← Kembali ke pelajaran
Hari 39 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Baqarah, surah kedua dalam mushaf Al-Qur'an, disepakati oleh jumhur ulama sebagai surah Madaniyah, yaitu surah yang diturunkan setelah hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Kesepakatan ini didasarkan pada berbagai riwayat yang kuat dari para sahabat dan tabi'in. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menyatakan, "Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa Surah Al-Baqarah diturunkan di Madinah." Ini adalah surah pertama yang diturunkan secara lengkap di kota tersebut, menandai era baru dalam dakwah Islam.

Riwayat dari Ikrimah, sebagaimana dinukil oleh Imam As-Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an, menyebutkan bahwa yang pertama kali turun di Madinah adalah Surah Al-Baqarah. Hal ini menunjukkan signifikansi surah ini dalam meletakkan fondasi masyarakat dan negara Islam yang baru terbentuk. Penurunannya tidak terjadi sekaligus, melainkan secara bertahap selama beberapa tahun awal periode Madinah, mencakup berbagai peristiwa penting seperti perubahan kiblat, penetapan hukum puasa Ramadhan, haji, hukum-hukum muamalah, hingga peperangan.

Konteks periode penurunan surah ini adalah fase krusial dalam sejarah Islam. Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat Muhajirin baru saja tiba di Madinah, sebuah kota dengan komposisi masyarakat yang heterogen. Di sana terdapat kaum Ansar (suku Aus dan Khazraj) yang telah memeluk Islam dan menyambut Nabi ﷺ, komunitas Yahudi yang mapan (Bani Qaynuqa', Bani an-Nadhir, dan Bani Qurayzah), serta kemunculan kelompok baru yang disebut sebagai munafiqun (kaum munafik) yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Surah Al-Baqarah turun untuk memberikan pedoman, hukum, dan arahan dalam menghadapi kompleksitas sosial, politik, dan spiritual di Madinah. Ayat-ayat awalnya secara langsung memetakan tiga kelompok utama manusia dalam merespons wahyu: kaum beriman (al-muttaqun), kaum kafir yang terang-terangan menolak (alladzina kafaru), dan kaum munafik.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

Untuk tujuh ayat pertama Surah Al-Baqarah, para ulama tafsir dan ahli asbab an-nuzul tidak menyebutkan satu peristiwa tunggal yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat ini secara spesifik. Kitab-kitab klasik seperti Asbab an-Nuzul karya Imam Al-Wahidi dan Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul karya Imam As-Suyuti tidak mencantumkan riwayat khusus untuk ayat 1-7 ini. Sebaliknya, para mufasir menjelaskan bahwa ayat-ayat ini berfungsi sebagai mukadimah agung (fatihah) untuk Al-Qur'an secara keseluruhan dan Surah Al-Baqarah secara khusus, yang menjelaskan hakikat Al-Qur'an dan respons manusia terhadapnya.

Namun, terdapat riwayat-riwayat yang menjelaskan konteks umum dan kelompok-kelompok yang disinggung oleh ayat-ayat ini, terutama ayat 4, 6, dan 7.

2.1 Konteks Umum untuk Ayat 1-5

Ayat 1-5 (الۤمّۤ... hingga ...هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ) secara umum mendeskripsikan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa dan merinci sifat-sifat mereka. Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an mengutip pandangan Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma yang membagi awal surah ini menjadi tiga bagian. Beliau berkata, "Empat ayat pertama dari Surah Al-Baqarah turun mengenai kaum mukminin. Dua ayat setelahnya (ayat 6-7) turun mengenai kaum kafirin. Dan tiga belas ayat setelahnya turun mengenai kaum munafikin."

Pandangan Ibn Abbas ini diterima secara luas dan menjadi kerangka dalam memahami struktur awal surah ini. Jadi, sabab nuzul ayat 1-5 bukanlah sebuah peristiwa, melainkan kebutuhan untuk mendefinisikan identitas seorang mukmin sejati di tengah masyarakat Madinah yang majemuk. Sifat-sifat yang disebutkan, iman kepada yang gaib, mendirikan shalat, berinfak, iman kepada kitab-kitab suci, dan keyakinan akan akhirat, adalah pilar-pilar yang membedakan mereka dari kelompok lain.

Secara khusus mengenai ayat ke-4 (وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ), Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menjelaskan bahwa ayat ini merujuk kepada seluruh kaum mukminin, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, termasuk orang-orang Ahli Kitab yang beriman seperti Abdullah bin Salam, Salman al-Farisi, dan lainnya. Mujahid bin Jabr, seorang tabi'in terkemuka, menyatakan bahwa empat ayat pertama Al-Baqarah menggambarkan sifat-sifat kaum mukminin dari kalangan Ansar dan Muhajirin, sementara ayat keempat secara spesifik juga mencakup orang-orang beriman dari kalangan Ahli Kitab.

2.2 Riwayat Terkait Ayat 6-7

Untuk ayat 6 dan 7 (اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا... hingga ...عَذَابٌ عَظِيْمٌ), terdapat beberapa riwayat yang mengaitkannya dengan individu atau kelompok tertentu, meskipun esensi ayat ini tetap bersifat umum.

Riwayat Pertama: Terkait Tokoh-tokoh Yahudi di Madinah

Imam At-Tabari meriwayatkan melalui jalur Adh-Dhahhak dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ayat "Innalladzina kafaru..." turun berkenaan dengan para pendeta Yahudi. Mereka mengetahui sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ yang tertulis dalam Taurat, namun mereka mengingkarinya dan menolak kenabian beliau. Mereka adalah tokoh-tokoh seperti Huyayy bin Akhtab, Ka'ab bin al-Asyraf, dan para pemimpin Yahudi lainnya di Madinah. Penolakan mereka bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kesombongan, kedengkian, dan kekhawatiran kehilangan status sosial-religius mereka.

Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul juga menukil riwayat serupa dari Ibn Abbas, yang menyatakan bahwa ayat ini diturunkan mengenai kaum Yahudi yang telah mengenal Muhammad ﷺ sebagai Rasulullah melalui kitab mereka, tetapi tetap mengingkarinya. Penegasan "sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan atau tidak... mereka tidak akan beriman" merujuk pada keteguhan hati mereka dalam kekufuran yang didasari oleh kesengajaan.

Riwayat Kedua: Terkait Para Pemimpin Quraisy di Mekah

Sebagian mufasir lain, seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil, berpendapat bahwa ayat ini merujuk pada para pemimpin musyrikin Quraisy di Mekah yang telah ditakdirkan mati dalam keadaan kafir, seperti Abu Jahl, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, dan al-Walid bin al-Mughirah. Pengetahuan Allah yang azali tentang akhir hidup mereka menjadikan peringatan tidak lagi bermanfaat bagi mereka, karena hati mereka telah dikunci mati akibat penolakan yang terus-menerus.

Komentar dan Tarjih Ulama

Imam Ibn Kathir, setelah memaparkan berbagai pendapat, cenderung pada pandangan bahwa ayat ini bersifat umum ('aam), mencakup setiap orang yang telah Allah tetapkan kesengsaraan baginya. Bagi orang seperti ini, tidak ada peringatan atau nasihat yang dapat memberinya petunjuk dan menyelamatkannya dari takdirnya. Namun, konteks Madinah saat itu membuat penafsiran yang merujuk pada tokoh-tokoh Yahudi yang menentang Nabi ﷺ menjadi sangat relevan. Kaidah tafsir yang masyhur menyatakan, "Al-'ibrah bi 'umum al-lafdz la bi khushus as-sabab" (Pelajaran diambil dari keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab). Artinya, meskipun ayat ini mungkin turun merespons sikap tokoh-tokoh tertentu, pesannya berlaku bagi siapa saja yang memiliki sifat serupa hingga akhir zaman: orang yang menolak kebenaran secara sadar dan sombong hingga Allah mengunci hatinya.

3. Konteks Historis & Sosial

Turunnya awal Surah Al-Baqarah terjadi pada periode paling formatif bagi umat Islam. Setelah lebih dari satu dekade penindasan di Mekah, hijrah ke Madinah adalah sebuah titik balik. Masyarakat yang terbentuk di Madinah bukanlah masyarakat yang homogen. Konteks ini sangat penting untuk memahami mengapa surah ini dimulai dengan klasifikasi manusia.

  1. Pembentukan Umat dan Negara: Di Madinah, Nabi Muhammad ﷺ bukan lagi sekadar seorang rasul yang menyeru kaumnya, tetapi juga seorang pemimpin negara. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin (imigran dari Mekah) dengan kaum Ansar (penduduk asli Madinah yang menolong). Beliau juga menyusun Shahifah Madinah (Piagam Madinah), sebuah konstitusi yang mengatur kehidupan bersama antara kaum Muslimin, Yahudi, dan suku-suku Arab lainnya, berdasarkan prinsip keadilan dan pertahanan bersama.

  2. Tantangan dari Ahli Kitab: Berbeda dengan di Mekah di mana lawan utama adalah kaum musyrikin penyembah berhala, di Madinah kaum Muslimin berinteraksi secara intens dengan komunitas Yahudi yang memiliki tradisi keilmuan dan kitab suci. Mereka seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menguji kenabian Muhammad ﷺ dan mendebat ajaran Islam. Awal Surah Al-Baqarah, dengan menegaskan keimanan pada kitab-kitab sebelumnya (ayat 4) sekaligus mengkritik mereka yang mengingkari kebenaran baru padahal telah mengetahuinya (ayat 6-7), secara langsung merespons dinamika ini.

  3. Munculnya Kaum Munafik: Fenomena kemunafikan menjadi tantangan internal yang baru. Di Mekah, menjadi Muslim berarti siap menanggung risiko, sehingga hampir tidak ada ruang untuk kemunafikan. Namun di Madinah, ketika Islam menjadi kekuatan dominan, sebagian orang memeluk Islam secara lahiriah untuk melindungi kepentingan pribadi atau karena tekanan sosial, sementara hati mereka tetap memusuhi Islam. Abdullah bin Ubay bin Salul adalah figur utama kelompok ini. Surah Al-Baqarah (mulai dari ayat 8) akan mengupas tuntas sifat dan bahaya mereka.

  4. Kebutuhan akan Syariat: Sebagai sebuah komunitas yang baru berdiri, umat Islam membutuhkan seperangkat aturan dan hukum (syariat) untuk mengatur kehidupan individu dan sosial. Surah Al-Baqarah, yang juga dijuluki Fusthat al-Qur'an (Puncak Al-Qur'an), memuat banyak sekali hukum, mulai dari ibadah (shalat, puasa, haji), muamalah (jual-beli, utang-piutang, riba), hukum keluarga (pernikahan, talak, waris), hingga hukum pidana (qishash). Ayat-ayat pembuka ini berfungsi sebagai fondasi spiritual sebelum hukum-hukum praktis tersebut diuraikan: hanya orang bertakwa yang siap menerima dan menjalankan hukum Allah dengan tulus.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral dari tujuh ayat pertama Surah Al-Baqarah adalah penegasan status Al-Qur'an sebagai petunjuk absolut dan klasifikasi respons manusia terhadapnya. Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa surah ini dimulai dengan menyatakan tiga hal pokok: (1) Tidak ada keraguan sedikit pun dalam Al-Qur'an, (2) Ia adalah petunjuk khusus bagi orang bertakwa, dan (3) Ia membagi manusia menjadi tiga golongan dalam menyikapinya.

  • Al-Qur'an sebagai Hudan (Petunjuk): Ayat 2 (ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ) menjadi tesis utama. Al-Qur'an adalah sumber petunjuk yang sempurna dan bebas dari segala bentuk keraguan. Namun, manfaat dari petunjuk ini hanya bisa diraih oleh al-muttaqun (orang-orang yang bertakwa), yaitu mereka yang memiliki kesiapan hati untuk menerima kebenaran dan takut kepada Allah.

  • Karakteristik Al-Muttaqun (Ayat 3-5): Ayat-ayat ini tidak membiarkan konsep takwa menjadi abstrak. Ia didefinisikan secara konkret melalui enam pilar: (1) Iman kepada yang gaib, (2) Mendirikan shalat, (3) Menginfakkan rezeki, (4) Iman kepada Al-Qur'an, (5) Iman kepada kitab-kitab sebelumnya, dan (6) Keyakinan penuh pada hari akhirat. Mereka yang memiliki sifat-sifat ini dijanjikan petunjuk dari Tuhan mereka dan keberuntungan sejati (al-muflihun).

  • Karakteristik Al-Kafirun (Ayat 6-7): Sebagai antitesis dari kaum beriman, ayat-ayat ini menggambarkan kondisi orang-orang kafir yang telah terkunci hatinya. Penolakan mereka begitu mendalam dan disengaja sehingga peringatan tidak lagi berguna. Hati, pendengaran, dan penglihatan mereka tertutup dari kebenaran, sebuah kondisi yang merupakan akibat dari pilihan mereka sendiri.

Munasabah (Keterkaitan) dengan Surah Al-Fatihah:
Para ulama, termasuk Imam As-Suyuti, menyoroti hubungan erat antara akhir Surah Al-Fatihah dan awal Surah Al-Baqarah. Dalam Al-Fatihah, kita memohon, "Ihdinash-shirathal-mustaqim" (Tunjukilah kami jalan yang lurus). Surah Al-Baqarah dibuka dengan jawaban atas doa tersebut: "Dzalikal-kitabu la raiba fih, hudan lil-muttaqin" (Inilah Kitab yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa). Seolah-olah Allah berfirman, "Kalian meminta petunjuk, maka inilah petunjuk itu: Al-Qur'an."

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Surah Al-Baqarah secara keseluruhan memiliki banyak keutamaan yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Meskipun tidak ada hadits yang secara spesifik menyebutkan keutamaan tujuh ayat pertamanya saja, keutamaan surah ini secara umum mencakup ayat-ayat pembukanya.

  1. Mengusir Setan dari Rumah: Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah." (HR. Muslim, no. 780).

  2. Pembela di Hari Kiamat: Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Bacalah az-Zahrawain (dua cahaya), yaitu Surah Al-Baqarah dan Surah Ali 'Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan keduanya seperti dua awan atau dua naungan, atau seperti dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya, keduanya akan membela para pembacanya." (HR. Muslim, no. 804).

  3. Keberkahan: Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya (membaca dan mengamalkannya) adalah suatu keberkahan dan meninggalkannya adalah suatu kerugian, dan para tukang sihir tidak akan mampu mengganggunya." (HR. Muslim, no. 804).

  4. Amalan Nabi ﷺ dalam Shalat Malam: Hudzaifah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa pada suatu malam ia shalat bersama Nabi ﷺ. Beliau memulai dengan membaca Surah Al-Baqarah. Hudzaifah mengira beliau akan rukuk setelah seratus ayat, tetapi beliau terus melanjutkan. (HR. Muslim, no. 772). Ini menunjukkan betapa pentingnya surah ini dalam ibadah Rasulullah ﷺ.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para ulama salaf memberikan perhatian mendalam terhadap ayat-ayat pembuka ini.

  • Tentang Alif Lam Mim (Ayat 1): Imam At-Tabari dalam tafsirnya merangkum berbagai pendapat mengenai al-huruf al-muqaththa'ah (huruf-huruf terpotong) ini. Sebagian berpendapat maknanya hanya Allah yang tahu (pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib). Sebagian lain berpendapat itu adalah nama-nama surah atau nama-nama Allah. Pendapat yang kuat, sebagaimana dipegang oleh Ibn Abbas dan para mufasir setelahnya, adalah bahwa huruf-huruf ini merupakan tantangan (tahaddi) bagi kaum Arab. Al-Qur'an tersusun dari huruf-huruf (Alif, Lam, Mim, dll.) yang mereka gunakan sehari-hari, namun mereka tidak mampu membuat yang serupa dengannya, membuktikan bahwa ia berasal dari Allah.

  • Tentang Al-Ghayb (Yang Gaib, Ayat 3): Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Iman yang paling utama adalah iman kepada yang gaib," lalu beliau membaca ayat ini. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa al-ghayb adalah segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera dan akal manusia semata, seperti keberadaan Allah, malaikat, surga, neraka, dan takdir. Iman kepada yang gaib adalah fondasi utama agama, karena ia adalah bentuk penyerahan diri total kepada wahyu.

  • Tentang Yuqimunash-Shalah (Mendirikan Shalat, Ayat 3): Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan yuqimuna sebagai "melaksanakannya dengan segala kewajibannya," yaitu dengan menyempurnakan rukuk, sujud, bacaan, kekhusyukan, dan menghadap kepadanya dengan sepenuh hati. Ini berbeda dari sekadar "melakukan" shalat. Kata "mendirikan" menyiratkan konsistensi, kesempurnaan, dan menjadikannya sebagai tiang penyangga kehidupan.

  • Tentang Khatamallahu 'ala Qulubihim (Allah Telah Mengunci Hati Mereka, Ayat 7): Ini adalah salah satu ayat yang sering disalahpahami. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti Imam At-Tabari dan Ibn Kathir, menegaskan bahwa penguncian hati (al-khatm) oleh Allah bukanlah tindakan sewenang-wenang. Ia adalah konsekuensi dan hukuman atas pilihan sadar manusia untuk terus-menerus menolak kebenaran, sombong, dan berpaling. Qatadah bin Di'amah as-Sadusi berkata, "Setan telah menguasai mereka karena mereka taat kepadanya, maka Allah pun mengunci mati hati dan pendengaran mereka." Jadi, penolakan mereka yang mendahului, barulah penguncian dari Allah datang sebagai akibatnya. Ini adalah keadilan Allah, bukan kezaliman.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Fondasi Keyakinan: Kepastian pada Wahyu. Di zaman modern yang penuh dengan keraguan dan skeptisisme, Surah Al-Baqarah dimulai dengan pernyataan tegas: "Dzalikal-kitabu la raiba fih" (Kitab ini tidak ada keraguan padanya). Pelajaran bagi kita adalah untuk membangun keimanan di atas fondasi keyakinan yang kokoh terhadap Al-Qur'an sebagai wahyu ilahi yang sempurna. Ketika menghadapi berbagai ideologi dan pemikiran, seorang muslim harus kembali kepada sumber yang bebas dari keraguan ini sebagai standar kebenaran.

  2. Takwa Bukanlah Konsep Pasif, Melainkan Aksi Nyata. Ayat 3-4 memberikan daftar periksa praktis untuk takwa. Ia bukan sekadar perasaan takut kepada Allah di dalam hati, melainkan harus termanifestasi dalam tindakan: hubungan vertikal dengan Allah (iman gaib, shalat), hubungan horizontal dengan sesama (infak), dan hubungan intelektual-spiritual dengan wahyu (iman kepada semua kitab suci). Kita harus senantiasa mengevaluasi diri: apakah takwa kita sudah mencakup semua dimensi ini?

  3. Bahaya Penolakan yang Disengaja. Ayat 6-7 memberikan peringatan keras tentang konsekuensi dari arogansi intelektual dan spiritual. Mengetahui kebenaran namun menolaknya karena ego, kepentingan duniawi, atau kebencian dapat berujung pada terkuncinya hati. Pelajarannya adalah untuk senantiasa menjaga hati agar tetap lembut, terbuka pada nasihat, dan rendah hati di hadapan kebenaran, tidak peduli dari mana datangnya. Kita harus berdoa agar dilindungi dari sifat sombong yang dapat menutup pintu hidayah.

  4. Universalitas Risalah Islam. Dengan memerintahkan iman kepada "apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang diturunkan sebelummu" (Ayat 4), Islam menegaskan dirinya bukan sebagai agama baru yang memutus mata rantai sejarah, melainkan sebagai penyempurna dari risalah tauhid yang telah dibawa oleh semua nabi dan rasul. Ini mengajarkan kita untuk menghormati para nabi sebelumnya dan melihat misi Islam dalam bingkai sejarah ilahi yang agung, serta menumbuhkan sikap inklusif terhadap para pengikut nabi terdahulu yang tulus mencari kebenaran.

8. Penutup & Doa

Awal Surah Al-Baqarah adalah peta jalan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ia menetapkan Al-Qur'an sebagai panduan hidup, mendefinisikan dengan jelas siapa kawan (kaum beriman yang bertakwa) dan siapa lawan (kaum kafir yang menolak dengan sadar dan kaum munafik yang bersembunyi). Dengan memahami fondasi ini, seorang mukmin dapat menapaki sisa perjalanan dalam surah ini, dan dalam Al-Qur'an secara keseluruhan, dengan pijakan yang kuat dan visi yang jernih.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk golongan al-muttaqin yang menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk dalam setiap aspek kehidupan, yang hatinya senantiasa terbuka untuk menerima kebenaran, dan yang meraih keberuntungan sejati di dunia dan di akhirat.

Allahumma faqqihna fid-din wa 'allimnat-ta'wil.
(Ya Allah, berikanlah kami pemahaman yang mendalam dalam agama dan ajarkanlah kami takwil/penafsiran yang benar).

والله أعلم بالصواب
Wallahu a'lam bish-shawab (Dan Allah lebih mengetahui apa yang benar).