← Al-Quran
32 · Makkiyyah

As-Sajdah

السّجدة

Sajdah · 30 ayat

Tulisan Arab:
Maqasid Surah As-Sajdah السّجدة
Sajdah · Makkiyyah · 30 ayat

Tema sentral

Surah As-Sajdah berpusat pada penegasan kebenaran wahyu Al-Qur'an dan keesaan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta, serta kepastian hari kebangkitan dan pertanggungjawaban. Ini bertujuan untuk membimbing manusia menuju keyakinan yang benar dan amal saleh, menekankan konsekuensi dari iman dan kekafiran.

Maqasid (tujuan surah)

  • Menjelaskan kebenaran Al-Qur'an sebagai petunjuk dari Allah.

Ayat kunci

Tujuan & Pesan Inti

Maqasid Surah, As-Sajdah

Penegasan tentang kebenaran Al-Quran, penciptaan manusia, dan kepastian hari kebangkitan untuk membedakan orang beriman dan fasik.

Tema Sentral

Surah ini berpusat pada pembuktian tauhid, kebenaran wahyu, dan kepastian hari kiamat. Allah memaparkan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta dan dalam proses penciptaan manusia dari sari pati tanah hingga ditiupkan ruh. Hal ini bertujuan untuk meruntuhkan kesombongan manusia yang sering kali mengingkari hari kebangkitan.

Selain itu, surah ini menyoroti kontras yang tajam antara karakter orang-orang mukmin sejati yang senantiasa bersujud dan berdoa di sepertiga malam, dengan orang-orang fasik yang mendustakan ayat-ayat Allah. Pembalasan bagi kedua golongan tersebut dijelaskan secara gamblang sebagai bentuk keadilan mutlak dari Allah.

Konteks Turunnya

Surah ini diturunkan di Makkah saat kaum musyrikin menolak keras konsep hari kebangkitan dan meragukan kenabian Muhammad. Wahyu ini hadir untuk menguatkan mental umat Islam yang tertindas sekaligus memberikan peringatan keras kepada mereka yang sombong.

Tujuan / Maqasid (5)
  • Menegaskan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu dari Tuhan seluruh alam tanpa ada keraguan di dalamnya.
  • Mengajak manusia merenungkan proses penciptaan alam semesta dan penciptaan dirinya sendiri agar menyadari kebesaran Allah.
  • Mengingatkan tentang kepastian hari kiamat dan pertemuan dengan Allah yang sering diingkari oleh orang-orang kafir.
  • Menggugah hati untuk meniru sifat orang beriman yang rela meninggalkan tempat tidur untuk bermunajat di malam hari.
  • Menjelaskan perbedaan nasib yang sangat jauh antara orang yang beriman dan orang yang fasik di akhirat kelak.
Hikmah Utama (4)
  • Kesombongan sering kali berawal dari kelupaan manusia akan asal-usulnya yang hanya diciptakan dari tanah dan air hina.
  • Menghidupkan malam dengan tahajud dan doa adalah ciri utama hamba yang dicintai Allah dan jalan menuju ketenangan hati.
  • Ujian dan cobaan di dunia adalah teguran kasih sayang dari Allah agar manusia kembali ke jalan yang benar sebelum datangnya azab yang lebih besar.
  • Keadilan Allah pasti tegak, sehingga jerih payah orang yang beramal saleh tidak akan pernah disamakan dengan keburukan orang yang fasik.
Munasabah

Surah As-Sajdah memiliki kaitan erat dengan surah sebelumnya, Luqman, yang juga membahas tentang penciptaan langit dan bumi serta nasihat ketauhidan. Setelah As-Sajdah, surah Al-Ahzab melanjutkannya dengan aturan-aturan praktis bagi orang beriman dalam kehidupan sosial dan ketaatan kepada Nabi.

Kaitan Sehari-Hari
  • Situasi Merasa sombong atau merendahkan orang lain karena jabatan atau kekayaan.

    Pesan surah Ingatlah asal mula penciptaan kita yang berasal dari tanah dan air yang hina.

    Langkah kecil Ucapkan istigfar dan berikan senyuman atau bantuan kepada orang yang posisinya di bawah kita hari ini.

  • Situasi Terlalu sibuk bekerja hingga melalaikan waktu untuk berdoa dan berkhalwat dengan Allah.

    Pesan surah Orang beriman sejati rela meninggalkan kenyamanan tempat tidur untuk bermunajat.

    Langkah kecil Pasang alarm 15 menit sebelum subuh besok untuk melaksanakan salat tahajud atau witir.

  • Situasi Merasa putus asa saat menghadapi musibah atau penyakit yang berkepanjangan.

    Pesan surah Musibah kecil di dunia adalah cara Allah memanggil kita kembali kepada-Nya.

    Langkah kecil Lakukan sujud syukur atau sujud tilawah, akui kelemahan diri, dan mintalah kekuatan dari Allah.

Amalan dari Maqasid

Sujud dan Qiyamul Lail

Surah ini sangat menekankan pentingnya ketundukan total kepada Allah yang disimbolkan dengan sujud dan menghidupkan malam. Ini adalah cara terbaik untuk mengikis kesombongan dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Cara praktis Biasakan membaca Surah As-Sajdah pada malam Jumat atau rakaat pertama salat Subuh di hari Jumat, dan rutinkan bangun sejenak sebelum Subuh untuk berdoa.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, luangkan waktu 5 menit di sepertiga malam terakhir atau sebelum subuh untuk duduk hening, beristigfar, dan berdoa meminta petunjuk Allah.

Ayat Kunci (3)
  • Ayat 4 Menegaskan kekuasaan Allah sebagai pencipta dan pengatur alam semesta tanpa ada penolong selain-Nya.
  • Ayat 15 Menggambarkan karakter ideal seorang mukmin yang langsung bersujud dan bertasbih ketika mendengar ayat-ayat Allah tanpa rasa sombong.
  • Ayat 16 Menyoroti keutamaan qiyamul lail dan infak sebagai bukti nyata keimanan yang mendalam.

Pelajaran Tadabbur untuk As-Sajdah

9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.

ﷺ Hadits yang menggemakan tema Surat As-Sajdah

Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.

✦ Refleksi tadabbur populer di Surat As-Sajdah

Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


Warna Tajwid

Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.

✓ Warna aktif

Panduan warna Tajwid
  • Ghunnah (dengung)
  • Qalqalah (pantulan)
  • Ikhfa' (samar)
  • Ikhfa' Syafawi
  • Iqlab (pembalikan)
  • Idgham Bighunnah
  • Idgham Bilaghunnah
  • Idgham Syafawi
  • Idgham Mutajanisain / Mutaqaribain
  • Mad Thabi'i (2 harakat)
  • Mad Jaiz (2/4/6 harakat)
  • Mad Wajib Muttasil (4-5)
  • Mad Lazim (6 harakat)
  • Hamzah Wasl / huruf tak dibaca / Lam Syamsiyah

Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).

As-Sajdah · 1
﴿ 1 ﴾

الٓمٓ

Alif lām mīm.

Alif Lām Mīm.

As-Sajdah · 2
﴿ 2 ﴾

تَنزِيلُ ٱلْكِتَـٰبِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِن رَّبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ

Tanzīlul-kitābi lā raiba fīhi mir rabbil-‘ālamīn(a).

Turunnya Al-Qur’an yang tidak ada keraguan di dalamnya berasal dari Tuhan semesta alam.

As-Sajdah · 3
﴿ 3 ﴾

أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَٮٰهُ‌ۚ بَلْ هُوَ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّآ أَتَـٰهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

Am yaqūlūnaftarāhu balhuwal-ḥaqqu mir rabbika litunżira qaumam mā atāhum min nażīrim min qablika la‘allahum yahtadūn(a).

Akan tetapi, mengapa mereka (orang kafir) mengatakan, “Dia (Nabi Muhammad) telah mengada-adakannya.” Sebaliknya, Al-Qur’an itulah kebenaran (yang datang) dari Tuhanmu agar engkau memberi peringatan kepada kaum yang sama sekali belum pernah didatangi seorang pemberi peringatan sebelum engkau. (Demikian ini) agar mereka mendapat petunjuk.

As-Sajdah · 4
﴿ 4 ﴾

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ‌ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِىٍّ وَلَا شَفِيعٍ‌ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Allāhul-lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsy(i), mā lakum min dūnihī miw waliyyiw wa lā syafī‘(in), afalā tatażakkarūn(a).

Allah adalah Zat yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Bagimu tidak ada seorang pun pelindung dan pemberi syafaat selain Dia. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?

As-Sajdah · 5
﴿ 5 ﴾

يُدَبِّرُ ٱلْأَمْرَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُۥٓ أَلْفَ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ

Yudabbirul-amra minas-samā'i ilal-arḍi ṡumma ya‘ruju ilaihi fī yaumin kāna miqdāruhū alfa sanatim mimmā ta‘uddūn(a).

Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (segala urusan) itu naik kepada-Nya pada hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.

As-Sajdah · 6
﴿ 6 ﴾

ذَٲلِكَ عَـٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ ٱلْعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ

Żālika ‘ālimul-gaibi wasy-syahādatil-‘azīzur-raḥīm(u).

Itu adalah (Tuhan) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

As-Sajdah · 7
﴿ 7 ﴾

ٱلَّذِىٓ أَحْسَنَ كُلَّ شَىْءٍ خَلَقَهُۥ‌ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ ٱلْإِنسَـٰنِ مِن طِينٍ

Allażī aḥsana kulla syai'in khalaqahū wa bada'a khalqal-insāni min ṭīn(in).

(Dia juga) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah.

As-Sajdah · 8
﴿ 8 ﴾

ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُۥ مِن سُلَـٰلَةٍ مِّن مَّآءٍ مَّهِينٍ

Ṡumma ja‘ala naslahū min sulālatim mim mā'im mahīn(in).

Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).

As-Sajdah · 9
﴿ 9 ﴾

ثُمَّ سَوَّٮٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦ‌ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَٱلْأَفْــِٔدَةَ‌ۚ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

Ṡumma sawwāhu wa nafakha fīhi mir rūḥihī wa ja‘ala lakumus-sam‘a wal-abṣāra wal-af'idah(ta), qalīlam mā tasykurūn(a).

Kemudian, Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)-nya. Dia menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani untukmu. Sedikit sekali kamu bersyukur.

As-Sajdah · 10
﴿ 10 ﴾

وَقَالُوٓاْ أَءِذَا ضَلَلْنَا فِى ٱلْأَرْضِ أَءِنَّا لَفِى خَلْقٍ جَدِيدِۭ‌ۚ بَلْ هُم بِلِقَآءِ رَبِّهِمْ كَـٰفِرُونَ

Wa qālū a'iżā ḍalalnā fil-arḍi a'innā lafī khalqin jadīd(in), bal hum biliqā'i rabbihim kāfirūn(a).

Mereka berkata, “Apakah apabila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami akan (kembali) dalam ciptaan yang baru?” Bahkan (bukan hanya itu), mereka pun mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.

As-Sajdah · 11
﴿ 11 ﴾

۞ قُلْ يَتَوَفَّـٰكُم مَّلَكُ ٱلْمَوْتِ ٱلَّذِى وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Qul yatawaffākum malakul-mautil-lażī wukkila bikum ṡumma ilā rabbikum turja‘ūn(a).

Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi (tugas) untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

As-Sajdah · 12
﴿ 12 ﴾

وَلَوْ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلْمُجْرِمُونَ نَاكِسُواْ رُءُوسِهِمْ عِندَ رَبِّهِمْ رَبَّنَآ أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَٱرْجِعْنَا نَعْمَلْ صَـٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Wa lau tarā iżil-mujrimūna nākisū ru'ūsihim ‘inda rabbihim, rabbanā abṣarnā wa sami‘nā farji‘nā na‘mal ṣāliḥan innā mūqinūn(a).

Sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (kamu akan melihat sesuatu yang sangat luar biasa dan mereka berkata,) “Ya Tuhan kami, kami telah melihat (hari Kiamat yang kami ingkari) dan mendengar (dari-Mu kebenaran ucapan rasul-rasul-Mu). Maka, kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan beramal saleh. Sesungguhnya kami (sekarang) adalah orang-orang yang yakin (akan adanya hari Kiamat).”

As-Sajdah · 13
﴿ 13 ﴾

وَلَوْ شِئْنَا لَأَتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَٮٰهَا وَلَـٰكِنْ حَقَّ ٱلْقَوْلُ مِنِّى لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Wa lau syi'nā la'ātainā kulla nafsin hudāhā wa lākin ḥaqqal-qaulu minnī la'amla'anna jahannama minal-jinnati wan-nāsi ajma‘īn(a).

Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami menganugerahkan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)-nya, tetapi telah berlaku ketetapan dari-Ku (bahwa) sungguh Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.

As-Sajdah · 14
﴿ 14 ﴾

فَذُوقُواْ بِمَا نَسِيتُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَآ إِنَّا نَسِينَـٰكُمْ‌ۖ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلْخُلْدِ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Fa żūqū bimā nasītum liqā'a yaumikum hāżā, innā nasīnākum wa żūqū ‘ażābal-khuldi bimā kuntum ta‘malūn(a).

Rasakanlah olehmu (azab ini) karena kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat). Sesungguhnya Kami pun melalaikanmu. Rasakanlah azab yang kekal karena apa yang selalu kamu kerjakan!”

As-Sajdah · 15
﴿ 15 ﴾

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِـَٔـايَـٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْ سُجَّدًا وَسَبَّحُواْ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩

Innamā yu'minu bi'āyātinal-lażīna iżā żukkirū bihā kharrū sujjadaw wa sabbaḥū biḥamdi rabbihim wa hum lā yastakbirūn(a).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur (dalam keadaan) sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya dan mereka pun tidak menyombongkan diri.

As-Sajdah · 16
﴿ 16 ﴾

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ

Tatajāfā junūbuhum ‘anil-maḍāji‘i yad‘ūna rabbahum khaufaw wa ṭama‘ā(n), wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn(a).

Lambung (tubuh) mereka jauh dari tempat tidur (untuk salat malam) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut (akan siksa-Nya) dan penuh harap (akan rahmat-Nya) dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

As-Sajdah · 17
﴿ 17 ﴾

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Falā ta‘lamu nafsum mā ukhfiya lahum min qurrati a‘yun(in), jazā'am bimā kānū ya‘malūn(a).

Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka berupa (macam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka kerjakan.

As-Sajdah · 18
﴿ 18 ﴾

أَفَمَن كَانَ مُؤْمِنًا كَمَن كَانَ فَاسِقًا‌ۚ لَّا يَسْتَوُۥنَ

Afaman kāna mu'minan kaman kāna fāsiqā(n), lā yastawūn(a).

Apakah orang mukmin sama dengan orang fasik (kafir)? (Pastilah) mereka tidak sama.

As-Sajdah · 19
﴿ 19 ﴾

أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَلَهُمْ جَنَّـٰتُ ٱلْمَأْوَىٰ نُزُلاَۢ بِمَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

Ammal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti falahum jannātul-ma'wā, nuzulam bimā kānū ya‘malūn(a).

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka akan mendapat surga-surga (sebagai) tempat kediaman sebagai balasan atas apa yang selalu mereka kerjakan.

As-Sajdah · 20
﴿ 20 ﴾

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأْوَٮٰهُمُ ٱلنَّارُ‌ۖ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخْرُجُواْ مِنْهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِى كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ

Wa ammal-lażīna fasaqū fa ma'wākumun nāru kullamā arādū ay yakhrujū minhā u‘īdū fīhā wa qīla lahum żūqū ‘ażāban nāril-lażī kuntum bihī tukażżibūn(a).

Adapun orang-orang yang fasik (kafir), tempat kediaman mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah azab neraka yang dahulu selalu kamu dustakan.”

As-Sajdah · 21
﴿ 21 ﴾

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلْعَذَابِ ٱلْأَدْنَىٰ دُونَ ٱلْعَذَابِ ٱلْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Wa lanużīqannahum minal-‘ażābil-adnā dūnal-‘ażābil-akbari la‘allahum yarji‘ūn(a).

Kami pasti akan menimpakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat) agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

As-Sajdah · 22
﴿ 22 ﴾

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِـَٔـايَـٰتِ رَبِّهِۦ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَآ‌ۚ إِنَّا مِنَ ٱلْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

Wa man aẓlamu mimman żukkira bi'āyāti rabbihī ṡumma a‘raḍa ‘anhā, innā minal-mujrimīna muntaqimūn(a).

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan kepada para pendosa.

As-Sajdah · 23
﴿ 23 ﴾

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى ٱلْكِتَـٰبَ فَلَا تَكُن فِى مِرْيَةٍ مِّن لِّقَآئِهِۦ‌ۖ وَجَعَلْنَـٰهُ هُدًى لِّبَنِىٓ إِسْرَٲٓءِيلَ

Wa laqad ātainā mūsal-kitāba falā takun fī miryatim mil liqā'ihī wa ja‘alnāhu hudal libanī isrā'īl(a).

Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa. Maka, janganlah engkau (Nabi Muhammad) ragu-ragu menerimanya (Al-Qur’an) dan Kami menjadikan Kitab (Taurat) itu sebagai petunjuk bagi Bani Israil.

As-Sajdah · 24
﴿ 24 ﴾

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ‌ۖ وَكَانُواْ بِـَٔـايَـٰتِنَا يُوقِنُونَ

Wa ja‘alnā minhum a'immatay yahdūna bi'amrinā lammā ṣabarū, wa kānū bi'āyātinā yūqinūn(a).

Kami menjadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami.

As-Sajdah · 25
﴿ 25 ﴾

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Inna rabbaka huwa yafṣilu bainahum yaumal-qiyāmati fīmā kānū fīhi yakhtalifūn(a).

Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang memutuskan di antara mereka pada hari Kiamat apa yang dahulu selalu mereka perselisihkan.

As-Sajdah · 26
﴿ 26 ﴾

أَوَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّنَ ٱلْقُرُونِ يَمْشُونَ فِى مَسَـٰكِنِهِمْ‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ‌ۖ أَفَلَا يَسْمَعُونَ

Awalam yahdi lahum kam ahlaknā min qablihim minal-qurūni yamsyūna fī masākinihim, inna fī żālika la'āyāt(in), afalā yasma‘ūn(a).

Tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum kafir Makkah), betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Apakah mereka tidak mendengarkan (memperhatikan)?

As-Sajdah · 27
﴿ 27 ﴾

أَوَلَمْ يَرَوْاْ أَنَّا نَسُوقُ ٱلْمَآءَ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلْجُرُزِ فَنُخْرِجُ بِهِۦ زَرْعًا تَأْكُلُ مِنْهُ أَنْعَـٰمُهُمْ وَأَنفُسُهُمْ‌ۖ أَفَلَا يُبْصِرُونَ

Awalam yarau annā nasūqul-mā'a ilal-arḍil juruzi fanukhriju bihī zar‘an ta'kulu minhu an‘āmuhum wa anfushum, afalā yubṣirūn(a).

Tidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami mengarahkan (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami menumbuhkan dengannya (air hujan) tanam-tanaman, sehingga hewan-hewan ternak mereka dan mereka sendiri dapat makan darinya. Maka, mengapa mereka tidak memperhatikan?

As-Sajdah · 28
﴿ 28 ﴾

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَـٰذَا ٱلْفَتْحُ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ

Wa yaqūlūna matā hāżal-fatḥu in kuntum ṣādiqīn(a).

Mereka bertanya, “Kapankah kemenangan itu (datang) jika engkau orang yang benar?”

As-Sajdah · 29
﴿ 29 ﴾

قُلْ يَوْمَ ٱلْفَتْحِ لَا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِيمَـٰنُهُمْ وَلَا هُمْ يُنظَرُونَ

Qul yaumal-fatḥi lā yanfa‘ul-lażīna kafarū īmānuhum wa lā hum yunẓarūn(a).

Katakanlah, “Pada hari kemenangan itu tidak berguna lagi bagi orang-orang kafir keimanan mereka dan mereka tidak diberi penangguhan.”

As-Sajdah · 30
﴿ 30 ﴾

فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَٱنتَظِرْ إِنَّهُم مُّنتَظِرُونَ

Fa a‘riḍ ‘anhum wantaẓir innahum muntaẓirūn(a).

Maka, berpalinglah dari mereka dan tunggulah! Sesungguhnya mereka (juga) menunggu.