اَلْقَارِعَةُۙ
Al-qāri‘ah(tu).
Al-Qāri‘ah (hari Kiamat yang menggetarkan).
Pemandangan hari kiamat: manusia seperti laron yang berhamburan, gunung-gunung seperti bulu yang berterbangan.
Surah Al-Qari'ah berpusat pada dahsyatnya Hari Kiamat, menggambarkan kengerian dan kehancuran alam semesta serta nasib manusia setelah peristiwa tersebut. Ia menyoroti pentingnya timbangan amal perbuatan sebagai penentu akhir di hadapan Allah, menekankan urgensi persiapan spiritual melalui tindakan baik.
Mengingatkan manusia tentang dahsyatnya hari Kiamat dan pentingnya memperberat timbangan amal kebaikan di dunia.
Surah Al-Qari'ah berfokus pada penggambaran hari Kiamat yang menggetarkan hati dan menghancurkan tatanan alam semesta. Allah menamai hari itu dengan Al-Qari'ah karena kedahsyatannya akan mengetuk dan memekakkan telinga serta hati manusia yang selama ini lalai. Pada hari itu, manusia akan kebingungan seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung yang kokoh akan hancur seperti bulu yang dihamburkan.
Tema selanjutnya beralih pada keadilan Allah dalam menimbang amal perbuatan manusia. Keselamatan seseorang tidak lagi ditentukan oleh nasab atau harta, melainkan oleh berat atau ringannya timbangan amal kebaikan. Mereka yang timbangan kebaikannya berat akan mendapatkan kehidupan yang memuaskan, sedangkan yang ringan akan dilemparkan ke dalam jurang neraka Hawiyah yang sangat panas.
Surah ini diturunkan di Makkah pada masa awal kenabian, saat masyarakat musyrik Quraisy sangat mengingkari kebangkitan setelah mati. Allah menurunkan surah ini untuk menggoncang kesombongan mereka dengan gambaran kiamat yang sangat nyata. Pesan ini bertujuan menyadarkan umat agar segera mempersiapkan bekal amal saleh sebelum hari perhitungan tiba.
Surah sebelumnya, Al-Adiyat, diakhiri dengan peringatan bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada saat manusia dibangkitkan dari kubur. Surah Al-Qari'ah kemudian menjelaskan secara rinci bagaimana peristiwa kebangkitan itu terjadi dan bagaimana amal tersebut ditimbang. Setelah itu, surah At-Takasur menjelaskan penyebab utama manusia memiliki timbangan amal yang ringan, yaitu karena terlalu sibuk bermegah-megahan di dunia.
Situasi Merasa lelah melakukan kebaikan kecil yang tidak dihargai orang lain.
Pesan surah Timbangan Allah sangat akurat, kebaikan kecil itulah yang mungkin menyelamatkan kita.
Langkah kecil Lakukan satu kebaikan tersembunyi hari ini tanpa mengharap pujian.
Situasi Terlalu sibuk mengejar karir hingga melalaikan ibadah wajib.
Pesan surah Kehidupan dunia akan hancur, hanya amal saleh yang menentukan nasib di akhirat.
Langkah kecil Evaluasi jadwal harian dan pastikan waktu salat tidak terlewatkan.
Situasi Merasa sombong dengan jabatan atau harta yang dimiliki saat ini.
Pesan surah Gunung yang besar saja akan menjadi seperti bulu yang berhamburan, apalagi manusia.
Langkah kecil Bersedekah hari ini untuk melatih kerendahan hati dan melepaskan cinta dunia.
Surah ini menekankan pentingnya memberatkan timbangan amal kebaikan. Kita perlu memastikan setiap hari ada amal saleh yang kita kerjakan sebagai bekal akhirat.
Cara praktis Buat daftar periksa sederhana berisi tiga amal ringan harian, seperti zikir, sedekah subuh, atau membaca Al-Quran.
Hari ini, rutinkan membaca zikir Subhanallah wabihamdih 100 kali untuk memberatkan timbangan amal kebaikan Anda di akhirat kelak.
اَلْقَارِعَةُۙ
Al-qāri‘ah(tu).
Al-Qāri‘ah (hari Kiamat yang menggetarkan).
مَا الْقَارِعَةُ ۚ
Mal-qāri‘ah(tu).
Apakah al-Qāri‘ah itu?
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْقَارِعَةُ ۗ
Wa mā adrāka mal-qāri‘ah(tu).
Tahukah kamu apakah al-Qāri‘ah itu?
يَوْمَ يَكُوْنُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِۙ
Yauma yakūnun-nāsu kal-farāsyil-mabṡūṡ(i).
Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan
وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ
Wa takūnul-jibālu kal-‘ihnil-manfūsy(i).
dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan.
فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗۙ
Fa ammā man ṡaqulat mawāzīnuh(ū).
Siapa yang berat timbangan (kebaikan)-nya,
فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ
Fa huwa fī ‘īsyatir rāḍiyah(tin).
dia berada dalam kehidupan yang menyenangkan.
وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ
Wa ammā man khaffat mawāzīnuh(ū).
Adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya,
فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ
Fa ummuhū hāwiyah(tun).
tempat kembalinya adalah (neraka) Hawiyah.
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ
Wa mā adrāka mā hiyah.
Tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu?
نَارٌ حَامِيَةٌ ࣖ
Nārun ḥāmiyah(tun).
(Ia adalah) api yang sangat panas.
Telah menceritakan kepadaku [Ishaq] Telah mengabarkan kepada kami ['Abdur Razzaq] Telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam] dari [Abu Hurairah rad…
Telah bercerita kepada kami [Musaddad] telah bercerita kepada kami ['Abdul 'Aziz Al Mukhtar] telah bercerita kepada kami ['Abdullah Ad Danaj] berkata telah b…
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Al A'masy] dari [Abu Adh Dhuha] dari [Masruq] dari [Abdullah…
Sebagai penutup yang menggetarkan dari Surat Al-Qari'ah, ayat ke-11 hadir dengan sebuah jawaban tegas atas pertanyaan tentang apa itu tempat kembali yang ber…
Dalam Surat Al-Qari'ah ayat 10, Allah berfirman dengan sebuah teguran yang menggetarkan jiwa, "Tahukah kamu apakah (neraka Hawiyah) itu?" (Wa maa adraaka maa…
Di pengujung Surat Al-Qari'ah ayat 9, Allah subhanahu wa ta'ala memberikan peringatan pamungkas yang menggetarkan hati tentang nasib mereka yang ringan timba…