Surah Al-Hasyr, yang berarti 'Pengusiran', secara tematik sangat terkait dengan Surah Al-Mujadalah sebelumnya yang berbicara tentang adab dan hukum-hukum Allah, serta Surah Al-Mumtahanah sesudahnya yang membahas tentang kesetiaan. Al-Hasyr secara spesifik mengisahkan pengusiran Bani Nadhir, sebuah kaum Yahudi, dari Madinah karena pengkhianatan mereka, yang merupakan implementasi langsung dari hukum-hukum Allah dan konsekuensi dari ketidaksetiaan. Ini juga menyoroti keperkasaan Allah dalam menolong hamba-Nya yang beriman.
Secara internal, surah ini dimulai dengan tasbih seluruh makhluk kepada Allah (ayat 1), menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak, sebelum kemudian beralih ke kisah pengusiran Bani Nadhir (ayat 2-4) sebagai bukti nyata kekuasaan tersebut. Ayat-ayat selanjutnya (5-7) membahas hukum pembagian harta rampasan perang (fai'), yang menunjukkan keadilan dan hikmah Allah dalam mengatur urusan kaum Muslimin. Kemudian, surah ini memuji tiga golongan Muslimin: Muhajirin (ayat 8), Ansar (ayat 9), dan generasi setelah mereka (ayat 10), menunjukkan persatuan dan kekuatan umat. Kontrasnya, ayat-ayat berikutnya (11-17) mengungkap kemunafikan dan kelemahan musuh-musuh Islam, yaitu kaum munafik dan Bani Nadhir, serta perumpamaan mereka dengan setan.
Puncak surah ini adalah seruan takwa dan renungan tentang akhirat (ayat 18-20), yang mengikat semua pelajaran sebelumnya tentang kekuasaan Allah, keadilan-Nya, dan pentingnya iman sejati. Kemudian, surah ini ditutup dengan pengulangan asmaul husna (ayat 21-24), yang sekali lagi menekankan keagungan dan sifat-sifat sempurna Allah, menegaskan bahwa semua peristiwa yang terjadi adalah manifestasi dari nama-nama tersebut. Keseluruhan surah ini merupakan pelajaran mendalam tentang iman, kesetiaan, konsekuensi pengkhianatan, dan keesaan Allah.