← Al-Quran
38 · Makkiyyah

Sad

ص

Sad · 88 ayat

Tulisan Arab:
Maqasid Surah Sad ص
Sad · Makkiyyah · 88 ayat

Tema sentral

Surah Sad menegaskan kebenaran tauhid dan kenabian Muhammad ﷺ, menantang kaum musyrik yang menolak dengan menyajikan kisah-kisah nabi terdahulu seperti Daud, Sulaiman, dan Ayyub. Ini berfungsi sebagai peringatan bahwa kesombongan dan penolakan kebenaran akan membawa konsekuensi serius, sekaligus menegaskan kekuatan dan kekuasaan Allah.

Maqasid (tujuan surah)

  • Menegaskan tauhid dan risalah Nabi Muhammad ﷺ.

Ayat kunci

Tujuan & Pesan Inti

Maqasid Surah, Sad

Menegaskan kebenaran Al-Quran dan pentingnya kesabaran serta pertobatan melalui kisah para nabi yang diuji.

Tema Sentral

Surah Sad berpusat pada penegasan tauhid dan kebenaran wahyu Al-Quran di tengah penolakan kaum musyrikin. Allah menyoroti kesombongan orang-orang kafir yang enggan menerima kebenaran hanya karena rasul yang diutus adalah manusia biasa dari kalangan mereka sendiri.

Untuk menguatkan hati Nabi Muhammad, surah ini membawakan kisah nabi-nabi besar seperti Daud, Sulaiman, dan Ayyub. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang, meskipun diberi kekuasaan besar atau diuji dengan penderitaan berat, selalu kembali (awwab) dan berserah diri kepada Allah.

Di akhir surah, kisah penciptaan Adam dan pembangkangan Iblis diangkat kembali sebagai pengingat abadi. Kesombongan adalah akar kehancuran, sementara ketundukan dan pertobatan adalah jalan keselamatan yang sejati bagi umat manusia.

Konteks Turunnya

Surah ini diturunkan di Makkah saat penolakan kaum musyrikin terhadap dakwah tauhid semakin keras. Para pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib untuk meminta Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya. Surah ini turun untuk meneguhkan hati Rasulullah dan mengingatkan bahwa penolakan serupa juga dialami nabi-nabi terdahulu.

Tujuan / Maqasid (4)
  • Menegaskan kebenaran Al-Quran sebagai peringatan yang agung bagi umat manusia.
  • Menggugah hati manusia untuk meneladani kesabaran dan pertobatan para nabi terdahulu.
  • Mengingatkan bahaya kesombongan dan dengki melalui kisah penolakan Iblis untuk sujud kepada Adam.
  • Menjelaskan bahwa kekuasaan dan kekayaan duniawi tidak boleh melalaikan manusia dari mengingat Allah.
Hikmah Utama (4)
  • Ujian bisa datang dalam bentuk kekayaan maupun penderitaan, dan sikap terbaik adalah selalu kembali kepada Allah.
  • Kesombongan menghalangi seseorang dari menerima kebenaran, seperti yang terjadi pada Iblis dan pemuka Quraisy.
  • Pentingnya segera bertobat dan memohon ampun ketika menyadari kesalahan, meneladani Nabi Daud dan Sulaiman.
  • Kesabaran tanpa batas dalam menghadapi penyakit dan kehilangan, seperti Nabi Ayyub, akan membuahkan rahmat yang besar.
Munasabah

Surah Sad memiliki kaitan erat dengan Surah As-Saffat sebelumnya yang juga banyak membahas kisah para nabi dan tauhid. Setelah Surah Sad, Surah Az-Zumar melanjutkannya dengan penekanan pada keikhlasan dalam beragama dan janji rahmat Allah bagi mereka yang bertobat. Ketiganya membentuk rangkaian teguran dan kabar gembira yang utuh.

Kaitan Sehari-Hari
  • Situasi Merasa sombong karena memiliki jabatan tinggi atau kekayaan melimpah.

    Pesan surah Harta dan takhta adalah ujian, jadilah seperti Nabi Sulaiman yang tetap tunduk kepada Allah.

    Langkah kecil Bersedekah secara diam-diam hari ini untuk melatih kerendahan hati.

  • Situasi Tertimpa sakit parah atau musibah hidup yang bertubi-tubi.

    Pesan surah Allah menyembuhkan Nabi Ayyub setelah kesabarannya yang panjang dan tulus.

    Langkah kecil Berdoa memohon kesembuhan dengan penuh rida tanpa mengeluhkan keadaan kepada manusia.

  • Situasi Tergelincir melakukan dosa atau menyadari kesalahan dalam mengambil keputusan.

    Pesan surah Nabi Daud segera bersujud dan bertobat saat ditegur atas kekhilafannya.

    Langkah kecil Melakukan salat tobat dua rakaat malam ini dan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh.

Amalan dari Maqasid

Zikir Hamba yang Kembali (Awwab)

Surah ini memuji nabi-nabi dengan sebutan awwab (yang banyak kembali kepada Allah). Inti dari ajaran ini adalah membiasakan diri untuk selalu beristigfar dan kembali kepada ketaatan setiap kali merasa lalai.

Cara praktis Ucapkan istigfar minimal 100 kali hari ini dengan perenungan mendalam atas dosa-dosa kecil yang mungkin tidak disadari.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, luangkan waktu lima menit untuk mengevaluasi diri dan memohon ampun atas satu kesalahan spesifik yang baru saja Anda lakukan.

Ayat Kunci (3)
  • Ayat 1 Menegaskan kedudukan Al-Quran sebagai sumber pengingat utama bagi manusia yang sering lalai.
  • Ayat 24 Menunjukkan kebesaran hati seorang pemimpin yang langsung bersujud memohon ampun saat menyadari kesalahannya.
  • Ayat 44 Menjadi simbol kesabaran paripurna dalam menghadapi ujian fisik dan kehilangan, serta pentingnya menepati janji.

Pelajaran Tadabbur untuk Sad

9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.

ﷺ Hadits yang menggemakan tema Surat Sad

Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.

✦ Refleksi tadabbur populer di Surat Sad

Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


Warna Tajwid

Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.

✓ Warna aktif

Panduan warna Tajwid
  • Ghunnah (dengung)
  • Qalqalah (pantulan)
  • Ikhfa' (samar)
  • Ikhfa' Syafawi
  • Iqlab (pembalikan)
  • Idgham Bighunnah
  • Idgham Bilaghunnah
  • Idgham Syafawi
  • Idgham Mutajanisain / Mutaqaribain
  • Mad Thabi'i (2 harakat)
  • Mad Jaiz (2/4/6 harakat)
  • Mad Wajib Muttasil (4-5)
  • Mad Lazim (6 harakat)
  • Hamzah Wasl / huruf tak dibaca / Lam Syamsiyah

Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).

Sad · 1
﴿ 1 ﴾

صٓ‌ۚ وَٱلْقُرْءَانِ ذِى ٱلذِّكْرِ

Ṣād, wal-qur'āni żiż-żikr(i).

Ṣād. demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan.

Sad · 2
﴿ 2 ﴾

بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِى عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ

Balil-lażīna kafarū fī ‘izzatiw wa syiqāq(in).

Akan tetapi, orang-orang yang kufur (berada) dalam kesombongan dan permusuhan.

Sad · 3
﴿ 3 ﴾

كَمْ أَهْلَكْنَا مِن قَبْلِهِم مِّن قَرْنٍ فَنَادَواْ وَّلَاتَ حِينَ مَنَاصٍ

Kam ahlaknā min qablihim min qarnin fanādaw wa lāta ḥīna manāṣ(in).

Betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Lalu, mereka meminta tolong (ketika datang azab), padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melepaskan diri.

Sad · 4
﴿ 4 ﴾

وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٌ مِّنْهُمْ‌ۖ وَقَالَ ٱلْكَـٰفِرُونَ هَـٰذَا سَـٰحِرٌ كَذَّابٌ

Wa ‘ajibū an jā'ahum munżirum minhum, wa qālal-kāfirūna hāżā sāḥirun każżāb(un).

Mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.

Sad · 5
﴿ 5 ﴾

أَجَعَلَ ٱلْأَلِهَةَ إِلَـٰهًا وَٲحِدًا‌ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌ

Aja‘alal-ālihata ilāhaw wāḥidā(n), inna hāżā lasyai'un ‘ujāb(un).

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”

Sad · 6
﴿ 6 ﴾

وَٱنطَلَقَ ٱلْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ ٱمْشُواْ وَٱصْبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمْ‌ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىْءٌ يُرَادُ

Wanṭalaqal-mala'u minhum animsyū waṣbirū ‘alā ālihatikum, inna hāżā lasyai'uy yurād(u).

Lalu, pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.

Sad · 7
﴿ 7 ﴾

مَا سَمِعْنَا بِهَـٰذَا فِى ٱلْمِلَّةِ ٱلْأَخِرَةِ إِنْ هَـٰذَآ إِلَّا ٱخْتِلَـٰقٌ

Mā sami‘nā bihāżā fil-millatil-ākhirah(ti), in hāżā illakhtilāq(un).

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. (Ajaran mengesakan Allah) ini tidak lain kecuali (dusta) yang dibuat-buat.

Sad · 8
﴿ 8 ﴾

أَءُنزِلَ عَلَيْهِ ٱلذِّكْرُ مِنۢ بَيْنِنَا‌ۚ بَلْ هُمْ فِى شَكٍّ مِّن ذِكْرِى‌ۖ بَل لَّمَّا يَذُوقُواْ عَذَابِ

A'unzila ‘alaihiż-żikru mim baininā, bal hum fī syakkim min żikrī, bal lammā yażūqū ‘ażāb(i).

Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada dia di antara kita?” Sebenarnya mereka dalam keraguan terhadap kitab-Ku. Akan tetapi, mereka (ragu karena) belum merasakan azab-Ku.

Sad · 9
﴿ 9 ﴾

أَمْ عِندَهُمْ خَزَآئِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ ٱلْعَزِيزِ ٱلْوَهَّابِ

Am ‘indahum khazā'inu raḥmati rabbikal-‘azīzil-wahhāb(i).

Atau, apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi?

Sad · 10
﴿ 10 ﴾

أَمْ لَهُم مُّلْكُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا‌ۖ فَلْيَرْتَقُواْ فِى ٱلْأَسْبَـٰبِ

Am lahum mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, falyartaqū fil-asbāb(i).

Atau, apakah mereka mempunyai kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya? (Jika ada,) biarlah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit).

Sad · 11
﴿ 11 ﴾

جُندٌ مَّا هُنَالِكَ مَهْزُومٌ مِّنَ ٱلْأَحْزَابِ

Jundum mā hunālika mahzūmum minal-aḥzāb(i).

Bala tentara yang berada di sana dari golongan yang bersekutu (untuk mengalahkan Rasul Kami) tentu akan dikalahkan.

Sad · 12
﴿ 12 ﴾

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَفِرْعَوْنُ ذُو ٱلْأَوْتَادِ

Każżabat qablahum qaumu nūḥiw wa ‘āduw wa fir‘aunu żul-autād(i).

Sebelum mereka itu, kaum Nuh, ‘Ad, dan Fir‘aun yang mempunyai kekuatan besar (juga) telah mendustakan (para rasul).

Sad · 13
﴿ 13 ﴾

وَثَمُودُ وَقَوْمُ لُوطٍ وَأَصْحَـٰبُ لْــَٔيْكَةِ‌ۚ أُوْلَـٰٓئِكَ ٱلْأَحْزَابُ

Wa ṡamūdu wa qaumu lūṭiw wa aṣḥābul-aikah(ti), ulā'ikal-aḥzāb(u).

(Begitu juga) Samud, kaum Lut, dan penduduk Aikah. Mereka itulah golongan yang bersekutu (menentang para rasul).

Sad · 14
﴿ 14 ﴾

إِن كُلٌّ إِلَّا كَذَّبَ ٱلرُّسُلَ فَحَقَّ عِقَابِ

In kullun illā każżabar-rusula faḥaqqa ‘iqāb(i).

Masing-masing tidak lain, kecuali mendustakan para rasul. Maka, pantaslah mereka merasakan hukuman-Ku.

Sad · 15
﴿ 15 ﴾

وَمَا يَنظُرُ هَـٰٓؤُلَآءِ إِلَّا صَيْحَةً وَٲحِدَةً مَّا لَهَا مِن فَوَاقٍ

Wa mā yanẓuru hā'ulā'i illā ṣaiḥataw wāḥidatam mā lahā min fawāq(in).

Mereka tidak menunggu selain satu teriakan (saja) yang tidak ada selanya.

Sad · 16
﴿ 16 ﴾

وَقَالُواْ رَبَّنَا عَجِّل لَّنَا قِطَّنَا قَبْلَ يَوْمِ ٱلْحِسَابِ

Wa qālū rabbanā ‘ajjil lanā qiṭṭanā qabla yaumil-ḥisāb(i).

Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, segerakanlah untuk kami bagian (dari siksa) kami sebelum hari Perhitungan.”

Sad · 17
﴿ 17 ﴾

ٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُۥدَ ذَا ٱلْأَيْدِ‌ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

Iṣbir ‘alā mā yaqūlūna ważkur ‘abdanā dāwūda żal-aid(i), innahū awwāb(un).

Bersabarlah atas apa yang mereka katakan dan ingatlah akan hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia adalah orang yang selalu kembali (kepada Allah).

Sad · 18
﴿ 18 ﴾

إِنَّا سَخَّرْنَا ٱلْجِبَالَ مَعَهُۥ يُسَبِّحْنَ بِٱلْعَشِىِّ وَٱلْإِشْرَاقِ

Innā sakhkharnal-jibāla ma‘ahū yusabbiḥna bil-‘asyiyyi wal-isyrāq(i).

Sesungguhnya Kami telah menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi.

Sad · 19
﴿ 19 ﴾

وَٱلطَّيْرَ مَحْشُورَةً‌ۖ كُلٌّ لَّهُۥٓ أَوَّابٌ

Waṭ-ṭaira maḥsyūrah(tan), kullul lahū awwāb(un).

(Kami menundukkan pula) burung-burung dalam keadaan berkumpul. Masing-masing sangat patuh kepadanya (Daud).

Sad · 20
﴿ 20 ﴾

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُۥ وَءَاتَيْنَـٰهُ ٱلْحِكْمَةَ وَفَصْلَ ٱلْخِطَابِ

Wa syadadnā mulkahū wa ātaināhul-ḥikmata wa faṣlal-khiṭāb(i).

Kami menguatkan kerajaannya serta menganugerahkan hikmah (kenabian) kepadanya dan kemampuan dalam menyelesaikan perkara.

Sad · 21
﴿ 21 ﴾

۞ وَهَلْ أَتَـٰكَ نَبَؤُاْ ٱلْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُواْ ٱلْمِحْرَابَ

Wa hal atāka naba'ul-khaṣm(i), iż tasawwarul-miḥrāb(a).

Apakah telah sampai kepadamu (Nabi Muhammad) berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?

Sad · 22
﴿ 22 ﴾

إِذْ دَخَلُواْ عَلَىٰ دَاوُۥدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ‌ۖ قَالُواْ لَا تَخَفْ‌ۖ خَصْمَانِ بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ فَٱحْكُم بَيْنَنَا بِٱلْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَٱهْدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٲطِ

Iż dakhalū ‘alā dāwūda fafazi‘a minhum qālū lā takhaf, khaṣmāni bagā ba‘ḍunā ‘alā ba‘ḍin faḥkum bainanā bil-ḥaqqi wa lā tusyṭiṭ wahdinā ilā sawā'iṣ-ṣirāṭ(i).

Ketika mereka masuk menemui Daud, dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih. Sebagian kami berbuat aniaya kepada yang lain. Maka, berilah keputusan di antara kami dengan hak, janganlah menyimpang dari kebenaran, dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”

Sad · 23
﴿ 23 ﴾

إِنَّ هَـٰذَآ أَخِى لَهُۥ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِىَ نَعْجَةٌ وَٲحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِى فِى ٱلْخِطَابِ

Inna hāżā akhī, lahū tis‘uw wa tis‘ūna na‘jataw wa liya na‘jatuw wāḥidah(tun), faqāla aqfilnīhā wa ‘azzanī fil-khiṭāb(i).

(Salah seorang berkata,) “Sesungguhnya ini saudaraku. Dia mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina, sedangkan aku mempunyai seekor saja. Lalu, dia berkata, ‘Biarkan aku yang memeliharanya! Dia mengalahkanku dalam perdebatan.’”

Sad · 24
﴿ 24 ﴾

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦ‌ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْخُلَطَآءِ لَيَبْغِى بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَقَلِيلٌ مَّا هُمْ‌ۗ وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّـٰهُ فَٱسْتَغْفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ۩

Qāla laqad ẓalamaka bisu'āli na‘jatika ilā ni‘ājih(ī), wa inna kaṡīram minal-khulaṭā'i layabgī ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍin illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa qalīlum mā hum, wa ẓanna dāwūdu annamā fatannāhu fastagfara rabbahū wa kharra rāki‘aw wa anāb(a).

Dia (Daud) berkata, “Sungguh, dia benar-benar telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (digabungkan) kepada kambing-kambingnya. Sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang berserikat itu benar-benar saling merugikan satu sama lain, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan sedikit sekali mereka itu.” Daud meyakini bahwa Kami hanya mengujinya. Maka, dia memohon ampunan kepada Tuhannya dan dia tersungkur jatuh serta bertobat.

Sad · 25
﴿ 25 ﴾

فَغَفَرْنَا لَهُۥ ذَٲلِكَ‌ۖ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَــَٔابٍ

Fa gafarnā lahū żālik(a), wa inna lahū ‘indanā lazulfā wa ḥusna ma'āb(in).

Lalu, Kami mengampuni (kesalahannya) itu. Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Sad · 26
﴿ 26 ﴾

يَـٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلْنَـٰكَ خَلِيفَةً فِى ٱلْأَرْضِ فَٱحْكُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِٱلْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوْمَ ٱلْحِسَابِ

Yā dāwūdu innā ja‘alnāka khalīfatan fil-arḍi faḥkum bainan nāsi bil-ḥaqqi wa lā tattabi‘il-hawā fa yuḍillaka ‘an sabīlillāh(i), innal-lażīna yaḍillūna ‘an sabīlillāhi lahum ‘ażābun syadīdum bimā nasū yaumal-ḥisāb(i).

(Allah berfirman,) “Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah (penguasa) di bumi. Maka, berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari Perhitungan.”

Sad · 27
﴿ 27 ﴾

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَـٰطِلاً‌ۚ ذَٲلِكَ ظَنُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ‌ۚ فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنَ ٱلنَّارِ

Wa mā khalaqnas-samā'a wal-arḍa wa mā bainahumā bāṭilā(n), żālika ẓannul-lażīna kafarū, fawailul lil-lażīna kafarū minan-nār(i).

Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia. Itulah anggapan orang-orang yang kufur. Maka, celakalah orang-orang yang kufur karena (mereka akan masuk) neraka.

Sad · 28
﴿ 28 ﴾

أَمْ نَجْعَلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ كَٱلْمُفْسِدِينَ فِى ٱلْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ ٱلْمُتَّقِينَ كَٱلْفُجَّارِ

Am naj‘alul-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti kal-mufsidīna fil-arḍ(i), am naj‘alul-muttaqīna kal-fujjār(i).

Apakah (pantas) Kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Pantaskah Kami menjadikan orang-orang yang bertakwa sama dengan para pendurhaka?

Sad · 29
﴿ 29 ﴾

كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلْأَلْبَـٰبِ

Kitābun anzalnāhu ilaika mubārakul liyaddabbarū āyātihī wa liyatażakkara ulul-albāb(i).

(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.

Sad · 30
﴿ 30 ﴾

وَوَهَبْنَا لِدَاوُۥدَ سُلَيْمَـٰنَ‌ۚ نِعْمَ ٱلْعَبْدُ‌ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

Wa wahabnā lidāwūda wa sulaimān(a), ni‘mal-‘abd(u), innahū awwāb(un).

Kami menganugerahkan kepada Daud (anak bernama) Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Allah).

Sad · 31
﴿ 31 ﴾

إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِٱلْعَشِىِّ ٱلصَّـٰفِنَـٰتُ ٱلْجِيَادُ

Iż ‘uriḍa ‘alaihi bil-‘asyiyyiṣ-ṣāfinātul-jiyād(u).

(Ingatlah) ketika pada suatu petang dipertunjukkan kepadanya (kuda-kuda) yang jinak, (tetapi) sangat cepat larinya.

Sad · 32
﴿ 32 ﴾

فَقَالَ إِنِّىٓ أَحْبَبْتُ حُبَّ ٱلْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّى حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِٱلْحِجَابِ

Fa qāla innī aḥbabtu ḥubbal-khairi ‘an żikri rabbī, ḥattā tawārat bil-ḥijāb(i).

Maka, dia berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai ia (matahari atau kuda itu) bersembunyi di balik tabir (hilang dari pandangan).

Sad · 33
﴿ 33 ﴾

رُدُّوهَا عَلَىَّ‌ۖ فَطَفِقَ مَسْحَۢا بِٱلسُّوقِ وَٱلْأَعْنَاقِ

Ruddūhā ‘alayy(a), faṭafiqa masḥam bis-sūqi wal-a‘nāq(i).

Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku.” Lalu, dia mengusap-usap kaki dan leher (kuda itu).

Sad · 34
﴿ 34 ﴾

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَـٰنَ وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِۦ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Wa laqad fatannā sulaimāna wa alqainā ‘alā kursiyyihī jasadan ṡumma anāb(a).

Sungguh, Kami benar-benar telah menguji Sulaiman dan Kami menggeletakkan(-nya) di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat.

Sad · 35
﴿ 35 ﴾

قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لَّا يَنۢبَغِى لِأَحَدٍ مِّنۢ بَعْدِىٓ‌ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Qāla rabbigfir lī wa hab lī mulkal lā yambagī li'aḥadim mim ba‘dī, innaka antal-wahhāb(u).

Dia berkata, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

Sad · 36
﴿ 36 ﴾

فَسَخَّرْنَا لَهُ ٱلرِّيحَ تَجْرِى بِأَمْرِهِۦ رُخَآءً حَيْثُ أَصَابَ

Fasakhkharnā lahur-rīḥa tajrī bi'amrihī rukhā'an ḥaiṡu aṣāb(a).

Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki.

Sad · 37
﴿ 37 ﴾

وَٱلشَّيَـٰطِينَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَغَوَّاصٍ

Wasy-syayāṭīna kulla bannā'iw wa gawwāṣ(in).

(Kami menundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan, dan penyelam.

Sad · 38
﴿ 38 ﴾

وَءَاخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِى ٱلْأَصْفَادِ

Wa ākharīna muqarranīna fil-aṣfād(i).

(Begitu juga setan-setan) lain yang terikat dalam belenggu.

Sad · 39
﴿ 39 ﴾

هَـٰذَا عَطَآؤُنَا فَٱمْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Hāżā ‘aṭā'unā famnun au amsik bigairi ḥisāb(in).

Inilah anugerah Kami. Maka, berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan.

Sad · 40
﴿ 40 ﴾

وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَــَٔابٍ

Wa inna lahū ‘indanā lazulfā wa ḥusna ma'āb(in).

Sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Sad · 41
﴿ 41 ﴾

وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَـٰنُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Ważkur ‘abdanā ayyūb(a), iż nādā rabbahū annī massaniyasy-syaiṭānu binuṣbiw wa ‘ażāb(in).

Ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan (rasa sakit).”

Sad · 42
﴿ 42 ﴾

ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ‌ۖ هَـٰذَا مُغْتَسَلُۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ

Urkuḍ birijlik(a), hāżā mugtasalum bāriduw wa syarāb(un).

(Allah berfirman,) “Entakkanlah kakimu (ke bumi)! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.”

Sad · 43
﴿ 43 ﴾

وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُوْلِى ٱلْأَلْبَـٰبِ

Wa wahabnā lahū ahlahū wa miṡlahum ma‘ahum raḥmatam minnā wa żikrā li'ulil-albāb(i).

Kami anugerahkan (pula) kepadanya (Ayyub) keluarganya dan (Kami lipat gandakan) jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.

Sad · 44
﴿ 44 ﴾

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَٱضْرِب بِّهِۦ وَلَا تَحْنَثْ‌ۗ إِنَّا وَجَدْنَـٰهُ صَابِرًا‌ۚ نِّعْمَ ٱلْعَبْدُ‌ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

Wa khuż biyadika ḍigṡan faḍrib bihī wa lā taḥnaṡ, innā wajadnāhu ṣābirā(n), ni‘mal-‘abd(u), innahū awwāb(un).

Ambillah dengan tanganmu seikat rumput, lalu pukullah (istrimu) dengannya dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia selalu kembali (kepada Allah dan sangat taat kepadanya).

Sad · 45
﴿ 45 ﴾

وَٱذْكُرْ عِبَـٰدَنَآ إِبْرَٲهِيمَ وَإِسْحَـٰقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى ٱلْأَيْدِى وَٱلْأَبْصَـٰرِ

Ważkur ‘ibādanā ibrāhīma wa isḥāqa wa ya‘qūba ulil-aidī wal-abṣār(i).

Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub yang mempunyai kekuatan (dalam taat kepada Allah) dan penglihatan (mata hati yang jernih).

Sad · 46
﴿ 46 ﴾

إِنَّآ أَخْلَصْنَـٰهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى ٱلدَّارِ

Innā akhlaṣnāhum bikhāliṣatin żikrad-dār(i).

Sesungguhnya Kami telah memberikan secara khusus kepada mereka anugerah yang besar, (yaitu selalu) mengingat negeri akhirat.

Sad · 47
﴿ 47 ﴾

وَإِنَّهُمْ عِندَنَا لَمِنَ ٱلْمُصْطَفَيْنَ ٱلْأَخْيَارِ

Wa innahum ‘indanā laminal-muṣṭafainal-akhyār(i).

Sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik.

Sad · 48
﴿ 48 ﴾

وَٱذْكُرْ إِسْمَـٰعِيلَ وَٱلْيَسَعَ وَذَا ٱلْكِفْلِ‌ۖ وَكُلٌّ مِّنَ ٱلْأَخْيَارِ

Ważkur ismā‘īla wal-yasa‘a wa żal-kifl(i), wa kullum minal-akhyār(i).

Ingatlah Ismail, Ilyasa, dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.

Sad · 49
﴿ 49 ﴾

هَـٰذَا ذِكْرٌ‌ۚ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَــَٔابٍ

Hāżā żikr(un), wa inna lil-muttaqīna laḥusna ma'āb(in).

Ini adalah kehormatan (bagimu dan kaummu). Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik.

Sad · 50
﴿ 50 ﴾

جَنَّـٰتِ عَدْنٍ مُّفَتَّحَةً لَّهُمُ ٱلْأَبْوَٲبُ

Jannāti ‘adnim mufattaḥatal lahumul-abwāb(u).

(Yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka.

Sad · 51
﴿ 51 ﴾

مُتَّكِــِٔينَ فِيهَا يَدْعُونَ فِيهَا بِفَـٰكِهَةٍ كَثِيرَةٍ وَشَرَابٍ

Muttaki'īna fīhā yad‘ūna fīhā bifākihatin kaṡīratiw wa syarāb(in).

Mereka bersandar di dalamnya (di atas dipan-dipan) sambil meminta buah-buahan dan minuman yang banyak (di surga itu).

Sad · 52
﴿ 52 ﴾

۞ وَعِندَهُمْ قَـٰصِرَٲتُ ٱلطَّرْفِ أَتْرَابٌ

Wa ‘indahum qāṣirātuṭ-ṭarfi atrāb(un).

Di samping mereka (ada bidadari-bidadari) yang pandangannya terbatas (hanya untuk pasangannya), lagi sebaya umurnya.

Sad · 53
﴿ 53 ﴾

هَـٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوْمِ ٱلْحِسَابِ

Hāżā mā tū‘adūna liyaumil-ḥisāb(i).

Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada hari Perhitungan.

Sad · 54
﴿ 54 ﴾

إِنَّ هَـٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُۥ مِن نَّفَادٍ

Ina hāżā larizqunā mā lahū min nafād(in).

Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki (dari) Kami yang tidak habis-habisnya.

Sad · 55
﴿ 55 ﴾

هَـٰذَا‌ۚ وَإِنَّ لِلطَّـٰغِينَ لَشَرَّ مَــَٔابٍ

Hāżā, wa inna liṭ-ṭāgīna lasyarra ma'āb(in).

Inilah (kenikmatan bagi orang yang bertakwa). Sesungguhnya bagi orang-orang yang melampaui batas benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk.

Sad · 56
﴿ 56 ﴾

جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ

Jahannam(a), yaṣlaunahā, fabi'sal-mihād(u).

(Yaitu neraka) Jahanam yang mereka akan masuk ke dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.

Sad · 57
﴿ 57 ﴾

هَـٰذَا فَلْيَذُوقُوهُ حَمِيمٌ وَغَسَّاقٌ

Hāżā, falyażūqūhu ḥamīmuw wa gassāq(un).

Inilah (azab neraka). Biarlah mereka merasakannya. (Minuman mereka) air yang mendidih dan cairan nanah (yang menjijikkan).

Sad · 58
﴿ 58 ﴾

وَءَاخَرُ مِن شَكْلِهِۦٓ أَزْوَٲجٌ

Wa ākharu min syaklihī azwāj(un).

(Selain itu, ada) berbagai macam (azab) lain yang serupa itu.

Sad · 59
﴿ 59 ﴾

هَـٰذَا فَوْجٌ مُّقْتَحِمٌ مَّعَكُمْ‌ۖ لَا مَرْحَبَۢا بِهِمْ‌ۚ إِنَّهُمْ صَالُواْ ٱلنَّارِ

Hāżā faujum muqtaḥimum ma‘akum, lā marḥabam bihim, innahum ṣālun-nār(i).

(Dikatakan kepada mereka,) “Ini rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desakan bersama kamu (ke neraka).” Tidak ada ucapan selamat datang bagi mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka.

Sad · 60
﴿ 60 ﴾

قَالُواْ بَلْ أَنتُمْ لَا مَرْحَبَۢا بِكُمْ‌ۖ أَنتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا‌ۖ فَبِئْسَ ٱلْقَرَارُ

Qālū bal antum lā marḥabam bikum, antum qaddamtumūhu lanā, fabi'sal-qarār(u).

Mereka (para pengikutnya) menjawab, “Sebenarnya kamulah yang (lebih pantas) tidak menerima ucapan selamat datang karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab. (Itulah) seburuk-buruk tempat menetap.”

Sad · 61
﴿ 61 ﴾

قَالُواْ رَبَّنَا مَن قَدَّمَ لَنَا هَـٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِى ٱلنَّارِ

Qālū rabbanā man qaddama lanā hāżā fazidhu ‘ażāban ḍi‘fan fin-nār(i).

Mereka berkata (lagi), “Wahai Tuhan kami, siapa yang menjerumuskan kami ke dalam (azab) ini, tambahkanlah kepadanya azab yang berlipat ganda di dalam neraka.”

Sad · 62
﴿ 62 ﴾

وَقَالُواْ مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالاً كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ ٱلْأَشْرَارِ

Wa qālū mā lanā lā narā rijālan kunnā na‘udduhum minal-asyrār(i).

Mereka (penghuni neraka) berkata, “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang (di dunia) selalu kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)?

Sad · 63
﴿ 63 ﴾

أَتَّخَذْنَـٰهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ ٱلْأَبْصَـٰرُ

Attakhażnāhum sikhriyyan am zāgat ‘anhumul-abṣār(u).

Apakah karena dahulu kami menjadikan mereka (bahan) olok-olokan ataukah karena penglihatan (kami) yang tidak melihat mereka?”

Sad · 64
﴿ 64 ﴾

إِنَّ ذَٲلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ ٱلنَّارِ

Inna żālika laḥaqqun takhāṣumu ahlin-nār(i).

Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terjadi, (yaitu) pertengkaran di antara penghuni neraka.

Sad · 65
﴿ 65 ﴾

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۟ مُنذِرٌ‌ۖ وَمَا مِنْ إِلَـٰهٍ إِلَّا ٱللَّهُ ٱلْوَٲحِدُ ٱلْقَهَّارُ

Qul innamā ana munżir(un), wa mā min ilāhin illallāhul-wāḥidul-qahhār(u).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan,

Sad · 66
﴿ 66 ﴾

رَبُّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفَّـٰرُ

Rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumal-‘azīzul-gaffār(u).

(yaitu,) Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Sad · 67
﴿ 67 ﴾

قُلْ هُوَ نَبَؤٌاْ عَظِيمٌ

Qul huwa naba'un ‘aẓīm(un).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Ia (Al-Qur’an) adalah berita besar.

Sad · 68
﴿ 68 ﴾

أَنتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ

Antum ‘anhu mu‘riḍūn(a).

Kamu berpaling darinya.

Sad · 69
﴿ 69 ﴾

مَا كَانَ لِىَ مِنْ عِلْمِۭ بِٱلْمَلَإِ ٱلْأَعْلَىٰٓ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

Mā kāna liya min ‘ilmim bil-mala'il-a‘lā iż yakhtaṣimūn(a).

Aku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang malaikat langit ketika mereka berbantah-bantahan.

Sad · 70
﴿ 70 ﴾

إِن يُوحَىٰٓ إِلَىَّ إِلَّآ أَنَّمَآ أَنَا۟ نَذِيرٌ مُّبِينٌ

Iy yūḥā ilayya illā annamā ana nażīrum mubīn(un).

Tidaklah diwahyukan kepadaku, kecuali aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.”

Sad · 71
﴿ 71 ﴾

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى خَـٰلِقُۢ بَشَرًا مِّن طِينٍ

Iż qāla rabbuka lil-malā'ikati innī khāliqum basyaram min ṭīn(in).

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.

Sad · 72
﴿ 72 ﴾

فَإِذَا سَوَّيْتُهُۥ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِى فَقَعُواْ لَهُۥ سَـٰجِدِينَ

Fa'iżā sawwaituhū wa nafakhtu fīhi mir rūḥī faqa‘ū lahū sājidīn(a).

Apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaan)-nya dan meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, tunduklah kamu kepadanya dalam keadaan bersujud.”

Sad · 73
﴿ 73 ﴾

فَسَجَدَ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

Fasajadal-malā'ikatu kulluhum ajma‘ūn(a).

Lalu, para malaikat itu bersujud semuanya bersama-sama,

Sad · 74
﴿ 74 ﴾

إِلَّآ إِبْلِيسَ ٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَـٰفِرِينَ

Illā iblīs(a), istakbara wa kāna minal-kafirīn(a).

kecuali Iblis. Ia menyombongkan diri dan termasuk golongan kafir.

Sad · 75
﴿ 75 ﴾

قَالَ يَـٰٓإِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَىَّ‌ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْعَالِينَ

Qāla yā iblīsu mā mana‘aka an tasjuda limā khalaqtu biyadayy(a), astakbarta am kunta minal-‘ālīn(a).

(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku (kekuasaan-Ku)? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah (memang) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?”

Sad · 76
﴿ 76 ﴾

قَالَ أَنَا۟ خَيْرٌ مِّنْهُ‌ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Qāla ana khairum minhu khalaqtanī min nāriw wa khalaqtahū min ṭīn(in).

(Iblis) berkata, “Aku lebih baik darinya, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Engkau menciptakannya dari tanah.”

Sad · 77
﴿ 77 ﴾

قَالَ فَٱخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

Qāla fakhruj minhā fa'innaka rajīm(un).

(Allah) berfirman, “Keluarlah darinya (surga) karena sesungguhnya kamu terkutuk.

Sad · 78
﴿ 78 ﴾

وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِىٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلدِّينِ

Wa inna ‘alaika la‘natī ilā yaumid-dīn(i).

Sesungguhnya laknat-Ku tetap atasmu sampai hari Pembalasan.”

Sad · 79
﴿ 79 ﴾

قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِىٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Qāla rabbi fa'anẓirnī ilā yaumi yub‘aṡūn(a).

(Iblis) berkata, “Wahai Tuhanku, tangguhkanlah (usia)-ku sampai hari mereka (manusia) dibangkitkan.”

Sad · 80
﴿ 80 ﴾

قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ ٱلْمُنظَرِينَ

Qāla fa'innaka minal-munẓarīn(a).

(Allah) berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk golongan yang ditangguhkan

Sad · 81
﴿ 81 ﴾

إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْوَقْتِ ٱلْمَعْلُومِ

Ilā yaumil-waqtil-ma‘lūm(i).

sampai hari yang telah ditentukan waktunya (kiamat).”

Sad · 82
﴿ 82 ﴾

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Qāla fabi‘izzatika la'ugwiyannahum ajma‘īn(a).

(Iblis) berkata, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.

Sad · 83
﴿ 83 ﴾

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ

Illā ‘ibādaka minhumul-mukhlaṣīn(a).

Kecuali, hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.”

Sad · 84
﴿ 84 ﴾

قَالَ فَٱلْحَقُّ وَٱلْحَقَّ أَقُولُ

Qāla fal-ḥaqq(u), wal-ḥaqqa aqūl(u).

(Allah) berfirman, “Maka, yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan.

Sad · 85
﴿ 85 ﴾

لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنكَ وَمِمَّن تَبِعَكَ مِنْهُمْ أَجْمَعِينَ

La'amla'anna jahannama minka wa mimman tabi‘aka minhum ajma‘īn(a).

Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam denganmu dan orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.”

Sad · 86
﴿ 86 ﴾

قُلْ مَآ أَسْــَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلْمُتَكَلِّفِينَ

Qul mā as'alukum ‘alaihi min ajriw wa mā ana minal-mutakallifīn(a).

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mengada-ada.

Sad · 87
﴿ 87 ﴾

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعَـٰلَمِينَ

In huwa illā żikrul lil-‘ālamīn(a).

(Al-Qur’an) ini tidak lain, kecuali (sebagai) peringatan bagi semesta alam.

Sad · 88
﴿ 88 ﴾

وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَأَهُۥ بَعْدَ حِينِۭ

Wa lata‘lamunna naba'ahū ba‘da ḥīn(in).

Sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur’an) setelah beberapa waktu lagi.”