Surah Al-Gasyiyah, sebuah surah Makkiyah, hadir sebagai kelanjutan tematis yang kuat dari surah sebelumnya, Al-A'la (87). Jika Al-A'la menggarisbawahi pentingnya pemurnian diri dan mengingat Allah sebagai kunci keberhasilan di akhirat, serta menyebutkan dua jalan yang berbeda (surga dan neraka), maka Al-Gasyiyah secara langsung menyajikan gambaran yang sangat hidup dan detail tentang realitas kedua jalan tersebut pada Hari Kiamat. Al-A'la diakhiri dengan penegasan bahwa ajaran ini terdapat dalam suhuf Ibrahim dan Musa, menyiratkan kebenaran universal, sementara Al-Gasyiyah mewujudkan kebenaran itu dengan deskripsi konkret tentang nasib dua golongan manusia. Hubungannya dengan surah sesudahnya, Al-Fajr (89), juga sangat erat. Al-Fajr melanjutkan tema Hari Kiamat dan balasan, namun lebih fokus pada perilaku manusia di dunia, khususnya keserakahan dan pengabaian terhadap kaum miskin, yang akan mengantarkan mereka pada penyesalan di hari perhitungan. Al-Gasyiyah memberikan kerangka umum tentang kengerian Hari Kiamat dan nasib umum dua golongan, sedangkan Al-Fajr memperdalam dengan contoh-contoh spesifik perilaku yang mengarah pada takdir tersebut, sehingga keduanya saling melengkapi dalam memperkuat pesan tentang akuntabilitas dan pembalasan. Melalui rangkaian surah ini, Al-Quran secara konsisten mengarahkan perhatian pada kebenaran Akhirat.
Secara internal, Surah Al-Gasyiyah terstruktur dengan sangat logis dan berurutan. Ayat 1-7 dengan gamblang menggambarkan kengerian Hari Kiamat ('Al-Gasyiyah') dan nasib menyedihkan para penghuni neraka: wajah yang tertunduk hina, usaha keras yang sia-sia, api neraka yang membakar, minuman air yang sangat panas, dan makanan dari pohon berduri yang tidak mengenyangkan. Kontras yang tajam kemudian disajikan pada ayat 8-16, di mana Allah melukiskan kebahagiaan dan kemuliaan para penghuni surga: wajah yang berseri-seri, puas dengan usaha mereka, berada di surga yang tinggi dengan mata air mengalir, dipan-dipan mewah, gelas-gelas siap saji, bantal-bantal tersusun, dan permadani terhampar. Setelah menggambarkan secara rinci dua takdir ekstrem ini, surah beralih pada ayat 17-20 dengan mengajak manusia untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, penciptaan unta, peninggian langit, penegakan gunung, dan penghamparan bumi. Transisi ini berfungsi sebagai bukti empiris yang meyakinkan akan keberadaan dan kekuasaan Pencipta, sekaligus menegaskan bahwa Dzat yang mampu menciptakan semua itu juga Maha Kuasa untuk membangkitkan dan membalas perbuatan manusia. Rangkaian bukti ini secara implisit memperkuat kebenaran Hari Kiamat yang telah dijelaskan sebelumnya. Surah ini kemudian ditutup pada ayat 21-26 dengan menegaskan peran Nabi Muhammad ﷺ sebagai pemberi peringatan, bukan pemaksa, dan mengingatkan bahwa pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah untuk dihisab, mengikat semua tema surah ini pada inti tauhid dan Akhirat.