Surah Al-Isra' (Surah ke-17) memiliki hubungan yang kuat dengan surah sebelumnya, An-Nahl (Surah ke-16), yang ditutup dengan penekanan pada tauhid dan keesaan Allah, serta kesabaran Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi tantangan dakwah. Al-Isra' dibuka dengan peristiwa Isra' Mi'raj, sebuah mukjizat luar biasa yang menegaskan kekuasaan Allah dan kemuliaan Nabi, sekaligus menjadi penguatan bagi Nabi setelah periode kesulitan di Makkah. Ini juga secara implisit mengisyaratkan bahwa Allah adalah satu-satunya pelindung sejati, selaras dengan pesan tauhid.
Secara internal, ayat-ayat awal surah ini menghubungkan Isra' Mi'raj dengan kisah Bani Israil dan Nabi Musa a.s. (ayat 2-7). Perbandingan ini menyoroti pola sejarah umat terdahulu: ketika mereka berpegang pada petunjuk Allah (Kitab Taurat), mereka diberkahi dan ditinggikan; namun, ketika mereka menyimpang dan berbuat kerusakan, mereka dihukum. Ini menjadi pelajaran penting bagi umat Nabi Muhammad ﷺ tentang konsekuensi ketaatan dan kemaksiatan, serta penegasan bahwa hukum sebab-akibat ilahi berlaku bagi semua umat.
Tema sentral Isra' Mi'raj, yang mencakup perjalanan malam dan kenaikan ke langit, juga merupakan penegasan akan kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ dan wahyu yang dibawanya. Peristiwa ini, yang mendahului hijrah ke Madinah, juga menjadi dasar bagi penetapan shalat lima waktu, sebuah rukun Islam yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya secara langsung. Dengan demikian, surah ini secara indah merangkai mukjizat kenabian, pelajaran sejarah, dan kewajiban ibadah, semuanya bermuara pada pengukuhan tauhid dan ketaatan kepada Allah.