← Kembali ke pelajaran
Hari 68 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Luqman adalah surah ke-31 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 34 ayat. Para ulama sepakat bahwa surah ini termasuk golongan surah makkiyah, yaitu surah yang diturunkan di Mekkah sebelum hijrah. Pendapat ini didasarkan pada ciri-ciri ayat Makkiyah seperti fokus pada akidah, tauhid, dan kisah-kisah umat terdahulu, serta tidak adanya ayat yang membicarakan hukum-hukum furu'iyyah yang menjadi ciri khas Madaniyah. (Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, juz 3, hal. 581; Al-Qurtubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, juz 14, hal. 69).

Mengenai urutan turunnya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut riwayat yang masyhur dari Ibn Abbas, surah Luqman diturunkan setelah surah As-Saffat dan sebelum surah Al-Qalam. Namun, pendapat lain menyebutkan bahwa surah ini turun pada periode pertengahan dakwah di Mekkah, ketika tekanan kaum Quraisy semakin intensif dan sebagian sahabat mengalami ujian berat. (As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, hal. 194).

Meskipun tidak ada riwayat pasti tentang waktu spesifik turunnya, konteks Makkiyah sangat jelas: surah ini ditujukan untuk mengukuhkan tauhid, menolak syirik, dan memberikan hikmah kepada kaum musyrikin melalui kisah Luqman. Periode ini ditandai dengan perjuangan Nabi ﷺ melawan penyembahan berhala dan upaya menegakkan keimanan kepada Allah semata. Kaum Quraisy saat itu sangat keras menentang Islam, mereka menyiksa dan mengisolasi para sahabat, namun pesan Al-Qur'an terus turun sebagai peneguhan dan petunjuk.

Dengan demikian, surah Luqman hadir sebagai sebuah bingkisan hikmah yang mengandung nasihat-nasihat bijak yang diajarkan Luqman kepada putranya, yang secara substansial merupakan inti ajaran Islam: tauhid, syukur, bakti orang tua, kesabaran, dan akhlak mulia. Kehadiran surah ini di tengah-tengah tekanan dakwah menjadi pengingat bahwa kebenaran dan hikmah ada pada risalah yang dibawa Nabi ﷺ.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Ayat yang memiliki riwayat asbab an-nuzul yang jelas dalam surah Luqman adalah ayat ke-15, yaitu firman Allah “Wa in jahadaka ‘ala an tushrika bi ma laysa laka bihi ‘ilmun fala tuti’huma...”.

Riwayat dari Al-Wahidi: Dalam kitab Asbab an-Nuzul (hal. 284), Al-Wahidi meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Tatkala ibuku masuk Islam, aku masuk Islam. Ketika ia mengetahui aku masuk Islam, ia berkata: ‘Wahai Sa’d, tinggalkan agamamu, atau aku tidak akan makan dan minum hingga mati, sehingga engkau akan dicela karena perbuatanku.’ Aku berkata: ‘Jangan engkau lakukan itu, wahai ibu. Sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku.’ Maka ia berhenti makan dan minum selama sehari semalam hingga ia sangat lemah. Melihat itu, aku berkata: ‘Wahai ibu, demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus jiwa lalu keluar satu demi satu, aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku. Jika engkau mau, makanlah, jika tidak, biarkan.’ Maka ketika ia melihat keteguhanku, ia makan. Lalu turunlah ayat: ‘Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentangnya, maka janganlah kamu patuhi keduanya...’.”

Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (Kitab al-Iman, no. 1748) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 1556).

Riwayat dari As-Suyuti: Dalam Lubab an-Nuqul (hal. 195), As-Suyuti menambahkan bahwa riwayat ini mutawatir dari Sa’d dan menjadi dasar bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Sa’d bin Abi Waqqash.

Riwayat dari At-Tabari: Dalam Jami’ al-Bayan (juz 10, hal. 245), At-Tabari menguatkan riwayat ini dengan sanad yang shahih dari Sa’d.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Selain riwayat di atas, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa ayat ini berlaku pula untuk sahabat lain seperti Mus’ab bin Umair dan lainnya saat mendapat tekanan dari orang tua mereka. Namun, riwayat Sa’d lebih masyhur dan dianggap lebih shahih.

Beberapa ulama, seperti Ibn Kathir (dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, juz 3, hal. 594), menegaskan bahwa meskipun ayat ini memiliki sebab khusus, hukumnya bersifat umum bagi setiap Muslim yang menghadapi situasi serupa.

2.3 Catatan untuk Ayat Lain

Adapun ayat-ayat lainnya dalam surah Luqman, seperti ayat 12, 13, 14, 16-19, tidak disebutkan riwayat asbab an-nuzul yang khusus oleh Al-Wahidi maupun As-Suyuti. Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat-ayat tersebut turun sebagai bagian dari kisah Luqman yang utuh, tanpa ada peristiwa tertentu yang menjadi pemicu. Namun, ada juga ulama yang mengaitkan ayat 14 tentang perintah berbuat baik kepada orang tua dengan asbab yang sama seperti ayat 15, tetapi pendapat ini lemah.

Untuk ayat 12, tentang pemberian hikmah kepada Luqman, Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (juz 14, hal. 72) menyebutkan bahwa Luqman bukanlah seorang nabi, melainkan seorang hamba yang saleh dan bijaksana. Ayat ini turun untuk menunjukkan bahwa Allah memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, bahkan kepada seorang budak Habasyah sekalipun.

Ayat 13 tentang larangan syirik merupakan nasihat inti Luqman. Tidak ada riwayat sabab nuzul khusus, tetapi ini adalah pelajaran universal yang ditekankan dalam Al-Qur'an.

Ayat 14 tentang wasiat kepada orang tua turun secara umum, namun konteksnya erat dengan situasi para sahabat yang baru masuk Islam dan menghadapi tekanan dari orang tua musyrik.

Wallahu a'lam.

3. Konteks Historis & Sosial

Surah Luqman turun di Mekkah pada saat dakwah Islam masih dalam tahap awal hingga pertengahan. Masyarakat Mekkah saat itu dikenal sangat fanatik terhadap tradisi nenek moyang, termasuk penyembahan berhala. Kaum Quraisy, sebagai suku terkuat, memusuhi Nabi ﷺ dan para pengikutnya dengan berbagai cara: ejekan, boikot, penyiksaan fisik, hingga tekanan psikologis melalui keluarga.

Salah satu bentuk tekanan adalah melalui orang tua yang memaksa anak-anak mereka untuk kembali ke agama nenek moyang. Kisah Sa’d bin Abi Waqqash adalah contoh nyata: ibunya melakukan mogok makan hingga hampir mati agar Sa’d meninggalkan Islam. Dalam situasi seperti ini, Allah menurunkan ayat 15 yang memberikan batasan tegas: taat kepada orang tua dalam kebaikan, tetapi tidak dalam kemaksiatan. Ini menjadi pedoman penting bagi para sahabat yang menghadapi dilema antara bakti kepada orang tua dan ketaatan kepada Allah.

Selain itu, surah ini juga merespons kebanggaan dan kesombongan kaum Quraisy yang merasa lebih mulia dari yang lain. Melalui Luqman, yang digambarkan sebagai seorang budak Habasyah, Allah menunjukkan bahwa kemuliaan bukan pada keturunan atau harta, melainkan pada iman dan takwa. Nasihat Luqman tentang tidak bersikap angkuh dan berjalan dengan rendah hati (ayat 18-19) secara langsung mengkritik gaya hidup elit Quraisy yang suka bermegah-megahan.

Kisah Luqman sendiri, yang diyakini hidup sebelum Islam, menjadi bukti bahwa ajaran tauhid telah ada sejak dahulu. Ini menjadi hujah bagi kaum musyrikin bahwa ajaran Nabi ﷺ bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari hikmah yang pernah diberikan kepada orang-orang saleh terdahulu.

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral surah Luqman adalah tauhid dan hikmah. Dimulai dengan pujian kepada Al-Qur'an sebagai petunjuk, kemudian dilanjutkan dengan kisah Luqman yang mengajarkan tauhid, syukur, dan akhlak. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim (juz 3, hal. 581) menyatakan: "Surah ini mengandung nasihat-nasihat yang agung, serta peringatan dan bimbingan menuju jalan yang lurus."

As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman (juz 6, hal. 526) menjelaskan bahwa surah ini menggabungkan antara dalil-dalil aqli (akal) dan naqli (wahyu) untuk menguatkan keimanan. Nasihat Luqman kepada putranya mencakup tiga perkara pokok: pertama, tauhid (jangan syirik); kedua, syukur kepada Allah dan orang tua; ketiga, kesadaran akan hisab (balasan amal). Setelah itu, diikuti dengan perintah salat, amar ma'ruf nahi mungkar, sabar, dan akhlak mulia.

Munasabah dengan surah sebelumnya (Ar-Rum) dan sesudahnya (As-Sajdah) cukup jelas. Surah Ar-Rum berbicara tentang kekuasaan Allah dalam alam dan sejarah manusia, sedangkan As-Sajdah berbicara tentang penciptaan dan hari kebangkitan. Surah Luqman menjadi jembatan dengan memberikan contoh konkret tentang hikmah dan penerapan iman dalam kehidupan sehari-hari.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak ada hadits shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan surah Luqman secara khusus, seperti halnya surah Al-Ikhlas atau Al-Mulk. Beberapa riwayat dha'if menyebutkan bahwa barangsiapa membaca surah Luqman, ia akan bersama Luqman di surga, namun riwayat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. (Lihat: Al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib).

Oleh karena itu, kita bisa merujuk kepada keutamaan umum membaca Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, no. 2910; ia berkata: hadits hasan shahih).

Selain itu, surah Luqman termasuk surah yang dianjurkan untuk dibaca secara rutin karena kandungannya yang sarat nasihat. Para sahabat seperti Ibn Umar dan Ibn Abbas diketahui sering membaca surah-surah Makkiyah untuk mengingatkan akan tauhid.

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

Identitas Luqman

Para ulama berbeda pendapat mengenai identitas Luqman. Mayoritas, seperti Ibn Abbas, Mujahid, dan Qatadah, berpendapat bahwa Luqman adalah seorang hamba sahaya dari Habasyah (Ethiopia) yang bekerja sebagai tukang kayu. Ia bukan seorang nabi, melainkan seorang yang saleh dan diberikan hikmah oleh Allah. (Riwayat Ibn Abi Hatim, Tafsir al-Qur'an al-'Azim).

Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (juz 14, hal. 72) mengutip bahwa Luqman hidup pada zaman Nabi Daud as., dan ia sering duduk bersama para nabi untuk mengambil ilmu. Ada juga yang mengatakan ia hidup setelah zaman Nabi Isa, tetapi pendapat pertama lebih kuat.

Sifat Hikmah

Hikmah yang diberikan kepada Luqman menurut Ibn Mas'ud adalah pemahaman agama dan kebenaran dalam ucapan dan perbuatan. Ibnu Zaid mengatakan hikmah adalah akal dan kecerdasan. Tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa ia menerima wahyu, sehingga ia bukan nabi. (At-Tabari, Jami' al-Bayan, juz 10, hal. 240).

Tafsir Ayat 15 tentang Orang Tua

Ayat 15 sering dikaitkan dengan kisah Sa'd, namun para ulama juga membahas bahwa hukumnya umum. Imam As-Suyuti menegaskan bahwa meskipun turun karena Sa'd, ayat ini berlaku untuk setiap Muslim yang dipaksa oleh orang tuanya untuk meninggalkan Islam. (Al-Itqan).

Nasihat Luqman

Para ulama salaf sangat memperhatikan nasihat-nasihat Luqman dalam surah ini. Hasan Al-Bashri sering mengutip ayat 17 sebagai pedoman berdakwah: "Wahai anakku, tegakkanlah salat, perintahkan yang ma'ruf, cegahlah yang munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu." Beliau berkata: "Ini adalah wasiat yang sempurna bagi orang yang berakal." (Ibn Abi Hatim).

Ibn Juraij meriwayatkan bahwa nasihat Luqman kepada putranya ini adalah nasihat yang paling lengkap dalam Al-Qur'an.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

Berikut beberapa pelajaran yang dapat diambil dari surah Luqman:

  1. Tauhid adalah dasar segala kebaikan. Nasihat pertama Luqman adalah larangan syirik. Ini menunjukkan bahwa membersihkan akidah dari syirik adalah prioritas utama dalam pendidikan anak dan kehidupan seorang Muslim. Hari ini, syirik tidak hanya berupa menyembah berhala, tetapi juga kecintaan berlebihan pada dunia, uang, atau tokoh yang mengalahkan kecintaan kepada Allah.

  2. Bersyukur kepada Allah dan orang tua. Syukur adalah kunci bertambahnya nikmat. Ayat 12 menyebutkan bahwa syukur bermanfaat bagi diri sendiri. Kemudian diikuti dengan perintah berbuat baik kepada orang tua (ayat 14). Dalam kehidupan modern, banyak anak yang lalai terhadap orang tua. Pelajaran ini mengembalikan kesadaran akan pentingnya bakti.

  3. Ketaatan kepada orang tua memiliki batas. Ayat 15 mengajarkan bahwa jika orang tua memerintahkan kemaksiatan, maka tidak boleh ditaati. Namun, tetap harus berhubungan baik dengan mereka. Ini sangat relevan bagi mualaf atau Muslim yang keluarganya non-Muslim.

  4. Sabar dalam menjalankan perintah dan menghadapi ujian. Ayat 17 memerintahkan sabar. Dakwah kepada kebaikan pasti menghadapi rintangan. Di era media sosial, banyak hujatan dan cemoohan. Kesabaran adalah kunci.

  5. Akhlak mulia: rendah hati, sederhana, dan sopan. Ayat 18-19 melarang sombong dan berjalan angkuh, serta memerintahkan berbicara dengan suara yang lembut. Ini adalah adab Islami yang sangat dibutuhkan di tengah masyarakat yang sering kali individualis dan keras.

  6. Amal sekecil apapun akan dihisab. Ayat 16 menegaskan keadilan Allah. Ini menjadi motivasi untuk selalu berbuat baik, sekecil apapun, dan menjauhi dosa meskipun tersembunyi.

8. Penutup & Doa

Surah Luqman adalah surah yang kaya akan hikmah dan bimbingan. Ia mengajarkan tauhid, syukur, bakti kepada orang tua, kesabaran, dan akhlak mulia melalui kisah seorang hamba yang bijaksana. Kisah ini bukan hanya legenda, tetapi petunjuk nyata bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan.

Semoga Allah memberikan kita hikmah seperti yang diberikan kepada Luqman, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersyukur, sabar, dan rendah hati. Amin.

Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idh hadaytana wa hab lana min ladunka rahmah innaka Antal Wahhab. (Ali Imran:8)

والله أعلم (Wallahu a'lam)