← Kembali ke pelajaran
Hari 59 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Hajj (الحج), surah ke-22 dalam mushaf Al-Qur'an, merupakan salah satu surah yang memiliki keunikan tersendiri dari sisi waktu dan tempat turunnya. Mayoritas ulama, termasuk yang pandangannya dinukil oleh Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, menggolongkannya sebagai surah Madaniyah. Namun, surah ini dikenal sebagai surah mukhtalithah (campuran), yang berisi ayat-ayat yang turun di Mekah (Makkiyah) dan ayat-ayat yang turun di Madinah (Madaniyah). Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menyebutkan riwayat dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyatakan, "Surah Al-Hajj diturunkan di Madinah, kecuali beberapa ayat..." Beliau juga menukil pendapat lain yang mengatakan sebaliknya. Keunikan ini ditegaskan oleh riwayat yang menyebutkan bahwa surah ini memiliki ayat yang turun pada malam hari dan siang hari, dalam perjalanan (safar) dan saat menetap (hadhar), di Mekah dan di Madinah, terkait perang dan perdamaian.

Awal surah ini, khususnya ayat 1 hingga beberapa ayat berikutnya, memiliki gaya bahasa dan tema yang sangat kuat mengingatkan pada surah-surah Makkiyah. Seruan "Yā ayyuhan-nās" (Wahai sekalian manusia) yang bersifat universal, serta tema sentral tentang dahsyatnya Hari Kiamat (as-Sa'ah), kebangkitan (al-ba'ts), dan bantahan terhadap kaum musyrikin yang mengingkarinya, adalah ciri khas wahyu periode Mekah. Namun, di dalam surah ini juga terdapat ayat-ayat yang secara definitif turun di Madinah, seperti ayat tentang izin berperang (QS. Al-Hajj: 39), yang merupakan salah satu ayat pertama yang turun mengenai jihad. Oleh karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa surah ini turun pada periode transisi dan awal-awal kehidupan di Madinah.

Konteks historisnya adalah periode setelah hijrah. Kaum muslimin, khususnya para Muhajirin, baru saja meninggalkan tanah air, harta, dan keluarga mereka di Mekah. Mereka tiba di Madinah dalam kondisi yang serba kekurangan dan masih berada di bawah ancaman kaum Quraisy. Di Madinah, mereka berhadapan dengan komunitas baru yang terdiri dari kaum Anshar yang ramah, namun juga komunitas Yahudi dan kemunculan kelompok munafik. Dalam situasi yang penuh tantangan ini, Al-Qur'an turun untuk mengokohkan akidah, memberikan pegangan spiritual, dan mempersiapkan mereka untuk fase dakwah yang baru. Ayat-ayat pembuka Surah Al-Hajj ini berfungsi sebagai fondasi akidah yang esensial: pengingat akan akhirat yang dahsyat. Peringatan ini menguatkan hati orang beriman agar tidak terikat pada dunia yang fana dan meluruskan tujuan hidup mereka semata-mata untuk Allah, sekaligus menjadi ancaman keras bagi mereka yang masih ragu dan menentang risalah Nabi Muhammad ﷺ.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

Untuk ayat-ayat pembuka Surah Al-Hajj (ayat 1-7), para ulama ahli tafsir dan asbab an-nuzul tidak menyebutkan satu peristiwa spesifik sebagai sebab turunnya ayat 1-2 dan 5-7. Ayat-ayat ini turun sebagai bagian dari penjelasan umum Al-Qur'an mengenai pilar-pilar keimanan, khususnya iman kepada Hari Akhir dan kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia. Namun, untuk ayat 3-4, terdapat riwayat yang secara khusus menjelaskannya.

2.1 Riwayat Utama (QS. Al-Hajj: 3-4)

Riwayat yang paling masyhur mengenai sebab turunnya ayat ke-3, "Wa minan-nāsi may yujādilu fil-lāhi bi-ghayri 'ilmin wa yattabi'u kulla syaiṭānim marīd" (Dan di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang jahat), merujuk pada seorang tokoh Quraisy bernama An-Nadr ibn al-Harith.

  • Riwayat dari Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an:
    Imam At-Tabari meriwayatkan melalui beberapa jalur sanad, di antaranya dari Sa'id bin Jubair, dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata mengenai ayat ini, "Ayat ini turun mengenai An-Nadr ibn al-Harith." Riwayat serupa juga dinukil dari Mujahid bin Jabr, Qatadah as-Sadusi, dan ulama salaf lainnya. An-Nadr ibn al-Harith adalah salah satu pembesar Quraisy yang paling gigih memusuhi dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Ia dikenal sebagai seorang yang telah berkelana ke Persia dan mempelajari kisah-kisah raja-raja dan pahlawan masa lalu seperti Rustum dan Isfandiyar. Ketika Nabi ﷺ membacakan ayat-ayat Al-Qur'an yang berisi kisah-kisah umat terdahulu, An-Nadr akan berdiri dan berkata, "Demi Allah, kisah Muhammad tidak lebih baik dari kisahku. Ini hanyalah dongeng-dongeng orang dahulu (asāṭīrul awwalīn) yang ia kutip." Ia dengan sengaja melakukan ini untuk memalingkan manusia dari mendengarkan Al-Qur'an. Perdebatannya tentang Allah tidak didasari ilmu wahyu, melainkan kesombongan dan upayanya untuk menandingi Al-Qur'an dengan cerita-cerita duniawi. Inilah bentuk "membantah tentang Allah tanpa ilmu" yang dimaksud ayat tersebut.

  • Riwayat dari Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul:
    Imam Al-Wahidi juga menyebutkan riwayat yang senada. Beliau menukil dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ayat ini (QS. Al-Hajj: 3) turun berkenaan dengan An-Nadr ibn al-Harith. Ia berkata, "Malaikat adalah putri-putri Allah," dan ia mengingkari hari kebangkitan. Perkataannya ini adalah bentuk perdebatan tentang Allah tanpa landasan ilmu.

  • Penjelasan Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul:
    Imam As-Suyuti menguatkan riwayat ini dengan menukil dari Ibn Abi Hatim yang meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah An-Nadr ibn al-Harith. Kesepakatan para mufassir dari kalangan salaf, seperti Ibn Abbas, Mujahid, dan Qatadah, menunjukkan bahwa konteks utama turunnya ayat ini adalah untuk merespons arogansi intelektual dan permusuhan yang dilancarkan oleh An-Nadr.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Meskipun riwayat mengenai An-Nadr ibn al-Harith sangat kuat dan menjadi pegangan utama para mufassir, sebagian ulama, seperti Imam Ibn Kathir, setelah menyebutkan riwayat tersebut, memberikan komentar yang lebih luas. Beliau menjelaskan bahwa meskipun ayat ini turun mengenai individu tertentu, hukum dan pelajarannya bersifat umum. Sebagaimana kaidah tafsir yang masyhur: "Al-'ibrah bi 'umūmil-lafẓi lā bi khuṣūṣis-sabab" (Pelajaran diambil dari keumuman lafaz, bukan dari kekhususan sebab).

Oleh karena itu, ayat ini mencakup setiap orang yang memiliki sifat serupa: membantah kebenaran tentang Allah, tauhid, sifat-sifat-Nya, dan syariat-Nya tanpa didasari ilmu yang benar (wahyu), melainkan hanya mengikuti hawa nafsu, logika yang sesat, dan bisikan setan. Ini mencakup para filosof, ateis, dan penentang agama di setiap zaman. Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil juga menyatakan bahwa ayat ini berlaku untuk setiap orang kafir yang mendebat tentang tauhid dan mengingkari kebangkitan.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk ayat-ayat lainnya dalam rentang ini (1-2, 5-7), para ulama terkemuka seperti Imam Al-Wahidi, As-Suyuti, dan Ibn Jarir At-Tabari tidak menyebutkan riwayat sabab nuzul yang spesifik. Hal ini karena ayat-ayat tersebut membawa pesan universal dan merupakan bagian dari metodologi Al-Qur'an dalam membangun fondasi akidah.

  • Ayat 1-2: Seruan untuk bertakwa dan gambaran dahsyatnya kiamat adalah pengingat fundamental yang relevan setiap saat. Ia tidak terikat pada satu kejadian. Konteks umumnya adalah untuk mengguncang hati manusia, baik yang beriman maupun yang kafir, agar menyadari betapa kecilnya mereka di hadapan kekuasaan Allah dan betapa mengerikannya akhirat jika mereka lalai.
  • Ayat 5-7: Ayat ini merupakan dalil rasional (hujjah 'aqliyyah) untuk membantah keraguan kaum musyrikin terhadap hari kebangkitan. Keraguan ini adalah tema yang berulang kali diangkat oleh kaum Quraisy di Mekah dan terus menjadi bahan perdebatan di Madinah. Allah tidak merespons keraguan ini dengan satu jawaban untuk satu orang, melainkan memberikan argumen yang kokoh dan universal yang dapat digunakan oleh Nabi ﷺ dan kaum muslimin dalam dakwah mereka. Argumen dari penciptaan manusia dan dihidupkannya kembali bumi yang mati adalah bukti logis yang membungkam para penentang. Jadi, sebab turunnya bersifat tematik, yaitu menjawab keraguan umum tentang al-ba'ts, bukan karena satu peristiwa tunggal.

3. Konteks Historis & Sosial

Turunnya Surah Al-Hajj, terutama bagian awalnya, berada pada titik krusial dalam sejarah Islam. Setelah lebih dari satu dekade penindasan di Mekah, Nabi ﷺ dan para sahabatnya telah berhijrah ke Madinah. Situasi di Madinah sangat berbeda dan lebih kompleks.

  1. Kondisi Kaum Muslimin: Para Muhajirin tiba di Madinah dengan meninggalkan segalanya. Mereka menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan psikologis. Mereka membutuhkan penguatan iman yang luar biasa untuk tetap tegar. Ayat-ayat tentang dahsyatnya kiamat (ayat 1-2) berfungsi sebagai pengingat bahwa penderitaan dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan azab akhirat, dan kenikmatan duniawi yang mereka tinggalkan juga tidak sebanding dengan balasan surga. Ini mengalihkan fokus mereka dari kerugian duniawi menuju tujuan ukhrawi.

  2. Tantangan Dakwah di Madinah: Di Madinah, tantangan dakwah tidak hanya datang dari kaum musyrikin (meskipun ancaman Quraisy tetap ada), tetapi juga dari Ahli Kitab (Yahudi) dan kaum munafik. Perdebatan tentang teologi, kenabian, dan hari kebangkitan menjadi lebih intens dan intelektual. Ayat 3-4 yang mengecam perdebatan tanpa ilmu menjadi pedoman bagi kaum muslimin untuk tidak terjebak dalam perdebatan kosong dan untuk selalu berpegang pada wahyu. Ayat 5-7 memberikan mereka amunisi argumen yang kuat dan rasional untuk menghadapi para penentang dari berbagai kalangan.

  3. Respon terhadap Ideologi Dominan: Ideologi kaum musyrik Arab pada dasarnya adalah materialistis-hedonistis. Mereka tidak percaya pada kehidupan setelah mati. Bagi mereka, kehidupan hanyalah di dunia ini. Al-Qur'an secara sistematis membongkar pandangan ini. Ayat-ayat pembuka Surah Al-Hajj adalah serangan langsung ke jantung ideologi ini. Dengan menggambarkan kengerian Zalzalat as-Sa'ah (guncangan hari kiamat), Allah memaksa mereka untuk mengkonfrontasi realitas yang paling mereka takuti dan ingkari. Gambaran seorang ibu yang menyusui melupakan bayinya adalah citra paling kuat dalam budaya Arab untuk menggambarkan kepanikan total, karena ikatan ibu dan bayi adalah ikatan terkuat yang mereka kenal.

  4. Membangun Masyarakat Baru: Ayat-ayat ini, dengan penekanannya pada takwa dan iman pada yang gaib, merupakan fondasi spiritual bagi masyarakat Madinah yang baru terbentuk. Sebelum hukum-hukum sosial (syariah) diturunkan secara rinci, Al-Qur'an terlebih dahulu menanamkan akidah yang kokoh di hati para sahabat. Keyakinan pada hari kebangkitan adalah motor penggerak utama bagi ketaatan, pengorbanan, dan keikhlasan. Tanpa keyakinan ini, masyarakat Islam tidak akan memiliki kekuatan untuk bertahan dan berkembang.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral Surah Al-Hajj secara keseluruhan adalah penegasan keagungan, kekuasaan mutlak Allah, dan kewajiban untuk tunduk sepenuhnya kepada-Nya, yang dimanifestasikan melalui berbagai pilar keimanan dan keislaman. Ayat-ayat pembuka (1-7) secara khusus berfokus pada dua pilar utama:

  1. Iman kepada Hari Akhir (Al-Īmān bil Yaum al-Ākhir): Surah ini dibuka dengan peringatan yang sangat keras tentang Hari Kiamat. Ini bukan sekadar pemberitahuan, melainkan sebuah proklamasi tentang sebuah kepastian yang menakutkan. Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa Allah memulai surah ini dengan perintah takwa yang dikaitkan dengan peristiwa kiamat untuk menunjukkan bahwa takwa adalah satu-satunya bekal dan pelindung dari kengerian hari itu.

  2. Bukti Kekuasaan Allah untuk Membangkitkan (Qudratullāh 'alal Ba'ts): Setelah menakuti manusia dengan gambaran kiamat, Allah kemudian menyajikan argumen yang menenangkan bagi orang beriman dan membungkam bagi orang kafir. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyoroti bagaimana ayat 5 menyajikan dua bukti besar: (a) penciptaan manusia dari tanah hingga menjadi sempurna, dan (b) dihidupkannya kembali bumi yang kering dan tandus dengan turunnya hujan. Logikanya sederhana: Dzat yang mampu memulai penciptaan dari ketiadaan (atau dari materi mati) tentu lebih mampu untuk mengulanginya kembali. Ini adalah respons logis terhadap keraguan, "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?" (QS. Yasin: 78).

Munasabah (Keterkaitan) dengan Surah Sebelumnya:
Surah Al-Hajj didahului oleh Surah Al-Anbiya'. Di akhir Surah Al-Anbiya' (ayat 97), Allah berfirman, "Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit)..." Surah Al-Hajj kemudian dibuka dengan penjelasan rinci tentang "janji yang benar" tersebut, yaitu guncangan dahsyat Hari Kiamat. Ini adalah kesinambungan tematik yang sangat indah dan kuat, seolah-olah Surah Al-Hajj adalah eksposisi detail dari apa yang disinggung di akhir surah sebelumnya.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak ditemukan hadits dengan sanad yang shahih dan marfu' (bersambung hingga Nabi ﷺ) yang secara spesifik menyebutkan keutamaan khusus (fadhilah) membaca Surah Al-Hajj secara keseluruhan. Riwayat-riwayat yang ada mengenai hal ini, seperti keutamaan dua sujud tilawah di dalamnya, memiliki kelemahan dalam sanadnya menurut para ahli hadits.

Namun, terdapat sebuah hadits yang sangat relevan dengan ayat-ayat pembuka surah ini, yang menggambarkan betapa beratnya ayat-ayat ini ketika turun. Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan At-Tirmidzi (Kitab Tafsir Al-Qur'an, no. 3169) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari 'Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Ketika turun kepada Nabi ﷺ ayat, 'Yā ayyuhan-nāsuttaqū rabbakum, inna zalzalatas-sā'ati syai'un 'aẓīm' hingga 'wa lākinna 'ażāballāhi syadīd' (QS. Al-Hajj: 1-2), ayat-ayat ini turun kepada beliau saat dalam sebuah perjalanan. Beliau lalu bersabda, 'Tahukah kalian hari apakah itu?' Para sahabat menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Itulah hari ketika Allah berfirman kepada Adam, 'Wahai Adam, keluarkanlah utusan neraka (dari anak cucumu)!' Adam bertanya, 'Wahai Rabb, berapakah utusan neraka itu?' Allah berfirman, 'Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan (ke neraka), dan satu (ke surga).' Mendengar itu, kaum muslimin menangis dengan keras. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, 'Beramallah dan bergembiralah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian bersama dua makhluk yang tidaklah mereka menyertai sesuatu melainkan akan memperbanyaknya: Ya'juj dan Ma'juj, dan orang-orang yang telah binasa dari keturunan Adam dan keturunan Iblis.' Para sahabat pun merasa lega. Kemudian beliau bersabda lagi, 'Beramallah dan bergembiralah. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, perbandingan kalian di antara manusia lain hanyalah seperti tanda putih di lambung unta hitam, atau seperti tanda hitam di lambung unta merah.'" (Hadits ini dinilai hasan shahih oleh At-Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan betapa dahsyatnya makna yang terkandung dalam ayat-ayat pembuka ini, hingga membuat para sahabat menangis ketakutan, dan bagaimana Rasulullah ﷺ memberikan penghiburan dan harapan kepada umatnya.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para ulama salaf memberikan perhatian mendalam terhadap ayat-ayat ini karena kekuatan pesan dan gambaran yang disajikannya.

  • Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma: Selain riwayatnya tentang sebab nuzul ayat ke-3, beliau juga menjelaskan makna tadzhalu kullu murḍi'atin 'ammā arḍa'at (setiap ibu yang menyusui melupakan anak yang disusuinya). Beliau menafsirkan bahwa kata murḍi'ah (dengan ta' marbuthah) merujuk pada ibu yang sedang aktif menyusui, yang pipinya menempel pada pipi bayinya. Ini menunjukkan tingkat kepanikan yang paling puncak, di mana ikatan paling intim dan naluriah pun putus seketika. (Dikutip dalam Tafsir At-Tabari).

  • Al-Hasan al-Basri rahimahullah: Ketika membaca ayat kedua, beliau berkomentar dengan penuh kekhusyukan, "Betapa dahsyatnya hari itu, hari di mana seorang ibu melupakan buah hatinya. Tidakkah kalian memikirkan kengerian hari itu?" Beliau sering menggunakan ayat ini untuk melembutkan hati dan mengingatkan manusia agar tidak lalai dari persiapan menghadapi akhirat.

  • Mujahid bin Jabr dan Qatadah as-Sadusi: Keduanya, sebagaimana dinukil oleh Imam At-Tabari, sepakat bahwa ayat ke-3 turun berkenaan dengan An-Nadr ibn al-Harith dan perdebatan sesatnya mengenai Al-Qur'an dan hari kebangkitan. Pendapat mereka menguatkan riwayat utama asbab an-nuzul.

  • Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an: Beliau mengupas sisi kebahasaan yang sangat detail. Misalnya, mengapa Allah menggunakan kata zalzalah (guncangan) dan bukan kata lain. Beliau menjelaskan bahwa zalzalah menunjukkan guncangan yang berulang-ulang dan sangat keras, yang mencabut segala sesuatu dari akarnya. Beliau juga membahas perbedaan antara sakrā (mabuk) karena minuman keras dan kondisi manusia pada hari kiamat yang digambarkan "seperti mabuk padahal tidak mabuk", yang menunjukkan keadaan hilang akal karena ketakutan yang luar biasa, bukan karena zat memabukkan.

  • Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah: Dalam kitab-kitabnya, beliau sering merujuk pada ayat ke-5 sebagai salah satu bukti rasional terkuat dalam Al-Qur'an. Beliau menjelaskan bahwa Allah menggunakan analogi yang dapat disaksikan oleh indra manusia (penciptaan janin dan hidupnya bumi) untuk membuktikan perkara gaib (kebangkitan). Ini adalah salah satu metode Al-Qur'an dalam berdialog dengan akal manusia.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

Ayat-ayat pembuka Surah Al-Hajj menawarkan pelajaran abadi yang sangat relevan bagi kehidupan modern:

  1. Urgensi Mengingat Kematian dan Kiamat di Tengah Kesibukan Dunia: Di zaman yang serba cepat dan materialistis, manusia mudah sekali lupa akan tujuan akhirnya. Ayat 1-2 adalah pengingat yang keras (shock therapy) untuk menyadarkan kita dari kelalaian. Gambaran ibu yang melupakan bayinya seharusnya membuat kita bertanya: jika ikatan paling suci di dunia bisa hancur karena dahsyatnya kiamat, lalu apa artinya persaingan, kebencian, dan keserakahan kita atas materi duniawi yang fana ini? Pelajarannya adalah menjadikan akhirat sebagai kompas utama dalam setiap keputusan hidup.

  2. Bahaya Berbicara Tentang Agama Tanpa Ilmu: Ayat 3-4 adalah kritik tajam terhadap arogansi intelektual. Di era media sosial, semua orang merasa berhak beropini tentang agama, menafsirkan ayat, dan menghukumi orang lain tanpa bekal ilmu syar'i yang memadai. Ayat ini mengajarkan adab fundamental: diam dan belajar adalah lebih baik daripada berbicara tentang Allah dan agama-Nya berdasarkan asumsi, logika semata, atau hawa nafsu. Mengikuti "setan yang jahat" bisa berupa mengikuti tren pemikiran sesat, ideologi anti-agama, atau bahkan ego pribadi yang merasa lebih tahu dari para ulama.

  3. Menemukan Kembali Keyakinan Melalui Tanda-Tanda di Alam dan Diri Sendiri: Ketika iman terasa goyah oleh keraguan atau propaganda ateisme dan agnostisisme, ayat 5 memberikan resep yang manjur. Al-Qur'an mengajak kita untuk melakukan tadabur atas dua hal yang paling dekat dengan kita: diri kita sendiri (proses embriologi) dan alam sekitar (siklus kehidupan tumbuhan). Ilmu pengetahuan modern, dari biologi hingga astronomi, justru semakin menyingkap kerumitan dan keteraturan yang luar biasa, yang seharusnya semakin menguatkan iman kepada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, bukan sebaliknya. Ayat ini adalah fondasi untuk membangun iman yang berbasis pada ilmu dan perenungan (tafakkur).

8. Penutup & Doa

Ayat-ayat pembuka Surah Al-Hajj merupakan salah satu bagian Al-Qur'an yang paling kuat dalam mengguncang jiwa dan membangun fondasi akidah. Dimulai dengan perintah takwa yang diiringi ancaman dahsyatnya Hari Kiamat, dilanjutkan dengan peringatan terhadap bahaya perdebatan tanpa ilmu, dan diakhiri dengan penyajian bukti-bukti rasional yang tak terbantahkan mengenai kekuasaan Allah untuk membangkitkan yang mati. Pesan utamanya adalah agar manusia menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk yang lemah, yang diciptakan dari tanah dan akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan segala amalnya di sebuah hari yang sangat mengerikan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa bertakwa, yang mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya, dan yang diselamatkan dari kengerian Hari Kiamat.

Allahumma faqqihnā fid-dīn wa 'allimnā at-ta'wīl. Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā 'ażāban-nār.

والله أعلم
(Dan Allah Maha Mengetahui yang sebenarnya)