← Kembali ke pelajaran
Hari 68 Langkah 1 / 9 +10 XP

Bacaan

Baca pelan. Tap setiap kata untuk lihat arti per-kata. Resapi makna sebelum lanjut.

Panduan warna Tajwid
  • Ghunnah (dengung)
  • Qalqalah (pantulan)
  • Ikhfa' (samar)
  • Ikhfa' Syafawi
  • Iqlab (pembalikan)
  • Idgham Bighunnah
  • Idgham Bilaghunnah
  • Idgham Syafawi
  • Idgham Mutajanisain / Mutaqaribain
  • Mad Thabi'i (2 harakat)
  • Mad Jaiz (2/4/6 harakat)
  • Mad Wajib Muttasil (4-5)
  • Mad Lazim (6 harakat)
  • Hamzah Wasl / huruf tak dibaca / Lam Syamsiyah

Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).

Luqman · 12
﴿ 12 ﴾

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَـٰنَ ٱلْحِكْمَةَ أَنِ ٱشْكُرْ لِلَّهِ‌ۚ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ‌ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ

وَلَقَدْ
walaqad
Dan sungguh
ءَاتَيْنَا
ātaynā
Kami berikan
لُقْمَـٰنَ
luq'māna
Luqman
ٱلْحِكْمَةَ
l-ḥik'mata
hikmah
أَنِ
ani
bahwa
ٱشْكُرْ
ush'kur
Bersyukurlah
لِلَّهِ ۚ
lillahi
bagi Allah
وَمَن
waman
Dan barangsiapa
يَشْكُرْ
yashkur
bersyukur
فَإِنَّمَا
fa-innamā
maka hanyalah
يَشْكُرُ
yashkuru
dia bersyukur
لِنَفْسِهِۦ ۖ
linafsihi
untuk dirinya sendiri
وَمَن
waman
Dan barangsiapa
كَفَرَ
kafara
(adalah) tidak bersyukur
فَإِنَّ
fa-inna
maka sesungguhnya
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
غَنِىٌّ
ghaniyyun
Maha Kaya
حَمِيدٌۭ
ḥamīdun
Maha Terpuji

Wa laqad ātainā luqmānal-ḥikmata anisykur lillāh(i), wa may yasykur fa'innamā yasykuru linafsih(ī), wa man kafara fa'innallāha ganiyyun ḥamīd(un).

Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Siapa yang kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

Luqman · 13
﴿ 13 ﴾

وَإِذْ قَالَ لُقْمَـٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

وَإِذْ
wa-idh
Dan ketika
قَالَ
qāla
berkata
لُقْمَـٰنُ
luq'mānu
Luqman
لِٱبْنِهِۦ
li-ib'nihi
kepada putranya
وَهُوَ
wahuwa
padahal dia
يَعِظُهُۥ
yaʿiẓuhu
menasihatinya
يَـٰبُنَىَّ
yābunayya
wahai anakku
لَا
Jangan
تُشْرِكْ
tush'rik
mempersekutukan
بِٱللَّهِ ۖ
bil-lahi
dengan Allah
إِنَّ
inna
Sesungguhnya
ٱلشِّرْكَ
l-shir'ka
menyekutukan
لَظُلْمٌ
laẓul'mun
sungguh suatu kezaliman
عَظِيمٌۭ
ʿaẓīmun
agung

Wa iż qāla luqmānu libnihī wa huwa ya‘iẓuhū yā bunayya lā tusyrik billāh(i), innasy-syirka laẓulmun ‘aẓīm(un).

(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”

Luqman · 14
﴿ 14 ﴾

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَـٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٲلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

وَوَصَّيْنَا
wawaṣṣaynā
dan kami telah mewasiatkan
ٱلْإِنسَـٰنَ
l-insāna
Manusia
بِوَٰلِدَيْهِ
biwālidayhi
untuk kedua orang tuanya
حَمَلَتْهُ
ḥamalathu
membawanya
أُمُّهُۥ
ummuhu
ibunya
وَهْنًا
wahnan
(dalam) kelemahan
عَلَىٰ
ʿalā
atas
وَهْنٍۢ
wahnin
kelemahan
وَفِصَـٰلُهُۥ
wafiṣāluhu
dan penyapihannya
فِى
di
عَامَيْنِ
ʿāmayni
dua tahun
أَنِ
ani
bahwa
ٱشْكُرْ
ush'kur
Bersyukurlah
لِى
kepada saya
وَلِوَٰلِدَيْكَ
waliwālidayka
dan kepada kedua orang tuamu
إِلَىَّ
ilayya
kepada-Ku
ٱلْمَصِيرُ
l-maṣīru
tempat kembali

Wa waṣṣainal-insāna biwālidaih(i), ḥamalathu ummuhū wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhū fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaik(a), ilayyal-maṣīr(u).

Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.

Luqman · 15
﴿ 15 ﴾

وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا‌ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا‌ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ‌ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

وَإِن
wa-in
Dan jika
جَـٰهَدَاكَ
jāhadāka
mereka berjuang melawanmu
عَلَىٰٓ
ʿalā
di atas
أَن
an
bahwa
تُشْرِكَ
tush'rika
kamu menyekutukan
بِى
bersama-Ku
مَا
apa
لَيْسَ
laysa
bukan
لَكَ
laka
kamu memiliki
بِهِۦ
bihi
dengannya
عِلْمٌۭ
ʿil'mun
pengetahuan
فَلَا
falā
maka jangan
تُطِعْهُمَا ۖ
tuṭiʿ'humā
patuhi keduanya
وَصَاحِبْهُمَا
waṣāḥib'humā
tetapi temani mereka
فِى
di
ٱلدُّنْيَا
l-dun'yā
dunia
مَعْرُوفًۭا ۖ
maʿrūfan
(dengan) kebaikan
وَٱتَّبِعْ
wa-ittabiʿ
dan ikutilah
سَبِيلَ
sabīla
jalan
مَنْ
man
barangsiapa
أَنَابَ
anāba
berpaling
إِلَىَّ ۚ
ilayya
kepada-Ku
ثُمَّ
thumma
Kemudian
إِلَىَّ
ilayya
kepada-Ku
مَرْجِعُكُمْ
marjiʿukum
semua
فَأُنَبِّئُكُم
fa-unabbi-ukum
maka aku akan memberitahukan kalian
بِمَا
bimā
tentang apa
كُنتُمْ
kuntum
kalian dulu
تَعْمَلُونَ
taʿmalūna
melakukan

Wa in jāhadāka ‘alā an tusyrika bī mā laisa laka bihī ‘ilmun falā tuṭi‘humā wa ṣāḥibhumā fid-dun-yā ma‘rūfā(n), wattabi‘ sabīla man anāba ilayya(a), ṡumma ilayya marji‘ukum fa unabbi'ukum bimā kuntum ta‘malūn(a).

Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan.

Luqman · 16
﴿ 16 ﴾

يَـٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

يَـٰبُنَىَّ
yābunayya
wahai anakku
إِنَّهَآ
innahā
Sesungguhnya ia
إِن
in
jika
تَكُ
taku
itu
مِثْقَالَ
mith'qāla
berat
حَبَّةٍۢ
ḥabbatin
sebutir
مِّنْ
min
dari
خَرْدَلٍۢ
khardalin
biji sesawi
فَتَكُن
fatakun
maka jadilah
فِى
di
صَخْرَةٍ
ṣakhratin
sebuah batu
أَوْ
aw
atau
فِى
di
ٱلسَّمَـٰوَٰتِ
l-samāwāti
langit
أَوْ
aw
atau
فِى
di
ٱلْأَرْضِ
l-arḍi
bumi
يَأْتِ
yati
Allah akan mendatangkannya
بِهَا
bihā
Allah akan menampakkannya
ٱللَّهُ ۚ
l-lahu
Allah akan mengeluarkannya
إِنَّ
inna
Sesungguhnya
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
لَطِيفٌ
laṭīfun
Maha Lembut
خَبِيرٌۭ
khabīrun
Maha Mengetahui

Yā bunayya innahā in taku miṡqāla ḥabbatim min khardalin fatakun fī ṣakhratin au fis-samāwāti au fil-arḍi ya'ti bihallāh(u), innallāha laṭīfun khabīr(un).

(Luqman berkata,) “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Maha Lembut lagi Maha Teliti.

Luqman · 17
﴿ 17 ﴾

يَـٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٲةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ‌ۖ إِنَّ ذَٲلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

يَـٰبُنَىَّ
yābunayya
wahai anakku
أَقِمِ
aqimi
Dirikanlah
ٱلصَّلَوٰةَ
l-ṣalata
salat
وَأْمُرْ
wamur
dan perintahkanlah
بِٱلْمَعْرُوفِ
bil-maʿrūfi
dengan yang baik
وَٱنْهَ
wa-in'ha
semua
عَنِ
ʿani
dari
ٱلْمُنكَرِ
l-munkari
kemungkaran
وَٱصْبِرْ
wa-iṣ'bir
dan bersabarlah
عَلَىٰ
ʿalā
atas
مَآ
apa
أَصَابَكَ ۖ
aṣābaka
menimpamu
إِنَّ
inna
Sesungguhnya
ذَٰلِكَ
dhālika
itu
مِنْ
min
adalah dari
عَزْمِ
ʿazmi
ketetapan
ٱلْأُمُورِ
l-umūri
perkara-perkara yang memerlukan keputusan

Yā bunayya aqimiṣ-ṣalāta wa'mur bil-ma‘rūfi wanha ‘anil-munkari waṣbir ‘alā mā aṣābak(a), inna żālika min ‘azmil-umūr(i).

Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.

Luqman · 18
﴿ 18 ﴾

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

وَلَا
walā
Dan jangan
تُصَعِّرْ
tuṣaʿʿir
memalingkan
خَدَّكَ
khaddaka
pipimu
لِلنَّاسِ
lilnnāsi
dari manusia
وَلَا
walā
dan jangan
تَمْشِ
tamshi
berjalan
فِى
di
ٱلْأَرْضِ
l-arḍi
bumi
مَرَحًا ۖ
maraḥan
dengan gembira
إِنَّ
inna
Sesungguhnya
ٱللَّهَ
l-laha
Allah
لَا
tidak
يُحِبُّ
yuḥibbu
Dia mencintai
كُلَّ
kulla
setiap
مُخْتَالٍۢ
mukh'tālin
sombong
فَخُورٍۢ
fakhūrin
pembual

Wa lā tuṣa‘‘ir khaddaka lin-nāsi wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā(n), innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr(in).

Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.

Luqman · 19
﴿ 19 ﴾

وَٱقْصِدْ فِى مَشْيِكَ وَٱغْضُضْ مِن صَوْتِكَ‌ۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلْأَصْوَٲتِ لَصَوْتُ ٱلْحَمِيرِ

وَٱقْصِدْ
wa-iq'ṣid
dan bersikaplah moderat
فِى
di
مَشْيِكَ
mashyika
langkahmu
وَٱغْضُضْ
wa-ugh'ḍuḍ
dan rendahkanlah
مِن
min
dari
صَوْتِكَ ۚ
ṣawtika
suaramu
إِنَّ
inna
Sesungguhnya
أَنكَرَ
ankara
paling keras
ٱلْأَصْوَٰتِ
l-aṣwāti
segala suara
لَصَوْتُ
laṣawtu
sungguh suara
ٱلْحَمِيرِ
l-ḥamīri
keledai

Waqṣid fī masy-yika wagḍuḍ min ṣautik(a), inna ankaral-aṣwāti laṣautul-ḥamīr(i).

Berlakulah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”