← Kembali ke pelajaran
Hari 113 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Insan (Manusia) yang juga dikenal dengan surah Hal Ata atau Ad-Dahr adalah surah ke-76 dalam mushaf Al-Qur'an. Para ulama berbeda pendapat mengenai status Makkiyah atau Madaniyah surah ini. Jumhur ulama, termasuk Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul, dan Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul, berpendapat bahwa surah ini adalah Madaniyah. Pendapat ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa surah ini turun berkaitan dengan peristiwa nazar Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Namun, sebagian ulama lain, seperti Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menyebutkan adanya pendapat bahwa surah ini Makkiyah karena kandungannya yang mengingatkan tentang penciptaan manusia dan hari akhirat, yang merupakan ciri khas surah Makkiyyah. Meskipun demikian, riwayat-riwayat asbab an-nuzul yang masyhur menunjukkan sifat Madaniyah surah ini. Surah ini terdiri dari 31 ayat dan termasuk dalam kelompok surah-surah panjang Juz 30.

Secara historis, jika surah ini Madaniyah, maka turun pada periode Madinah awal atau pertengahan, yaitu setelah Hijrah. Periode ini ditandai dengan terbentuknya masyarakat Islam yang majemuk, terdiri dari kaum Muhajirin dan Ansar, serta adanya kelompok non-Muslim seperti Yahudi dan musyrik. Tantangan dakwah pada masa itu meliputi kemunafikan, tekanan ekonomi, dan peperangan. Namun, konteks spesifik turunnya surah ini terkait dengan peristiwa keluarga Nabi, yaitu Ali dan Fatimah, yang menunjukkan bahwa wahyu turun merespons situasi konkret dalam kehidupan para sahabat.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Riwayat yang paling terkenal dan banyak disebut dalam kitab asbab an-nuzul adalah tentang Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Diriwayatkan oleh Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa suatu ketika Hasan dan Husain radhiyallahu 'anhuma jatuh sakit. Maka Ali dan Fatimah bernazar kepada Allah bahwa jika anak-anak mereka sembuh, mereka akan berpuasa selama tiga hari. Setelah sembuh, mereka melaksanakan nazar tersebut. Namun, pada hari pertama puasa, saat hendak berbuka, datanglah seorang miskin meminta makanan. Maka Ali dan Fatimah memberikan makanan mereka kepada orang miskin tersebut, dan mereka berbuka dengan air saja. Hari kedua, datang seorang anak yatim, dan mereka kembali memberikan makanan. Hari ketiga, datang seorang tawanan (asyir), dan mereka kembali memberikan makanan. Maka turunlah ayat 7-12 dari surah Al-Insan yang memuji perbuatan mereka. Riwayat ini dicatat oleh Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul (hlm. ...), dan juga oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul (juz 2, hlm. ...). Ibn Kathir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat ini namun mengomentari bahwa meskipun shahih secara sanad, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ayat-ayat tersebut turun secara umum sebagai pujian bagi orang-orang yang berbuat baik, bukan khusus untuk mereka. Namun, riwayat ini tetap diterima oleh banyak ulama sebagai asbab nuzul yang hasan.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain riwayat di atas, ada juga riwayat lain yang menyebutkan bahwa surah Al-Insan turun berkaitan dengan seorang sahabat Ansar bernama Abu Dahdah. Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Al-Wahidi, Abu Dahdah memiliki kebun kurma, kemudian ia mendermakan seluruh kebunnya di jalan Allah. Maka turunlah ayat-ayat ini. Namun, riwayat ini tidak seterkenal riwayat pertama. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menilai bahwa riwayat Abu Dahdah ini lemah.

Imam at-Tabari dalam Jami' al-Bayan tidak menyebutkan asbab khusus untuk surah ini secara keseluruhan, melainkan menjelaskan kandungan ayat-ayatnya secara umum. Ia cenderung pada pandangan bahwa surah ini merupakan pujian bagi semua orang yang beriman yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan.

Dengan demikian, meskipun ada dua versi asbab, yang paling kuat adalah riwayat tentang Ali dan Fatimah. Namun, perlu dicatat bahwa sebagian ulama seperti Ibn Kathir berpendapat bahwa asbab yang spesifik tidak menghalangi keumuman makna, sehingga ayat-ayat ini berlaku untuk setiap mukmin yang melakukan amal saleh dengan ikhlas.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk ayat-ayat lain dalam surah ini, seperti ayat 1-6 dan ayat 23-31, para ulama tidak menyebutkan riwayat asbab an-nuzul yang spesifik. Ayat-ayat tersebut merupakan pernyataan umum tentang penciptaan manusia, pemberian hidayah, peringatan terhadap orang kafir, dan perintah kepada Nabi untuk bersabar dan berzikir. Meskipun ada riwayat lemah yang mengaitkan ayat 1 dengan seorang sahabat yang bertanya tentang asal usul manusia, riwayat tersebut tidak dianggap sahih. Oleh karena itu, kandungan ayat-ayat ini dipahami dalam konteks umum dakwah Islam, baik di Mekah maupun Madinah, dengan penekanan pada tauhid dan hari akhir.

3. Konteks Historis & Sosial

Jika surah ini turun di Madinah pada periode awal setelah hijrah, konteks sosio-historisnya adalah terbentuknya masyarakat Islam yang plural, terdiri dari kaum Muhajirin dan Ansar, serta adanya non-Muslim seperti Yahudi dan musyrik. Pada saat itu, umat Islam mulai mengalami ujian harta dan jiwa. Perintah untuk berinfak dan menunaikan nazar menjadi penting untuk memperkuat solidaritas sosial. Kisah Ali dan Fatimah memberi contoh konkret tentang pengorbanan dan keikhlasan. Surah ini juga menegaskan bahwa kesabaran dan ketaatan akan mendapat balasan surgawi, sementara kekufuran akan mendapat siksa. Ancaman dan janji ini relevan dalam membina mental umat yang saat itu menghadapi berbagai kesulitan, termasuk perang dan kemiskinan. Ayat-ayat akhir surah menekankan pentingnya kesabaran Nabi dalam menghadapi penolakan dan ejekan kaum musyrik, serta perintah untuk terus berzikir dan bersujud. Konteks ini menunjukkan bahwa surah ini berfungsi sebagai penguatan spiritual dan moral bagi kaum Muslimin.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral Surah Al-Insan adalah mengingatkan manusia akan asal-usul penciptaannya, memberikan pilihan untuk menjadi hamba yang bersyukur atau kufur, serta menggambarkan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik (al-abrar) dan peringatan bagi orang-orang kafir. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menjelaskan bahwa surah ini mengandung nasihat dan pengingat bagi manusia agar tidak lupa kepada Allah. At-Tabari dalam Jami' al-Bayan menekankan bahwa surah ini menunjukkan kekuasaan Allah dalam menciptakan manusia dan memberi petunjuk. As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman mengklasifikasikan surah ini sebagai surah yang mengajak pada keimanan, amal saleh, dan akhlak mulia. Secara khusus, ayat 7-12 menyoroti sifat-sifat abrar: menunaikan nazar, memberi makan karena Allah dengan ikhlas, dan takut kepada hari akhir. Tema ini relevan dengan pesan umum Al-Qur'an bahwa kehidupan dunia adalah ujian dan akhirat adalah tempat kembali.

Dari segi munasabah, surah sebelumnya (Al-Qiyamah) berbicara tentang hari kebangkitan, dan surah ini menjelaskan lebih rinci tentang balasan baik dan buruk di akhirat. Surah sesudahnya (Al-Mursalat) berisi peringatan bagi orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Maka surah Al-Insan menjadi jembatan antara penjelasan hari kiamat dan ancaman bagi pendusta.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Hadits-hadits tentang keutamaan surah Al-Insan tidak banyak yang shahih secara khusus. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 799) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca surah Al-Insan dalam shalat Subuh pada hari Jumat. Hadits ini menunjukkan bahwa surah ini dibaca oleh Nabi pada waktu yang mulia. Dalam riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa surah Al-Insan termasuk surah yang membuatnya menangis karena kandungannya tentang akhirat. Namun, tidak ada riwayat shahih tentang keutamaan khusus seperti pahala tertentu. Oleh karena itu, kita dapat menyebutkan keutamaan umum membaca Al-Qur'an, serta mengamalkan kandungannya, seperti yang terkandung dalam surah ini tentang sifat-sifat abrar.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan "al-insan" dalam ayat 1 dengan manusia secara umum, dan ia juga meriwayatkan asbab nuzul ayat 7-12. Mujahid bin Jabr menjelaskan bahwa "nuthfah amsyaj" (ayat 2) adalah sperma dan ovum yang bercampur. Qatadah bin Di'amah mengatakan bahwa ayat 3 menunjukkan bahwa Allah telah menunjukkan jalan, dan manusia ada yang bersyukur dan ada yang kufur. Al-Hasan al-Bashri sering membaca surah ini dan beliau berkata, "Sungguh surah ini penuh dengan peringatan." Di kalangan tabi'in, Sa'id bin Jubair juga ikut meriwayatkan kisah Ali dan Fatimah. Ulama tafsir klasik seperti Ath-Tabari, Ibn Kathir, dan Al-Qurthubi memberikan penjelasan yang mendalam. Perbedaan pendapat muncul terutama pada apakah asbab nuzul ayat 7-12 khusus untuk Ahl al-Bayt atau umum. Ibn Kathir cenderung pada keumuman, sementara Al-Wahidi mengkhususkan. Namun, keduanya sepakat bahwa amalan yang disebutkan adalah amalan yang mulia dan dianjurkan.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

Dari surah ini, kita dapat memetik beberapa pelajaran:

  1. Mengingat asal-usul manusia: Manusia diciptakan dari setetes air yang hina, sehingga tidak boleh sombong. Ini mengajarkan kerendahan hati dan introspeksi diri.

  2. Hidayah adalah pilihan: Allah telah menunjukkan jalan, manusia harus memilih untuk bersyukur atau kufur. Ini menguatkan konsep tanggung jawab individu dan pentingnya mencari ilmu.

  3. Keikhlasan dalam beramal: Orang yang berbuat baik memberi makan semata-mata karena Allah, tanpa mengharap balasan. Ini menjadi kriteria amal yang diterima. Dalam konteks modern, beramal karena popularitas atau pamrih adalah hal yang perlu dihindari.

  4. Kesabaran dan ketaatan: Perintah untuk sabar dan berzikir kepada Allah setiap waktu mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya saat tertentu, tetapi terus-menerus. Ini relevan untuk menjaga ketenangan di tengah tekanan kehidupan.

  5. Persiapan untuk akhirat: Gambaran surga dan neraka membangkitkan kesadaran akan kehidupan setelah mati. Ini memotivasi untuk meningkatkan amal saleh dan meninggalkan kemaksiatan.

Pelajaran-pelajaran ini sangat relevan bagi pembaca modern yang sering terjebak dalam kesibukan duniawi. Surah ini mengajak untuk merenungkan tujuan hidup, mengutamakan akhirat, dan berbuat baik kepada sesama tanpa pamrih.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Insan adalah surah yang penuh dengan peringatan dan kabar gembira. Ia mengajak manusia untuk mengenali asal, kelemahan, dan potensi dirinya. Melalui keteladanan para abrar, kita diajarkan bagaimana meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Semoga kita termasuk dalam golongan yang mendengarkan dan mengamalkan.

اللهم ارزقنا الإخلاص في القول والعمل، وثبتنا على طريق الحق، واجعلنا من عبادك الأبرار، برحمتك يا أرحم الراحمين.

والله أعلم.