1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Asy-Syams (الشمس), yang berarti "Matahari", adalah surah ke-91 dalam mushaf Al-Qur'an dan terdiri dari 15 ayat. Para ulama tafsir dan ahli Al-Qur'an telah bersepakat (ijma') bahwa surah ini tergolong sebagai surah Makkiyah, yaitu surah yang diturunkan sebelum peristiwa hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Kesepakatan ini didasarkan pada beberapa dalil dan karakteristik yang sangat jelas dalam surah ini.
Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam kitabnya Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an dan Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an mengkategorikan Surah Asy-Syams sebagai Makkiyah tanpa ada perselisihan pendapat di kalangan ulama. Ciri-ciri surah Makkiyah yang menonjol di dalamnya antara lain:
- Gaya Bahasa yang Kuat dan Puitis: Ayat-ayatnya pendek, ritmis, dan penuh dengan sumpah (qasam) yang menggugah jiwa. Penggunaan sumpah dengan makhluk-makhluk agung ciptaan Allah (matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, dan jiwa) adalah gaya khas Al-Qur'an periode Makkah untuk menarik perhatian kaum musyrikin yang ahli dalam sastra dan menyadarkan mereka akan kebesaran Sang Pencipta.
- Fokus pada Pilar Akidah: Tema utamanya berkisar pada pondasi iman, yaitu tauhid (keesaan Allah yang tersirat dari keteraturan ciptaan-Nya), kenabian (melalui kisah Nabi Saleh 'alaihissalam), dan hari kebangkitan serta pembalasan (al-ba'ts wal jaza'), yang diisyaratkan melalui konsep keberuntungan (falah) dan kerugian (khaybah) abadi.
- Argumentasi Melawan Kaum Musyrikin: Surah ini secara implisit menantang pandangan hidup kaum Quraisy yang menolak adanya hari pembalasan dan menganggap bahwa kehidupan hanya sebatas di dunia. Kisah kaum Tsamud menjadi peringatan keras bagi mereka bahwa mendustakan utusan Allah akan berujung pada kebinasaan, sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
Adapun dari segi urutan turunnya wahyu, para sejarawan Al-Qur'an seperti yang dikutip dalam berbagai literatur, menempatkan Surah Asy-Syams setelah Surah Al-Qadr dan sebelum Surah Al-Buruj. Ini menempatkannya pada periode pertengahan dakwah di Makkah. Pada masa ini, tekanan dan permusuhan dari kaum Quraisy terhadap Nabi ﷺ dan para sahabat semakin meningkat. Ayat-ayat yang turun pada periode ini seringkali bertujuan untuk menguatkan hati kaum muslimin, memberikan mereka keyakinan akan pertolongan Allah, sekaligus memberikan ancaman yang tegas kepada para penentang dakwah.
Kondisi dakwah saat itu adalah fase di mana kaum muslimin, meskipun jumlahnya masih sedikit, telah menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa di tengah-tengah intimidasi, boikot, dan siksaan fisik. Surah ini turun untuk memberikan sebuah pesan fundamental: inti dari perjuangan ini bukanlah sekadar pertarungan fisik atau sosial, melainkan pertarungan internal di dalam jiwa setiap manusia. Kemenangan sejati adalah kemenangan dalam menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs), dan kekalahan hakiki adalah ketika jiwa itu dikotori dan ditenggelamkan dalam kesesatan. Ini adalah pesan yang sangat relevan untuk menguatkan mental para sahabat yang sedang diuji.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
Dalam disiplin ilmu 'Ulumul Qur'an, asbab an-nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) merujuk pada peristiwa atau pertanyaan spesifik yang melatarbelakangi turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur'an. Penting untuk dicatat bahwa tidak semua ayat atau surah memiliki sabab nuzul yang khusus.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Para ulama terkemuka di bidang asbab an-nuzul, seperti Imam al-Wahidi dalam kitabnya Asbab an-Nuzul dan Imam as-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, tidak menyebutkan adanya satu riwayat yang spesifik dan shahih yang menjadi sebab turunnya Surah Asy-Syams secara keseluruhan. Demikian pula para mufasir besar seperti Imam at-Tabari, Ibn Katsir, dan al-Qurthubi dalam tafsir mereka, tidak menukil adanya peristiwa khusus yang menjadi pemicu turunnya surah ini dari awal hingga akhir.
Hal ini menunjukkan bahwa Surah Asy-Syams turun sebagai ibtida'an (permulaan), yakni sebagai wahyu yang diturunkan Allah untuk menyampaikan pesan universal dan fundamental tanpa terikat pada satu kejadian partikular. Pesannya tentang penyucian jiwa, pilihan antara takwa dan fujur, serta akibat dari pilihan tersebut, adalah pesan abadi yang relevan untuk setiap manusia di setiap zaman. Namun, meskipun tidak ada sebab nuzul untuk surah ini secara utuh, terdapat beberapa riwayat hadits yang menjelaskan konteks dari salah satu ayatnya, yaitu ayat ke-12:
إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا
"Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka."
2.1 Riwayat Terkait Penjelasan Ayat
Ayat ini merujuk pada kisah kaum Tsamud dan orang yang paling celaka di antara mereka yang menyembelih unta betina mukjizat Nabi Saleh 'alaihissalam. Rasulullah ﷺ dalam beberapa kesempatan menjelaskan siapa sosok "yang paling celaka" ini dan bahkan membuat perbandingan yang sangat menarik. Riwayat-riwayat ini, meskipun bukan sabab nuzul dalam arti teknis (karena peristiwa kaum Tsamud terjadi jauh sebelum masa Nabi ﷺ), riwayat ini berfungsi sebagai tafsir nabawi (penjelasan dari Nabi) terhadap ayat tersebut, yang memberikan konteks dan pemahaman yang lebih dalam.
Riwayat Pertama: Hadits dari Abdullah bin Zam'ah radhiyallahu 'anhu
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari (Kitab at-Tafsir, hadits no. 4942) dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim (Kitab al-Jannah wa Shifatu Na'imiha, hadits no. 2855), dari Abdullah bin Zam'ah, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ berkhutbah, lalu beliau menyebutkan tentang unta betina (Nabi Saleh) dan orang yang menyembelihnya. Beliau bersabda:
إِذِ انْبَعَثَ أَشْقَاهَا'Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,' (maksudnya) bangkitlah untuk menyembelih unta itu seorang laki-laki yang perkasa, bengis, dan sangat disegani di tengah kaumnya (عَزِيزٌ عَارِمٌ مَنِيعٌ فِي رَهْطِهِ), seperti Abu Zam'ah."
Dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad, hadits ini memberikan detail yang lebih kaya. Nabi ﷺ sedang berkhutbah, lalu beliau menyinggung tentang perempuan, kemudian tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya. Setelah itu, beliau membahas tentang unta betina Nabi Saleh dan mengutip ayat di atas, lalu menjelaskan bahwa yang bangkit adalah seorang laki-laki yang digambarkan sebagai 'arim (jahat/bengis) dan mani' (memiliki kedudukan/perlindungan di kaumnya). Perbandingan dengan Abu Zam'ah, seorang tokoh kafir Quraisy yang juga memiliki status serupa, membuat penjelasan ini sangat relevan dan mudah dipahami oleh para sahabat pada saat itu. Sosok yang dimaksud dalam sejarah kaum Tsamud adalah Qudar bin Salif.
Riwayat Kedua: Hadits dari 'Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu
Riwayat ini memberikan dimensi lain yang sangat menyentuh dan bersifat profetik (nubuat). Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad, Imam al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dan lainnya, dari 'Ammar bin Yasir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu:
"Wahai Abu Turab, maukah kuberitahukan kepadamu tentang dua orang yang paling celaka dari umat manusia?" Kami (para sahabat) menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Orang yang berkulit kemerahan dari kaum Tsamud yang menyembelih unta betina (Saleh), dan orang yang akan memukulmu di bagian ini, wahai Ali, sambil menunjuk ke bagian atas kepala Ali, hingga darah membasahi ini, sambil menunjuk ke jenggotnya."
Hadits ini, yang dinilai hasan atau shahih oleh sebagian ulama hadits, secara langsung mengidentifikasi أَشْقَاهَا (orang paling celaka di antara mereka) sebagai Qudar bin Salif. Lebih dari itu, Nabi ﷺ menyandingkannya dengan orang yang kelak akan membunuh Ali bin Abi Thalib, yaitu Abdurrahman bin Muljam al-Khariji. Dengan demikian, Nabi ﷺ menyebutkan أَشْقَى الْأَوَّلِينَ (orang paling celaka dari umat terdahulu) dan أَشْقَى الْآخِرِينَ (orang paling celaka dari umat ini). Ini menunjukkan betapa besar kejahatan membunuh seorang utusan (atau mukjizatnya) dan membunuh seorang pemimpin yang adil dan shaleh dari kalangan umat Islam.
Riwayat-riwayat ini, sekalipun bukan sabab nuzul, memberikan kedalaman makna pada surah ini. Mereka menghubungkan pesan moral surah, bahwa mengotori jiwa dengan kejahatan besar akan membawa pada kebinasaan, dengan contoh-contoh historis yang konkret, baik dari masa lalu (Qudar bin Salif) maupun dari masa depan yang dinubuatkan (Ibnu Muljam).
3. Konteks Historis & Sosial
Untuk memahami kedalaman pesan Surah Asy-Syams, kita harus menyelami konteks historis dan sosial masyarakat Makkah pada saat wahyu ini diturunkan. Periode pertengahan dakwah di Makkah (sekitar tahun ke-5 hingga ke-10 kenabian) adalah masa yang penuh gejolak.
Situasi Sosial-Religius Makkah:
Masyarakat Makkah pada masa itu, yang sering disebut sebagai era Jahiliyyah, bukanlah masyarakat tanpa peradaban. Mereka adalah pedagang ulung, ahli syair, dan penjaga Ka'bah yang dihormati di seluruh Jazirah Arab. Namun, dari sisi akidah, mereka telah jauh menyimpang dari ajaran tauhid Nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimassalam. Mereka menyembah berhala-berhala yang ditempatkan di sekitar Ka'bah, seperti Latta, 'Uzza, dan Manat. Syirik (politeisme) telah menjadi identitas religius mereka. Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta tertinggi, tetapi mereka menyekutukan-Nya dengan perantara-perantara yang mereka anggap dapat mendekatkan diri kepada-Nya.
Tantangan Dakwah Nabi ﷺ:
Ketika Nabi Muhammad ﷺ datang dengan seruan tauhid yang murni, "La ilaha illallah" (Tiada tuhan selain Allah), seruan ini mengancam seluruh tatanan sosial, ekonomi, dan politik Quraisy. Dakwah beliau menantang:
- Status Quo Religius: Mengajak untuk meninggalkan tuhan-tuhan nenek moyang adalah sebuah penghinaan besar bagi mereka.
- Struktur Ekonomi: Posisi Makkah sebagai pusat ziarah keagamaan yang mendatangkan keuntungan ekonomi akan terancam jika berhala-hala disingkirkan.
- Arogansi Kesukuan: Ajaran Islam tentang kesetaraan di hadapan Allah (bahwa Bilal yang budak sama mulianya dengan Abu Jahal yang bangsawan jika bertakwa) meruntuhkan sistem kasta dan kebanggaan nasab yang mereka agung-agungkan.
Penolakan utama mereka berpusat pada dua hal: tauhid dan hari kebangkitan. Mereka tidak bisa menerima ide bahwa setelah mati dan menjadi tulang belulang, manusia akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban. Surah Asy-Syams turun untuk menjawab keraguan ini secara tidak langsung namun sangat kuat.
Bagaimana Surah Ini Merespons Situasi Tersebut:
Meneguhkan Kekuasaan Allah Melalui Ciptaan-Nya: Surah ini tidak berdebat secara filosofis, melainkan mengajak mereka untuk melihat bukti-bukti nyata di sekeliling mereka. Sumpah demi matahari, bulan, siang, malam, langit, dan bumi adalah ajakan untuk merenungkan keteraturan alam semesta yang mustahil berjalan tanpa ada Pencipta Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana. Ini adalah pukulan telak bagi politeisme mereka.
Fokus pada Jiwa Manusia: Setelah menunjukkan kebesaran-Nya di alam makrokosmos, Allah membawa perhatian pada alam mikrokosmos: jiwa manusia (
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا). Ini adalah respons cerdas terhadap materialisme kaum Quraisy. Allah seakan-akan berfirman, "Kalian meragukan kebangkitan? Lihatlah ke dalam diri kalian sendiri. Aku telah menciptakan jiwa dengan potensi ganda: untuk kejahatan (fujur) dan kebaikan (taqwa). Pilihan kalian akan menentukan nasib kalian."Peringatan Keras Melalui Sejarah: Kaum Quraisy sangat bangga dengan kekuatan dan status mereka. Mereka merasa tak terkalahkan. Kisah kaum Tsamud adalah cermin bagi mereka. Tsamud adalah kaum yang sangat kuat, ahli memahat gunung menjadi istana, dan memiliki peradaban yang maju. Namun, ketika mereka melampaui batas (thagha), mendustakan rasul, dan membunuh mukjizat Allah, kekuatan mereka tidak ada artinya. Allah membinasakan mereka dengan satu suara yang menggelegar. Pesannya jelas: jangan sampai kesombongan dan penolakan kalian terhadap Muhammad ﷺ membawa kalian pada nasib yang sama.
Dengan demikian, Surah Asy-Syams adalah sebuah surat yang sangat strategis. Ia membangun argumen dari alam semesta, masuk ke dalam inti jiwa manusia, dan diakhiri dengan bukti sejarah yang tak terbantahkan. Ini adalah metode dakwah Al-Qur'an yang sangat efektif dalam menghadapi masyarakat yang keras kepala dan sombong.
4. Tema Sentral Surah
Tema sentral atau poros utama Surah Asy-Syams adalah pentingnya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebagai jalan menuju keberuntungan hakiki (al-falah) dan bahaya mengotori jiwa (tadsiyatun nafs) yang berujung pada kerugian abadi (al-khaybah).
Seluruh struktur surah ini dibangun untuk menyoroti tema tersebut. Imam as-Sa'di dalam tafsirnya, Taysir al-Karim ar-Rahman, menjelaskan bahwa Allah bersumpah dengan ayat-ayat agung-Nya di alam semesta untuk menunjukkan betapa penting dan besarnya perkara yang menjadi jawaban dari sumpah tersebut.
Struktur surah ini dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yang saling terkait:
Serangkaian Sumpah Agung (Ayat 1-8): Allah memulai surah ini dengan sebelas sumpah, salah satu rangkaian sumpah terpanjang dalam Al-Qur'an. Sumpah-sumpah ini dibagi menjadi dua kategori: sumpah dengan fenomena alam (matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi) dan sumpah dengan ciptaan yang paling kompleks, yaitu jiwa manusia. Puncak dari sumpah ini adalah firman-Nya,
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا("lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya"). Ayat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam at-Tabari dalam Jami' al-Bayan, berarti Allah menciptakan jiwa dengan kemampuan inheren untuk mengenali, memahami, dan memilih antara jalan yang baik dan jalan yang buruk. Ini adalah penegasan adanya fitrah dan kehendak bebas (free will).Jawaban Sumpah dan Inti Pesan (Ayat 9-10): Setelah membangun penekanan yang begitu kuat melalui sumpah-sumpah tersebut, Allah menyampaikan pesan utamanya, yang merupakan jawab al-qasam (jawaban dari sumpah):
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
"Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menjelaskan bahwa tazkiyah (menyucikan) berarti membersihkan jiwa dengan ketaatan kepada Allah dan menyucikannya dari akhlak-akhlak tercela dan perbuatan rendah. Sebaliknya, tadsiyah (mengotori), yang berasal dari kata dassa, berarti menyembunyikan, menenggelamkan, atau membenamkan jiwa ke dalam kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan. Keberuntungan (falah) dan kerugian (khaybah) di sini mencakup dunia dan akhirat. Orang yang menyucikan jiwanya akan meraih kebahagiaan, ketenangan, dan surga. Sebaliknya, orang yang mengotorinya akan hidup dalam kesengsaraan, kegelisahan, dan berakhir di neraka.
Contoh Historis sebagai Bukti (Ayat 11-15): Untuk membuktikan kebenaran dari prinsip ini, Allah tidak membiarkannya sebagai konsep abstrak. Dia langsung menyajikan sebuah studi kasus dari sejarah: kaum Tsamud. Mereka adalah contoh sempurna dari kaum yang memilih jalan tadsiyah. Mereka mendustakan rasul mereka, Nabi Saleh, karena thughyan (kesombongan dan melampaui batas). Puncak kejahatan mereka adalah ketika orang paling celaka di antara mereka (
أَشْقَاهَا) bangkit untuk menyembelih unta betina Allah, dan seluruh kaum mendukungnya. Akibatnya?فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا("Maka, Tuhan membinasakan mereka karena dosa-dosa mereka, lalu meratakan mereka (dengan tanah)"). Ayat terakhir,وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا("Dan Dia tidak takut terhadap akibatnya"), menunjukkan kemahakuasaan Allah yang absolut. Dia menghukum siapa pun yang layak dihukum tanpa perlu takut pada siapa pun atau apa pun.
Munasabah (Keterkaitan) dengan Surah Sekitarnya:
Surah Asy-Syams memiliki kaitan yang erat dengan surah sebelumya (Al-Balad) dan sesudahnya (Al-Lail). Surah Al-Balad diakhiri dengan penjelasan tentang dua jalan (jalan mendaki lagi sukar, yaitu jalan kebaikan, dan jalan golongan kiri). Surah Asy-Syams melanjutkan tema pilihan ini dengan fokus pada arena internal, yaitu jiwa, dan menjelaskan bahwa memilih jalan kebaikan adalah dengan menyucikan jiwa. Surah Al-Lail yang datang setelahnya, kembali menegaskan tema dualitas (malam dan siang, laki-laki dan perempuan) dan mengaitkan perbuatan (memberi dan bertakwa vs. kikir dan merasa cukup) dengan hasilnya (kemudahan menuju kebaikan atau kesukaran).
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Surah Asy-Syams memiliki keutamaan yang disebutkan secara spesifik dalam hadits shahih, terutama berkaitan dengan anjuran untuk membacanya dalam shalat agar tidak memberatkan jamaah.
Hadits Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu
Kisah ini sangat terkenal dan diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits utama. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, bahwa Mu'adz bin Jabal biasa shalat Isya' bersama Nabi ﷺ, kemudian ia pulang ke kaumnya dan mengimami mereka shalat. Suatu malam, ia mengimami mereka dengan membaca Surah Al-Baqarah. Seorang laki-laki dari jamaah pun keluar (memisahkan diri) dari shalat, lalu shalat sendirian dan pergi. Ketika Mu'adz mengetahui hal itu, ia berkata, "Dia seorang munafik." Kabar ini sampai kepada laki-laki tersebut, dan ia pun datang kepada Nabi ﷺ dan mengadukan perihal Mu'adz.
Laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah, kami adalah kaum yang bekerja dengan tangan kami sendiri, kami mengairi (kebun) dengan unta-unta kami. Semalam Mu'adz mengimami kami shalat Isya' dan membaca Surah Al-Baqarah." Maka, Rasulullah ﷺ berpaling kepada Mu'adz dengan raut muka yang menunjukkan kemarahan dan bersabda:
أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟ اقْرَأْ بِـ
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَاوَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَىوَنَحْوِهَا
"Apakah engkau hendak menjadi penebar fitnah (cobaan bagi manusia), wahai Mu'adz? Bacalah (dalam shalatmu) 'Wasy-syamsi wa dhuhaha' (Surah Asy-Syams), 'Sabbihisma rabbikal a'la' (Surah Al-A'la), dan yang sejenisnya."
(Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, hadits no. 705; dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab ash-Shalah, hadits no. 465).
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan Surah Asy-Syams: Nabi ﷺ secara langsung merekomendasikan surah ini untuk dibaca dalam shalat berjamaah. Ini menunjukkan bahwa surah ini, meskipun pendek, memiliki kandungan makna yang padat dan penting, serta panjangnya dianggap pas dan tidak memberatkan.
- Fiqih Imam Shalat: Seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya. Ia harus mencari keseimbangan antara menyempurnakan shalat dengan bacaan yang baik dan tidak memberatkan orang-orang yang mungkin memiliki keperluan, kelelahan, atau uzur lainnya.
- Surah-surah Mufashshal: Surah Asy-Syams termasuk dalam kategori surah-surah Al-Mufashshal (surah-surah pendek di akhir Al-Qur'an) yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ dalam shalat-shalat fardhu.
Selain hadits ini, tidak ada riwayat shahih lain yang secara spesifik menyebutkan keutamaan khusus bagi orang yang membaca Surah Asy-Syams di waktu tertentu atau dengan bilangan tertentu. Namun, ia tetap termasuk dalam keumuman hadits-hadits tentang keutamaan membaca Al-Qur'an, di mana setiap hurufnya diganjar dengan sepuluh kebaikan.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi'in telah memberikan penjelasan-penjelasan berharga yang membantu kita memahami kedalaman makna ayat-ayat dalam Surah Asy-Syams.
Tentang فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (Ayat 8)
Ayat ini menjadi pusat perdebatan teologis di kemudian hari, namun para salaf memahaminya dengan sederhana dan lurus.
- Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Allah menjelaskan kepadanya (jiwa) apa itu kebaikan dan apa itu keburukan." Dalam riwayat lain, beliau menafsirkan, "Allah mengenalkan kepadanya jalan ketaatan dan jalan kemaksiatan." (Dikutip oleh At-Tabari dalam Jami' al-Bayan).
- Mujahid bin Jabr, seorang murid senior Ibn Abbas, berkata, "Allah membuatnya mengenali jalan kesesatan dan jalan petunjuknya."
- Qatadah bin Di'amah as-Sadusi berkata, "Allah menjelaskan kepadanya mana yang merupakan fujur (kejahatan) yang harus dihindari dan mana yang merupakan takwa yang harus dikerjakan."
Penafsiran para salaf ini secara konsisten menunjukkan bahwa Allah telah membekali setiap jiwa dengan fitrah, yaitu kemampuan dasar untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Ini bukan berarti Allah memaksa manusia untuk berbuat jahat atau baik (jabr), melainkan Allah memberikan pengetahuan dan potensi, lalu memberikan manusia kebebasan untuk memilih. Ini adalah bantahan telak terhadap paham Jabariyah dan juga Qadariyah yang ekstrem.
Tentang قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا dan وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (Ayat 9-10)
Ada dua pandangan utama di kalangan mufasir mengenai subjek (fa'il) dari kata kerja زَكَّاهَا (menyucikannya) dan دَسَّاهَا (mengotorinya).
- Pendapat Mayoritas: Subjeknya adalah manusia (man). Artinya, "Sungguh beruntung orang (man) yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang (man) yang mengotori jiwanya." Ini adalah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama tafsir, termasuk Ibn Katsir. Maknanya adalah manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri.
- Pendapat Kedua: Subjeknya adalah Allah. Artinya, "Sungguh beruntung jiwa yang Allah sucikan, dan sungguh rugi jiwa yang Allah sesatkan/kotori." Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn Abbas dan Sa'id bin Jubair. Imam at-Tabari dalam tafsirnya cenderung menguatkan pandangan ini. Menurutnya, konteks ayat sebelumnya (
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، فَأَلْهَمَهَا...) menunjukkan bahwa Allah-lah Pelaku utama dalam penciptaan dan pengilhaman jiwa.
Kedua pendapat ini tidak bertentangan secara hakikat. Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa hidayah dan taufik berasal dari Allah, namun manusia memiliki kehendak (masyi'ah) dan usaha (ikhtiyar) yang akan dipertanggungjawabkan. Jadi, manusia beruntung karena ia memilih untuk menyucikan jiwanya dengan taufik dari Allah, dan ia rugi karena memilih mengotorinya atas kehendaknya sendiri.
Doa Nabi ﷺ yang Sesuai dengan Tema Surah
Sebuah doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ, yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam, sangat selaras dengan tema utama surah ini. Rasulullah ﷺ biasa berdoa:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemeliharanya."
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr wa ad-Du'a, hadits no. 2722). Doa ini menunjukkan pengakuan seorang hamba bahwa penyucian jiwa hanya bisa sempurna dengan pertolongan dan karunia Allah SWT.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Surah Asy-Syams, meskipun pendek, sarat dengan pelajaran abadi yang sangat relevan bagi manusia modern. Berikut adalah beberapa ibrah yang dapat kita petik:
Tanggung Jawab Pribadi atas Nasib Spiritual: Di tengah dunia yang seringkali mendorong kita untuk menyalahkan keadaan, lingkungan, atau orang lain atas kegagalan kita, surah ini mengingatkan bahwa kunci keberuntungan (
falah) dan kerugian (khaybah) ada di tangan kita sendiri. Pilihan untuk menyucikan jiwa dengan ilmu, iman, dan amal shaleh, atau mengotorinya dengan syahwat dan kejahilan, adalah tanggung jawab personal. Ini adalah panggilan untuk introspeksi (muhasabah) dan proaktif dalam membangun karakter dan spiritualitas.Keseimbangan antara Alam Semesta dan Diri Manusia: Rangkaian sumpah di awal surah mengikat keteraturan kosmos dengan keteraturan moral dalam jiwa. Sebagaimana matahari, bulan, siang, dan malam berjalan dalam sistem yang harmonis, jiwa manusia juga dirancang untuk berfungsi secara harmonis jika mengikuti panduan Ilahi (takwa). Ketika manusia memilih fujur (kejahatan), ia tidak hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga menciptakan ketidakharmonisan, sama seperti anomali dalam sistem alam. Pelajarannya adalah untuk hidup selaras dengan fitrah dan tujuan penciptaan kita.
Bahaya Kesombongan dan Dosa Kolektif: Kisah kaum Tsamud adalah pengingat keras tentang bahaya arogansi. Mereka binasa bukan karena kekurangan materi, tetapi karena kesombongan (thughyan) yang membuat mereka menolak kebenaran. Pelajaran penting lainnya adalah tentang dosa kolektif. Yang menyembelih unta hanya satu orang,
أَشْقَاهَا(yang paling celaka), tetapi azab menimpa seluruh kaum. Mengapa? Karena mereka ridha, mendukung, dan bersekongkol dalam kejahatan tersebut. Ini mengajarkan kita tentang tanggung jawab sosial: diam terhadap kemungkaran dan mendukung kezaliman dapat mengundang murka Allah atas seluruh komunitas.Optimisme dalam Potensi Kebaikan: Ayat
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَاmemberikan pesan yang penuh harapan. Meskipun manusia memiliki potensi untuk berbuat jahat (fujur), ia juga dibekali dengan potensi takwa dan fitrah untuk mengenali kebaikan. Ini berarti tidak ada manusia yang terlahir jahat secara absolut. Pintu untuk kembali, bertaubat, dan menyucikan jiwa selalu terbuka. Tugas kita adalah mengaktifkan dan memelihara potensi takwa ini melalui ibadah, zikir, dan bergaul dengan orang-orang shaleh.
8. Penutup & Doa
Surah Asy-Syams adalah sebuah manifesto agung tentang jiwa manusia. Dengan sumpah-sumpah yang megah, Allah SWT menegaskan sebuah kaidah universal: keberuntungan sejati hanya dapat diraih melalui proses penyucian jiwa yang berkelanjutan (tazkiyah), sedangkan jalan kehancuran ditempuh dengan membiarkan jiwa terbenam dalam kotoran dosa dan kemaksiatan (tadsiyah). Kisah kaum Tsamud menjadi bukti historis yang abadi bahwa penolakan terhadap petunjuk Ilahi akibat kesombongan akan berakhir dengan kebinasaan total.
Semoga kita dimampukan oleh Allah untuk senantiasa bermuhasabah, berjuang menyucikan jiwa kita dari segala noda syirik, riya', ujub, dan maksiat, serta menghiasinya dengan cahaya iman, takwa, dan akhlak mulia. Marilah kita akhiri tadabbur ini dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, yang merupakan intisari dari pesan surah ini:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemeliharanya."
والله أعلم بالصواب
Wallahu a'lam bish-shawab (Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya).