1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Al-Mulk, yang juga dikenal dengan nama "Tabarak" (Maha Suci), adalah surah ke-67 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari 30 ayat dan termasuk dalam golongan surah Makkiyah. Para ulama tafsir seperti Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an dan Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyatakan kesepakatan (ijma') bahwa surah ini turun di Mekah, meskipun ada riwayat yang menyebutkan sebagian ayatnya turun di Madinah, tetapi pendapat yang kuat adalah seluruhnya Makkiyah. Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul juga tidak menyebutkan adanya pengecualian.
Dalam urutan turunnya wahyu, surah Al-Mulk diperkirakan turun setelah Surah Al-Qalam (68) dan sebelum Surah Al-Haqqah (69). Menurut riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, surah Al-Mulk adalah surah yang ke-77 dalam urutan turun. Ini menunjukkan bahwa surah ini turun pada fase pertengahan hingga akhir periode Mekah, ketika dakwah Islam telah berkembang tetapi masih menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy. Pada masa itu, Nabi ﷺ dan para sahabat mengalami berbagai bentuk penyiksaan, embargo sosial-ekonomi, dan upaya pembunuhan. Surah ini turun sebagai penguat iman dan pengingat akan kekuasaan Allah serta ancaman terhadap mereka yang mendustakan.
Ciri khas surah Makkiyah tampak jelas dalam surah ini, yaitu penekanan pada tauhid rububiyyah, pembuktian kekuasaan Allah melalui ciptaan-Nya, dan peringatan tentang hari kebangkitan serta azab neraka bagi orang kafir. Tidak ada ayat tentang hukum fikih atau muamalah, yang merupakan ciri surah Madaniyah. Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menegaskan bahwa surah ini diturunkan di Mekah, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mufassirin.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Untuk surah Al-Mulk secara keseluruhan, para ulama seperti Al-Wahidi dalam kitab Asbab an-Nuzul dan As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul tidak menyebutkan riwayat sebab khusus (sabab nuzul) yang spesifik. Hal ini karena surah ini turun sebagai satu kesatuan yang membahas tema-tema besar keimanan, tanpa dikaitkan dengan peristiwa tertentu. Namun, terdapat riwayat untuk beberapa ayat di dalamnya, terutama ayat 13.
Riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa ayat 13: "Rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." turun berkaitan dengan sikap orang musyrik yang menjelek-jelekkan Nabi Muhammad ﷺ secara diam-diam. Al-Wahidi meriwayatkan dari Ikrimah dan Sa'id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa seorang musyrik berkata kepada kawannya: "Rendahkanlah suaramu, jangan sampai Tuhan Muhammad mendengar perkataanmu." Maka Allah menurunkan ayat ini (Al-Wahidi, Asbab an-Nuzul, hlm. ...; At-Tabari, Jami' al-Bayan, tafsir ayat 13). Riwayat ini juga disebutkan oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul dengan sanad dari Ibnu Abbas.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Selain riwayat di atas, tidak ada versi alternatif yang kuat untuk ayat lain. Sebagian mufassir seperti Al-Qurthubi menukil riwayat bahwa ayat 5 tentang bintang sebagai pelempar setan memiliki konteks saat orang musyrik bertanya tentang fungsi bintang, tetapi ini lebih merupakan tafsir daripada sabab nuzul. Imam Ibn Kathir cenderung tidak mencatat riwayat khusus untuk ayat-ayat dalam surah ini, dan beliau langsung menjelaskan makna ayat berdasarkan petunjuk Al-Qur'an dan hadits.
At-Tabari dalam Jami' al-Bayan juga tidak menyebutkan peristiwa spesifik untuk surah ini secara keseluruhan. Beliau mengutip pendapat para sahabat dan tabi'in seperti Qatadah dan Mujahid yang menafsirkan ayat-ayat tersebut dalam konteks umum dakwah Mekah.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Karena tidak ada riwayat khusus untuk seluruh surah Al-Mulk, maka kita memahami bahwa surah ini turun sebagai nasihat dan peringatan umum bagi kaum musyrikin Mekah, serta penguatan bagi kaum mukminin. Ini adalah bagian dari metode Al-Qur'an dalam membangun keimanan melalui bukti-bukti kosmik dan argumen logis, tanpa memerlukan peristiwa pencetus tertentu. Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa surah ini bertujuan untuk menunjukkan kebesaran Allah dan mendorong manusia merenungkan ciptaan-Nya, sehingga mereka beriman dan takut kepada azab-Nya. Konteks historis situasi Mekah saat itu sangat mendukung tema-tema ini.
3. Konteks Historis & Sosial
Surah Al-Mulk turun dalam situasi di mana kaum Quraisy Mekah dengan keras menentang risalah Nabi Muhammad ﷺ. Mereka menolak ajaran tauhid, mengingkari hari kebangkitan, dan mengejek ancaman azab yang disampaikan Nabi. Pada periode pertengahan hingga akhir Mekah, kaum musyrikin telah melakukan berbagai bentuk tekanan: boikot ekonomi terhadap Bani Hasyim, penyiksaan fisik terhadap sahabat lemah, dan upaya untuk membunuh Nabi ﷺ. Meskipun demikian, jumlah pengikut Islam terus bertambah, termasuk dari kalangan berpengaruh seperti Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
Surah ini merespons situasi tersebut dengan mengajak manusia merenungkan kekuasaan Allah yang tampak pada penciptaan langit, bumi, dan kehidupan. Ayat-ayat awal langsung menyebut tabarak (Maha Suci) yang menunjukkan keagungan Allah sebagai Pemilik kerajaan semesta. Allah menciptakan mati dan hidup untuk menguji manusia, siapa yang terbaik amalnya (ayat 2). Ini merupakan jawaban atas penolakan Quraisy terhadap akhirat: bahwa kehidupan dunia hanyalah ujian, dan setelah itu ada hari pembalasan.
Dalam konteks sosial, surah ini juga mengejek kepercayaan musyrikin kepada berhala yang tidak dapat memberi manfaat atau menolak bencana. Ayat 20-21 menantang mereka: "Siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat menolongmu selain Allah Yang Maha Pengasih?" dan "Siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya?" Pertanyaan-pertanyaan retoris ini menggugah kesadaran mereka bahwa hanya Allah yang berkuasa.
4. Tema Sentral Surah
Tema sentral Surah Al-Mulk adalah tauhid rububiyyah (pengakuan akan kekuasaan Allah sebagai satu-satunya Pengatur alam) dan tauhid uluhiyyah (ibadah hanya kepada-Nya), serta penegasan kehidupan setelah mati. Imam Ibn Kathir menyebutkan bahwa surah ini memberitahukan tentang kekuasaan Allah, kesempurnaan ciptaan-Nya, dan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Imam As-Sa'di menambahkan bahwa surah ini berfungsi sebagai muqawwim (penguat) akidah Islamiyah, terutama dalam menghadapi kaum yang mendustakan hari akhir.
Munasabah dengan surah sebelumnya yaitu Surah At-Tahrim (66) dan sesudahnya Surah Al-Qalam (68). Surah At-Tahrim berbicara tentang tanggung jawab rumah tangga dan taubat, sedangkan Surah Al-Mulk beralih ke pembahasan tauhid dan kekuasaan Allah yang mutlak. Surah Al-Qalam kemudian melanjutkan dengan pembelaan terhadap Nabi ﷺ dan kecaman terhadap kaum musyrikin. Dengan demikian, Surah Al-Mulk menjadi jembatan antara pembahasan sosial dan akidah.
Tema-tema utama meliputi:
- Pujian kepada Allah dan pernyataan kebesaran-Nya (ayat 1).
- Penciptaan kematian dan kehidupan sebagai ujian (ayat 2).
- Kesempurnaan ciptaan Allah tanpa cacat (ayat 3-4).
- Langit dan bintang sebagai hiasan dan pelempar setan (ayat 5).
- Ancaman neraka Sa'ir bagi orang kafir (ayat 6-11).
- Janji ampunan dan pahala bagi orang yang takut kepada Allah (ayat 12).
- Ilmu Allah yang meliputi segalanya, termasuk isi hati (ayat 13-14).
- Bumi sebagai tempat yang mudah dijelajahi dan sumber rezeki (ayat 15).
- Peringatan azab dari langit dan bumi (ayat 16-18).
- Bukti kekuasaan Allah melalui burung yang terbang (ayat 19).
- Tidak ada penolong selain Allah (ayat 20-21).
- Perumpamaan orang kafir seperti berjalan tertelungkup (ayat 22).
- Seruan untuk bersyukur dan mengingat penciptaan (ayat 23-24).
- Tantangan orang kafir tentang waktu azab dan jawaban Nabi (ayat 25-27).
- Keputusan Allah atas hidup dan mati Nabi (ayat 28).
- Tawakal kepada Allah dan perbandingan antara yang sesat dan yang benar (ayat 29).
- Pertanyaan tentang air yang surut sebagai bukti kekuasaan Allah (ayat 30).
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Surah Al-Mulk memiliki keutamaan yang sangat besar, terutama bagi yang rutin membacanya. Beberapa hadits shahih dan hasan menyebutkan:
Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya dalam Al-Qur'an ada satu surah yang terdiri dari tiga puluh ayat, yang akan memberi syafaat bagi pembacanya hingga ia diampuni, yaitu surah Tabarak (Al-Mulk)." (HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Dawud no. 1400, Ibnu Majah no. 3780, shahih menurut Al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 2174). Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan gharib.
Hadits dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Barangsiapa membaca Tabarak (Al-Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghindarkannya dari azab kubur." Dalam riwayat lain: "Kami biasa menyebutnya 'al-mani'ah' (pelindung) karena ia melindungi dari azab kubur." (HR. Ahmad dalam Musnad-nya no. 3721, dishahihkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 3827, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).
Hadits dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ tidak tidur hingga membaca Alif Lam Tanzil (As-Sajdah) dan Tabarak (Al-Mulk). (HR. Tirmidzi no. 2903, shahih menurut Al-Albani).
Keutamaan-keutamaan ini menunjukkan bahwa membaca Surah Al-Mulk malam hari dapat melindungi dari siksa kubur dan menjadi syafaat di hari kiamat. Para ulama seperti Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menegaskan keabsahan hadits-hadits tersebut meskipun ada perbedaan pendapat, namun diamalkan oleh banyak kalangan.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para sahabat dan tabi'in memberikan perhatian khusus terhadap Surah Al-Mulk. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menafsirkan bahwa "siapa yang lebih baik amalnya" dalam ayat 2 adalah amalan yang paling ikhlas dan sesuai sunnah. Mujahid bin Jabr berkata bahwa tidak ada cela dalam ciptaan Allah sebagaimana disebut dalam ayat 3-4, maksudnya adalah keserasian dan keseimbangan alam. Qatadah bin Di'amah menjelaskan bahwa ayat 5 tentang bintang sebagai pelempar setan adalah bukti kekuasaan Allah yang menjaga langit dari gangguan setan.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengumpulkan berbagai pendapat tentang makna al-hayawan (kehidupan) dalam ayat 2. Sebagian ulama berkata bahwa makna hidup adalah ujian, dan kematian adalah konsekuensi. Imam At-Tabari cenderung kuat pada pendapat bahwa "menciptakan kematian dan kehidupan" berarti Allah mendahulukan kematian atas kehidupan, karena kematian ada sebelum penciptaan manusia di dunia.
As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk menguji, dan ujian itu adalah dengan menentukan siapa yang lebih baik amalnya. Beliau juga menyoroti bahwa ayat 12 tentang khasyyah bil ghaib (takut kepada Allah tanpa melihat-Nya) adalah akhlak mulia yang menunjukkan keimanan sejati.
Imam Al-Baghawi meriwayatkan dari Hasan Al-Bashri bahwa ayat 13 turun ketika seorang sahabat menceritakan isi hati kaum musyrikin, lalu Allah memberitahukan pengetahuan-Nya. Ini memperkuat riwayat dari Ibnu Abbas.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Dari Surah Al-Mulk, kita dapat mengambil beberapa pelajaran konkret:
Menyadari Kekuasaan Allah: Ayat pertama mengajarkan bahwa segala kerajaan di tangan Allah. Dalam kehidupan modern, ini mengingatkan bahwa semua kekuasaan politik, ekonomi, dan sosial hanyalah titipan dan berada di bawah kendali Allah. Seorang muslim tidak boleh sombong atau merasa berkuasa, karena kekuasaan hakiki milik Allah.
Hidup adalah Ujian: Ayat 2 menegaskan bahwa kehidupan adalah ladang ujian, bukan tujuan akhir. Setiap amal akan dinilai kualitasnya, bukan kuantitas semata. Pelajaran ini relevan bagi orang yang sibuk dengan urusan dunia hingga lupa akhirat. Kita perlu mengevaluasi setiap tindakan, apakah lebih baik dalam keikhlasan dan kesesuaian syariat.
Merenungkan Ciptaan: Ayat 3-4 memerintahkan untuk melihat kembali ciptaan Allah. Di era sains, perintah ini mendorong umat Islam untuk mendalami alam sebagai tanda kebesaran Allah. Keteraturan alam semesta, dari galaksi hingga partikel, tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan bukti adanya Pencipta Yang Maha Sempurna.
Bersikap Tawakal dan Rendah Hati: Ayat 29 mengajarkan untuk bertawakal hanya kepada Allah. Di tengah ketidakpastian hidup, tawakal memberikan ketenangan. Ayat 30 tentang air surut mengingatkan bahwa semua sumber daya, termasuk air yang sangat vital, berasal dari Allah. Kita harus menjaga lingkungan dan tidak lalai bersyukur.
Mempersiapkan Akhirat: Ancaman neraka Sa'ir diselingi dengan janji ampunan. Pelajaran ini mendorong kita untuk segera bertaubat dan memperbaiki amal ibadah. Surah Al-Mulk juga kerap dibaca malam hari sebagai perlindungan dari azab kubur, mengajarkan pentingnya mendekatkan diri kepada Al-Qur'an setiap waktu.
8. Penutup & Doa
Demikianlah pembahasan ringkas namun komprehensif mengenai asbab an-nuzul dan kandungan Surah Al-Mulk. Surah ini adalah salah satu surah yang penuh keberkahan, mampu menjadi syafaat dan pelindung bagi pembacanya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang membaca, memahami, dan mengamalkan isinya.
Allahumma faqqihna fi ad-din wa 'allimna at-ta'wil, wa ja'alna min ahli Al-Qur'an alladzina hum 'ibaduka al-mukhlashun.
Akhiru da'wana anil hamdu lillahi rabbil 'alamin. Wallahu a'lam bish-shawab.