1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah As-Sajdah adalah surah ke-32 dalam Al-Qur'an, terdiri dari 30 ayat. Para ulama sepakat bahwa surah ini termasuk kategori Makkiyah, yaitu diturunkan di Mekah sebelum hijrah. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyatakan bahwa surah ini seluruhnya Makkiyah berdasarkan ijmak ulama. Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an juga menegaskan hal yang sama. Ciri khas surah Makkiyah terlihat dari isinya yang banyak mengkritik keyakinan kaum musyrik, terutama pengingkaran terhadap hari kebangkitan, serta seruan tauhid dan kenabian.
Adapun urutan turunnya, beberapa ulama menyusun kronologi wahyu. Menurut riwayat yang dinukil oleh As-Suyuti dalam Al-Itqan, surah As-Sajdah turun setelah surah Al-Mulk (surah 67) dan sebelum surah Al-Qalam (surah 68). Namun, pendapat ini tidak mutlak; ada yang menyebutkan urutan berbeda. Yang jelas, surah ini turun pada fase pertengahan dakwah Mekah, ketika tantangan kaum Quraisy semakin keras dan Nabi Muhammad SAW menghadapi tekanan psikologis dan sosial.
Periode dakwah saat itu ditandai dengan perdebatan sengit antara Rasulullah dengan para pemimpin Quraisy. Mereka menolak ajaran tauhid, mengingkari wahyu, dan mengolok-olok gagasan kebangkitan setelah mati. Ayat-ayat awal surah secara langsung merespons tuduhan-tuduhan mereka. Ibnu Hisyam dalam As-Sirah an-Nabawiyyah menceritakan bagaimana kaum Quraisy mengutus para perunding untuk membungkam Nabi, namun Allah selalu memperkuat kedudukan beliau.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama (kalau ada)
Dalam kitab Asbab an-Nuzul karya Imam Al-Wahidi (al-Khasa'is dalam Asbab an-Nuzul), tidak ditemukan riwayat khusus yang menjadi sebab turunnya Surah As-Sajdah secara keseluruhan. Al-Wahidi hanya menyebutkan beberapa riwayat yang terkait dengan potongan ayat, misalnya ayat 10-11 tentang pertanyaan orang musyrik mengenai kebangkitan, namun itu lebih merupakan konteks umum. Demikian pula Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul tidak mencatat riwayat spesifik untuk surah ini. Beliau hanya mengutip hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan surah, bukan asbab.
Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan 'an Ta'wil ay al-Qur'an ketika menafsirkan surah ini juga tidak mengaitkannya dengan peristiwa tertentu. Beliau lebih fokus pada penjelasan ayat berdasarkan pemahaman salaf.
Namun, ada riwayat yang cukup terkenal mengenai sujud tilawah pada ayat 15. Riwayat ini terkadang dianggap sebagai bagian dari asbab, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW membaca surah ini lalu sujud dan para sahabat mengikutinya. Riwayat ini disebutkan oleh Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul pada pembahasan ayat sajdah. Sebagai contoh:
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Bahwa Rasulullah SAW sujud pada surah As-Sajdah, dan kami juga sujud bersamanya." (HR. Abu Dawud, no. 1412; Tirmidzi, no. 570; dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Riwayat ini menunjukkan bahwa ayat 15 mengajarkan sujud tilawah, namun tidak menjelaskan sebab spesifik turunnya ayat tersebut selain sebagai perintah untuk bersujud ketika mendengar ayat-ayat Allah.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Sebagaimana dijelaskan, tidak ada versi riwayat alternatif yang signifikan. Para ulama seperti Ibn Hajar dan As-Suyuti sepakat bahwa surah ini tidak memiliki sebab nuzul yang spesifik. Namun, mereka mencatat bahwa kandungan surah ini merupakan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan kaum kafir Quraisy yang sering mengajukan perkataan "a-idza dalalna fi al-ardh" (apakah bila kami telah lenyap di tanah...). Oleh karena itu, konteks umum inilah yang menjadi pemicu turunnya ayat-ayat tersebut.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menyatakan bahwa surah As-Sajdah adalah surah Makkiyah yang membahas perihal hari Kiamat dan pengingkaran orang-orang musyrik. Beliau tidak meriwayatkan adanya peristiwa khusus yang menyebabkan turunnya surah ini. Demikian pula Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil hanya mengulangi keterangan umum tanpa asbab.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa surah As-Sajdah turun sebagai bantahan terhadap kesesatan kaum musyrik dan sebagai penegasan tentang kenabian Muhammad SAW serta kepastian hari akhir. Pelajaran pentingnya, tidak semua surah memiliki asbab nuzul yang spesifik; kadang-kadang al-Qur'an turun sebagai petunjuk universal yang tidak terikat pada suatu peristiwa.
3. Konteks Historis & Sosial
Pada masa turunnya surah ini, kaum Quraisy di Mekah tengah berada pada puncak permusuhan terhadap Islam. Mereka tidak hanya menolak dakwah, tetapi juga menyiksa para pengikut Nabi secara fisik dan ekonomi. Situasi sosial politik sangat tidak menguntungkan bagi kaum muslimin. Pernyataan kaum musyrik yang diabadikan dalam ayat 10: "Apakah apabila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami akan (kembali) dalam ciptaan yang baru?" merupakan pertanyaan yang sering dilontarkan untuk mengejek dan meragukan kekuasaan Allah.
Selain itu, mereka menuduh Nabi Muhammad SAW telah mengada-ada Al-Qur'an (ayat 3). Tuduhan serupa telah disebutkan dalam surah-surah lain, dan di sini Allah membantahnya dengan tegas bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran dari Tuhan semesta alam.
Kondisi sosial-ekonomi saat itu: Bangsa Quraisy memiliki prestise sebagai penjaga Ka'bah dan pusat perdagangan. Mereka enggan melepaskan kepercayaan nenek moyang yang telah memberi mereka keuntungan materi dan status. Oleh karena itu, seruan tauhid yang dibawa Nabi dianggap ancaman terhadap kedudukan mereka.
Surah ini juga menyentuh aspek penciptaan manusia dan alam semesta (ayat 4-7) untuk menggiring mereka menggunakan akal. Dengan menunjukkan bukti-bukti kekuasaan Allah, diharapkan mereka mau merenungkan dan akhirnya beriman.
Ejekan dan pengingkaran tersebut mendorong turunnya ayat-ayat yang memperingatkan tentang malaikat maut dan kebangkitan (ayat 11-14). Dalam ayat 11, Allah memerintahkan Nabi untuk menjawab bahwa malaikat maut yang ditugaskan akan mencabut nyawa mereka, dan kemudian mereka akan kembali kepada Tuhan. Ini adalah bentuk kepastian yang tidak bisa dielakkan.
4. Tema Sentral Surah
Tema utama Surah As-Sajdah adalah:
- Kemuliaan dan kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Allah.
- Tauhid rububiyah dan uluhiyah, khususnya kekuasaan Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam.
- Hari kebangkitan dan perhitungan amal.
- Sikap orang beriman yang tunduk, sujud, dan bertasbih saat diperingatkan dengan ayat-ayat Allah.
Imam As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa surah ini dibuka dengan penegasan tentang Al-Qur'an, lalu diikuti dengan bukti kekuasaan Allah melalui penciptaan, kemudian peringatan tentang akhirat, dan diakhiri dengan ciri-ciri mukmin sejati. Semua ini saling terkait untuk mengokohkan iman dan mengingatkan akan tanggung jawab manusia.
Munasabah (korelasi) dengan surah sebelumnya, Luqman, dan surah sesudahnya, Al-Ahzab, juga penting. Surah Luqman berbicara tentang hikmah dan tauhid, sedangkan As-Sajdah lebih fokus pada hari akhir. Kemudian surah Al-Ahzab membahas perjuangan dan ujian. Dengan demikian, terdapat alur tematik yang berkesinambungan.
Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya mengemukakan bahwa ayat 1-3 adalah bantahan terhadap kaum musyrik yang meragukan asal-usul Al-Qur'an. Ayat 4-9 menguraikan bukti-bukti kekuasaan Allah, sementara ayat 10-14 menekankan kepastian hari Kiamat. Ayat 15 adalah puncak dari keimanan berupa sikap sujud dan merendah diri.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Surah As-Sajdah memiliki beberapa keutamaan yang diriwayatkan dalam hadits shahih:
Dibaca sebelum tidur: Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah tidur hingga membaca Surah As-Sajdah dan Surah Al-Mulk. (HR. Abu Dawud, no. 1398; Tirmidzi, no. 2892; dishahihkan oleh Al-Albani). Ini menunjukkan anjuran untuk mengakhirkan malam dengan membaca kedua surah tersebut.
Sujud tilawah: Dalam Sahih Bukhari (no. 1066) disebutkan bahwa Rasulullah SAW sujud ketika membaca Al-Qur'an, termasuk surah yang mengandung ayat sajdah. Ibnu Umar RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW sujud pada surah As-Sajdah. (HR. Muslim, no. 1315). Hal ini menegaskan bahwa ayat 15 termasuk ayat sajdah yang disyariatkan sujud tilawah.
Keutamaan umum: Membaca surah ini termasuk bagian dari Al-Qur'an yang penuh berkah. Dalam hadits, "Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi pembacanya." (HR. Muslim, no. 804).
Tidak ada riwayat shahih yang menyebutkan keutamaan khusus selain di atas. Maka kita bisa menyebutkan bahwa membaca dan mengamalkan surah ini memberikan pahala dan menguatkan iman.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para sahabat dan tabi'in memberikan perhatian besar pada surah ini. Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa maksud "al-samawati wa al-ardha" adalah seluruh alam semesta. Mujahid bin Jabr menafsirkan "sittati ayyam" sebagai enam periode yang hanya Allah yang tahu hakikatnya. Qatadah menekankan bahwa sujud pada ayat 15 adalah tanda keimanan.
Perbedaan pendapat muncul pada penafsiran ayat 4 "thumma istawa 'ala al-'arsy". Ulama salaf seperti Imam Malik dan Ahmad menetapkan makna istiwa' tanpa membagaimanakan (bila kayfa). Sedangkan ulama khalaf seperti As-Sa'di menjelaskan bahwa istiwa' Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tidak menyerupai makhluk.
Imam At-Tabari mengumpulkan berbagai riwayat dan memilih pendapat yang mendekati makna bahasa tanpa keluar dari akidah salaf. Beliau juga menekankan bahwa penciptaan langit dan bumi dalam enam hari bukan berarti Allah membutuhkan waktu, tetapi sebagai pengajaran bagi manusia tentang keagungan kuasa-Nya.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya membahas panjang lebar tentang ayat sajdah dan hukum sujud tilawah. Beliau mengutip perbedaan ulama tentang kewajiban sujud tilawah, namun kesimpulannya bahwa sujud tersebut adalah sunnah muakkad.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Kepastian hari kiamat: Keyakinan ini mendorong kita untuk mempersiapkan bekal terbaik berupa amal saleh. Dalam kehidupan modern yang cenderung materialistis, kita perlu sering mengingat akhirat agar tidak terlena.
Kekuasaan Allah: Merenungkan penciptaan langit dan bumi serta manusia membuat kita semakin khusyuk dan bersyukur. Ilmu pengetahuan modern justru semakin menunjukkan kompleksitas alam yang menakjubkan, semakin menguatkan iman.
Sikap tawadhu': Ayat 15 mengajarkan untuk tidak sombong, apalagi ketika mendengar ayat-ayat Allah. Sujud tilawah adalah bentuk ketundukan. Di era yang memuja ego dan kemandirian, sikap rendah hati di hadapan Tuhan adalah penawar.
Membaca Al-Qur'an sebagai rutinitas: Seperti yang dicontohkan Nabi, membaca surah Al-Mulk dan As-Sajdah sebelum tidur dapat menjadi sarana perlindungan. Ini mengajarkan kita untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan harian, bukan hanya pada momen tertentu.
Menghindari syirik dan kesombongan: Ayat-ayat yang menolak syirik mengingatkan kita untuk menjaga tauhid. Dalam konteks modern, syirik bisa berupa ketergantungan berlebihan pada materi, orang lain, atau hawa nafsu.
Pelajaran-pelajaran ini sangat relevan di era modern yang penuh dengan kesibukan dan godaan. Mengingat hari akhir menguatkan orientasi ukhrawi dalam setiap aktivitas.
8. Penutup & Doa
Surah As-Sajdah merupakan surah yang sarat dengan pesan akidah dan ibadah. Melalui penjelasan di atas, kita memahami bahwa surah ini turun untuk menegakkan hujjah atas kaum musyrik sekaligus menguatkan hati kaum mukminin. Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah dan tidak menyombongkan diri.
Doa: Allahumma faqqihna fi ad-din, wa 'allimna at-ta'wil. Allahumma ijalna min alladhina idha dhukkiru bi ayatika kharru sujjadan wa sabbahu bihamdika. (Ya Allah, berilah kami pemahaman dalam agama, dan ajarkan kami takwil Al-Qur'an. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat-Mu, mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji-Mu.)
والله أعلم (Wallahu a'lam).