1. Pengantar dan Tempat Turun
Surah Az-Zumar adalah surah Makkiyah berdasarkan kesepakatan ulama. Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul dan Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul mengklasifikasikannya sebagai surah yang turun di Mekah. Urutan turunnya surah ini menurut beberapa riwayat adalah setelah Surah Saba' dan sebelum Surah Al-Mu'min (Ghafir). Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyebutkan bahwa surah ini turun pada periode Mekah pertengahan hingga akhir, ketika dakwah Nabi ﷺ telah menyebar namun tekanan dari Quraisy semakin keras. Pada masa itu, banyak sahabat yang mengalami penyiksaan, dan beberapa di antaranya berhijrah ke Habsyah. Surah ini turun untuk memperkuat akidah tauhid dan membantah syirik yang merajalela.
Menurut penelitian Muhammad Baqir al-Hakim dalam 'Ulum al-Qur'an, surah ini termasuk dalam kelompok surah yang diawali dengan huruf tahajji (seperti alif lam mim) atau langsung dengan pujian. Imam al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menegaskan bahwa semua ayat dalam surah ini adalah Makkiyah, kecuali pendapat minor yang mengatakan ayat 52 adalah Madaniyah, namun itu tidak memengaruhi tiga ayat pertama. Dalam naskah mushaf yang ada, surah Az-Zumar terdiri dari 75 ayat, dan bagian awal (1-9) adalah fondasi tauhid.
2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul
2.1 Riwayat Utama
Para ulama seperti Imam Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul, Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul, serta Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya tidak menyebutkan riwayat khusus yang menjadi sebab turunnya ayat-ayat pertama Surah Az-Zumar (ayat 1-9). Namun, terdapat riwayat umum yang berkaitan dengan konteks turunnya ayat-ayat tentang tauhid dan bantahan terhadap syirik.
Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu tentang ayat ke-3: "Mereka (orang musyrik) berkata: 'Kami tidak menyembah berhala-berhala ini kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.'" Hal ini menunjukkan bahwa ayat tersebut turun sebagai jawaban atas keyakinan kaum musyrikin Mekah yang menganggap berhala sebagai perantara. Riwayat ini juga disebutkan oleh Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an dengan sanad yang hasan.
Imam As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul menambahkan bahwa ayat ke-4 turun untuk membantah klaim orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, terutama anggapan mereka bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah. Ini berdasarkan riwayat dari Mujahid dan Qatadah. Imam Ibn Kathir juga menguatkan hal ini dengan menukil perkataan para mufasir.
2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama
Terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa ayat ke-8 turun berkaitan dengan salah seorang musyrik yang bernama Al-Akhnas bin Syuraiq. Ketika ia ditimpa kesulitan, ia berdoa kepada Allah, namun setelah mendapatkan nikmat, ia kembali kepada kesyirikan. Riwayat ini disebutkan oleh Ibn Abi Hatim dengan sanad yang dha'if. Namun, Imam adh-Dhahhak dan al-Hasan al-Bashri berpendapat bahwa ayat ini bersifat umum, mencakup setiap manusia yang memiliki sifat demikian. Pendapat ini lebih kuat karena ayat menggunakan lafaz umum al-insan (manusia).
Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ke-9 turun untuk membedakan antara orang mukmin yang tekun beribadah dan orang kafir yang sombong. Beliau mengutip perkataan para ulama salaf bahwa maksud "orang yang mengetahui" adalah orang yang mengetahui Allah dan perintah-Nya, sedangkan "orang yang tidak mengetahui" adalah orang yang jahil tentang hal tersebut.
2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus
Karena tidak ada riwayat khusus yang shahih untuk setiap ayat, kita perlu merujuk pada konteks umum dakwah di Mekah. Surah Az-Zumar turun di tengah-tengah perdebatan sengit antara Nabi ﷺ dan para pemuka Quraisy tentang tauhid dan syirik. Dalam sirah Ibn Hisham disebutkan bahwa kaum musyrikin sering mengutus delegasi untuk berdebat dengan Nabi ﷺ, dan salah satu argumen mereka adalah perlunya perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ayat-ayat awal surah ini adalah respons langsung terhadap keyakinan tersebut. Selain itu, tradisi penyembahan berhala yang sudah mengakar di kalangan Quraisy menjadi latar belakang turunnya ayat-ayat yang menekankan ikhlas dalam beribadah.
3. Konteks Historis & Sosial
Pada periode turunnya surah ini, Mekah berada dalam masa transisi. Dakwah Nabi ﷺ telah memasuki tahun keenam atau ketujuh kenabian. Sebagian sahabat telah berhijrah ke Habsyah, dan tekanan Quraisy terhadap kaum muslimin semakin meningkat. Kaum musyrikin tidak hanya menyiksa secara fisik, tetapi juga melakukan embargo ekonomi dan sosial terhadap Bani Hasyim dan Bani Muththalib. Dalam situasi ini, Allah menurunkan surah yang menegaskan bahwa hanya Dialah yang berhak disembah, dan bahwa syirik adalah kezaliman yang besar.
Secara sosial, masyarakat Mekah sangat terikat pada tradisi nenek moyang. Mereka menganggap berhala sebagai tuhan dan sering mengklaim bahwa berhala-berhala itu dapat memberikan syafaat. Mereka juga meyakini bahwa Allah memiliki anak, terutama anak perempuan, yang mereka anggap sebagai malaikat. Ayat ke-4 membantah hal ini dengan tegas. Kondisi ekonomi saat itu didominasi oleh para pedagang kaya seperti Abu Sufyan, Abu Jahal, dan lainnya yang enggan meninggalkan agama warisan karena khawatir kehilangan status sosial.
4. Tema Sentral Surah (ayat 1-9)
Tema utama dari ayat-ayat pertama Surah Az-Zumar adalah tauhid dan ikhlas dalam beribadah. Ayat pertama menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Penggunaan nama Al-Aziz (Maha Perkasa) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana) pada awal surah ini menunjukkan bahwa wahyu ini berasal dari Zat yang tidak terkalahkan dan segala perbuatan-Nya penuh hikmah.
Ayat kedua memerintahkan untuk menyembah Allah dengan ikhlas. Ibn Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ikhlas adalah memurnikan niat hanya untuk Allah, dan ini merupakan syarat diterimanya amal. Beliau mengutip firman Allah: "Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya" (ayat 2). Syaikh As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menambahkan bahwa agama yang bersih adalah yang bebas dari syirik, baik yang nyata maupun tersembunyi.
Ayat ke-3 dan ke-8 menyoroti praktik syirik kaum musyrikin. At-Tabari meriwayatkan bahwa ketika ditanya mengapa mereka menyembah berhala, mereka menjawab, "Kami menyembah mereka agar mereka mendekatkan kami kepada Allah." Allah membantah alasan ini dengan mengatakan bahwa agama yang bersih hanyalah milik-Nya. Ayat ke-4 membantah klaim bahwa Allah mempunyai anak. Allah menegaskan bahwa jika Dia menghendaki anak, Dia akan memilih dari makhluk ciptaan-Nya, tetapi Dia Maha Suci dari hal itu. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini turun untuk membantah kaum musyrikin Quraisy yang mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah.
Ayat ke-5 dan ke-6 memaparkan bukti-bukti kekuasaan Allah dalam ciptaan. Penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, serta penundukan matahari dan bulan adalah tanda-tanda keesaan-Nya. Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menjelaskan bahwa kata yukawwiru berarti menggulung atau menutupkan, menunjukkan bahwa Allah mengganti siang dan malam secara sempurna. Ayat ke-6 juga menjelaskan penciptaan manusia dari jiwa yang satu (Adam) dan penciptaan pasangan serta binatang ternak. Ketiga ayat ini memperkuat tauhid rububiyyah, bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur alam semesta.
Ayat ke-7 mengajarkan bahwa Allah tidak memerlukan makhluk-Nya dan tidak meridhai kekufuran. Ibn Kathir menafsirkan bahwa Allah meridhai kesyukuran hamba-Nya, dan bahwa setiap orang akan memikul dosanya sendiri. Ayat ke-8 menggambarkan sifat manusia yang mudah lupa: ketika ditimpa bahaya, ia berdoa kepada Allah, tetapi setelah mendapat nikmat, ia lupa dan kembali kepada syirik. As-Sa'di berkomentar bahwa ini adalah sifat kebanyakan manusia kecuali orang-orang yang mendapat petunjuk.
Ayat ke-9 adalah klimaks yang membandingkan antara orang yang tekun beribadah di malam hari dengan orang yang lalai. Allah berfirman: "Katakanlah, 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'" At-Tabari menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan 'mengetahui' adalah mengetahui Allah dan hak-hak-Nya, serta mengetahui pahala dan siksa. Imam Al-Qurthubi menegaskan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa ulama memiliki keutamaan yang besar.
5. Keutamaan & Hadits Terkait
Terdapat beberapa hadits yang menyebutkan keutamaan Surah Az-Zumar. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa membaca surah Az-Zumar, maka Allah akan memberinya pahala yang banyak dan akan memudahkan baginya hisab." Akan tetapi, hadits ini memiliki sanad yang lemah. Imam al-Albani dalam Silsilah adh-Dha'ifah menilai hadits ini munkar. Oleh karena itu, kita tidak dapat memastikan keutamaannya secara spesifik.
Hadits yang lebih shahih adalah keutamaan membaca Al-Qur'an secara umum. Dalam Shahih Muslim (no. 804) dari Abu Umamah al-Bahili, Rasulullah ﷺ bersabda: "Bacalah Al-Qur'an, sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya pada hari Kiamat." Juga hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah bersabda: "Orang yang mahir membaca Al-Qur'an akan bersama para malaikat yang mulia dan patuh." (HR. Bukhari no. 4937, Muslim no. 798).
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah sambil membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan ketenangan akan turun atas mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang dekat dengan-Nya." (HR. Muslim no. 2699). Dengan demikian, membaca Surah Az-Zumar termasuk dalam keutamaan umum ini.
6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf
Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan ayat ke-3: "Orang-orang musyrik berkata, 'Kami tidak menyembah berhala-berhala ini kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.'" (Riwayat At-Tabari). Beliau juga menafsirkan ayat ke-4: "Mereka berkata bahwa malaikat adalah anak-anak Allah, maka Allah menurunkan ayat ini." (Riwayat Ibn Abi Hatim).
Mujahid bin Jabr, salah seorang tabi'in senior, berkata tentang ayat ke-4: "Orang-orang musyrik berkata, 'Sesungguhnya malaikat adalah anak-anak Allah, dan kami menyembah mereka.' Maka Allah menurunkan ayat ini." (Riwayat At-Tabari).
Qatadah bin Di'amah rahimahullah menafsirkan ayat ke-7: "Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya, tetapi Dia meridhai mereka untuk bersyukur dan beriman." Beliau juga berkata, "Seseorang tidak akan memikul dosa orang lain, dan setiap jiwa akan dihisab sesuai amalnya sendiri." (Riwayat Ibn Jarir).
Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menjelaskan bahwa ayat ke-9 menunjukkan keutamaan orang berilmu di atas orang bodoh. Beliau menyebutkan bahwa para ulama salaf sangat bersemangat untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya. Imam as-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman mengatakan bahwa "Ulul albab" adalah orang-orang yang memiliki akal sehat dan menggunakan akalnya untuk memahami tanda-tanda Allah.
Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim at-Tanzil menekankan bahwa kata qanit dalam ayat ke-9 berarti orang yang taat dan khusyuk dalam ibadah. Ini adalah sifat orang mukmin yang sejati.
7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini
Ikhlas dalam beribadah: Segala amal harus dilakukan semata-mata karena Allah. Ini adalah inti dari ayat ke-2 dan ke-3. Dalam kehidupan modern, godaan riya' sangat besar melalui media sosial. Seorang muslim harus selalu meluruskan niatnya.
Menjauhi syirik: Baik syirik besar maupun kecil. Syirik besar seperti berdoa kepada selain Allah, sedangkan syirik kecil seperti riya' atau bersumpah dengan nama selain Allah. Ayat ke-3 mengingatkan bahwa keyakinan kepada perantara adalah bentuk syirik.
Mengingat Allah dalam kesulitan dan dalam kemudahan: Ayat ke-8 menunjukkan sifat manusia yang mudah lupa. Ketika mendapat masalah, ia ingat Allah, tetapi setelah selamat, ia lalai. Pelajaran ini sangat relevan agar kita selalu bersyukur dan tidak sombong.
Menuntut ilmu: Ayat ke-9 menegaskan bahwa orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui tidaklah sama. Ini mendorong kita untuk terus belajar agama, memahami Al-Qur'an dan hadits, serta mengamalkannya.
Beribadah di malam hari: Ayat ke-9 menyebutkan keutamaan shalat malam (qiyamul lail). Di tengah kesibukan dunia, meluangkan waktu untuk tahajud adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah dan memohon ampunan.
Pelajaran-pelajaran ini berakar pada tafsir para ulama dan dapat diamalkan oleh setiap muslim. Imam Ibn Kathir dalam tafsirnya menekankan bahwa ayat-ayat ini adalah peringatan bagi manusia agar tidak terpedaya oleh dunia dan selalu kembali kepada Allah.
8. Penutup & Doa
Surah Az-Zumar ayat 1-9 memberikan pondasi akidah yang kuat bagi seorang muslim. Dengan memahami asbab an-nuzul dan tafsirnya, kita dapat mengambil pelajaran tentang tauhid, ikhlas, pentingnya ilmu, dan bahaya syirik. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang ikhlas dan berilmu, serta dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan.
Allahumma faqqihna fi d-dini wa 'allimna at-ta'wila, wa arina al-haqqa haqqan warzuqna ittiba'ah, wa arina al-batila batilan warzuqna ijtinabah. (Ya Allah, berilah kami pemahaman dalam agama dan ajarkanlah kepada kami takwil Al-Qur'an, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu benar dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan itu batil dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya). Wallahu a'lam bish-shawab.