← Kembali ke pelajaran
Hari 53 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah An-Nahl (النحل), yang berarti "Lebah", adalah surah ke-16 dalam mushaf Al-Qur'an dan terdiri dari 128 ayat. Mayoritas ulama, termasuk Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu, Hasan al-Basri, dan Ikrimah, bersepakat bahwa surah ini tergolong Makkiyah, yaitu diturunkan di Mekah sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, menyatakan, "Surah ini adalah Makkiyah seluruhnya menurut pendapat mayoritas ulama." Namun, beliau juga menukil riwayat dari Ibn Abbas bahwa ada tiga ayat terakhir (ayat 126-128) yang turun di Madinah setelah Perang Uhud, berkenaan dengan peristiwa syahidnya Hamzah bin Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu. Pendapat serupa juga diriwayatkan oleh Imam As-Suyuti dalam Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an. Meskipun demikian, konteks dan gaya bahasa surah ini secara keseluruhan sangat kental dengan nuansa dakwah periode Mekah.

Secara urutan kronologis penurunan wahyu, para ulama seperti Jabir bin Zaid menempatkan Surah An-Nahl setelah Surah Al-Kahfi. Ini menempatkannya pada periode pertengahan hingga akhir dakwah di Mekah. Periode ini ditandai dengan meningkatnya tekanan, intimidasi, dan penganiayaan dari kaum musyrikin Quraisy terhadap Nabi ﷺ dan para sahabat. Kaum muslimin saat itu berada dalam posisi yang lemah, mengalami boikot ekonomi dan sosial, serta siksaan fisik. Di tengah situasi yang berat inilah, Surah An-Nahl turun sebagai peneguh hati, pengingat akan nikmat Allah yang tak terhingga, dan sebagai jawaban telak atas kesombongan dan syirik kaum musyrikin. Surah ini datang untuk membangun fondasi akidah yang kokoh, mengingatkan bahwa pertolongan Allah pasti datang, dan membantah argumen-argumen kaum kafir dengan bukti-bukti dari alam semesta yang tidak terbantahkan.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

Secara umum, tidak ada satu riwayat tunggal yang menjadi sebab turunnya keseluruhan Surah An-Nahl. Namun, para ulama tafsir meriwayatkan sebab-sebab khusus untuk beberapa ayat di dalamnya, terutama ayat pembuka.

2.1 Riwayat Utama (Khusus Ayat 1)

Ayat pertama Surah An-Nahl, "أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ" (Ketetapan Allah pasti datang, maka janganlah kamu meminta agar dipercepat (kedatangan)-nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan), memiliki asbab an-nuzul yang spesifik dan masyhur.

  • Riwayat dari Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul: Imam Al-Wahidi meriwayatkan dari jalur Ikrimah dan Adh-Dhahhak, dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ketika Allah menurunkan ayat, "اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ" (Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan - QS. Al-Qamar: 1), kaum musyrikin Mekah berkata satu sama lain dengan nada mengejek, "Orang ini (Muhammad) mengklaim bahwa kiamat telah dekat." Mereka kemudian menantang dan meminta agar azab atau kiamat itu disegerakan sebagai bukti kebenaran risalahnya. Sebagai respons atas sikap isti'jal (meminta disegerakan) dan ejekan mereka, Allah menurunkan ayat pertama Surah An-Nahl ini. Penggunaan kata kerja bentuk lampau (فعل ماضي) "أَتَىٰ" (telah datang) untuk peristiwa yang belum terjadi adalah untuk menegaskan kepastian dan kedekatan terjadinya, seolah-olah ia sudah tiba.

  • Riwayat dari As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul: Imam As-Suyuti menguatkan riwayat di atas. Beliau menukil riwayat dari Ibn Abi Hatim yang bersumber dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang menyatakan, "Ketika Allah menurunkan ayat 'اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ' (Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amalan mereka - QS. Al-Anbiya: 1), orang-orang kafir berkata, 'Wahai Muhammad, engkau terus-menerus menakuti kami dengan azab, tetapi kami tidak melihat apa pun terjadi.' Maka turunlah ayat 'أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ'." Ini menunjukkan pola yang sama: tantangan kaum kafir dijawab dengan penegasan ilahi.

  • Riwayat dari At-Tabari dalam Jami' al-Bayan: Imam At-Tabari dalam tafsirnya menyajikan beberapa riwayat yang senada. Beliau meriwayatkan dari Qatadah, seorang tabi'in terkemuka, yang berkata mengenai ayat ini, "Ini adalah tentang ancaman dan siksa dari Allah. Ketika Allah mengabarkan tentang azab yang akan menimpa suatu kaum, mereka (kaum musyrikin) berkata, 'Wahai Muhammad, datangkanlah kepada kami apa yang engkau ancamkan kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang benar.' Maka Allah menurunkan, 'أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ'."

Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyimpulkan bahwa ayat ini turun untuk memperingatkan kaum musyrikin yang meminta disegerakannya azab karena kebodohan dan pengingkaran mereka. Allah memberitakan bahwa ketetapan-Nya, baik itu berupa kemenangan bagi kaum muslimin, azab bagi orang kafir di dunia (seperti pada Perang Badar), maupun hari kiamat itu sendiri, adalah sesuatu yang pasti dan sangat dekat. Oleh karena itu, tidak ada gunanya meminta untuk dipercepat, karena jika ia datang, mereka tidak akan mampu menolaknya.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Tidak ada versi riwayat yang secara fundamental berbeda mengenai sebab turunnya ayat pertama ini. Semua riwayat yang ada, baik yang shahih maupun hasan, berpusat pada tema yang sama: respons Al-Qur'an terhadap permintaan kaum musyrikin untuk menyegerakan azab yang diancamkan kepada mereka. Para ulama tafsir sepakat mengenai konteks ini. Perbedaan yang ada hanya bersifat redaksional atau detail kecil dalam sanad riwayat.

Adapun untuk ayat-ayat berikutnya (ayat 2-9), para ulama mufassirin seperti Imam Al-Wahidi dan As-Suyuti tidak menyebutkan adanya asbab an-nuzul yang khusus. Ayat-ayat ini turun sebagai bagian dari alur argumen surah yang lebih besar, yaitu untuk membangun fondasi tauhid setelah membantah sikap isti'jal kaum musyrikin. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai dalil dan burhan (bukti) atas keesaan, kekuasaan, dan hak Allah untuk disembah, yang merupakan tema sentral surah ini.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Untuk ayat 2 hingga 9, Imam Ibn Kathir, As-Suyuti, dan Al-Wahidi tidak menyebutkan riwayat sebab nuzul yang spesifik. Yang ada adalah penjelasan mengenai konteks umum surah dan hubungan logis antar ayat (munasabah). Setelah Allah menegaskan kepastian datangnya ketetapan-Nya pada ayat pertama, ayat-ayat selanjutnya secara sistematis memaparkan dalil-dalil keagungan-Nya. Ayat 2 menjelaskan sumber peringatan tersebut, yaitu wahyu (ar-ruh) yang dibawa oleh malaikat. Ayat 3 dan 4 menegaskan kekuasaan-Nya dalam penciptaan langit, bumi, dan manusia. Kemudian, ayat 5 hingga 8 merinci berbagai nikmat Allah yang konkret dan dapat dirasakan manusia sehari-hari, seperti hewan ternak, kuda, dan lainnya. Terakhir, ayat 9 menutup argumen ini dengan menyatakan bahwa setelah semua bukti dan nikmat ini, Allah juga telah menunjukkan jalan yang lurus (qashdus-sabil). Rangkaian ayat ini adalah sebuah bangunan argumentasi yang utuh untuk membantah syirik dan mengajak kepada tauhid.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah An-Nahl turun pada salah satu periode terberat dalam sejarah dakwah Islam di Mekah. Saat itu, kaum muslimin adalah minoritas yang tertindas. Intimidasi verbal, ejekan, dan pelecehan terhadap Nabi ﷺ dan Al-Qur'an adalah kejadian sehari-hari. Sebagaimana tercermin dalam asbab an-nuzul ayat pertama, kaum Quraisy tidak hanya menolak, tetapi juga secara aktif menantang dan meremehkan ancaman azab ilahi. Mereka berkata, "Jika memang benar apa yang engkau katakan, segerakanlah azab itu!" Sikap ini lahir dari kesombongan, keangkuhan, dan keyakinan buta mereka terhadap berhala-berhala dan status sosial mereka sebagai penjaga Ka'bah.

Secara sosial dan ekonomi, kaum muslimin, terutama yang berasal dari kalangan budak atau orang miskin seperti Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, dan keluarganya, mengalami penyiksaan fisik yang brutal. Bahkan para sahabat dari kalangan bangsawan pun tidak luput dari tekanan. Boikot total yang dilancarkan Quraisy selama tiga tahun di lembah Abu Thalib, yang diperkirakan terjadi pada periode yang sama dengan turunnya surah ini, telah membuat kaum muslimin menderita kelaparan dan kesulitan yang luar biasa. Referensi dari As-Sirah an-Nabawiyyah oleh Ibn Hisham melukiskan gambaran yang sangat suram mengenai kondisi ini.

Dalam konteks inilah Surah An-Nahl hadir. Surah ini merespons situasi tersebut dari berbagai sisi:

  1. Meneguhkan Hati Kaum Mukmin: Dengan memulai surah ini dengan kepastian datangnya pertolongan dan ketetapan Allah (أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ), Allah memberikan harapan dan kekuatan kepada kaum muslimin yang sedang diuji. Pesannya jelas: bersabarlah, karena kemenangan dan keadilan pasti akan tiba pada waktu yang telah ditentukan.
  2. Membantah Argumen Musyrikin: Surah ini tidak hanya menjawab tantangan mereka, tetapi juga meruntuhkan seluruh bangunan argumen syirik mereka. Dengan memaparkan nikmat-nikmat Allah yang mereka nikmati setiap hari, hewan ternak yang mereka gembalakan, makanan yang mereka makan, kendaraan yang mereka tunggangi, Allah menunjukkan betapa tidak rasionalnya menyembah selain Dia yang telah memberikan semua itu. Ini adalah dakwah dengan logika dan bukti yang nyata.
  3. Memberikan Peringatan Keras: Meskipun penuh dengan pemaparan nikmat, surah ini juga mengandung ancaman yang tegas bagi mereka yang kufur nikmat. Tema ini akan semakin jelas di ayat-ayat selanjutnya, yang menggambarkan nasib umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul mereka.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral Surah An-Nahl adalah Tauhid dan Syukur atas Nikmat Allah sebagai Bukti Keesaan-Nya. Karena begitu dominannya pembahasan mengenai berbagai macam nikmat Allah, surah ini dijuluki oleh sebagian ulama sebagai "Surat an-Ni'am" (Surah Nikmat-Nikmat). Surah ini secara sistematis membentangkan bukti-bukti keesaan Allah (tauhid rububiyyah) melalui ciptaan-Nya di alam semesta dan nikmat-Nya yang melimpah, untuk kemudian menuntut pengakuan akan hak-Nya satu-satunya untuk disembah (tauhid uluhiyyah).

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya, Taysir al-Karim ar-Rahman, menjelaskan bahwa surah ini mencakup dasar-dasar nikmat yang bersifat duniawi dan ukhrawi. Ia dimulai dengan peringatan tentang ketetapan Allah, lalu merinci penciptaan langit dan bumi, manusia, hewan ternak, serta segala manfaatnya. Semua ini adalah untuk mengingatkan manusia agar mereka bersyukur dan tidak menyekutukan Sang Pemberi Nikmat. As-Sa'di menekankan bahwa tujuan utama dari penyebutan nikmat-nikmat ini adalah untuk membimbing manusia kepada tauhid.

Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan juga menyoroti bagaimana surah ini secara berulang-ulang mengontraskan antara penciptaan Allah yang penuh hikmah dan kesempurnaan dengan kesia-siaan berhala-berhala yang disembah kaum musyrikin. Ayat seperti "أَفَمَن يَخْلُقُ كَمَن لَّا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ" (Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? - QS. An-Nahl: 17) menjadi puncak dari argumentasi ini.

Munasabah (Keterkaitan) dengan Surah Sebelumnya dan Sesudahnya:

  • Dengan Surah Al-Hijr (sebelumnya): Surah Al-Hijr diakhiri dengan perintah kepada Nabi ﷺ untuk terus beribadah kepada Allah hingga datang keyakinan (kematian) dan untuk tidak bersedih atas penolakan kaum kafir. Surah An-Nahl dimulai dengan penegasan bahwa 'keyakinan' atau ketetapan Allah itu pasti akan datang (أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ), seolah-olah menjadi jawaban dan penegasan atas perintah di akhir Surah Al-Hijr.
  • Dengan Surah Al-Isra' (sesudahnya): Surah An-Nahl banyak membahas nikmat-nikmat Allah yang bersifat materiil dan fisik di bumi. Surah Al-Isra' dimulai dengan peristiwa spiritual agung, yaitu perjalanan malam Nabi ﷺ, yang menunjukkan nikmat spiritual dan kemuliaan risalah. Keduanya saling melengkapi dalam spektrum nikmat Allah, dari yang duniawi hingga ukhrawi, dari yang fisik hingga spiritual.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak ditemukan hadits shahih yang secara spesifik menyebutkan keutamaan khusus membaca Surah An-Nahl secara keseluruhan atau ayat-ayat tertentu darinya. Riwayat-riwayat yang ada mengenai keutamaan surah ini, seperti "Barangsiapa membaca Surah An-Nahl, Allah tidak akan menghisabnya atas nikmat-nikmat yang diberikan-Nya di dunia," dinilai oleh para ulama hadits sebagai riwayat yang sangat lemah (dha'if jiddan) atau bahkan palsu (mawdhu'). Imam Al-Qurthubi dan Ibn Kathir tidak mencantumkan hadits-hadits semacam ini dalam bab keutamaan surah di tafsir mereka, yang menunjukkan kehati-hatian mereka.

Oleh karena itu, keutamaan membaca dan mentadabburi Surah An-Nahl termasuk dalam keutamaan umum membaca Al-Qur'an. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
"اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ"
"Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim, Kitab Shalat al-Musafirin wa Qashriha, no. 804).

Juga, setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur'an, termasuk Surah An-Nahl, akan mendapatkan pahala sepuluh kebaikan, sesuai hadits dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2910) dan dinilai hasan shahih.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Para ulama salaf memberikan perhatian mendalam terhadap ayat-ayat pembuka Surah An-Nahl.

  • Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana telah disebutkan, menjelaskan bahwa "أَمْرُ اللَّهِ" (ketetapan Allah) di sini merujuk pada azab yang diancamkan kepada kaum musyrikin Mekah. Penggunaan bentuk lampau "أَتَىٰ" adalah balaghah (gaya bahasa) Al-Qur'an untuk menunjukkan kepastian mutlak.

  • Mujahid bin Jabr, seorang murid utama Ibn Abbas, menafsirkan "بِالرُّوحِ" (dengan ruh) pada ayat 2 sebagai wahyu dan kenabian. Beliau berkata, "Ar-Ruh di sini adalah Al-Qur'an dan wahyu yang dengannya hati yang mati menjadi hidup." Pandangan ini didukung oleh banyak mufassir, karena wahyu memberikan kehidupan spiritual sebagaimana ruh memberikan kehidupan fisik. Sebagaimana dinukil oleh Imam At-Tabari dalam tafsirnya.

  • Qatadah bin Di'amah as-Sadusi menyoroti ayat 4, "خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ" (Dia telah menciptakan manusia dari mani, lalu ternyata dia menjadi pembantah yang nyata). Qatadah berkomentar, "Betapa mengherankan manusia! Dia diciptakan dari sesuatu yang hina (air mani), namun kemudian dia menjadi sombong dan menjadi penentang yang nyata terhadap Tuhannya." Ini adalah pengingat keras tentang asal-usul manusia dan ketidakpantasan sikap sombong.

  • Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, ketika membahas ayat 8, "وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ" (dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui), memberikan wawasan yang sangat luas. Beliau menyatakan bahwa ayat ini mencakup segala sesuatu yang akan Allah ciptakan di masa depan, baik itu di darat, laut, maupun udara, yang belum dikenal oleh orang-orang pada masa itu. Banyak ulama kontemporer melihat ayat ini sebagai isyarat Al-Qur'an tentang penemuan-penemuan modern seperti mobil, kereta api, pesawat, dan berbagai teknologi transportasi lainnya. Ini menunjukkan kemukjizatan Al-Qur'an yang melampaui zamannya.

  • Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menjelaskan ayat 9, "وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ" (Dan hak bagi Allah-lah (menerangkan) jalan yang lurus). Beliau menafsirkannya sebagai, "Kewajiban atas Allah adalah menjelaskan jalan yang lurus yang mengantarkan kepada-Nya, yaitu Islam, dengan dalil-dalil dan argumen yang jelas." Ini menunjukkan kemurahan dan keadilan Allah yang tidak membiarkan manusia dalam kebingungan tanpa petunjuk.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Keyakinan pada Janji Allah di Tengah Ketidakpastian: Ayat pembuka, "أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ", mengajarkan kita untuk memiliki keyakinan penuh pada janji Allah, baik itu janji pertolongan, kemenangan, maupun datangnya hari pembalasan. Di zaman yang serba instan ini, kita seringkali tidak sabar dalam berdoa dan menunggu hasil. Surah ini mengingatkan bahwa ketetapan Allah memiliki waktunya sendiri yang sempurna. Tugas kita adalah berikhtiar, berdoa, dan bersabar dengan keyakinan, bukan tergesa-gesa hingga putus asa.

  2. Melihat Nikmat sebagai Jalan Menuju Tauhid: Surah ini mengajak kita untuk melakukan "tadabbur alam" secara mendalam. Ayat 5-8 merinci nikmat hewan ternak, bukan hanya sebagai sumber makanan, tetapi juga sebagai sumber kehangatan (dif'un), keindahan (jamal), dan kemudahan transportasi. Pelajarannya adalah untuk tidak memandang nikmat sebagai hal yang biasa dan lumrah. Setiap teguk susu, setiap helai pakaian dari wol, setiap perjalanan yang dimudahkan adalah tanda kebesaran Allah yang seharusnya mengantarkan kita pada rasa syukur yang mendalam dan pengesaan kepada-Nya. Renungkanlah, berapa banyak nikmat di sekitar kita yang kita anggap remeh padahal ia adalah bukti nyata kehadiran dan kasih sayang Allah?

  3. Mawas Diri dari Kesombongan Intelektual: Ayat 4 mengingatkan kita akan asal-usul kita yang hina (min nuthfah) dan bahaya menjadi pembantah yang nyata (khashimun mubin). Di era informasi ini, manusia mudah sekali merasa tahu segalanya dan menjadi sombong dengan ilmunya, lalu membantah kebenaran wahyu dengan argumen-argumen filsafat atau sains yang terbatas. Ayat ini adalah cermin bagi kita: ingatlah dari mana kita berasal, maka kita akan tahu di mana seharusnya kita meletakkan diri di hadapan Sang Pencipta. Kerendahan hati adalah kunci untuk menerima petunjuk.

  4. Keterbukaan terhadap Kemajuan yang Bermanfaat: Frasa penutup pada ayat 8, "وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ" (dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui), memberikan pandangan Islam yang dinamis dan terbuka terhadap masa depan. Islam tidak menentang kemajuan sains dan teknologi. Sebaliknya, ayat ini seolah-olah memotivasi kita untuk terus mengeksplorasi dan menemukan ciptaan-ciptaan Allah yang baru, selama itu membawa manfaat bagi kemanusiaan dan tidak melanggar syariat-Nya. Ini adalah pelajaran untuk tidak bersikap jumud dan anti-perubahan, tetapi memandang setiap penemuan baru sebagai ayat (tanda) lain dari kebesaran Allah.

8. Penutup & Doa

Surah An-Nahl adalah lautan nikmat dan samudra tauhid. Ia mengajarkan kita bahwa jalan termudah untuk mengenal dan mencintai Allah adalah dengan merenungkan dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung, yang tersebar di alam semesta dan bahkan pada diri kita sendiri. Surah ini menegur kesombongan kaum musyrikin yang meminta disegerakannya azab, seraya membimbing mereka (dan kita) untuk melihat bukti kebenaran yang ada di depan mata. Pesan utamanya adalah: Syukurilah nikmat-Nya, maka engkau akan menemukan-Nya.

اللهم فقهنا في دينك وعلمنا التأويل، واجعلنا من الشاكرين لنعمك، الهادين المهديين، غير الضالين ولا المضلين.

Allahumma faqqihna fi dinika wa 'allimna at-ta'wil, waj'alna minasy-syakirina li ni'amik, al-hadinal mahdiyyin, ghairadh-dhallina wala al-mudhillin.
(Ya Allah, berikanlah kami pemahaman yang mendalam dalam agama-Mu, ajarkanlah kami takwil (pemahaman) Al-Qur'an, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu, yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk, bukan orang-orang yang sesat dan menyesatkan).

والله أعلم بالصواب
Wallahu a'lam bish-shawab.