حٰمۤ ۚ
Ḥā mīm.
ḤāMīm.
Perintah berbuat baik kepada orangtua; kisah kaum 'Ad; Jin yang mendengar dan beriman.
Surah Al-Ahqaf secara sentral berfokus pada penegasan tauhid dan kenabian Muhammad, menantang para penentang dengan bukti-bukti kekuasaan Allah dalam penciptaan alam semesta dan peringatan tentang azab bagi kaum musyrik. Ia juga mengisahkan tentang kaum ‘Ad dan bagaimana mereka menolak kebenaran, serta mendorong kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi penolakan.
Menegaskan kebenaran wahyu Al-Quran, pentingnya berbakti kepada orang tua, dan peringatan tentang hari pembalasan.
Surah Al-Ahqaf berpusat pada penegasan bahwa Al-Quran adalah wahyu yang hak dari Allah, Tuhan semesta alam. Surah ini membantah keraguan kaum musyrikin terhadap risalah kenabian dan hari kebangkitan, serta mengingatkan mereka akan nasib kaum 'Ad di bukit pasir (Al-Ahqaf) yang hancur karena kesombongan mereka.
Selain itu, surah ini menyoroti fase kehidupan manusia, dari kelemahan saat lahir hingga kematangan usia empat puluh tahun. Terdapat pesan mendalam tentang kewajiban berbakti kepada orang tua, mensyukuri nikmat Allah, dan pentingnya kesabaran para rasul Ulul Azmi dalam menghadapi penolakan kaumnya.
Surah ini diturunkan di Makkah saat penolakan kaum Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad mencapai puncaknya. Allah menurunkan surah ini untuk menghibur dan menguatkan hati Nabi, sekaligus memberi peringatan keras kepada kaum musyrikin. Kisah kaum 'Ad dan sekelompok jin yang mendengarkan Al-Quran menjadi bukti bahwa kebenaran akan tetap tersebar meski dihalangi.
Surah Al-Ahqaf melanjutkan tema Surah Al-Jasiyah tentang keesaan Allah dan kebenaran Al-Quran. Jika Al-Jasiyah diakhiri dengan ancaman bagi mereka yang menyombongkan diri, Al-Ahqaf memberikan contoh nyata kehancuran kaum 'Ad akibat kesombongan tersebut. Selanjutnya, surah ini menjadi pengantar bagi Surah Muhammad yang membahas perjuangan fisik dan ketegasan dalam membela agama Allah setelah kesabaran di fase Makkah.
Situasi Merasa lelah merawat orang tua yang sudah renta dan sakit-sakitan.
Pesan surah Surah ini mengingatkan beratnya pengorbanan ibu saat mengandung dan menyusui kita dahulu.
Langkah kecil Doakan ampunan untuk orang tua setelah salat dan hubungi mereka sekadar menanyakan kabar.
Situasi Memasuki usia paruh baya namun merasa belum banyak mencapai prestasi duniawi.
Pesan surah Usia empat puluh adalah momen kematangan spiritual untuk fokus pada syukur dan amal saleh, bukan sekadar dunia.
Langkah kecil Baca doa mensyukuri nikmat seperti di ayat 15 dan niatkan sisa usia untuk kebaikan keluarga.
Situasi Menghadapi penolakan atau cibiran saat mencoba berhijrah dan memperbaiki diri.
Pesan surah Kesabaran para rasul Ulul Azmi adalah teladan tertinggi dalam menghadapi rintangan dakwah dan kebaikan.
Langkah kecil Tahan diri dari membalas cibiran, tarik napas panjang, dan doakan kebaikan bagi orang tersebut.
Surah ini mengajarkan pentingnya menyadari nikmat Allah seiring bertambahnya usia, serta tanggung jawab untuk beramal saleh dan mendidik keturunan.
Cara praktis Hafalkan dan rutinkan membaca doa dari ayat 15 Surah Al-Ahqaf setiap selesai salat fardu.
Hari ini, peluk atau hubungi orang tua Anda, ucapkan terima kasih atas pengorbanan mereka, dan doakan kebaikan untuk mereka.
حٰمۤ ۚ
Ḥā mīm.
ḤāMīm.
تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ
Tanzīlul-kitābi minallāhil ‘azīzil-ḥakīm(i).
Diturunkannya Kitab (Al-Qur’an) ini (berasal) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
مَا خَلَقْنَا السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَمَّآ اُنْذِرُوْا مُعْرِضُوْنَ
Mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā illā bil-ḥaqqi wa ajalim musammā(n), wal-lażīna kafarū ‘ammā unżirū mu‘riḍūn(a).
Kami tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, kecuali dengan hak dan dalam wakyang ditentukan. Namun demikian, orang-orang yang kufur berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.
قُلْ اَرَءَيْتُمْ مَّا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَرُوْنِيْ مَاذَا خَلَقُوْا مِنَ الْاَرْضِ اَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِى السَّمٰوٰتِ ۖائْتُوْنِيْ بِكِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ هٰذَآ اَوْ اَثٰرَةٍ مِّنْ عِلْمٍ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Qul ara'aitum mā tad‘ūna min dūnillāhi arūnī māżā khalaqū minal-arḍi am lahum syirkun fis-samāwāt(i), i'tūnī bikitābim min qabli hāżā au aṡāratim min ‘ilmin in kuntum ṣādiqīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah! Perlihatkanlah kepadaku (bagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka memiliki peran serta dalam (penciptaan) langit! Datangkanlah kepadaku kitab yang sebelum ini (Al-Qur’an) atau peninggalan dari pengetahuan (generasi terdahulu) jika kamu adalah orang-orang benar.”
وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنْ يَّدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَنْ لَّا يَسْتَجِيْبُ لَهٗٓ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَاۤىِٕهِمْ غٰفِلُوْنَ
Wa man aḍallu mimmay yad‘ū min dūnillāhi mal lā yastajību lahū ilā yaumil-qiyāmati wa hum ‘an du‘ā'ihim gāfilūn(a).
Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah selain Allah (sembahan) yang tidak dapat mengabulkan (doa)-nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?
وَاِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوْا لَهُمْ اَعْدَاۤءً وَّكَانُوْا بِعِبَادَتِهِمْ كٰفِرِيْنَ
Wa iżā ḥusyiran-nāsu kānū lahum a‘dā'aw wa kānū bi‘ibādatihim kāfirīn(a).
Apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), mereka (sesembahan) itu menjadi musuh-musuh mereka dan mereka mengingkari pemujaan-pemujaan yang dahulu mereka lakukan kepadanya.
وَاِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِمْ اٰيٰتُنَا بَيِّنٰتٍ قَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلْحَقِّ لَمَّا جَاۤءَهُمْۙ هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌۗ
Wa iżā tutlā ‘alaihim āyātunā bayyinātin qālal-lażīna kafarū lil-ḥaqqi lammā jā'ahum, hāżā siḥrum mubīn(un).
Apabila dibacakan ayat-ayat Kami yang jelas kepada mereka, orang-orang yang kufur berkata tentang kebenaran itu ketika datang kepada mereka, “Ini adalah sihir yang nyata.”
اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗ قُلْ اِنِ افْتَرَيْتُهٗ فَلَا تَمْلِكُوْنَ لِيْ مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا ۗهُوَ اَعْلَمُ بِمَا تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ كَفٰى بِهٖ شَهِيْدًا ۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْ ۗ وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Am yaqūlūnaftarāh(u), qul iniftaraituh(ū), falā tamlikūna lī minallāhi syai'ā(n), huwa a‘lamu bimā tufīḍūna fīh(i), kafā bihī syahīdam bainī wa bainakum, wa huwal-gafūrur-raḥīm(u).
Bahkan, mereka berkata, “Dia (Nabi Muhammad) telah mengada-adakannya (Al-Qur’an).” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika aku mengada-adakannya, tentu kamu tidak mampu sedikit pun menghindarkan aku dari (azab) Allah. Dia lebih tahu apa yang kamu percakapkan tentang itu (Al-Qur’an). Cukuplah Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَآ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ وَمَآ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
Qul mā kuntu bid‘am minar-rusuli wa mā adrī mā yuf‘alu bī wa lā bikum, in attabi‘u illā mā yūḥā ilayya wa mā ana illā nażīrum mubīn(un).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara para rasul dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat (Allah) kepadaku dan kepadamu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”
قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ وَكَفَرْتُمْ بِهٖ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ عَلٰى مِثْلِهٖ فَاٰمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ
Qul ara'aitum in kāna min ‘indillāhi wa kafartum bihī wa syahida syāhidum mim banī isrā'īla ‘alā miṡlihī fa āmana wastakbartum, innallāha lā yahdil-qaumaẓ-ẓālimīn(a).
Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku bagaimana pendapatmu jika ia (Al-Qur’an) itu datang dari Allah dan kamu mengingkarinya, padahal seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur’an lalu dia beriman,sedangkan kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin An Nadlr] Telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin Mu'adz] Telah menceritakan kepada kami [Bapakku] Telah…
Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Ismail] Telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] dari [Abu Bisyr] dari [Yusuf bin Mahik] dia berkata; Mu'awiyah …
Dalam dinamika kehidupan yang penuh tantangan, sering kali kita merasa bimbang dalam melangkah karena kurangnya keteguhan hati. Al-Quran memberikan penawar m…
Dalam kehidupan, seringkali kita merasa cemas akan masa depan karena ketidaktahuan kita terhadap takdir. Ayat 9 dari surat Al-Ahqaf menjadi penawar bagi kege…
Dalam menghadapi tuduhan dan keraguan, QS. Al-Ahqaf ayat 8 hadir sebagai benteng keteguhan bagi Rasulullah SAW. Ayat ini menyoroti sikap keras kepala kaum mu…