Asbab an-Nuzul Surah Fatir (Pencipta) - Makkiyah
1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Fatir, atau yang juga dikenal dengan nama Surah Al-Mala'ikah, adalah surah Makkiyah berdasarkan ijma' (konsensus) para ulama. Imam Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim (jilid 6, halaman 541) menyatakan, "Surah Fatir termasuk surah-surah Makkiyah." Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (jilid 10, halaman 1) juga menegaskan hal yang sama. Demikian pula Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil dan Syaikh As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman (halaman 769) mengklasifikasikannya sebagai Makkiyah.
Nama "Fatir" diambil dari kata فاطر (al-Fatir) pada ayat pertama yang berarti 'Pencipta' atau 'Pengada'. Surah ini juga disebut 'Al-Mala'ikah' karena penyebutan para malaikat di awal surah.
Dalam urutan turunnya, sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat, Surah Fatir diperkirakan turun setelah Surah Al-Furqan dan sebelum Surah Maryam. Ini termasuk periode Mekah pertengahan, ketika dakwah Nabi Muhammad saw telah menyebar namun mendapat perlawanan sengit dari kaum Quraisy. Tekanan dan penganiayaan terhadap kaum muslimin semakin meningkat, seperti boikot ekonomi dan sosial terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Beberapa peristiwa penting terjadi di era ini, seperti tahun duka cita (kematian Khadijah dan Abu Thalib) dan perjalanan ke Thaif.
Surah ini turun untuk menguatkan hati Nabi saw dan orang-orang beriman, menegaskan keesaan Allah melalui tanda-tanda alam, memperingatkan tentang tipu daya setan, dan menjelaskan hakikat kehidupan dunia serta kepastian hari kebangkitan.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Para ulama seperti Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul dan As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul tidak mencatat riwayat sebab turun yang khusus untuk seluruh surah Fatir. Namun, untuk beberapa ayat terdapat riwayat yang menjelaskan konteks turunnya.
Ayat 8: "Afaman zuyyina lahu su'u 'amalihi..." (QS. Fatir: 8)
Al-Wahidi meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang musyrik yang memandang baik perbuatan syirik dan kemaksiatan mereka. Ibn Abbas berkata: "Ayat ini turun tentang orang-orang kafir; mereka menganggap baik perbuatan buruk mereka." (Al-Wahidi, Asbab an-Nuzul, hal. 268). Riwayat ini juga dibawakan oleh As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul (2/217) dari jalur Ibn Abi Hatim dari Mujahid, dengan redaksi: "Ayat ini turun tentang orang-orang yang menyekutukan Allah, mereka melihat perbuatan mereka sebagai kebaikan."
At-Tabari dalam Jami' al-Bayan (20/250) menafsirkan ayat ini dengan menjelaskan bahwa orang-orang musyrik telah dihiasi setan perbuatan jelek mereka sehingga mereka menganggapnya baik. Ia juga meriwayatkan dari Qatadah bahwa ayat ini umum bagi setiap orang yang memandang baik perbuatan buruknya.
Ayat 10: "Man kana yurid al-'izzata fa lillahi al-'izzata jami'a..." (QS. Fatir: 10)
Al-Wahidi membawakan riwayat bahwa orang-orang Quraisy membanggakan kemuliaan mereka di hadapan Rasulullah saw, sehingga turun ayat ini untuk menegaskan bahwa kemuliaan sejati hanya milik Allah. (Al-Wahidi, Asbab an-Nuzul, hal. 269). As-Suyuti menambahkan riwayat dari Ibn Mundzir dari Qatadah bahwa ayat ini berbicara tentang kemuliaan yang dicari manusia, dan Allah memerintahkan mereka untuk mencari kemuliaan dengan ketaatan kepada-Nya. (As-Suyuti, Lubab an-Nuqul, 2/218).
Ayat 11: Tentang penciptaan manusia, tidak ada riwayat khusus. Ibn Kathir menyatakan bahwa ayat ini menjelaskan proses penciptaan manusia dari tanah, kemudian nuthfah, dan seterusnya, sebagai bukti kekuasaan Allah. (Ibn Kathir, Tafsir al-Qur'an al-'Azim, 6/543).
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Untuk ayat 8, terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa ayat ini turun tentang Al-Walid bin al-Mughirah atau Abu Jahl. Namun, pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ayat ini bersifat umum, mencakup setiap orang yang terperdaya oleh setan. Syekh As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman (hlm. 770) menafsirkan bahwa redaksi ayat berbentuk istifham inkari (pertanyaan retoris) untuk menafikan kesamaan antara orang yang diberi petunjuk dan orang yang dibiarkan dalam kesesatan.
Adapun riwayat untuk ayat 10 dinilai hasan oleh sebagian ulama, meskipun tidak mencapai derajat shahih.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Untuk mayoritas ayat dalam surah Fatir, para mufassir tidak mencatat riwayat asbab an-nuzul yang spesifik. Ini menunjukkan bahwa surah ini turun sebagai satu kesatuan tematik yang bertujuan untuk menegaskan keimanan kepada Allah, kerasulan, dan hari akhir, serta membantah syubhat kaum musyrikin. Imam Ibn Kathir dan yang lainnya menyebut bahwa surah ini termasuk surah Makkiyah yang berbicara tentang pokok-pokok akidah.
3. Konteks Historis & Sosial
Surah Fatir turun di tengah situasi kota Mekah yang penuh tantangan bagi dakwah Islam. Kaum Quraisy, yang mayoritas penyembah berhala, menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Mereka mempertahankan tradisi nenek moyang dan menentang gagasan kehidupan setelah mati. Surah ini merespons penolakan tersebut dengan argumentasi yang kuat melalui tanda-tanda alam dan kisah umat terdahulu.
Pada periode ini, beberapa peristiwa penting seperti Isrā' dan Mi'rāj belum terjadi (peristiwa itu terjadi di akhir periode Mekah). Namun, tekanan fisik dan psikis terhadap kaum muslimin sudah sangat berat. Surah Fatir hadir sebagai pengingat akan kekuasaan Allah yang mutlak, perlunya bersabar, dan bahwa akhirat adalah tempat kembali yang kekal.
Kondisi sosial-ekonomi: Quraisy sangat bangga dengan kekayaan dan status mereka. Mereka menganggap diri mereka mulia dan lebih unggul dari pengikut Nabi. Ayat 10 menegaskan bahwa kemuliaan hakiki hanya di sisi Allah, bukan berdasarkan keturunan atau harta.
4. Tema Sentral Surah
Surah Fatir mengandung beberapa tema sentral yang saling terkait:
Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah: Ayat 1-3 menjelaskan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, Pemberi rezeki, dan satu-satunya yang berhak disembah. Ibn Kathir menekankan bahwa pujian hanya layak bagi Allah yang menciptakan malaikat dengan berbagai sayap.
Hari Kebangkitan: Ayat 9 mengumpamakan kebangkitan manusia dengan proses menghidupkan bumi yang mati melalui hujan. At-Tabari menjelaskan bahwa perumpamaan ini sangat jelas bagi akal yang sehat.
Bahaya Tipu Daya Setan: Ayat 5-6 memperingatkan manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia dan tipu daya setan. As-Sa'di menafsirkan bahwa setan adalah musuh nyata yang mengajak kepada neraka.
Keadaan Orang Kafir dan Mukmin: Ayat 7 dan 8 mengkontraskan nasib orang kafir yang mendapat azab keras dengan orang mukmin yang mendapat ampunan dan pahala besar.
Kemuliaan Hanya Milik Allah: Ayat 10 menegaskan bahwa siapa yang menghendaki kemuliaan, hendaknya mencari kepada Allah, karena kemuliaan sejati hanya di sisi-Nya.
Kekuasaan Allah atas Kehidupan: Ayat 11 menunjukkan bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah dan air mani, dan semua proses kehidupan terjadi atas izin-Nya.
Munasabah dengan surah sebelumnya: Surah Fatir (35) turun setelah Surah Saba' (34) yang juga berbicara tentang tauhid dan hari akhir. Keduanya saling melengkapi dalam menjelaskan kekuasaan Allah dan kelemahan manusia.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Setelah meneliti kitab-kitab hadits utama, tidak ditemukan riwayat shahih yang khusus menyebutkan keutamaan membaca Surah Fatir secara spesifik. Hadits-hadits yang menyebutkan pahala khusus untuk surah-surah tertentu perlu diverifikasi dengan hati-hati. Imam Al-Qurthubi dan Ibn Kathir tidak menukilkan hadits keutamaan khusus untuk surah ini. Namun, keutamaan membaca Al-Qur'an secara umum mencakup surah ini. Nabi saw bersabda, "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat." (HR. Tirmidzi, no. 2910, hasan shahih).
Terdapat riwayat bahwa Nabi saw membaca surah-surah Makkiyah termasuk Fatir dalam shalatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang shalat malam. Aisyah radhiyallahu 'anha meriwayatkan bahwa Nabi saw membaca surah-surah dari Al-Mufassal dalam shalat witir. (HR. Bukhari, no. 998). Meskipun tidak spesifik menyebut Fatir, hal ini menunjukkan bahwa surah ini termasuk dalam bacaan beliau.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Para ulama tafsir memberikan perhatian besar terhadap surah ini. Berikut kutipan dari beberapa mufassir:
At-Tabari (w. 310 H) dalam Jami' al-Bayan (20/245-260) menafsirkan setiap ayat dengan riwayat dari sahabat dan tabi'in. Pada ayat 1, ia meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa "Fatir" berarti pencipta yang tidak ada contoh sebelumnya. Tentang sayap malaikat, ia meriwayatkan dari Mujahid bahwa malaikat Jibril terkadang menampakkan diri dengan enam ratus sayap.
Ibn Kathir (w. 774 H) dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim (6/541-555) menjelaskan panjang lebar tentang keesaan Allah dan kekuasaan-Nya. Di ayat 9, ia mengaitkan kebangkitan dengan proses alam yang dapat disaksikan.
Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an (10/1-30) memberikan pendapat hukum dan akidah. Pada ayat 10, ia menjelaskan bahwa amal saleh diangkat oleh Allah, sedangkan perkataan baik adalah kalimat tauhid dan zikir.
As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Taysir al-Karim ar-Rahman (hlm. 769-775) memberikan tafsir yang mudah dipahami. Pada ayat 8, ia menjelaskan makna "zuwwina" yaitu perbuatan buruk dihiasi sehingga tampak baik, sebagai bentuk ujian dan keadilan Allah.
Pendapat sahabat dan tabi'in: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dikenal sebagai penerjemah Al-Qur'an. Ia memberikan tafsir ayat 1 bahwa "Fatir" adalah al-Khaliq (Pencipta). Mujahid bin Jabr menjelaskan bahwa setiap malaikat memiliki sayap yang banyak, dan yang terbesar adalah Jibril dengan 600 sayap. Qatadah as-Sudus menafsirkan ayat 9 bahwa kebangkitan adalah haq dan pasti terjadi, sebagaimana bumi hidup setelah hujan.
Perbedaan pendapat: Terdapat perbedaan ulama tentang makna "sayap" malaikat, apakah itu fisik atau kekuatan. Mayoritas ulama salaf menetapkan bahwa itu adalah sayap yang hakiki sesuai dengan keagungan Allah, tanpa menta'wil.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Dari surah Fatir, kita dapat mengambil beberapa pelajaran berharga:
Kesadaran akan Kekuasaan Allah: Tidak ada yang terjadi tanpa izin Allah. Baik rahmat maupun cobaan datang dari-Nya. Sebagai hamba, kita harus selalu bergantung kepada-Nya dan bersyukur atas nikmat-Nya.
Jangan Tertipu oleh Dunia: Ayat 5 mengingatkan bahwa janji Allah adalah benar. Kehidupan dunia hanyalah permainan dan tipuan. Setan selalu berusaha menjerumuskan manusia. Kita harus waspada dan tidak terpedaya oleh gemerlap dunia yang fana.
Mencari Kemuliaan Hanya kepada Allah: Kemuliaan yang hakiki bukan diukur dari harta, keturunan, atau jabatan, melainkan dari ketaatan kepada Allah. Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan beramal saleh.
Mawas Diri terhadap Perbuatan Buruk yang Dihiasi: Setan dapat membuat perbuatan buruk tampak indah sehingga manusia menganggap baik. Hendaknya kita selalu bermuhasabah dan memohon petunjuk Allah agar tidak terjerumus.
Perspektif Akhirat: Perumpamaan kebangkitan dalam ayat 9 mengajarkan bahwa kehidupan setelah mati adalah pasti. Maka, kita harus mempersiapkan bekal amal saleh untuk kehidupan kekal di akhirat.
Pelajaran-pelajaran ini relevan bagi pembaca modern yang sering terlena dengan kesibukan dunia, materialisme, dan pengaruh media yang menipu. Surah Fatir mengajak kita untuk kembali kepada fitrah menauhidkan Allah dan mengutamakan kehidupan akherat.
8. Penutup & Doa
Surah Fatir adalah salah satu surah Makkiyah yang sarat dengan pesan tauhid, pengingat akan hari akhir, dan peringatan terhadap tipu daya setan. Melalui asbab an-nuzul yang terbatas, kita memahami bahwa surah ini turun untuk mengokohkan keyakinan kaum muslimin yang saat itu tertindas. Konteks historisnya mengajarkan kesabaran dan keteguhan di tengah kesulitan.
Semoga Allah memberikan kita pemahaman yang mendalam terhadap al-Qur'an dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang merenungkan serta mengamalkan ajarannya. Allahumma faqqihna fi ad-din wa 'allimna at-ta'wil.
Wallahu a'lam.
Disusun dengan merujuk pada sumber-sumber utama: Asbab an-Nuzul karya Al-Wahidi, Lubab an-Nuqul karya As-Suyuti, Tafsir al-Qur'an al-'Azim karya Ibn Kathir, Jami' al-Bayan karya At-Tabari, Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an karya Al-Qurthubi, Ma'alim at-Tanzil karya Al-Baghawi, Taysir al-Karim ar-Rahman karya As-Sa'di, serta kitab-kitab hadits utama.