تَبَـٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
تَبَـٰرَكَ
ٱلَّذِى
بِيَدِهِ
ٱلْمُلْكُ
وَهُوَ
عَلَىٰ
كُلِّ
شَىْءٍۢ
قَدِيرٌ
Tabārakal-lażī biyadihil-mulk(u), wa huwa ‘alā kulli syai'in qadīr(un).
Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٲةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاًۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
ٱلَّذِى
خَلَقَ
ٱلْمَوْتَ
وَٱلْحَيَوٰةَ
لِيَبْلُوَكُمْ
liyabluwakum
agar Dia menguji kalian
أَيُّكُمْ
ayyukum
siapa di antara kalian
أَحْسَنُ
عَمَلًۭا ۚ
وَهُوَ
ٱلْعَزِيزُ
l-ʿazīzu
Yang Maha Perkasa
ٱلْغَفُورُ
l-ghafūru
Yang Maha Pengampun
Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā(n), wa huwal-‘azīzul-gafūr(u).
yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
ٱلَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَـٰوَٲتٍ طِبَاقًاۖ مَّا تَرَىٰ فِى خَلْقِ ٱلرَّحْمَـٰنِ مِن تَفَـٰوُتٍۖ فَٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ
ٱلَّذِى
خَلَقَ
سَبْعَ
سَمَـٰوَٰتٍۢ
طِبَاقًۭا ۖ
ṭibāqan
bertingkat-tingkat
مَّا
تَرَىٰ
فِى
خَلْقِ
ٱلرَّحْمَـٰنِ
l-raḥmāni
Yang Maha Pengasih
مِن
تَفَـٰوُتٍۢ ۖ
فَٱرْجِعِ
fa-ir'jiʿi
maka kembalilah
ٱلْبَصَرَ
هَلْ
تَرَىٰ
مِن
فُطُورٍۢ
Allażī khalaqa sab‘a samāwātin ṭibāqā(n), mā tarā fī khalqir-raḥmāni min tafāwut(in), farji‘il-baṣara hal tarā min fuṭūr(in).
(Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?
ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
ثُمَّ
ٱرْجِعِ
ٱلْبَصَرَ
كَرَّتَيْنِ
يَنقَلِبْ
إِلَيْكَ
ٱلْبَصَرُ
خَاسِئًۭا
وَهُوَ
حَسِيرٌۭ
Ṡummarji‘il-baṣara karrataini yanqalib ilaikal-baṣaru khāsi'aw wa huwa ḥasīr(un).
Kemudian, lihatlah sekali lagi (dan) sekali lagi (untuk mencari cela dalam ciptaan Allah), niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih (karena tidak menemukannya).
وَلَقَدْ زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَـٰبِيحَ وَجَعَلْنَـٰهَا رُجُومًا لِّلشَّيَـٰطِينِۖ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ
وَلَقَدْ
زَيَّنَّا
zayyannā
Kami telah memperindah
ٱلسَّمَآءَ
ٱلدُّنْيَا
بِمَصَـٰبِيحَ
bimaṣābīḥa
dengan lampu-lampu
وَجَعَلْنَـٰهَا
wajaʿalnāhā
dan Kami telah menjadikannya
رُجُومًۭا
لِّلشَّيَـٰطِينِ ۖ
lilshayāṭīni
untuk setan-setan
وَأَعْتَدْنَا
wa-aʿtadnā
dan Kami telah menyiapkan
لَهُمْ
عَذَابَ
ٱلسَّعِيرِ
Wa laqad zayyannas-samā'ad-dun-yā bimaṣābīḥa wa ja‘alnāhā rujūmal lisy-syayāṭīni wa a‘tadnā lahum ‘ażābas-sa‘īr(i).
Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar terhadap setan, dan menyediakan bagi mereka (setan-setan itu) azab (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).
وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ
وَلِلَّذِينَ
walilladhīna
dan bagi mereka yang
كَفَرُوا۟
بِرَبِّهِمْ
birabbihim
kepada Tuhan mereka
عَذَابُ
جَهَنَّمَ ۖ
وَبِئْسَ
wabi'sa
dan alangkah buruknya
ٱلْمَصِيرُ
Wa lil-lażīna kafarū birabbihim ‘ażābu jahannam(a), wa bi'sal-maṣīr(u).
Orang-orang yang kufur kepada Tuhannya akan mendapat azab (neraka) Jahanam. Itulah seburuk-buruk tempat kembali.
إِذَآ أُلْقُواْ فِيهَا سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقًا وَهِىَ تَفُورُ
إِذَآ
أُلْقُوا۟
فِيهَا
سَمِعُوا۟
samiʿū
mereka akan mendengar
لَهَا
شَهِيقًۭا
وَهِىَ
تَفُورُ
Iżā ulqū fīhā sami‘ū lahā syahīqaw wa hiya tafūr(u).
Apabila dilemparkan ke dalamnya (neraka), mereka pasti mendengar suaranya yang mengerikan saat ia membara.
تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلْغَيْظِۖ كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
تَكَادُ
تَمَيَّزُ
مِنَ
ٱلْغَيْظِ ۖ
كُلَّمَآ
أُلْقِىَ
فِيهَا
فَوْجٌۭ
سَأَلَهُمْ
sa-alahum
akan bertanya kepada mereka
خَزَنَتُهَآ
أَلَمْ
يَأْتِكُمْ
نَذِيرٌۭ
nadhīrun
seorang pemberi peringatan
Takādu tamayyazu minal-gaiẓ(i), kullamā ulqiya fīhā faujun sa'alahum khazanatuhā alam ya'tikum nażīr(un).
(Neraka itu) hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya, penjaga-penjaganya bertanya kepada mereka, “Tidak pernahkah seorang pemberi peringatan datang kepadamu (di dunia)?”
قَالُواْ بَلَىٰ قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍ كَبِيرٍ
قَالُوا۟
بَلَىٰ
قَدْ
جَآءَنَا
نَذِيرٌۭ
nadhīrun
seorang pemberi peringatan
فَكَذَّبْنَا
fakadhabnā
tetapi kami mendustakan
وَقُلْنَا
waqul'nā
dan Kami berkata
مَا
نَزَّلَ
ٱللَّهُ
مِن
شَىْءٍ
إِنْ
أَنتُمْ
إِلَّا
فِى
ضَلَـٰلٍۢ
كَبِيرٍۢ
Qālū balā qad jā'anā nażīr(un), fa każżabnā wa qulnā mā nazzalallāhu min syai'(in), in antum illā fī ḍalālin kabīr(in).
Mereka menjawab, “Pernah! Sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(-nya) dan mengatakan, ‘Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun.’” (Para malaikat berkata,) “Kamu tidak lain hanyalah (berada) dalam kesesatan yang besar.”
وَقَالُواْ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصْحَـٰبِ ٱلسَّعِيرِ
وَقَالُوا۟
waqālū
Dan mereka akan berkata
لَوْ
كُنَّا
نَسْمَعُ
أَوْ
نَعْقِلُ
مَا
كُنَّا
فِىٓ
أَصْحَـٰبِ
ٱلسَّعِيرِ
Wa qālū lau kunnā nasma‘u au na‘qilu mā kunnā fī aṣḥābis-sa‘īr(i).
Mereka juga berkata, “Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).”
فَٱعْتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَـٰبِ ٱلسَّعِيرِ
فَٱعْتَرَفُوا۟
fa-iʿ'tarafū
Kemudian mereka (akan) mengakui
بِذَنۢبِهِمْ
bidhanbihim
dosa-dosa mereka
فَسُحْقًۭا
لِّأَصْحَـٰبِ
ٱلسَّعِيرِ
Fa‘tarafū biżambihim, fasuḥqal li'aṣḥābis-sa‘īr(i).
Mereka mengakui dosanya (saat penyesalan tidak lagi bermanfaat). Maka, jauhlah (dari rahmat Allah) bagi para penghuni (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala) itu.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِٱلْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
إِنَّ
ٱلَّذِينَ
alladhīna
orang-orang yang
يَخْشَوْنَ
رَبَّهُم
بِٱلْغَيْبِ
لَهُم
مَّغْفِرَةٌۭ
maghfiratun
(adalah) ampunan
وَأَجْرٌۭ
كَبِيرٌۭ
Innal-lażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi lahum magfiratuw wa ajrun kabīr(un).
Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya dengan tanpa melihat-Nya akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
وَأَسِرُّواْ قَوْلَكُمْ أَوِ ٱجْهَرُواْ بِهِۦٓۖ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ
وَأَسِرُّوا۟
wa-asirrū
Dan sembunyikanlah
قَوْلَكُمْ
أَوِ
ٱجْهَرُوا۟
بِهِۦٓ ۖ
إِنَّهُۥ
عَلِيمٌۢ
بِذَاتِ
bidhāti
dari apa (yang ada di)
ٱلصُّدُورِ
Wa asirrū qaulakum awijharū bih(ī), innahū ‘alīmum biżātiṣ-ṣudūr(i).
Rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
أَلَا
يَعْلَمُ
مَنْ
خَلَقَ
وَهُوَ
ٱللَّطِيفُ
l-laṭīfu
(adalah) Yang Maha Halus
ٱلْخَبِيرُ
l-khabīru
Yang Maha Mengetahui
Alā ya‘lamu man khalaq(a), wa huwal-laṭīful-khabīr(u).
Apakah (pantas) Zat yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia (juga) Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولاً فَٱمْشُواْ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُواْ مِن رِّزْقِهِۦۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
هُوَ
ٱلَّذِى
جَعَلَ
لَكُمُ
ٱلْأَرْضَ
ذَلُولًۭا
فَٱمْشُوا۟
fa-im'shū
maka berjalanlah
فِى
مَنَاكِبِهَا
manākibihā
jalan-jalannya
وَكُلُوا۟
مِن
رِّزْقِهِۦ ۖ
وَإِلَيْهِ
ٱلنُّشُورُ
l-nushūru
adalah kebangkitan
Huwal-lażī ja‘ala lakumul-arḍa żalūlan famsyū fī manākibihā wa kulū mir rizqih(ī), wa ilaihin-nusyūr(u).
Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ ٱلْأَرْضَ فَإِذَا هِىَ تَمُورُ
ءَأَمِنتُم
a-amintum
Apakah kamu merasa aman
مَّن
فِى
ٱلسَّمَآءِ
أَن
يَخْسِفَ
yakhsifa
Dia akan menenggelamkan
بِكُمُ
ٱلْأَرْضَ
فَإِذَا
هِىَ
تَمُورُ
A'amintum man fis-samā'i ay yakhsifa bikumul-arḍa fa'iżā hiya tamūr(u).
Sudah merasa amankah kamu dari Zat yang di langit, yaitu (dari bencana) dibenamkannya bumi oleh-Nya bersama kamu ketika tiba-tiba ia terguncang?
أَمْ أَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًاۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
أَمْ
أَمِنتُم
amintum
apakah kalian merasa aman
مَّن
فِى
ٱلسَّمَآءِ
أَن
يُرْسِلَ
yur'sila
Dia akan mengirim
عَلَيْكُمْ
حَاصِبًۭا ۖ
فَسَتَعْلَمُونَ
fasataʿlamūna
maka kamu akan tahu
كَيْفَ
نَذِيرِ
Am amintum man fis-samā'i ay yursila ‘alaikum ḥāṣibā(n), fa sata‘lamūna kaifa nażīr(i).
Atau, sudah merasa amankah kamu dari Zat yang di langit, yaitu (dari bencana) dikirimkannya badai batu oleh-Nya kepadamu? Kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.
وَلَقَدْ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ
وَلَقَدْ
كَذَّبَ
ٱلَّذِينَ
مِن
قَبْلِهِمْ
فَكَيْفَ
كَانَ
نَكِيرِ
Wa laqad każżabal-lażīna min qablihim fakaifa kāna nakīr(i).
Sungguh, orang-orang sebelum mereka pun benar-benar telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka, betapa hebatnya kemurkaan-Ku!
أَوَلَمْ يَرَوْاْ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَـٰٓفَّـٰتٍ وَيَقْبِضْنَۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَـٰنُۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءِۭ بَصِيرٌ
أَوَلَمْ
يَرَوْا۟
إِلَى
ٱلطَّيْرِ
فَوْقَهُمْ
صَـٰٓفَّـٰتٍۢ
ṣāffātin
membentangkan (sayapnya)
وَيَقْبِضْنَ ۚ
مَا
يُمْسِكُهُنَّ
yum'sikuhunna
menahan mereka
إِلَّا
ٱلرَّحْمَـٰنُ ۚ
l-raḥmānu
Yang Maha Pengasih
إِنَّهُۥ
بِكُلِّ
شَىْءٍۭ
بَصِيرٌ
Awalam yarau ilaṭ-ṭairi fauqahum ṣāffātiw wa yaqbiḍn(a), mā yumsikuhunna illar-raḥmān(u), innahū bikulli syai'im baṣīr(un).
Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.
أَمَّنْ هَـٰذَا ٱلَّذِى هُوَ جُندٌ لَّكُمْ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحْمَـٰنِۚ إِنِ ٱلْكَـٰفِرُونَ إِلَّا فِى غُرُورٍ
أَمَّنْ
هَـٰذَا
ٱلَّذِى
هُوَ
جُندٌۭ
لَّكُمْ
يَنصُرُكُم
yanṣurukum
untuk menolongmu
مِّن
دُونِ
ٱلرَّحْمَـٰنِ ۚ
l-raḥmāni
Yang Maha Pengasih
إِنِ
ٱلْكَـٰفِرُونَ
l-kāfirūna
orang-orang kafir
إِلَّا
فِى
غُرُورٍ
Am man hāżal-lażī huwa jundul lakum yanṣurukum min dūnir-raḥmān(i), inil-kāfirūna illā fī gurūr(in).
Atau, siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat menolongmu selain (Allah) Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.
أَمَّنْ هَـٰذَا ٱلَّذِى يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُۥۚ بَل لَّجُّواْ فِى عُتُوٍّ وَنُفُورٍ
أَمَّنْ
هَـٰذَا
ٱلَّذِى
يَرْزُقُكُمْ
yarzuqukum
untuk memberimu rezeki
إِنْ
أَمْسَكَ
رِزْقَهُۥ ۚ
بَل
لَّجُّوا۟
فِى
عُتُوٍّۢ
وَنُفُورٍ
Am man hāżal-lażī yarzuqukum in amsaka rizqah(ū), bal lajjū fī ‘utuwwiw wa nufūr(in).
Atau, siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Sebaliknya, mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).
أَفَمَن يَمْشِى مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِۦٓ أَهْدَىٰٓ أَمَّن يَمْشِى سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَٲطٍ مُّسْتَقِيمٍ
أَفَمَن
afaman
maka apakah orang yang
يَمْشِى
مُكِبًّا
عَلَىٰ
وَجْهِهِۦٓ
أَهْدَىٰٓ
أَمَّن
يَمْشِى
سَوِيًّا
عَلَىٰ
صِرَٰطٍۢ
مُّسْتَقِيمٍۢ
Afamay yamsyī mukibban ‘alā wajhihī ahdā ammay yamsyī sawiyyan ‘alā ṣirāṭim mustaqīm(in).
Apakah orang yang berjalan dengan wajah tertelungkup itu lebih mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?
قُلْ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَٱلْأَفْــِٔدَةَۖ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ
قُلْ
هُوَ
ٱلَّذِىٓ
أَنشَأَكُمْ
ansha-akum
Dia menciptakan kamu
وَجَعَلَ
لَكُمُ
ٱلسَّمْعَ
وَٱلْأَبْصَـٰرَ
wal-abṣāra
dan penglihatan
وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۖ
قَلِيلًۭا
مَّا
تَشْكُرُونَ
tashkurūna
kalian bersyukur
Qul huwal-lażī ansya'akum wa ja‘ala lakumus-sam‘a wal-abṣāra wal-af'idah(ta), qalīlam mā tasykurūn(a).
Katakanlah, “Dialah Zat yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. (Akan tetapi,) sedikit sekali kamu bersyukur.”
قُلْ هُوَ ٱلَّذِى ذَرَأَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
قُلْ
هُوَ
ٱلَّذِى
ذَرَأَكُمْ
dhara-akum
Dia memperbanyak kamu
فِى
ٱلْأَرْضِ
وَإِلَيْهِ
تُحْشَرُونَ
tuḥ'sharūna
kamu akan dikumpulkan
Qul huwal-lażī żara'akum fil-arḍi wa ilaihi tuḥsyarūn(a).
Katakanlah, “Dialah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi dan kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.”
وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَـٰذَا ٱلْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ
وَيَقُولُونَ
wayaqūlūna
Dan mereka berkata
مَتَىٰ
هَـٰذَا
ٱلْوَعْدُ
إِن
كُنتُمْ
صَـٰدِقِينَ
ṣādiqīna
orang-orang yang benar
Wa yaqūlūna matā hāżal-wa‘du in kuntum ṣādiqīn(a).
Mereka berkata, “Kapankah (datangnya) janji (azab) ini jika kamu orang-orang benar?”
قُلْ إِنَّمَا ٱلْعِلْمُ عِندَ ٱللَّهِ وَإِنَّمَآ أَنَا۟ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
قُلْ
إِنَّمَا
ٱلْعِلْمُ
عِندَ
ٱللَّهِ
وَإِنَّمَآ
أَنَا۠
نَذِيرٌۭ
nadhīrun
seorang pemberi peringatan
مُّبِينٌۭ
Qul innamal-‘ilmu ‘indallāh(i), wa innamā ana nażīrum mubīn(un).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya ada pada Allah. Aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.”
فَلَمَّا رَأَوْهُ زُلْفَةً سِيٓــَٔتْ وُجُوهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَقِيلَ هَـٰذَا ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ
فَلَمَّا
رَأَوْهُ
ra-awhu
mereka akan melihatnya
زُلْفَةًۭ
سِيٓـَٔتْ
وُجُوهُ
ٱلَّذِينَ
alladhīna
orang-orang yang
كَفَرُوا۟
وَقِيلَ
هَـٰذَا
ٱلَّذِى
كُنتُم
بِهِۦ
تَدَّعُونَ
Falammā ra'auhu zulfatan sī'at wujūhul-lażīna kafarū wa qīla hāżal-lażī kuntum bihī tadda‘ūn(a).
Ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, wajah orang-orang kafir itu menjadi muram. Dikatakan (kepada mereka), “Ini adalah (sesuatu) yang dahulu kamu selalu mengaku (bahwa kamu tidak akan dibangkitkan).”
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَهْلَكَنِىَ ٱللَّهُ وَمَن مَّعِىَ أَوْ رَحِمَنَا فَمَن يُجِيرُ ٱلْكَـٰفِرِينَ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
قُلْ
أَرَءَيْتُمْ
ara-aytum
sudahkah kamu melihat
إِنْ
أَهْلَكَنِىَ
ahlakaniya
menghancurkanku
ٱللَّهُ
وَمَن
مَّعِىَ
أَوْ
رَحِمَنَا
فَمَن
يُجِيرُ
ٱلْكَـٰفِرِينَ
l-kāfirīna
orang-orang kafir
مِنْ
عَذَابٍ
أَلِيمٍۢ
Qul ara'aitum in ahlakaniyallāhu wa mam ma‘iya au raḥimanā, famay yujīrul-kāfirīna min ‘ażābin alīm(in).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami (dengan memperpanjang umur kami,) lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?”
قُلْ هُوَ ٱلرَّحْمَـٰنُ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَاۖ فَسَتَعْلَمُونَ مَنْ هُوَ فِى ضَلَـٰلٍ مُّبِينٍ
قُلْ
هُوَ
ٱلرَّحْمَـٰنُ
l-raḥmānu
adalah Yang Maha Pengasih
ءَامَنَّا
بِهِۦ
وَعَلَيْهِ
تَوَكَّلْنَا ۖ
tawakkalnā
kami bertawakal
فَسَتَعْلَمُونَ
fasataʿlamūna
Maka kamu akan tahu
مَنْ
هُوَ
فِى
ضَلَـٰلٍۢ
مُّبِينٍۢ
Qul huwar-raḥmānu āmannā bihī wa ‘alaihi tawakkalnā, fasata‘lamūna man huwa fī ḍalālim mubīn(in).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Zat Yang Maha Pengasih, kami beriman kepada-Nya dan hanya kepada-Nya kami bertawakal. Kelak kamu akan tahu siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.”
قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَصْبَحَ مَآؤُكُمْ غَوْرًا فَمَن يَأْتِيكُم بِمَآءٍ مَّعِينِۭ
قُلْ
أَرَءَيْتُمْ
ara-aytum
sudahkah kamu melihat
إِنْ
أَصْبَحَ
مَآؤُكُمْ
غَوْرًۭا
فَمَن
يَأْتِيكُم
yatīkum
dapat membawakan kalian
بِمَآءٍۢ
مَّعِينٍۭ
Qul ara'aitum in aṣbaḥa mā'ukum gauran famay ya'tīkum bimā'im ma‘īn(in).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika (sumber) air kamu surut ke dalam tanah, siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”