عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ
‘Amma yatasā'alūn(a).
Tentang apakah mereka saling bertanya?
Tentang apa mereka saling bertanya? Tentang berita yang besar, kebangkitan, surga, dan neraka.
Surah An-Naba' berpusat pada penegasan kebenaran Hari Kebangkitan dan perhitungan amal, serta balasan bagi orang beriman dan orang kafir. Surah ini menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta sebagai bukti kebenaran Hari Kiamat yang akan datang.
Surah ini menegaskan kepastian datangnya Hari Kiamat sebagai hari pembalasan atas segala amal perbuatan manusia.
Surah An-Naba' berpusat pada kepastian Hari Kiamat, sebuah berita besar yang sering diperdebatkan oleh kaum musyrikin. Allah mengawali surah ini dengan memaparkan berbagai bukti kekuasaan-Nya di alam semesta, seperti penciptaan bumi, gunung, siang, malam, dan hujan. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa Dzat yang mampu menciptakan alam semesta yang begitu kompleks pasti mampu membangkitkan manusia setelah kematian.
Selanjutnya, surah ini menggambarkan dahsyatnya peristiwa kiamat dan pembagian manusia menjadi dua golongan. Golongan yang melampaui batas akan menerima azab neraka Jahannam, sedangkan orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan kemenangan dan kenikmatan surga. Pesan moral utamanya adalah agar manusia mempersiapkan diri menghadapi hari pengadilan yang tidak bisa dihindari tersebut.
Surah ini diturunkan di Makkah pada masa awal kenabian ketika kaum musyrikin saling bertanya dan meragukan berita tentang kebangkitan. Mereka menganggap mustahil manusia yang sudah menjadi tulang belulang bisa dihidupkan kembali. Surah ini hadir untuk membantah keraguan mereka dan menegaskan bahwa kekuasaan Allah tidak terbatas.
Surah sebelumnya, Al-Mursalat, diakhiri dengan ancaman bagi mereka yang mendustakan hari kiamat. Surah An-Naba' kemudian merinci apa sebenarnya yang mereka dustakan dan perdebatkan, yaitu berita besar tentang kebangkitan. Selanjutnya, surah An-Naziat setelahnya menjelaskan bagaimana proses pencabutan nyawa manusia sebagai gerbang awal menuju hari kiamat tersebut.
Situasi Merasa lelah dengan rutinitas pekerjaan yang berat dan tiada henti.
Pesan surah Allah menjadikan malam sebagai waktu istirahat dan siang untuk mencari penghidupan.
Langkah kecil Tidur lebih awal malam ini dengan niat memulihkan energi untuk beribadah besok.
Situasi Tergoda untuk melakukan kecurangan kecil di tempat kerja atau sekolah.
Pesan surah Segala perbuatan diawasi dan akan mendapat balasan setimpal di hari kiamat.
Langkah kecil Menghentikan niat buruk tersebut dan beristighfar mengingat pengawasan Allah.
Situasi Merasa cemas melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita.
Pesan surah Hari Keputusan pasti tiba, di mana keadilan mutlak akan ditegakkan.
Langkah kecil Mendoakan kebaikan bagi mereka yang terzalimi dan menenangkan hati dengan janji Allah.
Surah ini banyak menyebutkan fenomena alam sebagai bukti kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia. Mengamati alam semesta seharusnya selalu dihubungkan dengan kesadaran akan hari akhir.
Cara praktis Luangkan waktu lima menit di luar ruangan, perhatikan langit atau pepohonan, lalu ucapkan zikir memuji kebesaran Allah.
Hari ini, renungkan satu nikmat alam seperti air atau matahari, lalu ucapkan alhamdulillah dengan kesadaran penuh akan kebesaran Allah.
عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ
‘Amma yatasā'alūn(a).
Tentang apakah mereka saling bertanya?
عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ
‘Anin naba'il-‘aẓīm(i).
Tentang berita yang besar (hari Kebangkitan)
الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَۗ
Allażī hum fīhi mukhtalifūn(a).
yang dalam hal itu mereka berselisih.
كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ
Kallā saya‘lamūn(a).
Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui.
ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ
Ṡumma kallā saya‘lamūn(a).
Sekali lagi, tidak! Kelak mereka akan mengetahui.
اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ
Alam naj‘alil-arḍa mihādā(n).
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan
وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ
Wal-jibāla autādā(n).
dan gunung-gunung sebagai pasak?
وَّخَلَقْنٰكُمْ اَزْوَاجًاۙ
Wa khalaqnākum azwājā(n).
Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan.
وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ
Wa ja‘alnā naumakum subātā(n).
Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat.
وَّجَعَلْنَا الَّيْلَ لِبَاسًاۙ
Wa ja‘alnal-laila libāsā(n).
Kami menjadikan malam sebagai pakaian.
وَّجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاۚ
Wa ja‘alnan-nahāra ma‘āsyā(n).
Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.
وَبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَادًاۙ
Wa banainā fauqakum sab‘an syidādā(n).
Kami membangun tujuh (langit) yang kukuh di atasmu.
وَّجَعَلْنَا سِرَاجًا وَّهَّاجًاۖ
Wa ja‘alnā sirājaw wahhājā(n).
Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari).
وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ
Wa anzalnā minal-mu‘ṣirāti mā'an ṡajjājā(n).
Kami menurunkan dari awan air hujan yang tercurah dengan deras
لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ
Linukhrija bihī ḥabbaw wa nabātā(n).
agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman,
وَّجَنّٰتٍ اَلْفَافًاۗ
Wa jannātin alfāfā(n).
dan kebun-kebun yang rindang.
اِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيْقَاتًاۙ
Inna yaumal-faṣli kāna mīqātā(n).
Sesungguhnya hari Keputusan itu adalah waktu yang telah ditetapkan,
يَّوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِ فَتَأْتُوْنَ اَفْوَاجًاۙ
Yauma yunfakhu fiṣ-ṣūri fa ta'tūna afwājā(n).
(yaitu) hari (ketika) sangkakala ditiup, lalu kamu datang berbondong-bondong.
وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ
Wa futiḥatis-samā'u fa kānat abwābā(n).
Langit pun dibuka. Maka, terdapatlah beberapa pintu.
وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ
Wa suyyiratil-jibālu fa kānat sarābā(n).
Gunung-gunung pun dijalankan. Maka, ia menjadi (seperti) fatamorgana.
اِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًاۙ
Inna jahannama kānat mirṣādā(n).
Sesungguhnya (neraka) Jahanam itu (merupakan) tempat mengintai (bagi penjaga neraka)
لِّلطّٰغِيْنَ مَاٰبًاۙ
Liṭ-ṭāgīna ma'ābā(n).
(dan) menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.
لّٰبِثِيْنَ فِيْهَآ اَحْقَابًاۚ
Lābiṡīna fīhā aḥqābā(n).
Mereka tinggal di sana dalam masa yang lama.
لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا بَرْدًا وَّلَا شَرَابًاۙ
Lā yażūqūna fīhā bardaw wa lā syarābā(n).
Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,
اِلَّا حَمِيْمًا وَّغَسَّاقًاۙ
Illā ḥamīmaw wa gassāqā(n).
selain air yang mendidih dan nanah,
جَزَاۤءً وِّفَاقًاۗ
Jazā'aw wifāqā(n).
sebagai pembalasan yang setimpal.
اِنَّهُمْ كَانُوْا لَا يَرْجُوْنَ حِسَابًاۙ
Innahum kānū lā yarjūna ḥisābā(n).
Sesungguhnya mereka tidak pernah mengharapkan perhitungan.
وَّكَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا كِذَّابًاۗ
Wa każżabū bi'āyātinā kiżżābā(n).
Mereka benar-benar mendustakan ayat-ayat Kami.
وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ كِتٰبًاۙ
Wa kulla syai'in aḥṣaināhu kitābā(n).
Segala sesuatu telah Kami catat dalam kitab (catatan amal manusia).
فَذُوْقُوْا فَلَنْ نَّزِيْدَكُمْ اِلَّا عَذَابًا ࣖ
Fa żūqū falan nazīdakum illā ‘ażābā(n)
Oleh karena itu, rasakanlah! Tidak akan Kami tambahkan kepadamu, kecuali azab.
اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ مَفَازًاۙ
Inna lil-muttaqīna mafāzā(n).
Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (ada) kemenangan (surga),
حَدَاۤىِٕقَ وَاَعْنَابًاۙ
Ḥadā'iqa wa a‘nābā(n).
(yaitu) kebun-kebun, buah anggur,
وَّكَوَاعِبَ اَتْرَابًاۙ
Wa kawā‘iba atrābā(n).
gadis-gadis molek yang sebaya,
وَّكَأْسًا دِهَاقًاۗ
Wa ka'san dihāqā(n).
dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).
لَا يَسْمَعُوْنَ فِيْهَا لَغْوًا وَّلَا كِذّٰبًا
Lā yasma‘ūna fīhā lagwaw wa lā kiżżābā(n).
Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula (perkataan) dusta.
جَزَاۤءً مِّنْ رَّبِّكَ عَطَاۤءً حِسَابًاۙ
Jazā'am mir rabbika ‘aṭā'an ḥisābā(n).
(Hal itu) sebagai balasan (dan) pemberian yang banyak dari Tuhanmu,
رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمٰنِ لَا يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًاۚ
Rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumar-raḥmāni lā yamlikūna minhu khiṭābā(n).
(yaitu) Tuhan (pemelihara) langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Pengasih. Mereka tidak memiliki (hak) berbicara dengan-Nya.
يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
Yauma yaqūmur-rūḥu wal-malā'ikatu ṣaffā(n), lā yatakallamūna illā man ażina lahur-raḥmānu wa qāla ṣawābā(n).
Pada hari ketika Rūḥ dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia mengatakan yang benar.
ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا
Żālikal-yaumul-ḥaqq(u), faman syā'attakhaża ilā rabbihī ma'ābā(n).
Itulah hari yang hak (pasti terjadi). Siapa yang menghendaki (keselamatan) niscaya menempuh jalan kembali kepada Tuhannya (dengan beramal saleh).
اِنَّآ اَنْذَرْنٰكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا ەۙ يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرٰبًا ࣖ
Innā anżarnākum ‘ażāban qarībā(n), yauma yanẓurul-mar'u mā qaddamat yadāhu wa yaqūlul-kāfiru yā laitanī kuntu turābā(n).
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kamu akan azab yang dekat pada hari (ketika) manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata, “Oh, seandainya saja aku menjadi tanah.”
Telah menceritakan kepada kami [Muslim] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Al Hakam] dari [Mujahid] dari [Ibnu 'Abbas], bahwa Nabi shall…
Dan telah menceritakan kepadaku [Abbas bin Abdul Azhim al-Anbari] telah menceritakan kepada kami [an-Nadlar bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Ikr…
Telah bercerita kepada kami [Adam] telah bercerita kepada kami [Syu'bah] dari [Al Hakam] dari [Mujahid] dari [Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu] bahwa Nabi shall…
Surat An-Naba' ayat 40 menjadi penutup yang menggetarkan dari rangkaian peringatan tentang hari kebangkitan. Ayat ini menegaskan realitas yang tak terelakkan…
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali membuat hati cemas akan masa depan, Allah SWT menegaskan kepastian hari pembalasan dalam An-Naba' ayat 39. Ayat…
Dalam An-Naba' ayat 38, Allah SWT menggambarkan dahsyatnya hari kiamat ketika Ar-Ruh (Jibril) dan para malaikat berdiri bersaf-saf dalam ketundukan mutlak. A…