Surah Ad-Dukhan, sebagai surah Makkiyah, secara tematik sangat erat kaitannya dengan surah-surah sebelumnya yang juga menekankan keesaan Allah (tauhid), kenabian Muhammad ﷺ, dan hari kebangkitan. Hubungannya dengan Surah Az-Zukhruf sebelumnya adalah dalam penegasan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu ilahi. Sementara itu, Surah Al-Jatsiyah yang datang setelahnya akan melanjutkan penekanan pada tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta dan konsekuensi bagi orang-orang yang ingkar.
Secara internal, ayat-ayat awal Ad-Dukhan (1-9) membentuk satu kesatuan yang koheren. Dimulai dengan sumpah Al-Quran (ayat 2), kemudian menjelaskan waktu penurunannya yang istimewa pada malam yang diberkahi (ayat 3), dan fungsi malam tersebut sebagai waktu penetapan segala urusan yang penuh hikmah (ayat 4-5). Ini semua adalah rahmat dari Allah (ayat 6), yang kemudian ditegaskan sebagai Tuhan langit dan bumi, satu-satunya yang berhak disembah, yang menghidupkan dan mematikan (ayat 7-8). Ayat 9 kemudian menjadi penutup segmen ini dengan menyayangkan sikap orang-orang musyrik yang tetap dalam keraguan dan senda gurau, meskipun telah diberikan bukti-bukti nyata.
Tema sentral malam diturunkannya Al-Quran ini juga terhubung dengan ayat-ayat lain dalam Al-Quran, seperti Surah Al-Qadr, yang secara eksplisit menyebut "Lailatul Qadr" sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ini menunjukkan konsistensi pesan Al-Quran tentang keagungan wahyu dan malam penurunannya.