← Kembali ke pelajaran
Hari 107 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Ma'arij adalah surah ke-70 dalam Al-Qur'an. Nama Al-Ma'arij diambil dari kata "al-ma'arij" yang terdapat pada ayat ketiga, yang berarti "tempat-tempat naik" atau "tangga-tangga". Para ulama sepakat bahwa surah ini termasuk Makkiyah, diturunkan di Mekah sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Imam Ibnu Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyebutkan bahwa surah ini adalah Makkiyah berdasarkan tema dan gaya bahasanya yang khas dengan periode Mekah, seperti penekanan pada tauhid, hari kiamat, dan ancaman azab bagi orang kafir. Imam As-Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an juga mencantumkan Al-Ma'arij dalam daftar surah Makkiyah. Pendapat ini didukung oleh riwayat-riwayat asbab nuzul yang menceritakan konteks turunnya di Mekah.

Mengenai urutan turunnya, terdapat beberapa pendapat. Sebagian ulama berpendapat bahwa surah ini turun setelah surah Al-Haqqah dan sebelum surah An-Naba'. Pendapat lain mengatakan turun setelah surah Al-Qiyamah. Namun, yang pasti surah ini termasuk dalam kelompok surah-surah yang turun pada pertengahan periode Mekah, saat dakwah Nabi menghadapi tantangan yang semakin berat. Surah ini dinamakan Al-Ma'arij untuk menggambarkan ketinggian dan keagungan Allah, serta tempat naik para malaikat dan arwah. Makna "ma'arij" juga dihubungkan dengan peristiwa Isra' Mi'raj, meskipun bukan secara langsung.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Ayat pertama surah ini, "Sa'ala sa'ilun bi'adhabin waqi'" memiliki asbab nuzul yang masyhur. Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Ketika Allah menurunkan ayat 'Sa'ala sa'ilun bi'adhabin waqi'' mereka (para sahabat) bertanya: 'Siapa yang meminta?' Beliau menjawab: 'An-Nadhr bin al-Harits'. Ia berkata: 'Ya Allah, jika ini benar dari sisi-Mu, maka hujanilah kami batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih'.” (Al-Wahidi, Asbab an-Nuzul, hal. 258). Riwayat ini juga disebutkan oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, dan beliau menilainya hasan.

Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an membawakan beberapa narasi. Dari jalur Muhammad bin Ka'b al-Qurazi, ia berkata: "Ayat ini turun tentang an-Nadhr bin al-Harits ketika ia berkata: 'Ya Allah, jika ini benar dari-Mu...'” (At-Tabari, Jami' al-Bayan, juz 29, hal. 70).

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain an-Nadhr, ada riwayat yang menyebutkan bahwa yang meminta azab adalah Abu Jahal atau Umayyah bin Khalaf. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah an-Nadhr bin al-Harits, karena kesesuaian dengan sirahnya. An-Nadhr dikenal sebagai seorang yang cerdas dan pandai bicara, sering menentang Nabi dengan cerita-cerita dari Persia. Riwayat dari Qatadah dan Mujahid hanya menyebutkan "orang kafir" secara umum.

Imam Ibnu Kathir dalam tafsirnya menegaskan bahwa sebab turun ayat ini adalah pertanyaan orang-orang musyrik yang menantang agar azab segera turun, sebagai ejekan. Namun, Allah menjawab bahwa azab itu pasti terjadi.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk ayat-ayat selanjutnya (ayat 2 hingga 44), tidak ada riwayat asbab nuzul khusus yang sahih. Al-Wahidi, As-Suyuti, dan At-Tabari tidak menyebutkan riwayat spesifik untuk ayat-ayat tersebut. Ibnu Kathir juga tidak membawakan riwayat asbab untuk bagian lain surah ini. Maka dapat disimpulkan bahwa surah ini turun sebagai respons terhadap sikap kaum musyrik secara keseluruhan, terutama dalam ayat-ayat awal, lalu dilanjutkan dengan gambaran hari kiamat, sifat buruk manusia, dan ciri-ciri orang beriman sebagai pelajaran.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah Al-Ma'arij turun pada saat dakwah Islam di Mekah memasuki fase yang penuh tantangan. Kaum Quraisy yang dipimpin oleh Abu Jahal, Abu Lahab, dan lainnya semakin keras memusuhi Nabi. An-Nadhr bin al-Harits adalah salah satu tokoh yang sangat vokal menentang. Ia adalah putra al-Harits bin Qaladah, seorang yang terpelajar dan sering bepergian ke Persia. Ia menentang Nabi dengan mengatakan bahwa cerita-cerita Raja Persia lebih baik daripada Al-Qur'an. Ia juga membeli seorang budak perempuan penyanyi dari Persia untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari mendengarkan Al-Qur'an. Ejekannya yang menantang azab menggambarkan sikap arogan dan keingkaran mereka.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri berada dalam tekanan psikologis yang berat. Sahabat-sahabat awal seperti Bilal, 'Ammar, dan Khabbab mengalami penyiksaan. Namun, Allah memerintahkan Nabi untuk bersabar dengan kesabaran yang baik (sabran jamilan). Ini adalah pesan langsung bagi Nabi dan para sahabat agar tidak tergesa-gesa meminta azab turun, karena waktu azab adalah wewenang Allah.

Kondisi sosial-ekonomi Mekah menunjukkan kesenjangan yang tajam. Orang-orang kaya seperti Walid bin Mughirah dan Abu Sufyan menindas yang lemah. Surah ini menggambarkan sifat manusia yang gelisah dan kikir, yang lazim di kalangan mereka yang tidak beriman. Kemudian dikecualikan orang yang salat, berzakat, dan menjaga kehormatannya. Ini adalah kritik sekaligus solusi.

4. Tema Sentral Surah

Surah Al-Ma'arij memiliki beberapa tema sentral yang saling terkait:

  1. Kepastian Azab bagi Orang Kafir: Ayat 1-2 menegaskan bahwa azab yang diminta itu pasti datang, tidak bisa ditolak, dan ditimpakan kepada orang kafir yang sombong. Ini adalah jawaban langsung atas tantangan kaum musyrik.
  2. Keagungan Allah Pemilik Al-Ma'arij: Ayat 3 menyifati Allah sebagai Dzil Ma'arij, pemilik tangga-tangga. Ini menunjukkan ketinggian dan kekuasaan-Nya. Malaikat dan Jibril naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun (ayat 4), menunjukkan keagungan Allah yang tak terbatas. Ibnu Kathir menafsirkan bahwa ini sebagai gambaran keagungan Allah dan malakut-Nya.
  3. Perintah Sabar: Ayat 5 memerintahkan Nabi untuk bersabar dengan kesabaran yang baik. As-Sa'di menjelaskan bahwa sabar yang baik adalah sabar tanpa keluhan dan tanpa kegelisahan.
  4. Gambaran Hari Kiamat: Ayat 8-18 melukiskan dahsyatnya hari kiamat, ketika langit seperti perak cair, gunung seperti bulu beterbangan, dan manusia saling tidak peduli, bahkan rela menebus dirinya dengan anak, istri, dan seluruh isi bumi. Namun, tebusan itu tidak akan diterima. Neraka Saqar menggelora dan memanggil orang yang berpaling dan mengumpulkan harta.
  5. Sifat Asli Manusia: Ayat 19-21 menggambarkan manusia diciptakan bersifat haloo'a (keluh kesah), jazoo'a (resah), manoo'a (kikir). Ini adalah fitrahnya jika tidak diarahkan. Al-Qurthubi mengutip bahwa haloo'a berarti sangat gelisah dan tidak sabar.
  6. Ciri-ciri Orang Beriman: Ayat 22-35 menyebutkan sifat-sifat mukmin sejati: selalu menjaga salat (daimun), ada hak wajib dalam hartanya (zakat), percaya hari pembalasan, takut azab Allah, menjaga kemaluan kecuali terhadap pasangan, dan memenuhi amanat. Ini adalah profil seorang muslim paripurna.
  7. Peringatan bagi yang Mendustakan: Ayat 36-44 menyeru agar manusia tidak tergesa-gesa meminta azab. Pada hari kiamat, pandangan mereka tertunduk, pasti akan melihat azab yang dulu diminta.

Munasabah: Surah sebelumnya, Al-Haqqah (69), berbicara tentang hari kiamat dan azab bagi pendusta. Surah ini melanjutkan dengan perincian sifat manusia dan keimanan. Surah berikutnya, Nuh (71), menceritakan kisah nabi Nuh dan dakwahnya, seolah-olah memberikan contoh para nabi sebelumnya dalam bersabar.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak ada hadits shahih khusus yang menyebutkan keutamaan surah Al-Ma'arij secara spesifik. Namun, surah ini mengandung ayat-ayat yang sering dibaca dan diamalkan.

Terdapat beberapa hadits yang berkaitan dengan tema surah ini:

  • Tentang hari kiamat yang panjangnya lima puluh ribu tahun: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Pada hari kiamat, matahari akan didekatkan hingga jarak satu mil..." (HR. Muslim, Kitab al-Jannah, no. 2868). Hadits ini menggambarkan dahsyatnya hari itu, sejalan dengan gambaran surah Al-Ma'arij.

    • Tentang sabar: Dari Suhaib radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya baik. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan ia bersabar, itu pun baik baginya." (HR. Muslim, no. 2999).
    • Tentang menjaga salat: Dari Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah bersabda: "Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji." (HR. al-Bukhari, no. 8; Muslim, no. 16). Juga hadits: "Perjanjian antara kami dengan mereka adalah salat, barangsiapa meninggalkannya maka ia kafir." (HR. at-Tirmidzi, no. 2621, hasan).
    • Tentang zakat: "Ambillah zakat dari harta mereka, untuk membersihkan dan menyucikan mereka." (QS. at-Taubah: 103). Juga hadits: "Tidak akan berkurang harta karena sedekah." (HR. Muslim, no. 2588).
    • Tentang menjaga kehormatan: Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya dan apa yang ada di antara kedua kakinya, aku jamin untuknya surga." (HR. al-Bukhari, no. 6474).

Meskipun tidak ada hadits khusus tentang surah ini, membaca dan merenungkan maknanya tetap bernilai pahala sebagai bagian dari Al-Qur'an.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para sahabat dan tabi'in memberikan tafsir mendalam.

  • Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan al-ma'arij sebagai "langit yang dinaiki malaikat" dan "derajat-derajat". Dalam riwayat Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Al-ma'arij adalah langit-langit yang berlapis." (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir). Ia juga mengatakan bahwa haloo'an adalah "tidak sabar dan kikir".
  • Mujahid bin Jabr mengatakan bahwa al-ma'arij adalah "tempat-tempat naik bagi malaikat".
  • Qatadah bin Di'amah menafsirkan haloo'an sebagai "yang apabila terkena keburukan ia resah, dan apabila mendapat kebaikan ia kikir".
  • Hasan al-Basri berkata: "Manusia diciptakan dalam keadaan sangat lemah dan mudah khawatir."
  • Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an mengutip berbagai pendapat tentang yawm kana miqdaruhu khamsina alfa sanah. Ada yang mengartikan sebagai hari kiamat, ada yang mengatakan sebagai ukuran kecepatan malaikat. Namun, ia lebih cenderung pada pendapat bahwa itu adalah hari kiamat yang dahsyat bagi orang kafir. Juga ia menjelaskan bahwa ahl Allah (ahli salat) terbebas dari sifat haloo'a.
  • Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menjelaskan bahwa al-ma'arij adalah tangga-tangga tempat naik malaikat, dan menceritakan riwayat an-Nadhr bin al-Harits.
  • Imam As-Sa'di menekankan bahwa surah ini memerintahkan kesabaran dan melarang kegelisahan serta kekikiran. Ia juga menjelaskan bahwa sifat manusia yang disebutkan adalah sifat yang tercela, dan satu-satunya penawar adalah iman dan amal saleh.

Perbedaan pendapat juga terjadi pada penafsiran ayat 19: apakah haloo'an merupakan sifat tercela atau netral. Sebagian ulama, seperti Ibnu Kathir, mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan lemah, dan sifat ini bisa menjadi baik jika diarahkan dengan iman. Al-Qurthubi mengatakan bahwa sifat ini wajar tetapi harus dikendalikan.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Kesabaran yang Baik (Sabr Jamil): Surah ini mengajarkan kita untuk tidak mengeluh dan putus asa dalam menghadapi cobaan. Bersabar tanpa mengeluh kepada selain Allah adalah ciri kesabaran yang baik. Dalam kehidupan modern, kita sering dihadapkan pada tekanan kerja, keluarga, dan sosial. Ayat ini mengingatkan agar kita tetap istiqamah dan bersandar kepada Allah. Contoh penerapan: ketika gagal atau terkena musibah, jangan berkeluh kesah di media sosial, tetapi perbanyak istighfar dan doa.

  2. Konsistensi dalam Salat: Ayat 22-23 menyebut orang yang 'ala salatihim da'imun (tetap mengerjakan salat). Ini berarti menjaga salat tepat waktu, khusyuk, dan kontinu. Salat yang benar akan mencegah kekejian dan kemungkaran. Di era digital, menjaga salat lima waktu di tengah kesibukan adalah wujud keimanan. Mulailah dengan salat tepat waktu, tambah salat sunnah, dan perbaiki kualitas salat.

  3. Kepekaan Sosial melalui Zakat: Ayat 24-25 menetapkan haqq ma'lum bagi orang miskin. Zakat dan sedekah wajib membersihkan harta. Di zaman sekarang, kita bisa menunaikan zakat profesi, zakat mal, dan sedekah untuk membantu sesama. Ini menumbuhkan solidaritas dan mengurangi kesenjangan. Prinsip "hak maklum" mengisyaratkan bahwa zakat adalah kewajiban yang jelas.

  4. Menjaga Kehormatan Diri: Ayat 29-30 memerintahkan menjaga kemaluan dari perbuatan haram. Di era kebebasan informasi, tantangan untuk menjaga kesucian semakin besar. Ayat ini mengingatkan agar kita tidak terjerumus ke dalam perzinaan dan pornoaksi. Menikah adalah solusi yang diajarkan, dan apabila belum mampu, berpuasa. Menjaga pandangan dan lisan juga bagian dari itu.

  5. Takut akan Azab Allah: Rasa takut yang proporsional (khauf) mendorong kita untuk beribadah dengan ikhlas dan menjauhi larangan. Namun, jangan sampai berlebihan sehingga putus asa. Keseimbangan antara harap dan takut adalah ajaran Rasulullah. Ayat 28 mengingatkan bahwa tidak ada yang aman dari azab Allah, kecuali orang yang bertakwa. Ini memotivasi untuk selalu muhasabah dan bertaubat.

8. Penutup & Doa

Demikianlah asbab an-nuzul dan tafsir Surah Al-Ma'arij. Surah ini menegaskan kepastian hari akhirat, mengkritik sifat buruk manusia, dan memberikan solusi berupa iman dan amal saleh. Semoga kita termasuk orang yang dapat mengambil pelajaran.

Kita berdoa: Allahumma faqqihna fi ad-din wa 'allimna at-ta'wil. Allahumma inni as'aluka sabran jamilan wa 'azman syadidan. Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah waqina 'adhab an-nar. Allahumma inni as'aluka al-'afiyah fi ad-dunya wal-akhirah.

Wallahu a'lam.