← Kembali ke pelajaran
Hari 109 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

Surah Al-Jinn (72)

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Jinn adalah surah Makkiyah menurut kesepakatan mayoritas ulama. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyatakan bahwa seluruh ayat surah ini diturunkan di Mekah, kecuali pendapat yang sangat lemah yang mengatakan beberapa ayat Madaniyah. Ia berkata, “Surah Al-Jinn adalah Makkiyah, dan tidak ada perbedaan yang berarti.” Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an juga menguatkan bahwa surah ini Makkiyah, berdasarkan riwayat dari Ibn Abbas dan lainnya. Urutan turunnya, menurut riwayat dari Ibn Abbas yang disampaikan oleh Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul, surah ini adalah surah ke-40 yang diturunkan, setelah Surah Al-A'raf dan sebelum Surah Ya Sin. Namun, dalam mushaf Utsmani, ia berada di urutan ke-72.

Periode turunnya diperkirakan pada akhir fase Mekah, setelah peristiwa Thaif dan Isra' Mi'raj. Saat itu dakwah Nabi ﷺ telah berjalan sekitar sepuluh tahun, dan kaum Quraisy semakin keras menentang. Nabi ﷺ baru saja kembali dari Thaif dengan penuh kesedihan karena ditolak dan dilempari batu. Dalam suasana demikian, Allah menghiburnya dengan mengutus sekelompok jin yang mendengar Al-Qur'an dan beriman. Menurut riwayat yang shahih, peristiwa pendengaran jin ini terjadi di lembah Nakhlah, dekat Mekah, ketika Nabi ﷺ sedang shalat malam membaca Al-Qur'an. Ini menjadi tanda bahwa dakwah tidak terbatas pada manusia, tetapi juga meliputi jin.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Riwayat utama mengenai asbab an-nuzul Surah Al-Jinn berasal dari sahabat Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma. Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul meriwayatkan dari jalur Ibn Abbas bahwa ia berkata: “Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an di lembah Nakhlah, lalu sekelompok jin dari Nasibin mendengarkannya. Mereka adalah sembilan jin dari jenis jin.” Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (Kitab as-Salat, hadits 450) tanpa menyebut jumlah. Redaksi Muslim: “Dari Ibn Abbas, ia berkata: ‘Rasulullah ﷺ pergi ke Nakhlah untuk suatu keperluan, maka beliau shalat, dan sekelompok jin mendengarkan bacaannya. Lalu mereka memberitahu kaumnya tentang apa yang mereka dengar.’”

As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul mengumpulkan beberapa riwayat. Ia menyebutkan riwayat dari Abu Ishaq as-Sabi'i bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Maukah kalian aku kabarkan tentang malam ketika jin mendengar?” Para sahabat menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Aku sedang shalat di sebuah kebun kurma di Madinah, lalu datanglah sekelompok jin dan mendengarkan bacaanku, dan mereka menceritakan kejadian itu kepada kaumnya.” Riwayat ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi di Madinah, tetapi As-Suyuti menjelaskan bahwa ini adalah kemungkinan peristiwa lain setelah hijrah. Mayoritas ulama berpegang pada riwayat Ibn Abbas yang menyatakan di Nakhlah pada periode Mekah.

At-Tabari dalam Jami' al-Bayan meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair bahwa ia berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan jin yang mendengarkan Al-Qur’an ketika Rasulullah ﷺ membaca di Nakhlah.” Beliau juga mengutip riwayat dari Qatadah bahwa jin itu berasal dari Yaman.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Terdapat perbedaan tentang jumlah jin yang mendengar. Sebagian riwayat menyebut 7 jin, sebagian 9, dan sebagian lagi 10. Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya cenderung kepada riwayat yang mengatakan 9 jin, karena sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Ahqaf (46:29): “Kami hadapkan kepadamu segolongan jin yang mendengarkan Al-Qur’an.” Kata nafara menunjukkan jumlah antara 3 dan 10.

Ada juga perbedaan tentang tempat kejadian: apakah di lembah Nakhlah atau di Madinah? Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa peristiwa di Nakhlah terjadi pada fase Mekah, sementara peristiwa di Madinah terjadi setelah hijrah ketika jin datang menghadap Nabi. Keduanya shahih dan kemungkinan terjadi dua kali. Pendapat ini didukung oleh As-Suyuti dan Al-Qurthubi.

Keshahihan riwayat-riwayat ini diakui oleh para ulama hadits. Imam Bukhari dan Muslim sepakat meriwayatkan inti kejadian dari Ibn Abbas. Oleh karena itu, riwayat ini dapat diterima sebagai asbab an-nuzul yang shahih.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Karena ada riwayat khusus, maka tidak diperlukan catatan tentang ketiadaan riwayat. Namun, sebagian ayat seperti ayat 6, 16, dan 18 memiliki konteks tersendiri yang dijelaskan oleh ulama melalui riwayat yang lebih umum.

3. Konteks Historis & Sosial

Pada masa turunnya surah ini, masyarakat Mekah hidup dalam kegelapan jahiliyah. Mereka menyembah berhala, membanggakan nenek moyang, dan menindas kaum mukmin. Salah satu kepercayaan mereka adalah meminta perlindungan kepada jin. Al-Qur'an mengkritik kebiasaan ini dalam ayat 6: “Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, sehingga mereka (jin) menjadikan mereka bertambah sesat.” Dalam tafsir Ibn Kathir dijelaskan bahwa ketika seorang Arab musyrik hendak singgah di suatu lembah, ia akan berkata: “Aku berlindung kepada tuan lembah ini dari kejahatan orang-orang bodoh di sini.” Maka Allah melarang kebiasaan ini karena menunjukkan syirik.

Kedatangan jin yang beriman menjadi tamparan bagi kaum Quraisy. Mereka yang sombong menolak Al-Qur'an, sementara jin yang lebih rendah derajatnya menurut pandangan mereka justru menerima dan beriman. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap kesombongan mereka. Al-Qurthubi mencatat bahwa dalam ayat 19 disebutkan bahwa ketika hamba Allah berdiri beribadah, hampir saja jin-jin itu berdesakan di sekelilingnya karena takjub. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya ibadah Nabi ﷺ hingga makhluk ghaib pun terpukau.

Periode ini juga ditandai dengan semakin intensifnya turunnya ayat-ayat yang mengukuhkan tauhid dan membantah syirik. Surah Al-Jinn hadir sebagai jawaban atas pertanyaan kaum musyrik tentang hubungan manusia dengan jin, serta sebagai penegasan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi semua makhluk.

4. Tema Sentral Surah

Tema utama Surah Al-Jinn adalah pengakuan jin terhadap keesaan Allah dan kebenaran risalah Muhammad ﷺ. Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menyebutkan bahwa surah ini mengandung bantahan terhadap syirik, penjelasan tentang kekuasaan Allah atas langit dan bumi, serta kabar gembira bagi orang yang beriman dan ancaman bagi yang ingkar.

Beberapa subtema penting:

  • Tauhid: Jin mengakui bahwa Allah tidak beristri dan tidak beranak (ayat 3). Ini sanggahan terhadap keyakinan orang Arab yang mengatakan malaikat adalah anak perempuan Allah.
  • Al-Qur'an sebagai petunjuk: Jin berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengar bacaan yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran, lalu kami beriman padanya.” (ayat 1-2)
  • Kejahatan syirik kepada jin: Ayat 6 melarang praktik isti'adzah kepada jin.
  • Hakikat jin dan tanggung jawab mereka: Jin juga akan dihisab dan masuk surga atau neraka (ayat 14-15).
  • Keagungan ibadah Nabi: Ayat 19 menggambarkan kedahsyatan ibadah beliau hingga jin berkerumun.
  • Ilmu ghaib milik Allah: Ayat 26-28 menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui ghaib, dan Rasul diberi sebagian pengetahuan atas kehendak-Nya.

Munasabah dengan surah sebelumnya (Nuh) dan sesudahnya (Al-Muzzammil) menunjukkan keterkaitan tema. Surah Nuh berisi kisah dakwah Nabi Nuh; Al-Jinn membuktikan bahwa dakwah menjangkau jin; Al-Muzzammil memerintahkan Nabi untuk bangun malam dan bersabar. Ini menunjukkan kesinambungan dalam membangun mental dakwah.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Hadits-hadits shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan surah Al-Jinn terbatas. Namun, terdapat hadits tentang peristiwa turunnya surah ini. Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku telah membaca surah Ar-Rahman di hadapan jin pada malam mereka mendengarkan, dan mereka lebih baik tanggapannya daripada kalian. Setiap kali aku membaca ayat ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ mereka berkata: ‘Tidak ada satupun nikmat-Mu yang kami dustakan, ya Tuhan kami.’” (HR. Tirmidzi, no. 3292; dishahihkan oleh Al-Albani). Hadits ini menunjukkan bahwa jin sangat responsif terhadap Al-Qur'an.

Selain itu, surah Al-Jinn termasuk dalam surah-surah Al-Mufashshal yang menjadi keistimewaan Nabi ﷺ. Dalam hadits riwayat Ahmad, Nabi bersabda: “Aku diberi tujuh surah panjang pengganti Taurat, surah-surah Al-Mi'un pengganti Injil, surah-surah Al-Matsani pengganti Zabur, dan aku diberi keistimewaan dengan surah-surah Al-Mufashshal.” (HR. Ahmad, no. 16705). Al-Jinn termasuk dalam kelompok Al-Mufashshal karena ayatnya pendek-pendek.

Disunnahkan membaca surah Al-Jinn dalam shalat, sebagaimana Nabi ﷺ pernah shalat subuh dengan membaca surah ini (riwayat dari Zaid bin Tsabit dalam Musnad Ahmad, no. 21606). Namun, keutamaan khusus tidak disebutkan.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para sahabat dan tabi'in memberikan penjelasan berharga tentang surah ini:

  • Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma (w. 68 H) menjelaskan tentang jumlah jin yang mendengar dan tempat kejadian. Ia juga menafsirkan safihuuna (ayat 4) sebagai Iblis atau jin yang bodoh.
  • Mujahid bin Jabr (w. 104 H) mengatakan bahwa masajid (ayat 18) adalah tempat-tempat sujud di bumi, termasuk tanah lapang. Pendapat ini diriwayatkan oleh At-Tabari.
  • Qatadah bin Di'amah (w. 117 H) menafsirkan ayat 6 sebagai larangan manusia berlindung kepada jin. Ia juga berkata tentang ayat 18 bahwa orang Yahudi dan Nasrani mempersekutukan Allah di tempat ibadah mereka.
  • Al-Hasan al-Basri (w. 110 H) mengatakan bahwa ayat 19 menggambarkan kekaguman jin terhadap shalat Nabi.

Imam At-Tabari, Ibn Kathir, dan As-Sa'di mengutip pendapat-pendapat ini dalam tafsir mereka. Terdapat perbedaan pendapat tentang maksud wanna lā nadrī asyarrun urīda bi man fī al-ard (ayat 10). Sebagian menafsirkan bahwa jin bingung apakah penjagaan langit karena akan diturunkan azab atau karena kemuliaan seorang rasul. Pendapat yang rajih adalah bahwa mereka tidak mengetahui hikmah di balik penjagaan itu.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Pentingnya Tadabbur Al-Qur'an: Jin saja beriman ketika mendengar Al-Qur'an dengan penuh perhatian. Kita sebagai manusia hendaknya lebih fokus dan merenungkan ayat-ayat suci.
  2. Larangan Syirik dalam Bentuk Apapun: Meminta perlindungan kepada jin, dukun, atau makhluk ghaib adalah perbuatan yang dikecam keras. Hanya Allah tempat berlindung sejati.
  3. Dakwah Semesta Alam: Dakwah Islam tidak terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup jin. Ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan siapa pun dalam menyampaikan kebenaran.
  4. Tawakkal dan Keikhlasan: Nabi ﷺ tetap berdakwah meski ditolak manusia, dan Allah mengganti dengan dukungan dari makhluk lain. Ini mengajarkan kita untuk bersabar dan bertawakkal.
  5. Ilmu Ghaib Adalah Milik Allah: Kita tidak boleh mempercayai ramalan atau tenung. Hanya Allah yang mengetahui masa depan, kecuali yang diwahyukan kepada rasul.

Pelajaran ini relevan bagi pembaca modern yang sering dihadapkan pada praktik perdukunan, ramalan bintang, dan sikap apatis terhadap Al-Qur'an. Surah Al-Jinn mengajak kita untuk kembali kepada tauhid dan menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Jinn adalah salah satu surah yang mengungkapkan dimensi dakwah yang melampaui batas manusia. Ia mengajak kita merenungkan kekuasaan Allah, keagungan Al-Qur'an, dan pentingnya iman yang tulus. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang mendengarkan Al-Qur'an dengan baik, mentadabburi, dan mengamalkannya.

Allahumma faqqihna fi ad-din wa ‘allimna at-ta’wil. Allahumma inna as’aluka al-huda wa at-tuqa wa al-‘afaf wa al-ghina.

والله أعلم بالصواب