Asbab an-Nuzul Surah At-Taghabun
1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah At-Taghabun (التغابن) adalah surah ke-64 dalam mushaf Al-Qur'an yang terdiri dari 18 ayat. Nama At-Taghabun diambil dari kata taghabun pada ayat 9 yang berarti "hari saling merugikan" atau "hari pengungkapan kesalahan". Nama ini merujuk pada hari Kiamat saat penduduk surga dan neraka saling melihat kerugian masing-masing.
Makkiyah atau Madaniyah: Surah ini termasuk Madaniyah berdasarkan kesepakatan mayoritas ulama. Al-Wahidi dalam kitab Asbab an-Nuzul (maktabah al-Khaza'in) menempatkannya dalam kelompok surah Madaniyah. As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul juga tidak meragukan status Madaniyahnya. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menjelaskan bahwa surah ini turun di Madinah setelah hijrah, dengan bukti adanya seruan "ya ayyuha alladhina amanu" (ayat 14) yang merupakan ciri khas surah Madaniyah. Selain itu, pembahasannya tentang ketaatan kepada Rasul, infak, dan jihad lebih relevan dengan konteks masyarakat Madinah yang telah memiliki negara dan menghadapi berbagai tantangan.
Urutan Nuzul: Para ulama berbeda pendapat mengenai urutan turunnya surah ini. Dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an karya As-Suyuti, disebutkan riwayat dari Ibn Abbas yang menempatkan Surah At-Taghabun setelah Surah Al-Jumu'ah dan sebelum Surah Al-Munafiqun. Namun, riwayat ini tidak dapat dipastikan keshahihannya. Secara umum, surah ini diperkirakan turun pada periode Madinah pertengahan, sekitar tahun ke-3 hingga ke-4 Hijriah, setelah Perang Uhud. Beberapa ayatnya yang membahas musibah (ayat 11) dan ujian keluarga (ayat 14-15) sangat relevan dengan peristiwa Uhud yang menimbulkan banyak kesedihan dan kerugian harta serta nyawa.
Periode Dakwah: Pada saat turunnya surah ini, kaum Muslimin di Madinah telah memiliki basis kekuatan politik dan militer, namun masih menghadapi rongrongan dari dalam (munafik) dan dari luar (Yahudi dan musyrik Quraisy). Surah ini turun untuk mengokohkan iman, mengingatkan hakikat kehidupan, dan memotivasi mereka untuk bersabar serta tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Para ulama tafsir klasik tidak mencatat asbab an-nuzul yang spesifik untuk Surah At-Taghabun secara keseluruhan. Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul tidak menyebutkan suatu peristiwa tertentu yang menyebabkan turunnya surah ini. Demikian pula As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul dan Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim tidak meriwayatkan riwayat khusus untuk keseluruhan surah. Namun, untuk ayat-ayat tertentu, terdapat beberapa riwayat yang dapat dijadikan pegangan.
Riwayat dari Al-Wahidi untuk Ayat 14: Al-Wahidi meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ayat 14-15 turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari kalangan Ansar yang masuk Islam, namun istrinya yang masih musyrik dan anak-anaknya menghalanginya untuk berbuat kebaikan, seperti bersedekah dan berjihad. Laki-laki itu datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan menceritakan keluhannya. Maka turunlah firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka waspadalah terhadap mereka." (HR. Al-Wahidi, tanpa nomor). Riwayat ini memperkuat konteks bahwa keluarga bisa menjadi penghalang dalam beramal saleh.
Riwayat dari As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul: As-Suyuti membawakan riwayat dari Ibn Jarir (at-Tabari) dan Ibn Abi Hatim dari Qatadah, bahwa ayat 14 turun setelah Perang Uhud, ketika para sahabat meratapi anak dan istri mereka yang terbunuh atau masih dalam kekafiran. Qatadah berkata, "Sebagian dari mereka merasa berat untuk meninggalkan keluarga demi jihad, maka Allah menurunkan ayat ini sebagai peringatan agar mereka tidak terhalangi oleh keluarga dari jalan Allah." Riwayat ini juga disebutkan oleh al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil.
Riwayat dari At-Tabari dalam Jami' al-Bayan: At-Tabari menukil dari Mujahid bahwa ayat 11 (tentang musibah) turun berkaitan dengan pertanyaan kaum Mukminin tentang takdir musibah. Mujahid mengatakan, "Mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah segala musibah yang menimpa kami telah ditetapkan?' Maka turunlah ayat, 'Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah.'" Namun, riwayat ini tidak memiliki sanad yang kuat dan lebih merupakan tafsir dari Mujahid.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Selain riwayat di atas, ada juga yang menyebutkan bahwa ayat 7 (tentang pengingkaran kebangkitan) turun menanggapi ucapan kaum musyrikin Quraisy yang mengatakan, "Kami tidak akan dibangkitkan." Ibn Kathir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun untuk membantah klaim orang-orang kafir yang ingkar akan hari kebangkitan. Namun, beliau tidak menyebutkan peristiwa spesifik yang melatarbelakanginya. Sebagian mufassir mengaitkannya dengan dialog Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan Ubay bin Khalaf atau Abu Jahm, tetapi riwayat ini tidak terdapat dalam kitab-kitab asbab utama.
Ibn Kathir juga mengomentari ayat 5-6 yang menceritakan umat terdahulu. Beliau mengatakan bahwa ayat ini turun untuk memperingatkan kaum Mukminin akan azab yang menimpa orang-orang kafir sebelumnya, sehingga mereka tidak mengikuti jejak mereka. Tidak ada riwayat spesifik yang menyebutkan sebab turunnya ayat tersebut.
2.3 Catatan Tidak Ada Riwayat Khusus
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada asbab an-nuzul yang shahih dan mashhur untuk Surah At-Taghabun secara keseluruhan. Sebagian besar ayatnya turun dalam konteks umum sebagai nasihat dan peringatan bagi kaum Mukminin Madinah. Para ulama seperti Al-Wahidi, As-Suyuti, dan Ibn Katsir tidak mencatat riwayat yang mengaitkan surah ini dengan peristiwa tertentu. Oleh karena itu, pembahasan selanjutnya akan lebih menitikberatkan pada konteks historis umum dan tafsir ayat-ayatnya berdasarkan sumber-sumber yang ada.
3. Konteks Historis & Sosial
Surah At-Taghabun turun pada periode Madinah yang penuh dinamika. Kaum Muslimin telah berhijrah dan membangun komunitas baru, namun mereka masih menghadapi ancaman dari suku-suku Arab yang belum masuk Islam, terutama dari Quraisy di Mekah. Perang Badar terjadi pada tahun 2 H, diikuti Perang Uhud pada tahun 3 H, dan Perang Khandaq pada tahun 5 H. Suasana keamanan belum stabil.
Beberapa indikasi konteks historis dalam surah ini:
- Musibah dan qadar: Ayat 11 yang menyatakan bahwa musibah hanya terjadi dengan izin Allah sangat relevan dengan pasca Perang Uhud, di mana kaum Muslimin menderita kekalahan dan kehilangan banyak jiwa. Ayat ini menjadi penghibur dan penguat kesabaran.
- Ujian keluarga: Ayat 14-15 tentang keluarga sebagai musuh dan cobaan mungkin terkait dengan fenomena para sahabat yang memiliki istri atau anak yang masih musyrik atau enggan berhijrah. Kisah Abu Sufyan dan Hindun, atau kisah Mush'ab bin Umair yang keluarganya memusuhinya karena iman, bisa menjadi latar belakang. Namun, riwayat yang paling kuat adalah tentang seorang Ansar yang terhalang oleh keluarganya.
- Perintah taat: Ayat 12 yang menekankan ketaatan kepada Allah dan Rasul menunjukkan adanya tantangan dari kelompok munafik yang sering melanggar perintah. Surat Al-Munafiqun turun sebelumnya, dan At-Taghabun melanjutkan dengan seruan untuk taat.
- Infak dan takwa: Ayat 16-17 tentang infak dan takwa sebatas kemampuan menunjukkan bahwa ekonomi kaum Muslimin pada masa itu masih terbatas, namun mereka diajak untuk bersedekah secara sukarela.
Secara sosial, masyarakat Madinah terdiri dari kaum Muhajirin yang miskin karena meninggalkan harta di Mekah, dan kaum Ansar yang berbagi. Persaudaraan dan solidaritas sangat diperlukan. Surah ini mengingatkan agar harta dan anak tidak menjadi penghalang untuk berbuat baik.
4. Tema Sentral Surah
Tema utama Surah At-Taghabun adalah hakikat kehidupan dunia sebagai ujian dan pentingnya persiapan menghadapi hari akhir. Surah ini terdiri dari tiga bagian besar:
Kemahakuasaan dan ilmu Allah (ayat 1-4): Ayat pertama menegaskan bahwa seluruh alam bertasbih kepada Allah. Kerajaan dan pujian hanya milik-Nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ayat 2 menyebutkan bahwa Allah menciptakan manusia, lalu di antara mereka ada yang kafir dan mukmin. Ini menunjukkan kehendak dan ilmu Allah. Ayat 3-4 menegaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dengan benar, membentuk manusia dengan sebaik-baik bentuk, dan mengetahui segala yang rahasia dan terang. Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat ini menetapkan tauhid rububiyyah dan asma wa sifat. At-Tabari menambahkan bahwa menyebut "apa yang di langit dan di bumi" meliputi semua makhluk, termasuk malaikat, jin, dan manusia.
Peringatan tentang hari kebangkitan (ayat 5-10): Ayat 5-6 menceritakan nasib umat terdahulu yang mendustakan rasul, sebagai pelajaran. Ayat 7-8 menegaskan bahwa kebangkitan pasti terjadi, dan manusia akan diberitahu semua amal mereka. Ayat 9 menjelaskan hari berkumpul (yaum al-jam'i) dan hari saling merugikan (yaum al-taghabun). Orang yang beriman dan beramal saleh akan dihapus dosanya dan dimasukkan ke surga, sementara orang kafir akan kekal di neraka (ayat 10). As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman mengatakan bahwa taghabun adalah hari ketika semua amal diungkap dan masing-masing melihat akibat perbuatannya.
Ujian kehidupan dan anjoran takwa (ayat 11-18): Ayat 11 mengajarkan bahwa musibah adalah takdir, dan orang beriman akan diberi petunjuk hati. Ayat 12 memerintahkan taat. Ayat 13 mengingatkan bahwa hanya Allah tempat tawakal. Ayat 14-15 memperingatkan tentang fitnah keluarga dan harta. Ayat 16-18 menutup dengan perintah takwa semampu mungkin, dengar dan taat, infak, dan janji ampunan serta pahala berlipat.
Munasabah dengan surah sebelumnya (Al-Munafiqun) sangat jelas: Al-Munafiqun mengungkap kemunafikan dan sikap berpaling dari Rasul, sementara At-Taghabun mengajak untuk iman yang tulus dan taat. Surah setelahnya (At-Talaq) membahas talak dan aturan keluarga, sehingga surah ini menjadi jembatan yang mengingatkan bahwa keluarga adalah ujian dan harus dikelola dengan syariat.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Tidak banyak hadits shahih yang secara khusus membahas keutamaan membaca Surah At-Taghabun. Namun, terdapat beberapa riwayat yang perlu dicatat:
- Hadits dari Ma'qil bin Yasar: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang membaca surah At-Taghabun ketika salat, maka ia seperti orang yang berpegang teguh kepada Islam." (HR. Tirmidzi no. 3295). Namun, sanad hadits ini da'if (lemah) menurut para ulama hadits. Tirmidzi sendiri menyatakannya gharib.
- Hadits dari Ubay bin Ka'ab: Nabi bersabda, "Barangsiapa membaca surah At-Taghabun, maka Allah akan mencatat pahala baginya di setiap amalnya." Riwayat ini juga da'if karena dalam sanadnya terdapat perawi yang majhul.
- Hadits yang lebih shahih terkait isi surah: Dalam Sahih Muslim (no. 2765), dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." Ini sejalan dengan ayat 1 dan 2 yang menekankan keikhlasan.
- Hadits tentang takwa semampu mungkin: Dalam Sahih Bukhari (no. 7288), dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, "Apabila aku perintahkan kamu dengan sesuatu, maka laksanakanlah semampu kalian." Ini merupakan penjelasan dari ayat 16.
- Hadits tentang fitnah harta: Dalam Sahih Bukhari (no. 1465) dan Muslim (no. 1052), dari Ka'ab bin 'Iyadh, Nabi bersabda, "Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta." Ini mendukung ayat 15.
Selain itu, terdapat riwayat dari sahabat tentang kebiasaan mereka membaca surah ini. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu sering membaca Surah At-Taghabun dalam salat malamnya. Namun, ini tidak dapat dipastikan keshahihannya.
Kesimpulannya, keutamaan spesifik untuk surah ini lemah, tetapi keutamaan umum membaca Al-Qur'an tetap berlaku. Yang terpenting adalah mengamalkan isinya.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Pendapat Sahabat dan Tabi'in:
- Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan ayat 2 (famin kum kafirun wa min kum mu'min) bahwa Allah telah mengetahui sejak azali siapa yang akan kafir dan siapa yang akan beriman. Beliau juga berkata tentang ayat 14: "Janganlah kamu menaati mereka dalam maksiat." (Riwayat At-Tabari).
- Mujahid bin Jabr berkata tentang ayat 11: "Petunjuk hati yang dimaksud adalah kesabaran." (Riwayat Ibn Abi Hatim).
- Qatadah bin Di'amah mengatakan tentang ayat 14: "Sungguh, sebagian keluarga benar-benar menjadi musuh karena mereka menghalangi dari ketaatan kepada Allah." (Riwayat Abdurrazzaq).
- Hasan al-Bashri menafsirkan yaum al-taghabun sebagai hari ketika penduduk surga dan neraka saling melihat keuntungan dan kerugian. Beliau juga berkata bahwa hari itu adalah hari penyesalan. (Riwayat Al-Qurthubi).
Pandangan Ulama Tafsir Klasik:
- At-Tabari dalam Jami' al-Bayan menegaskan bahwa taghabun berarti sebagian pihak merugi dan sebagian untung. Beliau merinci bahwa orang mukmin yang beramal saleh akan mendapat surga, sedangkan kafir akan celaka.
- Al-Qurthubi dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menjelaskan bahwa ayat 16 (fat-taqu llaha mastatha'tum) adalah rukhsah yang menghapus ayat sebelumnya dari Surah Ali Imran. Beliau juga membahas hukum berkaitan dengan ayat ini, seperti keringanan salat bagi musafir.
- Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menekankan bahwa surah ini mengandung motivasi untuk bersyukur, sabar, dan tawakal. Beliau juga mengatakan bahwa ayat 11 adalah dalil bahwa musibah adalah takdir, dan iman dapat menenangkan hati.
- As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan secara ringkas bahwa surah ini berisi penetapan takdir dan ujian, serta anjuran untuk memprioritaskan akhirat.
Perbedaan Pendapat: Terdapat perbedaan mengenai apakah ayat 16 (fat-taqu llaha mastatha'tum) bersifat nasikh terhadap ayat sebelumnya. Jumhur ulama berpendapat bahwa ayat ini memberikan kemudahan, sehingga tidak ada lagi kewajiban takwa secara mutlak yang memberatkan. Namun, sebagian ulama seperti Ibn Hazm menyatakan bahwa ayat tersebut tidak nasikh tetapi hanya penjelasan. Perbedaan ini tidak mempengaruhi inti pesan.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Hidup adalah ujian: Harta dan anak adalah fitnah. Kesuksesan sejati bukan pada jumlah kekayaan, melainkan pada ketakwaan. Ayat 15 mengingatkan kita agar tidak terlena dengan gemerlap dunia dan selalu menggunakan nikmat untuk ketaatan.
Keluarga adalah amanah yang perlu dikelola bijak: Meski ada potensi menjadi musuh, kita diminta untuk memaafkan dan berlemah lembut (ayat 14). Mendidik keluarga dengan teladan dan kesabaran adalah kunci.
Tawakal setelah ikhtiar: Ayat 13 memerintahkan tawakal. Setelah berusaha maksimal, kita serahkan hasil kepada Allah. Sikap ini mengurangi stres dan kecemasan.
Takwa sesuai kemampuan: Ayat 16 memberi kelonggaran. Jangan memberatkan diri dengan hal-hal yang syariat tidak wajib, tapi tetap berusaha maksimal dalam kebaikan. Prinsip ini sangat relevan di tengah kesibukan modern.
Persiapan hari akhir: Konsep yaum al-taghabun harus mendorong kita untuk introspeksi. Setiap perbuatan akan diungkap dan dibalas. Perbanyak amal saleh, seperti infak dan sedekah, karena pahalanya berlipat ganda di sisi Allah.
Pelajaran konkret: Evaluasi prioritas hidup. Apakah kita lebih mengutamakan tuntutan keluarga atau perintah Allah? Apakah harta kita digunakan untuk kebaikan atau hanya untuk kepentingan dunia? Surah ini mengajak kita untuk selalu bertanya tentang niat dan tujuan.
8. Penutup & Doa
Surah At-Taghabun adalah pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan penuh ujian. Hari Kiamat pasti datang, dan pada hari itu semua yang kita miliki akan dipertanyakan. Marilah kita jadikan surah ini sebagai pedoman untuk tidak terpedaya oleh dunia, tetap berpegang pada iman, dan memperbanyak amal saleh.
Allahumma faqqihna fi al-din, wa 'allimna al-ta'wil, wa arina al-haqqa haqqan wa arzuqna ittiba'ah, wa arina al-batila batilan wa arzuqna ijtinabah. (Ya Allah, berilah kami pemahaman dalam agama, ajarkanlah kami takwil, tunjukkanlah yang benar sebagai benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah yang batil sebagai batil dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya).
والله أعلم بالصواب. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin.