كۤهٰيٰعۤصۤ ۚ
Kāf hā yā ‘aīn ṣād.
Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād.
Doa Zakaria yang dikabulkan; kelahiran Yahya dan Isa; kisah Maryam yang suci.
Surah Maryam secara sentral membahas kasih sayang ilahi (rahmah) yang terwujud dalam anugerah keturunan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, seperti kisah Nabi Zakariya dan kelahiran Yahya, serta kelahiran Nabi Isa dari Maryam tanpa ayah. Surah ini menekankan keesaan Allah dan kemudahan bagi-Nya untuk menciptakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya.
Surah ini menyoroti kasih sayang Allah yang tak terbatas kepada hamba-hamba-Nya yang berdoa dengan tulus.
Surah Maryam berpusat pada sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) dari Allah. Melalui kisah-kisah menakjubkan para nabi seperti Zakaria, Yahya, Maryam, Isa, dan Ibrahim, surah ini menunjukkan bahwa rahmat Allah melampaui logika manusia dan hukum alam.
Selain itu, surah ini menegaskan kemurnian tauhid dan membantah keras anggapan bahwa Allah memiliki anak. Pesan moral yang dominan menekankan pentingnya adab dalam berdoa, menjaga kelembutan hati, serta berbakti kepada orang tua dan keluarga meskipun terdapat perbedaan keyakinan.
Surah ini diturunkan di Makkah saat umat Islam mengalami penindasan berat dari kaum musyrikin. Kisah-kisah di dalamnya bertujuan menguatkan hati Nabi Muhammad dan para sahabat, serta menjadi bekal bagi mereka yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia) saat berhadapan dengan Raja Najasyi yang beragama Kristen.
Surah Al-Kahf sebelumnya diakhiri dengan penegasan bahwa kalimat Allah tidak akan habis ditulis, sedangkan Surah Maryam membuktikan hal tersebut melalui kisah-kisah keajaiban para nabi. Setelahnya, Surah Ta Ha melanjutkan tema hiburan bagi Nabi Muhammad agar tidak bersedih dalam mengemban risalah.
Situasi Menghadapi masalah pelik yang seolah tidak ada jalan keluarnya secara logika.
Pesan surah Doa yang tulus dan terus-menerus akan mengundang rahmat Allah yang melampaui batas kemustahilan.
Langkah kecil Berdoa dengan suara lembut dan penuh keyakinan di sepertiga malam terakhir.
Situasi Berbeda pandangan atau keyakinan dengan anggota keluarga yang lebih tua.
Pesan surah Tetaplah bersikap lembut dan doakan kebaikan untuk mereka tanpa harus berdebat keras.
Langkah kecil Mengucapkan kata-kata yang santun saat berbicara dengan orang tua hari ini.
Situasi Merasa kesepian atau disalahpahami oleh lingkungan sekitar.
Pesan surah Allah akan membela hamba-Nya yang menjaga kesucian hati dan bertawakal penuh kepada-Nya.
Langkah kecil Membaca Al-Quran saat merasa sendiri untuk menenangkan hati.
Surah ini mengajarkan bahwa Allah sangat menyukai hamba yang berdoa dengan suara lembut, penuh kerendahan hati, dan keyakinan kuat. Rahmat Allah sangat dekat dengan hati yang hancur namun terus berharap.
Cara praktis Luangkan waktu sejenak setelah salat untuk berdoa dengan suara yang sangat pelan, menyebutkan kelemahan diri dan memohon pertolongan-Nya.
Hari ini, sapa orang tua Anda dengan lembut dan doakan kebaikan serta ampunan untuk mereka secara diam-diam.
كۤهٰيٰعۤصۤ ۚ
Kāf hā yā ‘aīn ṣād.
Kāf Hā Yā ‘Ain Ṣād.
ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهٗ زَكَرِيَّا ۚ
Żikru raḥmati rabbika ‘abdahū zakariyyā.
(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria,
اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا
Iż nādā rabbahū nidā'an khafiyyā(n).
(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lirih.
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا
Qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta‘alar-ra'su syaibaw wa lam akum bidu‘ā'ika rabbi syaqiyyā(n).
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.
وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ
Wa innī khiftul-mawāliya miw warā'ī wa kānatimra'atī ‘āqiran fahab lī mil ladunka waliyyā(n).
Sesungguhnya aku khawatir terhadap keluargaku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul. Anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu.
يَّرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ اٰلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
Yariṡunī wa yariṡu min āli ya‘qūba waj‘alhu rabbi raḍiyyā(n).
(Seorang anak) yang akan mewarisi aku dan keluarga Ya‘qub serta jadikanlah dia, wahai Tuhanku, seorang yang diridai.”
يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا
Yā zakariyyā innā nubasysyiruka bigulāminismuhū yaḥyā, lam naj‘al lahū min qablu samiyyā(n).
(Allah berfirman,) “Wahai Zakaria, Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya yang nama itu tidak pernah Kami berikan sebelumnya.”
قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَّقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا
Qāla rabbi annā yakūnu lī gulāmuw wa kānatimra'atī ‘āqiraw wa qad balagtu minal-kibari ‘itiyyā(n).
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana (mungkin) aku akan mempunyai anak, sedangkan istriku seorang yang mandul dan sungguh aku sudah mencapai usia yang sangat tua?”
قَالَ كَذٰلِكَۗ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا
Qāla każālik(a), qāla rabbuka huwa ‘alayya hayyinuw wa qad khalaqtuka min qablu wa lam taku syai'ā(n).
Dia (Allah) berfirman, ”Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, ”Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.”
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةً ۗقَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا
Qāla rabbij‘al lī āyah(tan), qāla āyatuka allā tukalliman-nāsa ṡalāṡa layālin sawiyyā(n).
Dia (Zakaria) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” (Allah) berfirman, “Tandanya bagimu ialah bahwa engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama (tiga hari) tiga malam, padahal engkau sehat.”
فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا
Fa kharaja ‘alā qaumihī minal-miḥrābi fa auḥā ilaihim an sabbiḥū bukrataw wa ‘asyiyyā(n).
Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.
Telah bercerita kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhriy] berkata telah bercerita kepadaku [Sa'id bin Al Musayyab] …
Telah menceritakan kepada kami ['Umar bin Hafsh] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Muslim] dari [Masr…
Telah menceritakan kepadaku [Abu Ath Thahir] Telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahab] Telah menceritakan kepadaku [Amru bin Al Harits] Bahwa [Abu Yunus Sul…
Dalam menapaki jalan tawakal, seringkali kita terjebak pada keinginan untuk melihat hasil secara instan. Padahal, ketenangan hati justru lahir dari penyeraha…
Dalam perjalanan menapaki tangga tawakal, seringkali hati kita mendambakan kepastian di tengah ketidakpastian. Dalam Surat Maryam ayat 10, Allah mengabadikan…
Dalam surah Maryam ayat 9, Allah berfirman, “Demikianlah. Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal…