← Kembali ke pelajaran
Hari 9 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Ma'un (bahasa Arab: سورة الماعون, "Barang-Barang yang Berguna") adalah surah ke-107 dalam mushaf Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 7 ayat dan merupakan salah satu surah pendek (mufassal) yang memiliki pesan yang sangat mendalam dan menusuk, mengaitkan secara langsung antara keimanan sejati dengan kepedulian sosial. Nama surah ini diambil dari kata al-ma'un yang terdapat pada ayat terakhir.

Para ulama tafsir memiliki perbedaan pendapat mengenai status surah ini, apakah tergolong Makkiyah (turun di Mekah sebelum hijrah) atau Madaniyah (turun di Madinah setelah hijrah). Perbedaan ini memiliki implikasi penting dalam memahami konteks dan sasaran utama dari ayat-ayatnya.

Pendapat Pertama: Surah ini adalah Makkiyah.
Ini adalah pendapat mayoritas ulama, termasuk di antaranya adalah Abdullah ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, Jabir bin Zaid, dan adh-Dhahhak. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menukil pendapat ini sebagai yang paling masyhur. Argumentasi utama yang mendukung pandangan ini adalah bahwa tiga ayat pertama (ayat 1-3) secara jelas menyindir para pembesar Quraisy di Mekah yang mengingkari Hari Pembalasan (Yaum ad-Din) dan terkenal dengan sifat kikir serta perlakuan kasar mereka terhadap anak yatim dan orang miskin. Figur-figur seperti Al-'As ibn Wa'il, Abu Jahl, atau Al-Walid ibn al-Mughirah adalah cerminan dari karakter yang digambarkan dalam ayat-ayat awal ini. Konteks dakwah di Mekah sangat relevan dengan penekanan pada pondasi akidah (iman kepada Hari Akhir) dan kritik terhadap akhlak jahiliyah yang menindas kaum lemah.

Pendapat Kedua: Surah ini adalah Madaniyah.
Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama lain, seperti Qatadah bin Di'amah as-Sadusi dan Hasan al-Basri. Alasan utama mereka adalah bahwa empat ayat terakhir (ayat 4-7) membahas tentang orang-orang yang shalat tetapi lalai dan berbuat riya'. Karakteristik ini, menurut mereka, lebih cocok untuk menggambarkan kaum munafik (munafiqun) di Madinah. Sebagaimana diketahui, fenomena kemunafikan muncul secara signifikan di Madinah setelah hijrah, di mana sekelompok orang berpura-pura memeluk Islam namun hati mereka mengingkarinya. Mereka ikut melaksanakan shalat bersama kaum muslimin hanya untuk pamer dan menjaga status sosial mereka. Imam As-Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an juga menyebutkan adanya pendapat ini.

Pendapat Ketiga: Surah ini turun sebagian di Mekah dan sebagian di Madinah.
Ini adalah pandangan sintesis yang mencoba menggabungkan kedua dalil di atas, dan dianggap sebagai jalan tengah yang kuat oleh sebagian mufasir. Menurut pandangan ini, tiga ayat pertama (ayat 1-3) turun di Mekah, berkenaan dengan perilaku para tokoh musyrik Quraisy. Kemudian, empat ayat terakhir (ayat 4-7) turun di Madinah, berkenaan dengan sifat-sifat kaum munafik. Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma'alim at-Tanzil, menyinggung kemungkinan ini. Pandangan ini secara logis menjelaskan mengapa surah ini mengandung dua tema yang tampaknya menargetkan dua kelompok yang berbeda (kaum kafir Quraisy dan kaum munafik Madinah), namun diikat oleh satu benang merah: rusaknya hubungan dengan Allah (Haqqullah) yang tercermin dalam rusaknya hubungan dengan sesama manusia (Haqqul 'adam).

Secara urutan nuzul, jika dianggap Makkiyah, surah ini diperkirakan turun pada periode pertengahan dakwah di Mekah, setelah Surah At-Takatsur dan sebelum Surah Al-Kafirun. Pada periode ini, tekanan dan intimidasi dari kaum Quraisy terhadap Rasulullah ﷺ dan para sahabat semakin meningkat. Ayat-ayat yang turun pada masa ini sering kali berisi peneguhan akidah, ancaman terhadap para penentang, serta kritik tajam terhadap sistem nilai dan moralitas jahiliyah.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

Riwayat asbab an-nuzul untuk Surah Al-Ma'un secara spesifik lebih terfokus pada bagian awal surah (ayat 1-3). Adapun bagian kedua (ayat 4-7), para ulama lebih sering menjelaskannya dalam konteks umum sifat-sifat kaum munafik di Madinah, bukan karena satu peristiwa tunggal.

2.1 Riwayat Utama

Sebagian besar riwayat yang ada menyebutkan nama-nama tokoh Quraisy sebagai latar belakang turunnya ayat "Ara'aytallażī yukażżibu bid-dīn" ("Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?").

  • Riwayat dari Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul
    Imam Al-Wahidi an-Naisaburi meriwayatkan melalui jalur As-Suddi dari Abu Shalih, dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan seorang tokoh spesifik di Mekah. Ada beberapa nama yang disebutkan dalam riwayat-riwayat yang berbeda. Salah satu yang paling populer adalah Al-'As ibn Wa'il as-Sahmi, seorang pembesar Quraisy yang dikenal sangat memusuhi Nabi ﷺ. Diceritakan bahwa ia memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam surah ini: mengingkari hari kebangkitan dan sangat kejam terhadap anak yatim.

  • Riwayat yang dinukil oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul
    Imam As-Suyuti juga mengumpulkan beberapa riwayat senada. Salah satunya dari Ibn al-Mundhir yang meriwayatkan dari Thariq bin Abi Thalhah, dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ayat-ayat awal Surah Al-Ma'un turun mengenai Al-'As ibn Wa'il. Riwayat lain yang juga populer, sebagaimana disebutkan oleh para mufasir seperti Al-Qurthubi dan Ibn Kathir, menunjuk kepada Abu Sufyan bin Harb. Diceritakan bahwa Abu Sufyan biasa menyembelih seekor unta setiap pekannya. Suatu ketika, seorang anak yatim datang meminta sedikit daging darinya, namun Abu Sufyan justru memukul anak itu dengan tongkat dan mengusirnya seraya berkata, "Pergi dari sini!" Atas peristiwa inilah, Allah menurunkan ayat, "Fa żālikallażī yadu''ul-yatīm" ("Itulah orang yang menghardik anak yatim").

  • Riwayat dalam Tafsir At-Tabari
    Imam Abu Ja'far At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an menyajikan berbagai pendapat dari para ulama salaf. Beliau menyebutkan riwayat dari Ibn Juraij yang mengatakan bahwa ia mendengar cerita tentang Abu Sufyan dan anak yatim tersebut. At-Tabari juga menukil pendapat lain yang menyebut nama Al-Walid ibn al-Mughirah. Setelah memaparkan berbagai riwayat ini, At-Tabari menyimpulkan bahwa meskipun ayat ini mungkin turun karena satu individu spesifik, maknanya bersifat umum dan mencakup siapa saja yang memiliki sifat-sifat tercela tersebut. Ini adalah kaidah tafsir yang penting: al-'ibrah bi 'umum al-lafzh la bi khusus as-sabab (pelajaran diambil dari keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab).

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain nama-nama di atas, ada juga yang menyebut Abu Jahl. Keragaman nama ini tidak menunjukkan pertentangan, melainkan menguatkan bahwa perilaku yang digambarkan dalam surah ini adalah karakter umum para pembesar musyrikin Mekah. Mereka adalah para penentang utama dakwah yang menolak konsep Hari Pembalasan karena konsep tersebut akan meruntuhkan sistem sosial dan ekonomi mereka yang zalim. Bagi mereka, mengakui adanya hisab berarti harus bertanggung jawab atas penindasan mereka terhadap kaum lemah, termasuk anak yatim dan orang miskin.

Adapun mengenai bagian kedua surah (ayat 4-7), para ulama seperti Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim secara tegas menyatakan bahwa ayat-ayat ini ditujukan kepada kaum munafik di Madinah. Beliau menjelaskan bahwa sifat lalai dari shalat ('an ṣalātihim sāhụn), riya' (yurā'ụn), dan enggan memberi bantuan (yamna'ụnal-mā'ụn) adalah ciri khas mereka. Ibn Kathir menukil perkataan Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa yang dimaksud sāhụn adalah mereka yang menunda-nunda shalat hingga akhir waktu, atau mengerjakannya tanpa khusyu' dan tanpa mengharap pahala dari Allah, melainkan hanya untuk dilihat oleh manusia. Ini adalah deskripsi yang sangat akurat mengenai kaum munafik yang shalatnya hanya formalitas belaka.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk ayat 4-7, tidak ada riwayat sabab nuzul yang spesifik dalam bentuk satu kejadian tunggal. Para mufasir, termasuk Al-Wahidi dan As-Suyuti, tidak menyebutkan riwayat khusus untuk bagian ini. Sebaliknya, mereka menjelaskan ayat-ayat ini dalam konteks umum kemunculan kaum munafik di Madinah. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an tidak selalu turun karena satu peristiwa, tetapi sering kali turun untuk mendeskripsikan sebuah fenomena, kondisi sosial, atau tipe karakter yang perlu diwaspadai oleh umat Islam. Dalam hal ini, fenomena kemunafikan di Madinah menjadi konteks utama bagi turunnya ayat-ayat tersebut.

3. Konteks Historis & Sosial

Memahami konteks historis dan sosial saat Surah Al-Ma'un turun sangat penting untuk menangkap kedalaman pesannya.

Jika dianggap Makkiyah (ayat 1-3):
Kondisi sosial di Mekah pra-Islam sangat timpang. Para bangsawan Quraisy menguasai ekonomi dan politik dengan tangan besi. Kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir orang, sementara kaum lemah seperti budak, anak yatim, dan orang miskin hidup dalam penindasan. Harta warisan anak yatim sering kali dirampas oleh kerabat mereka yang lebih kuat. Mereka tidak memiliki pelindung. Islam datang dengan pesan radikal yang menantang tatanan ini. Tauhid bukan hanya soal menyembah satu Tuhan, tetapi juga tentang menegakkan keadilan sosial sebagai manifestasi dari keimanan. Surah Al-Ma'un, dalam konteks ini, adalah sebuah dakwaan telak terhadap moralitas jahiliyah. Ia menyatakan bahwa inti dari pendustaan terhadap agama (ad-Din) bukanlah sekadar penolakan teologis, melainkan penolakan yang termanifestasi dalam perilaku anti-sosial: menghardik anak yatim dan tidak peduli pada nasib orang miskin. Ini adalah serangan langsung ke jantung sistem nilai Quraisy yang membanggakan status dan kekayaan sambil menginjak-injak hak kaum dhuafa.

Jika dianggap Madaniyah (ayat 4-7):
Setelah hijrah ke Madinah, komunitas Muslim mulai terbentuk sebagai sebuah kekuatan politik dan sosial. Namun, muncul tantangan baru dari dalam: kaum munafik. Mereka dipimpin oleh tokoh seperti Abdullah bin Ubay bin Salul. Mereka menyatakan keislaman secara lisan untuk mendapatkan perlindungan dan keuntungan dari komunitas Muslim, namun hati mereka penuh kebencian. Shalat bagi mereka adalah beban. Mereka melakukannya jika dilihat oleh Nabi ﷺ dan para sahabat, tetapi sering kali meninggalkannya jika tidak ada yang mengawasi. Jika pun shalat, mereka melakukannya dengan malas, di akhir waktu, dan tanpa penghayatan. Sifat mereka yang lain adalah riya' (pamer) dalam beramal dan sangat kikir. Mereka enggan memberikan bantuan sekecil apa pun (al-ma'un) kepada sesama, karena hati mereka tidak dilandasi keimanan. Surah Al-Ma'un, dalam konteks Madinah, berfungsi sebagai peringatan keras bagi umat Islam untuk waspada terhadap penyakit kemunafikan yang bisa merusak komunitas dari dalam. Ia juga menjadi cermin bagi setiap Muslim untuk mengintrospeksi kualitas shalat dan kedermawanannya.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral Surah Al-Ma'un adalah keterkaitan yang tidak terpisahkan antara ibadah ritual (vertikal) dan kesalehan sosial (horizontal). Surah ini secara gamblang menegaskan bahwa klaim keimanan menjadi hampa dan ibadah menjadi sia-sia jika tidak menghasilkan akhlak mulia dan kepedulian terhadap sesama.

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya, Taysir al-Karim ar-Rahman, menjelaskan bahwa Allah memulai surah ini dengan pertanyaan retoris yang menggugah, "Ara'ayta..." ("Tahukah kamu..."), untuk menarik perhatian pada sebuah karakter yang sangat buruk. Karakter ini adalah orang yang mendustakan ad-Din, yang oleh As-Sa'di ditafsirkan sebagai Hari Pembalasan. Karena tidak percaya akan adanya hisab dan balasan, ia tidak merasa perlu berbuat baik. Akibatnya, ia menjadi kejam kepada makhluk Allah yang paling lemah (anak yatim) dan abai terhadap kebutuhan dasar manusia (memberi makan orang miskin).

Kemudian, surah ini beralih ke kelompok kedua: orang yang shalat tetapi celaka. Kecelakaan (wail) ini bukan karena shalat itu sendiri, tetapi karena kualitas shalat mereka yang rusak. Kerusakan itu ada pada tiga hal:

  1. Lalai (sāhụn): Mereka melalaikan esensi dan waktu shalat.
  2. Riya' (yurā'ụn): Niat mereka beribadah bukan untuk Allah, tetapi untuk pamer kepada manusia.
  3. Kikir (yamna'ụnal-mā'ụn): Ibadah mereka tidak melahirkan kedermawanan, bahkan untuk hal-hal sepele.

Dengan demikian, surah ini menyajikan dua potret pendusta agama: pendusta dalam akidah yang perilakunya zalim, dan pendusta dalam ibadah yang perilakunya hipokrit dan egois. Keduanya bertemu pada satu titik: kegagalan menghubungkan iman dan ibadah dengan kebaikan sosial.

Munasabah (Korelasi) dengan Surah Sekitarnya:
Sebelum Surah Al-Ma'un adalah Surah Al-Kautsar, yang berbicara tentang nikmat yang melimpah (al-kautsar) yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ. Sebagai bentuk syukur, Nabi diperintahkan untuk shalat dan berkurban (fa ṣalli lirabbika wan-ḥar). Surah Al-Ma'un kemudian datang sebagai kontras: ia menggambarkan orang yang shalatnya justru menjadi sumber kecelakaan karena lalai dan riya', dan yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan semangat berkurban, yaitu kikir dan menolak memberi bantuan. Setelah Surah Al-Ma'un adalah Surah Al-Kafirun, yang merupakan deklarasi pemisahan total (bara'ah) dari sistem peribadatan kaum kafir. Ini menguatkan pesan bahwa ibadah yang diterima hanyalah yang ikhlas karena Allah, bukan ibadah formalitas seperti yang dilakukan orang-orang yang dicela dalam Surah Al-Ma'un.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak ditemukan hadits shahih yang secara spesifik menyebutkan keutamaan khusus bagi pembaca Surah Al-Ma'un, seperti pahala tertentu atau perlindungan dari hal tertentu. Para ulama hadits seperti Imam Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya tidak meriwayatkan hadits semacam itu dalam kitab-kitab mereka.

Oleh karena itu, keutamaan membaca Surah Al-Ma'un termasuk dalam keutamaan umum membaca Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur'an), maka dia akan mendapat satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan 'Alif Lam Mim' itu satu huruf, tetapi 'Alif' itu satu huruf, 'Lam' itu satu huruf, dan 'Mim' itu satu huruf."
(HR. At-Tirmidzi, no. 2910, dinilai shahih oleh Syekh Al-Albani).

Meskipun tidak ada hadits spesifik tentang keutamaannya, para sahabat memahami betul pentingnya surah ini. Diriwayatkan bahwa Sayyidina Umar ibn al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah membaca surah ini dalam salah satu rakaat shalatnya. Ini menunjukkan bahwa surah ini, meskipun pendek, dianggap memiliki bobot pesan yang sangat penting untuk direnungkan dalam shalat.

Fokus utama terkait surah ini bukanlah pada keutamaan membacanya, melainkan pada peringatan keras yang terkandung di dalamnya agar setiap Muslim senantiasa menjaga kualitas imannya, shalatnya, dan kepedulian sosialnya.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para ulama salaf memberikan perhatian khusus dalam menafsirkan beberapa kata kunci dalam surah ini.

  • Tentang ad-Din
    Abdullah ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana dinukil oleh At-Tabari, menafsirkan ad-Din di ayat pertama sebagai "hisab atau pembalasan dari Allah" (bi ḥukmillāh). Mujahid bin Jabr, seorang tabi'in terkemuka, juga menafsirkannya sebagai al-hisab (Hari Perhitungan). Ini menegaskan bahwa akar dari segala keburukan yang disebut dalam surah ini adalah pengingkaran terhadap akhirat.

  • Tentang 'an ṣalātihim sāhụn
    Ada perbedaan penafsiran yang penting di kalangan salaf. Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu pernah ditanya tentang ayat ini, dan beliau menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan shalat dari waktunya." (Diriwayatkan oleh At-Tabari). Ini adalah makna yang paling populer. Namun, para ulama juga menekankan perbedaan krusial antara 'an ṣalātihim (lalai DARI shalat mereka) dan fī ṣalātihim (lalai DI DALAM shalat mereka). Ibn Abbas berkata, "Yang dimaksud adalah shalatnya orang munafik, yang jika shalat ia tidak mengharap pahala, dan jika meninggalkannya ia tidak takut akan siksa." Imam Ibn Kathir menjelaskan bahwa sahun 'an salatihim berarti lalai secara total, baik dengan menunda-nundanya, tidak memenuhi rukun-rukunnya, atau tidak mengerjakannya dengan khusyu' dan perenungan. Adapun lupa atau salah di dalam shalat (fi salatihim) adalah hal yang manusiawi dan bisa menimpa siapa saja, termasuk Nabi ﷺ, dan dapat diperbaiki dengan sujud sahwi.

  • Tentang al-Ma'un
    Makna al-ma'un menjadi subjek diskusi yang luas. Pendapat yang paling kuat, dari Ibn Mas'ud dan Ibn Abbas radhiyallahu 'anhum, adalah bahwa al-ma'un merujuk pada barang-barang keperluan rumah tangga yang biasa dipinjamkan, seperti kapak, panci, timba, atau garam. Menolak meminjamkan barang sepele seperti ini menunjukkan tingkat kekikiran yang luar biasa. Pendapat lain dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan sebagian ulama lain adalah al-ma'un berarti zakat. Sebagian lagi mengartikannya sebagai ketaatan atau kebaikan secara umum. Imam At-Tabari, setelah memaparkan semua pendapat ini, cenderung pada makna yang lebih umum, yaitu "segala bentuk manfaat atau bantuan," yang mencakup zakat, sedekah, dan meminjamkan barang-barang yang berguna. Ini menunjukkan bahwa celaan ditujukan kepada mereka yang menahan segala bentuk kebaikan dari orang lain.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

Surah Al-Ma'un adalah cermin yang sangat tajam bagi setiap Muslim di setiap zaman. Beberapa pelajaran konkret yang bisa kita ambil adalah:

  1. Indikator Iman Sejati adalah Kepedulian Sosial: Surah ini mengajarkan bahwa iman kepada Hari Akhir harus terbukti dalam tindakan nyata. Jika seseorang mengaku beriman tetapi hatinya keras, tidak tersentuh oleh penderitaan anak yatim, dan tidak tergerak untuk membantu orang miskin, maka ada masalah serius dengan keimanannya. Ini adalah panggilan untuk introspeksi: sudahkah iman kita melahirkan empati dan aksi nyata?

  2. Shalat Bukan Sekadar Ritual, Tetapi Transformasi Karakter: Ancaman "celaka" bagi orang yang shalat adalah peringatan yang menakutkan. Shalat yang hanya menjadi rutinitas kosong, dikerjakan di akhir waktu dengan tergesa-gesa, tanpa kehadiran hati, dan hanya untuk dilihat orang lain, tidak akan diterima oleh Allah. Shalat yang benar seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar (innahā tanhā 'anil-faḥsyā'i wal-munkar), yang di antara manifestasinya adalah sifat kikir dan egois. Kita harus terus berusaha memperbaiki kualitas shalat kita, dari niat, waktu, hingga khusyu'-nya.

  3. Waspada Terhadap Penyakit Riya' dan Kikir dalam Keseharian: Riya' (pamer) dan kikir adalah dua penyakit hati yang dibongkar oleh surah ini. Di era media sosial, godaan untuk riya' dalam beramal menjadi semakin besar. Surah ini mengingatkan kita untuk senantiasa memurnikan niat hanya untuk Allah. Sifat kikir yang dicela bahkan sampai pada level menolak memberikan bantuan kecil (al-ma'un). Ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang ringan tangan, mudah membantu, dan tidak pelit, bahkan dalam hal-hal yang kita anggap sepele. Meminjamkan alat, memberikan tumpangan, atau membantu tetangga dengan hal kecil adalah bagian dari semangat al-ma'un.

  4. Agama Adalah Kesatuan antara Hubungan dengan Tuhan dan Manusia: Surah ini adalah salah satu dalil terkuat yang menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan antara hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minannas (hubungan dengan manusia). Keduanya saling terkait dan saling membuktikan. Ibadah ritual yang baik akan menghasilkan akhlak sosial yang baik, dan akhlak sosial yang buruk adalah cerminan dari rusaknya ibadah ritual dan akidah.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Ma'un adalah sebuah standar evaluasi diri yang Allah berikan kepada kita. Ia memaksa kita untuk bertanya: apakah kita termasuk orang yang benar-benar meyakini Hari Pembalasan, yang tercermin dari kasih sayang kita kepada yang lemah? Ataukah kita termasuk orang yang shalatnya hanya sebatas gerakan fisik, tanpa ruh, yang tidak mampu mengikis sifat riya' dan kikir dari dalam diri?

Semoga Allah ﷻ melindungi kita dari sifat-sifat tercela yang disebutkan dalam surah yang agung ini, memperbaiki kualitas shalat kita, melembutkan hati kita untuk menyayangi anak yatim dan fakir miskin, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan dermawan.

Allahumma faqqihnā fiddīn wa 'allimnat ta'wīl. Rabbanā lā tuzig qulụbanā ba'da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladunka raḥmah, innaka antal-wahhāb.

(Ya Allah, berikanlah kami pemahaman yang mendalam dalam agama dan ajarkanlah kami takwilnya. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)).

والله أعلم بالصواب
Wallāhu a'lam bish-shawāb (Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya).