan ampunan serta kasih sayang untuk mereka hari ini.

  • Situasi Tergoda untuk bersikap boros dan membeli barang yang tidak perlu saat menerima gaji.

    Pesan surah Pemboros adalah saudara setan, kelola harta titipan Allah dengan bijak dan proporsional.

    Langkah kecil Sisihkan sebagian gaji di awal untuk sedekah sebelum membelanjakannya untuk keinginan pribadi.

  • Situasi Menghadapi masalah berat yang membuat hati terasa gelap dan putus asa.

    Pesan surah Allah mampu memperjalankan hamba-Nya di malam yang gelap menuju cahaya dan kedudukan yang terpuji.

    Langkah kecil Bangun shalat tahajud malam ini dan adukan segala masalah Anda hanya kepada Allah.

Amalan dari Maqasid

Birrul Walidain (Berbakti pada Orang Tua)

Surah ini menempatkan perintah berbakti kepada orang tua tepat setelah perintah tauhid kepada Allah. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang tua dalam Islam dan pentingnya menjaga lisan serta sikap di hadapan mereka.

Cara praktis Hubungi atau temui orang tua Anda hari ini, tanyakan kabarnya dengan lembut, dan bacakan doa Rabbi irhamhuma kama rabbayani saghira.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, tahan diri dari mengeluh, hubungi orang tua Anda untuk meminta rida mereka, dan bacalah Al-Quran dengan tartil.

Ayat Kunci (3)
  • Ayat 1 Menjelaskan peristiwa agung Isra Mikraj, kebesaran Allah, dan keberkahan Masjidil Aqsa.
  • Ayat 9 Menegaskan bahwa Al-Quran memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus bagi kehidupan manusia.
  • Ayat 23 Berisi perintah tegas untuk bertauhid dan berbakti kepada kedua orang tua dengan akhlak terbaik.

Al-Isra' · 1
﴿ 1 ﴾

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Subḥānal-lażī asrā bi‘abdihī lailam minal-masjidil ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū linuriyahū min āyātinā, innahū huwas-samī‘ul-baṣīr(u).

Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Al-Isra' · 2
﴿ 2 ﴾

وَاٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَجَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَلَّا تَتَّخِذُوْا مِنْ دُوْنِيْ وَكِيْلًاۗ

Wa ātainā mūsal-kitāba wa ja‘alnāhu hudal libanī isrā'īla allā tattakhiżū min dūnī wakīlā(n).

Kami memberi Musa Kitab (Taurat) dan menjadikannya sebagai petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), “Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku.

Al-Isra' · 3
﴿ 3 ﴾

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۗ اِنَّهٗ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا

Żurriyyata man ḥamalnā ma‘a nūḥ(in), innahū kāna ‘abdan syakūrā(n).

(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh, sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.”

Al-Isra' · 4
﴿ 4 ﴾

وَقَضَيْنَآ اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ فِى الْكِتٰبِ لَتُفْسِدُنَّ فِى الْاَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيْرًا

Wa qaḍainā ilā banī isrā'īla fil-kitābi latufsidunna fil-arḍi marrataini wa lata‘lunna ‘uluwwan kabīrā(n).

Kami wahyukan kepada Bani Israil di dalam Kitab (Taurat) itu, “Kamu benar-benar akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan benar-benar akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”

Al-Isra' · 5
﴿ 5 ﴾

فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ اُوْلٰىهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ فَجَاسُوْا خِلٰلَ الدِّيَارِۗ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُوْلًا

Fa iżā jā'a wa‘du ūlāhumā ba‘aṡnā ‘alaikum ‘ibādal lanā ulī ba'sin syadīdin fa jāsū khilālad-diyār(i), wa kāna wa‘dam maf‘ūlā(n).

Apabila datang saat (kerusakan) yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Itulah janji yang pasti terlaksana.

Al-Isra' · 6
﴿ 6 ﴾

ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَاَمْدَدْنٰكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَجَعَلْنٰكُمْ اَكْثَرَ نَفِيْرًا

Ṡumma radadnā lakumul-karrata ‘alaihim wa amdadnākum bi'amwāliw wa banīna wa ja‘alnākum akṡara nafīrā(n).

Kemudian, Kami memberikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan menjadikanmu kelompok yang lebih besar.

Al-Isra' · 7
﴿ 7 ﴾

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا

In aḥsantum aḥsantum li'anfusikum, wa in asa'tum fa lahā, fa iżā jā'a wa‘dul-ākhirati liyasū'ū wujūhakum wa liyadkhulal-masjida kamā dakhalūhu awwala marratiw wa liyutabbirū mā ‘alau tatbīrā(n).

Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.

Langkah Tadabbur

  1. 1
    Bacaan
    +10 XP
  2. 2
    Kosakata
    +20 XP
  3. 3
    Asbab an-Nuzul
    +10 XP
  4. 4
    Tafsir
    +15 XP
  5. 5
    Munasabah
    +10 XP
  6. 6
    Kuis
    +30 XP
  7. 7
    Renungan
    +25 XP
  8. 8
    Amalan
    +15 XP
  9. 9
    Hafalan
    +20 XP
Eksplorasi lanjutan

Setelah Hari 54, lanjutkan tema Surat Al-Isra'