← Kembali ke pelajaran
Hari 98 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah As-Saff (Barisan) adalah surah ke-61 dalam Al-Qur’an, terdiri dari 14 ayat. Para ulama sepakat bahwa surah ini termasuk Madaniyah, diturunkan di Madinah setelah Hijrah. Pendapat ini didasarkan pada isi ayat-ayatnya yang berbicara tentang jihad, persatuan, dan celaan terhadap orang-orang yang tidak konsisten antara ucapan dan perbuatan, yang merupakan karakteristik ayat-ayat Madaniyah. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim menyatakan bahwa seluruh surah ini Madaniyah, begitu pula Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul dan Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul. Adapun urutan turunnya, menurut sebagian riwayat, surah ini diturunkan setelah Surah Al-Munafiqun atau setelah Surah At-Taghabun? Namun yang pasti, surah ini turun dalam periode Madinah, setelah umat Islam memiliki kekuatan dan berhadapan dengan berbagai tantangan dari musyrikin, Yahudi, dan munafikun. Periode dakwah saat itu adalah Madinah awal hingga pertengahan, di mana Nabi ﷺ telah membangun masyarakat Islam dan terjadi beberapa peperangan seperti Uhud dan Khandaq. Ayat-ayat tentang jihad dan persatuan sangat relevan dengan situasi tersebut. Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul menyebutkan bahwa surah ini turun setelah surah At-Taghabun, namun pendapat lain menyebutkan setelah Al-Munafiqun. Wallahu a'lam.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Ayat 1
Ayat ini bersifat umum, menyatakan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah. Tidak ada riwayat khusus tentang sebab turunnya. Hal ini ditegaskan oleh Al-Wahidi dan As-Suyuti.

Ayat 2-3
Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ketika beberapa sahabat berkata, "Seandainya kami mengetahui amalan yang paling dicintai Allah, pasti kami akan mengerjakannya," maka Allah menurunkan ayat-ayat ini. Riwayat ini juga disebutkan dalam Lubab an-Nuqul oleh As-Suyuti. Namun, dalam sanadnya terdapat perawi yang diperbincangkan. Versi lain dari Ibn Kathir menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melakukannya.

Ayat 4
Tidak ada riwayat khusus yang sahih tentang sebab turunnya ayat ini. Imam Al-Wahidi dan As-Suyuti tidak menyebutkan riwayat spesifik. Namun, konteksnya adalah dorongan untuk berperang di jalan Allah dengan barisan yang rapat. Ini bisa dikaitkan dengan perang Uhud ketika barisan kaum Muslimin sempat kacau. Ibn Kathir menafsirkan bahwa Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berperang dengan kesatuan yang kokoh.

Ayat 5-6
Kedua ayat ini menceritakan tentang Musa dan Isa 'alaihima salam. Tidak ada riwayat yang menyatakan sebab turun khusus untuk ayat ini, karena ia merupakan kisah yang diabadikan sebagai pelajaran. Namun, konteksnya adalah pengingat bagi Bani Israil yang mengingkari nabi mereka sendiri, dan sebagai peringatan bagi kaum Muslimin agar tidak serupa dengan mereka. At-Tabari meriwayatkan dari Qatadah bahwa ayat ini turun untuk menegur kaum munafik yang menyakiti Nabi ﷺ dengan perkataan dan perbuatan.

Ayat 7
Ayat ini mengecam orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Riwayat dari Al-Wahidi menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kaum musyrikin Mekah yang menolak dakwah setelah diajak masuk Islam. Namun, karena surah ini Madaniyah, lebih tepat bahwa ayat ini turun di Madinah tentang orang-orang munafik dan Yahudi yang berusaha memutarbalikkan kebenaran.

Ayat 8
Riwayat dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma yang terkenal bahwa wahyu terhenti selama 40 hari, lalu Ka‘ab bin al-Asyraf bersukacita dan berkata, "Allah telah memadamkan cahaya Muhammad." Maka Allah menurunkan ayat ini untuk membantahnya. Riwayat ini terdapat dalam Asbab an-Nuzul Al-Wahidi dan juga dalam Lubab an-Nuqul. Namun, Ibn Kathir memandang riwayat ini mursal (terputus) dan tidak sahih. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ayat ini bersifat umum, merespons upaya orang-orang kafir untuk menentang Islam.

Ayat 9
Tidak ada riwayat khusus. Ayat ini merupakan penegasan bahwa Allah akan memenangkan agama Islam di atas semua agama, meskipun orang musyrik tidak menyukainya. Ini adalah janji Allah yang terbukti dalam sejarah.

Ayat 10-12
Riwayat dari 'Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu. Ketika para sahabat sedang duduk dan berbincang, mereka berkata, "Sekiranya kami mengetahui amalan yang paling dicintai Allah, pasti kami akan mengerjakannya." Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini. Riwayat ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, dan dinyatakan shahih oleh al-Hakim. Demikian disebutkan oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul dan juga oleh Al-Wahidi. Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya meriwayatkan dari Abdullah bin Salam dengan sanad yang hasan, dan al-Hakim menshahihkannya.

Ayat 13
Ayat ini merupakan sambungan dari ayat sebelumnya, memberikan kabar gembira tentang pertolongan Allah dan kemenangan yang dekat. Tidak ada riwayat khusus.

Ayat 14
Riwayat dari Ibn Ishaq dalam As-Sirah bahwa ketika Nabi ﷺ menyeru kaumnya untuk menjadi penolong agama Allah, beberapa sahabat seperti Sa‘d bin Mu‘adz, Usaid bin Hudhair, dan lainnya langsung menyatakan kesediaan. Namun, tidak ada riwayat yang menyebutkan sebab turun khusus. Ayat ini umumnya memotivasi kaum Mukminin.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Sebagian riwayat di atas tidak lepas dari kritik ulama. Misalnya, riwayat tentang berhentinya wahyu pada ayat 8 dipandang lemah oleh Ibn Kathir dan al-Hafizh Ibnu Hajar. Namun, makna ayat tetap sahih secara umum. Riwayat tentang Abdullah bin Salam untuk ayat 10-12 dipandang hasan oleh at-Tirmidzi dan shahih oleh al-Hakim. Adapun riwayat ayat 2-3, ada yang mengatakan bahwa yang bertanya adalah sekelompok sahabat yang ingin tahu amalan terbaik, lalu turun ayat 10-12, bukan ayat 2-3. Perbedaan ini menunjukkan bahwa para ulama memiliki pandangan beragam. Namun, yang jelas, ayat-ayat di atas menegur umat Islam agar konsisten antara ucapan dan perbuatan, serta mendorong mereka untuk bersatu dalam jihad.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk beberapa ayat, seperti ayat 4, 5, 6, 7, 9, 13, dan 14, tidak ada riwayat yang sampai kepada kita secara spesifik dari Nabi ﷺ atau sahabat. Namun, konteks historis Madinah saat itu memberikan gambaran yang jelas. Ayat-ayat tersebut turun sebagai bimbingan umum dalam menghadapi tantangan dakwah. Sebagai contoh, ayat 4 tentang berperang dalam barisan yang rapat sangat relevan dengan Perang Uhud ketika barisan Muslimin sempat porak-poranda. Demikian pula ayat 5-6 yang mengingatkan tentang sikap Bani Israil terhadap nabi-nabi mereka, menjadi pelajaran bagi kaum Mukminin agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah As-Saff turun di Madinah ketika komunitas Islam sedang mengalami tekanan eksternal dan internal. Secara eksternal, kaum musyrikin Quraisy terus mengancam, dan kaum Yahudi Madinah sering berkhianat. Secara internal, kaum munafik muncul dengan sikap mendua. Ayat-ayat dalam surah ini merespons situasi tersebut dengan beberapa cara:

  • Menegur mereka yang pandai berbicara tetapi tidak berbuat, suatu sifat munafik.
  • Mendorong persatuan dalam jihad, sebagaimana barisan yang kokoh.
  • Mengingatkan kaum Muslimin akan nasib umat terdahulu yang menyakiti nabi mereka.
  • Memberikan kabar gembira tentang kemenangan dan pertolongan Allah.

Sirah mengisahkan bahwa setelah Perang Uhud, semangat umat Islam sempat melemah. Maka turunlah ayat-ayat yang membangkitkan kembali. Ibn Hisham dalam As-Sirah an-Nabawiyyah mencatat bahwa Nabi ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk berperang demi menjaga agama. Ayat 4 secara eksplisit menyebutkan betapa Allah mencintai mereka yang berperang di jalan-Nya dalam sebuah barisan yang rapat. Ini merupakan pelajaran berharga dari kekalahan di Uhud yang disebabkan oleh ketidakdisiplinan.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral Surah As-Saff adalah kesatuan dan konsistensi dalam berjuang di jalan Allah. Surah ini dimulai dengan tasbih, lalu mengecam kontradiksi antara ucapan dan perbuatan, memuji mereka yang berperang dalam barisan rapat, mengingatkan tentang perlawanan terhadap nabi sebelumnya, dan mengajak kepada jihad sebagai perdagangan yang menguntungkan. Ibn Kathir menekankan bahwa surah ini mengajarkan pentingnya kejujuran dan komitmen. At-Tabari melihat bahwa surah ini merupakan bantahan terhadap orang-orang munafik dan Yahudi. As-Sa‘di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman mengatakan bahwa surah ini berisi dorongan untuk berjihad, baik dengan harta maupun jiwa, sebagai bentuk perdagangan yang tidak akan merugi. Munasabah dengan surah sebelumnya (Al-Mumtahanah) cukup jelas: surah sebelumnya membahas tentang loyalitas dan permusuhan, sedangkan surah ini tentang barisan perang yang solid. Hubungan dengan surah sesudahnya (Al-Jumu‘ah) adalah bahwa surah Jumu‘ah mengingatkan tentang hari Jumat dan kewajiban beribadah, sehingga keseimbangan antara jihad dan ibadah terjaga.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Terdapat beberapa hadits yang berkaitan dengan surah ini, meskipun tidak banyak yang khusus. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Abdullah bin Salam bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda tentang keutamaan surah ini, namun sanadnya perlu diteliti. Imam al-Hakim dalam Al-Mustadrak meriwayatkan bahwa membaca surah As-Saff dapat mendatangkan kebaikan, tetapi hadits ini dhaif menurut adz-Dzahabi. Oleh karena itu, kita tidak boleh memaksakan keutamaan khusus yang tidak shahih. Keutamaan umum membaca Al-Qur‘an sudah cukup, seperti sabda Nabi ﷺ, "Bacalah Al-Qur‘an, sesungguhnya ia akan datang memberi syafaat pada hari kiamat bagi pembacanya" (HR. Muslim).

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

  • Ibn Abbas menafsirkan ayat 2-3 sebagai teguran kepada kaum munafik yang berjanji tetapi tidak menepati.
  • Mujahid menyatakan bahwa ayat 4 turun untuk sahabat yang ikut perang Badar dan Uhud.
  • Qatadah berkata bahwa ayat 5-6 mengingatkan Bani Israil yang menyakiti nabi mereka.
  • Hasan al-Bashri sering mengingatkan ayat 2-3 sebagai nasihat bagi para da‘i.
  • Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur‘an menjelaskan hukum jihad dari ayat-ayat ini.
  • Imam Al-Baghawi dalam Ma‘alim at-Tanzil mengutip riwayat tentang kebencian Allah terhadap orang yang tidak menepati janji.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Konsistensi antara ucapan dan perbuatan: Setiap Muslim harus jujur dan amanah. Jangan hanya pandai bicara tetapi tidak berbuat.
  2. Persatuan dalam perjuangan: Seperti barisan yang kokoh, umat Islam harus bersatu dalam menghadapi tantangan, tidak tercerai-berai.
  3. Jihad sebagai pengorbanan: Berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa adalah investasi terbaik.
  4. Meneladani nabi dalam sabar: Kisah Musa dan Isa mengajarkan bahwa dakwah akan menghadapi penolakan, tetapi harus tetap istiqamah.
  5. Optimisme akan pertolongan Allah: Allah pasti menolong hamba-Nya yang berjuang dengan ikhlas.

Relevansi bagi pembaca modern: Di era media sosial, banyak orang mudah berjanji tetapi tidak menepati. Surah ini mengingatkan agar kita menjadi pribadi yang terpercaya. Persatuan umat juga sangat diperlukan di tengah perpecahan.

8. Penutup & Doa

Demikianlah telaah asbab an-nuzul Surah As-Saff. Pesan utamanya adalah keharusan konsistensi, persatuan, dan pengorbanan di jalan Allah. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai Allah karena berperang (berjuang) di jalan-Nya dalam barisan yang kokoh. Allahumma faqqihna fi diinika wa ‘allimna at-ta’wila. Amin. Wallahu a‘lam.


Catatan: Semua riwayat dikutip dari sumber-sumber yang disebutkan, dengan mempertimbangkan keshahihannya. Hadits tanpa nomor merujuk pada kitab yang disebutkan secara umum.