← Kembali ke pelajaran
Hari 94 Langkah 3 / 9 +10 XP

Asbab an-Nuzul

1. Pengantar dan Tempat Turun

Surah Al-Hadid (57) merupakan surah Madaniyah berdasarkan ijma' ulama. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menyatakan bahwa surah ini turun di Madinah, dan termasuk surah-surah yang diturunkan pada periode akhir kenabian, yaitu setelah peristiwa Fathu Makkah. Hal ini dikuatkan oleh isyarat ayat 10 yang menyebutkan "sebelum penaklukan" (min qabl al-fath), yang menunjukkan bahwa ayat tersebut turun setelah peristiwa tersebut terjadi. As-Suyuti dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul tidak menyebutkan riwayat khusus mengenai tempat dan waktu turun surah ini secara keseluruhan, namun berdasarkan konteks historis dan kronologi nuzul, surah ini diperkirakan turun pada tahun ke-8 Hijriah atau setelahnya.

Dalam urutan nuzul, terdapat perbedaan pendapat. Namun, mayoritas ulama menempatkannya pada pertengahan hingga akhir periode Madaniyah. Situasi saat itu: umat Islam telah memperoleh kemenangan besar dengan penaklukan Makkah, namun muncul gejala kemunafikan dan kelemahan iman akibat limpahan harta rampasan. Oleh karena itu, Allah menurunkan surah ini untuk memurnikan kembali keimanan dan mengingatkan hakikat kehidupan dunia yang fana.

2. Riwayat-Riwayat Asbab an-Nuzul

2.1 Riwayat Utama

Ayat 16: "أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ..."

Riwayat dari Ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa para sahabat pada awal masa Islam sering bergurau dan tertawa, lalu turun ayat ini untuk menegur mereka. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Ibn Mas'ud berkata: "Ketika turun ayat ini, kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau bersabda: 'Tuhanku berfirman: Aku telah memberikan waktu yang panjang, barangsiapa yang berbuat baik, maka baiklah; dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka jahatlah.'" Al-Wahidi dalam Asbab an-Nuzul menukilkan riwayat yang semakna dari Ibn Mas'ud dan Muqatil. As-Suyuti juga menyebutkan dalam Lubab an-Nuqul bahwa ayat ini turun berkenaan dengan keadaan sahabat yang terlalu banyak bercanda.

Ayat 10: "وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ..."

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku melihat surga dan aku melihat orang-orang yang berinfak sebelum Fath, mereka lebih utama." At-Tabari dalam Jami' al-Bayan meriwayatkan dari Qatadah bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan keutamaan sahabat yang berhijrah dan berinfak sebelum Fathu Makkah, seperti Abu Bakar, Umar, dan lainnya. Ibn Kathir menjelaskan bahwa ayat ini menetapkan kelebihan derajat bagi mereka yang berjuang pada masa sulit sebelum kemenangan, meskipun semuanya mendapat janji baik dari Allah.

Ayat 25: "لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ..."

Para ulama tidak menyebut riwayat asbab an-nuzul khusus untuk ayat ini. Namun, At-Tabari dan Ibn Kathir menafsirkan bahwa penciptaan besi adalah salah satu tanda kekuasaan Allah dan nikmat bagi manusia. Tidak ada peristiwa spesifik yang melatarbelakangi turunnya ayat ini.

2.2 Versi Riwayat Lain & Komentar Ulama

Untuk ayat 16, terdapat versi riwayat lain dari Ibn Abbas bahwa ayat ini turun ketika para sahabat merasa berat hati setelah lama tidak mendapatkan teguran. Namun, riwayat yang lebih kuat adalah dari Ibn Mas'ud. Ulama seperti Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an menguatkan bahwa sebab turunnya adalah untuk melunakkan hati yang mulai keras.

Ayat 10 juga diriwayatkan dalam bentuk lain: bahwa seorang sahabat bertanya tentang keutamaan orang yang berinfak sebelum dan sesudah Fath, lalu turun ayat ini. As-Suyuti menyebutkan dalam Lubab an-Nuqul bahwa riwayat-riwayat tersebut sahih.

2.3 Catatan Bila Tidak Ada Riwayat Khusus

Mayoritas ayat dalam surah ini tidak memiliki riwayat asbab an-nuzul khusus. Imam Ibn Kathir, As-Suyuti, dan Al-Wahidi tidak menyebutkan riwayat untuk ayat-ayat seperti 1-9, 11-15, 17-24, dan 26-29. Yang ada adalah konteks umum penurunan surah ini sebagai peringatan dan bimbingan bagi umat Islam di Madinah pasca-Fath.

3. Konteks Historis & Sosial

Setelah Fathu Makkah (8 H), kekuasaan Islam meluas. Banyak suku Arab masuk Islam secara berbondong-bondong. Namun, di Madinah, kaum munafik masih ada, seperti Abdullah bin Ubay bin Salul, yang berusaha merusak akidah dari dalam. Ekonomi Islam mengalami surplus dari ghanimah dan pajak. Hal ini menimbulkan berbagai sikap: ada yang bersyukur dan dermawan, ada yang kikir dan sombong. Surah Al-Hadid turun untuk menyikapi kondisi tersebut.

Tantangan dakwah pada periode ini meliputi: menjaga ukhuwah antara Muhajirin dan Anshar, mengikis sifat munafik, dan memotivasi umat untuk tidak terlena dengan dunia. Surah ini merespons dengan menegaskan hakikat kehidupan dunia yang hanya permainan dan kelengahan (ayat 20), serta mengajak untuk berlomba menuju ampunan dan surga (ayat 21).

4. Tema Sentral Surah

Tema sentral surah ini adalah perbandingan antara kehidupan dunia yang fana dengan akhirat yang abadi, serta pentingnya iman dan infak sebagai bekal menuju akhirat. Hal ini tercermin dalam ayat-ayat yang menyebut sifat-sifat Allah (Awal, Akhir, Zahir, Batin), penciptaan langit dan bumi, serta perintah untuk beriman dan berinfak. Ibn Kathir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim menjelaskan bahwa surah ini merupakan peringatan keras agar manusia tidak terpedaya oleh dunia. As-Sa'di dalam Taysir al-Karim ar-Rahman menambahkan bahwa surah ini mengandung motivasi untuk beramal saleh.

Munasabah dengan surah sebelumnya (Al-Waqi'ah) yang menggambarkan hari kiamat, surah Al-Hadid melanjutkan dengan persiapan amal. Setelahnya, surah Al-Mujadilah membahas hukum-hukum sosial. Maka surah ini menjadi jembatan antara akidah dan amal.

5. Keutamaan & Hadits Terkait

Tidak banyak hadits shahih khusus tentang keutamaan surah ini secara keseluruhan. Namun, terdapat beberapa hadits yang berkaitan dengan ayat-ayat tertentu:

  • Ayat 16: Hadits riwayat Muslim di atas menunjukkan bahwa ayat ini memberikan teguran yang bermanfaat bagi hati kaum mukmin.
  • Ayat 10: Hadits tentang keutamaan infak sebelum Fath menunjukkan kedudukan tinggi para sahabat awal.
  • Ayat 11 dan 18: Hadits-hadits tentang qardh hasan (pinjaman yang baik) banyak diriwayatkan, misalnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda: "Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu yang baik, Allah akan melipatgandakannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Secara umum, membaca surah Al-Qur'an memiliki keutamaan besar. Namun, tidak ada riwayat shahih yang menyebutkan keutamaan khusus surah Al-Hadid layaknya surah Al-Ikhlas atau Al-Mulk. Karena itu, kita mencukupkan dengan keutamaan umum membaca Al-Qur'an, sebagaimana sabda Nabi: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang memberi syafaat bagi pembacanya pada hari Kiamat." (HR. Muslim)

6. Catatan Para Ulama Salaf & Khalaf

  • Ayat 10: Ibn Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan bahwa yang dimaksud "sebelum Fath" adalah sebelum Fathu Makkah. Mujahid bin Jabr berkata: "Ayat ini turun mengenai perbandingan antara Abu Bakar dan Umar dengan yang lainnya." Qatadah berkata: "Orang-orang yang berinfak sebelum Fath lebih utama, karena pada saat itu Islam masih lemah dan sedikit."
  • Ayat 16: Hasan al-Bashri berkata: "Ayat ini adalah teguran bagi orang-orang beriman agar hati mereka tidak keras seperti ahli kitab sebelumnya." Sa'id bin Jubair menambahkan bahwa ayat ini turun setelah beberapa tahun kaum mukminin merasakan kelapangan, sehingga mereka mulai melalaikan kewajiban.
  • Ayat 25: At-Tabari cenderung pada makna bahwa besi diciptakan sebagai bahan yang bermanfaat bagi manusia. Ibn Kathir menambahkan bahwa besi memiliki nilai strategis dalam peperangan dan pembangunan.

Perbedaan pendapat: Beberapa ulama mengartikan "anzalna" dalam ayat 25 secara harfiah sebagai "diturunkan", namun mayoritas menafsirkannya sebagai "diciptakan" atau "dijadikan" karena besi berasal dari bumi.

7. Ibrah & Pelajaran untuk Kehidupan Hari Ini

  1. Keimanan dan Kekhusyukan: Ayat 16 mengajarkan bahwa hati harus selalu lunak dan khusyuk mengingat Allah. Jangan sampai menjadi keras seperti ahli kitab zaman dahulu. Di era modern, dengan banyaknya distraksi, kita perlu meluangkan waktu untuk zikir dan tadabbur Al-Qur'an.
  2. Lomba dalam Kebaikan: Ayat 21 memerintahkan untuk berlomba menuju ampunan Allah dan surga. Dalam kehidupan, harus bersemangat dalam ibadah dan amal saleh, seperti bersedekah, belajar, dan berdakwah. Jangan menunda-nunda kebaikan.
  3. Tawakal dan Ridha terhadap Takdir: Ayat 22-23 mengajarkan bahwa segala musibah sudah tertulis, sehingga jangan terlalu sedih atas yang luput dan jangan terlalu gembira atas yang diberikan. Ini melatih jiwa yang seimbang dan tawakal.
  4. Besi sebagai Nikmat Allah: Ayat 25 mengingatkan bahwa Allah menciptakan besi yang memiliki kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia. Di sini terkandung isyarat untuk menguasai teknologi dan industri demi kemaslahatan umat. Umat Islam dianjurkan untuk maju dalam bidang sains dan teknologi.
  5. Keutamaan Berinfak: Infak di jalan Allah adalah pinjaman yang baik kepada Allah, yang akan dilipatgandakan. Khususnya, infak sebelum kesulitan lebih utama. Ini mendorong kita untuk bersegera dalam beramal dan tidak menunda sedekah.

Relevansi: Di era modern, umat Islam sering terlena dengan materi dan gemerlap dunia. Surah ini mengajak untuk tidak terpaku pada dunia, tetapi mempersiapkan bekal untuk akhirat. Pesan-pesannya sangat relevan untuk membangun kesadaran akan hakikat hidup.

8. Penutup & Doa

Surah Al-Hadid adalah surah yang kaya akan pesan tauhid, akhlak, dan sosial. Ia mengajak untuk menghayati kebesaran Allah, menginfakkan harta, dan mempersiapkan cahaya penerang di akhirat. Mari kita renungkan dan amalkan ajarannya.

Doa: Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina 'adhab an-nar. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman, bertakwa, dan dermawan.

Wallahu a'lam bish-shawab.