← Kembali ke pelajaran
Hari 87 Langkah 1 / 9 +10 XP

Bacaan

Baca pelan. Tap setiap kata untuk lihat arti per-kata. Resapi makna sebelum lanjut.

Panduan warna Tajwid
  • Ghunnah (dengung)
  • Qalqalah (pantulan)
  • Ikhfa' (samar)
  • Ikhfa' Syafawi
  • Iqlab (pembalikan)
  • Idgham Bighunnah
  • Idgham Bilaghunnah
  • Idgham Syafawi
  • Idgham Mutajanisain / Mutaqaribain
  • Mad Thabi'i (2 harakat)
  • Mad Jaiz (2/4/6 harakat)
  • Mad Wajib Muttasil (4-5)
  • Mad Lazim (6 harakat)
  • Hamzah Wasl / huruf tak dibaca / Lam Syamsiyah

Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).

Qaf · 1
﴿ 1 ﴾

قٓ‌ۚ وَٱلْقُرْءَانِ ٱلْمَجِيدِ

قٓ ۚ
qaf
Qaf
وَٱلْقُرْءَانِ
wal-qur'āni
Demi Al-Qur'an
ٱلْمَجِيدِ
l-majīdi
Yang Mahamulia

Qāf, wal-qur'ānil-majīd(i).

Qāf. Demi Al-Qur’an yang mulia.

Qaf · 2
﴿ 2 ﴾

بَلْ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ فَقَالَ ٱلْكَـٰفِرُونَ هَـٰذَا شَىْءٌ عَجِيبٌ

بَلْ
bal
Bahkan
عَجِبُوٓا۟
ʿajibū
mereka heran
أَن
an
bahwa
جَآءَهُم
jāahum
telah datang kepada mereka
مُّنذِرٌۭ
mundhirun
seorang pemberi peringatan
مِّنْهُمْ
min'hum
dari mereka
فَقَالَ
faqāla
maka katakanlah
ٱلْكَـٰفِرُونَ
l-kāfirūna
orang-orang kafir
هَـٰذَا
hādhā
Ini
شَىْءٌ
shayon
adalah sesuatu
عَجِيبٌ
ʿajībun
menakjubkan

Bal ‘ajibū an jā'ahum munżirum minhum faqālal-kāfirūna hāżā syai'un ‘ajīb(un).

(Mereka menolaknya,) bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri. Berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.

Qaf · 3
﴿ 3 ﴾

أَءِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا‌ۖ ذَٲلِكَ رَجْعُۢ بَعِيدٌ

أَءِذَا
a-idhā
Apa! Ketika
مِتْنَا
mit'nā
kami mati
وَكُنَّا
wakunnā
dan kami telah menjadi
تُرَابًۭا ۖ
turāban
debu
ذَٰلِكَ
dhālika
Itu
رَجْعٌۢ
rajʿun
kembali
بَعِيدٌۭ
baʿīdun
jauh

A'iżā mitnā wa kunnā turābā(n), żālika raj‘um ba‘īd(un).

Apakah setelah kami mati dan sudah menjadi tanah (akan dikembalikan)? Itu adalah pengembalian yang sangat jauh.”

Qaf · 4
﴿ 4 ﴾

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنقُصُ ٱلْأَرْضُ مِنْهُمْ‌ۖ وَعِندَنَا كِتَـٰبٌ حَفِيظُۢ

قَدْ
qad
Sungguh
عَلِمْنَا
ʿalim'nā
Kami mengetahui
مَا
apa
تَنقُصُ
tanquṣu
berkurang
ٱلْأَرْضُ
l-arḍu
bumi
مِنْهُمْ ۖ
min'hum
dari mereka
وَعِندَنَا
waʿindanā
dan di sisi Kami
كِتَـٰبٌ
kitābun
adalah sebuah Kitab
حَفِيظٌۢ
ḥafīẓun
terjaga

Qad ‘alimnā mā tanquṣul-arḍu minhum, wa ‘indanā kitābun ḥafīẓ(un).

Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang dimakan bumi dari (tubuh) mereka karena pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara baik.

Qaf · 5
﴿ 5 ﴾

بَلْ كَذَّبُواْ بِٱلْحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمْ فَهُمْ فِىٓ أَمْرٍ مَّرِيجٍ

بَلْ
bal
Bahkan
كَذَّبُوا۟
kadhabū
mereka mendustakan
بِٱلْحَقِّ
bil-ḥaqi
kebenaran
لَمَّا
lammā
ketika
جَآءَهُمْ
jāahum
itu datang kepada mereka
فَهُمْ
fahum
maka mereka
فِىٓ
(adalah) di
أَمْرٍۢ
amrin
keadaan
مَّرِيجٍ
marījin
bingung

Bal każżabū bil-ḥaqqi lammā jā'ahum fahum fī amrim marīj(in).

Bahkan, mereka mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya. Maka, mereka berada dalam keadaan kacau balau.

Qaf · 6
﴿ 6 ﴾

أَفَلَمْ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَـٰهَا وَزَيَّنَّـٰهَا وَمَا لَهَا مِن فُرُوجٍ

أَفَلَمْ
afalam
Maka tidakkah
يَنظُرُوٓا۟
yanẓurū
mereka melihat
إِلَى
ilā
kepada
ٱلسَّمَآءِ
l-samāi
langit
فَوْقَهُمْ
fawqahum
di atas mereka
كَيْفَ
kayfa
bagaimana
بَنَيْنَـٰهَا
banaynāhā
Kami membangunnya
وَزَيَّنَّـٰهَا
wazayyannāhā
dan Kami menghiasinya
وَمَا
wamā
dan tidak
لَهَا
lahā
baginya
مِن
min
apa pun
فُرُوجٍۢ
furūjin
celah

Afalam yanẓurū ilas-samā'i fauqahum kaifa banaināhā wa zayyanāhā wa mā lahā min furūj(in).

Apakah mereka tidak memperhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya tanpa ada retak-retak padanya sedikit pun?

Qaf · 7
﴿ 7 ﴾

وَٱلْأَرْضَ مَدَدْنَـٰهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَٲسِىَ وَأَنۢبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجِۭ بَهِيجٍ

وَٱلْأَرْضَ
wal-arḍa
Dan bumi
مَدَدْنَـٰهَا
madadnāhā
Kami telah membentangkannya
وَأَلْقَيْنَا
wa-alqaynā
dan Kami lemparkan
فِيهَا
fīhā
di dalamnya
رَوَٰسِىَ
rawāsiya
gunung-gunung yang kokoh
وَأَنۢبَتْنَا
wa-anbatnā
dan Kami tumbuhkan
فِيهَا
fīhā
di dalamnya
مِن
min
dari
كُلِّ
kulli
setiap
زَوْجٍۭ
zawjin
jenis
بَهِيجٍۢ
bahījin
indah

Wal-arḍa madadnāhā wa alqainā fīhā rawāsiya wa ambatnā fīhā min kulli zaujim bahīj(in).

(Demikian pula) bumi yang Kami hamparkan serta Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kukuh dan Kami tumbuhkan di atasnya berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah

Qaf · 8
﴿ 8 ﴾

تَبْصِرَةً وَذِكْرَىٰ لِكُلِّ عَبْدٍ مُّنِيبٍ

تَبْصِرَةًۭ
tabṣiratan
Memberi wawasan
وَذِكْرَىٰ
wadhik'rā
dan peringatan
لِكُلِّ
likulli
untuk setiap
عَبْدٍۢ
ʿabdin
hamba
مُّنِيبٍۢ
munībin
yang kembali

Tabṣirataw wa żikrā likulli ‘abdim munīb(in).

untuk menjadi pelajaran dan pengingat bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).

Qaf · 9
﴿ 9 ﴾

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً مُّبَـٰرَكًا فَأَنۢبَتْنَا بِهِۦ جَنَّـٰتٍ وَحَبَّ ٱلْحَصِيدِ

وَنَزَّلْنَا
wanazzalnā
Dan Kami telah menurunkan
مِنَ
mina
dari
ٱلسَّمَآءِ
l-samāi
langit
مَآءًۭ
māan
air
مُّبَـٰرَكًۭا
mubārakan
diberkahi
فَأَنۢبَتْنَا
fa-anbatnā
lalu Kami tumbuhkan
بِهِۦ
bihi
dengannya
جَنَّـٰتٍۢ
jannātin
kebun-kebun
وَحَبَّ
waḥabba
dan biji-bijian
ٱلْحَصِيدِ
l-ḥaṣīdi
panen

Wa nazzalnā minas-samā'i mā'am mubārakan fa'ambatnā bihī jannātiw wa ḥabbal-ḥaṣīd(i).

Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengannya kebun-kebun dan biji-bijian yang dapat dipanen.

Qaf · 10
﴿ 10 ﴾

وَٱلنَّخْلَ بَاسِقَـٰتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ

وَٱلنَّخْلَ
wal-nakhla
Dan pohon-pohon kurma
بَاسِقَـٰتٍۢ
bāsiqātin
tinggi
لَّهَا
lahā
untuknya
طَلْعٌۭ
ṭalʿun
Adalah lapisan
نَّضِيدٌۭ
naḍīdun
tersusun

Wan-nakhla bāsiqātil lahā ṭal‘un naḍīd(un).

Begitu pula pohon-pohon kurma yang tinggi yang mayangnya bersusun-susun

Qaf · 11
﴿ 11 ﴾

رِّزْقًا لِّلْعِبَادِ‌ۖ وَأَحْيَيْنَا بِهِۦ بَلْدَةً مَّيْتًا‌ۚ كَذَٲلِكَ ٱلْخُرُوجُ

رِّزْقًۭا
riz'qan
Rezeki
لِّلْعِبَادِ ۖ
lil'ʿibādi
Kami menyita
وَأَحْيَيْنَا
wa-aḥyaynā
dan Kami hidupkan
بِهِۦ
bihi
dengannya
بَلْدَةًۭ
baldatan
ke suatu negeri
مَّيْتًۭا ۚ
maytan
mati
كَذَٰلِكَ
kadhālika
Demikianlah
ٱلْخُرُوجُ
l-khurūju
akan menjadi keluarnya

Rizqal lil-‘ibād(i), wa aḥyainā bihī baldatam maitā(n), każālikal-khurūj(u).

sebagai rezeki bagi hamba-hamba (Kami). Kami hidupkan pula dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).