صۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ ذِى الذِّكْرِۗ
Ṣād, wal-qur'āni żiż-żikr(i).
Ṣād. demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan.
Kisah Nabi Daud dan tobatnya; Nabi Sulaiman dan ujiannya; Adam dan Iblis.
Surah Sad menegaskan kebenaran tauhid dan kenabian Muhammad ﷺ, menantang kaum musyrik yang menolak dengan menyajikan kisah-kisah nabi terdahulu seperti Daud, Sulaiman, dan Ayyub. Ini berfungsi sebagai peringatan bahwa kesombongan dan penolakan kebenaran akan membawa konsekuensi serius, sekaligus menegaskan kekuatan dan kekuasaan Allah.
Menegaskan kebenaran Al-Quran dan pentingnya kesabaran serta pertobatan melalui kisah para nabi yang diuji.
Surah Sad berpusat pada penegasan tauhid dan kebenaran wahyu Al-Quran di tengah penolakan kaum musyrikin. Allah menyoroti kesombongan orang-orang kafir yang enggan menerima kebenaran hanya karena rasul yang diutus adalah manusia biasa dari kalangan mereka sendiri.
Untuk menguatkan hati Nabi Muhammad, surah ini membawakan kisah nabi-nabi besar seperti Daud, Sulaiman, dan Ayyub. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang, meskipun diberi kekuasaan besar atau diuji dengan penderitaan berat, selalu kembali (awwab) dan berserah diri kepada Allah.
Di akhir surah, kisah penciptaan Adam dan pembangkangan Iblis diangkat kembali sebagai pengingat abadi. Kesombongan adalah akar kehancuran, sementara ketundukan dan pertobatan adalah jalan keselamatan yang sejati bagi umat manusia.
Surah ini diturunkan di Makkah saat penolakan kaum musyrikin terhadap dakwah tauhid semakin keras. Para pemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib untuk meminta Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya. Surah ini turun untuk meneguhkan hati Rasulullah dan mengingatkan bahwa penolakan serupa juga dialami nabi-nabi terdahulu.
Surah Sad memiliki kaitan erat dengan Surah As-Saffat sebelumnya yang juga banyak membahas kisah para nabi dan tauhid. Setelah Surah Sad, Surah Az-Zumar melanjutkannya dengan penekanan pada keikhlasan dalam beragama dan janji rahmat Allah bagi mereka yang bertobat. Ketiganya membentuk rangkaian teguran dan kabar gembira yang utuh.
Situasi Merasa sombong karena memiliki jabatan tinggi atau kekayaan melimpah.
Pesan surah Harta dan takhta adalah ujian, jadilah seperti Nabi Sulaiman yang tetap tunduk kepada Allah.
Langkah kecil Bersedekah secara diam-diam hari ini untuk melatih kerendahan hati.
Situasi Tertimpa sakit parah atau musibah hidup yang bertubi-tubi.
Pesan surah Allah menyembuhkan Nabi Ayyub setelah kesabarannya yang panjang dan tulus.
Langkah kecil Berdoa memohon kesembuhan dengan penuh rida tanpa mengeluhkan keadaan kepada manusia.
Situasi Tergelincir melakukan dosa atau menyadari kesalahan dalam mengambil keputusan.
Pesan surah Nabi Daud segera bersujud dan bertobat saat ditegur atas kekhilafannya.
Langkah kecil Melakukan salat tobat dua rakaat malam ini dan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh.
Surah ini memuji nabi-nabi dengan sebutan awwab (yang banyak kembali kepada Allah). Inti dari ajaran ini adalah membiasakan diri untuk selalu beristigfar dan kembali kepada ketaatan setiap kali merasa lalai.
Cara praktis Ucapkan istigfar minimal 100 kali hari ini dengan perenungan mendalam atas dosa-dosa kecil yang mungkin tidak disadari.
Hari ini, luangkan waktu lima menit untuk mengevaluasi diri dan memohon ampun atas satu kesalahan spesifik yang baru saja Anda lakukan.
صۤ ۗوَالْقُرْاٰنِ ذِى الذِّكْرِۗ
Ṣād, wal-qur'āni żiż-żikr(i).
Ṣād. demi Al-Qur’an yang mengandung peringatan.
بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ عِزَّةٍ وَّشِقَاقٍ
Balil-lażīna kafarū fī ‘izzatiw wa syiqāq(in).
Akan tetapi, orang-orang yang kufur (berada) dalam kesombongan dan permusuhan.
كَمْ اَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَّلَاتَ حِيْنَ مَنَاصٍ
Kam ahlaknā min qablihim min qarnin fanādaw wa lāta ḥīna manāṣ(in).
Betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Lalu, mereka meminta tolong (ketika datang azab), padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk melepaskan diri.
وَعَجِبُوْٓا اَنْ جَاۤءَهُمْ مُّنْذِرٌ مِّنْهُمْ ۖوَقَالَ الْكٰفِرُوْنَ هٰذَا سٰحِرٌ كَذَّابٌۚ
Wa ‘ajibū an jā'ahum munżirum minhum, wa qālal-kāfirūna hāżā sāḥirun każżāb(un).
Mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka. Orang-orang kafir berkata, “Orang ini adalah penyihir yang banyak berdusta.
اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
Aja‘alal-ālihata ilāhaw wāḥidā(n), inna hāżā lasyai'un ‘ujāb(un).
Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan.”
وَانْطَلَقَ الْمَلَاُ مِنْهُمْ اَنِ امْشُوْا وَاصْبِرُوْا عَلٰٓى اٰلِهَتِكُمْ ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ يُّرَادُ ۖ
Wanṭalaqal-mala'u minhum animsyū waṣbirū ‘alā ālihatikum, inna hāżā lasyai'uy yurād(u).
Lalu, pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.
مَا سَمِعْنَا بِهٰذَا فِى الْمِلَّةِ الْاٰخِرَةِ ۖاِنْ هٰذَآ اِلَّا اخْتِلَاقٌۚ
Mā sami‘nā bihāżā fil-millatil-ākhirah(ti), in hāżā illakhtilāq(un).
Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. (Ajaran mengesakan Allah) ini tidak lain kecuali (dusta) yang dibuat-buat.
اَؤُنْزِلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ مِنْۢ بَيْنِنَا ۗبَلْ هُمْ فِيْ شَكٍّ مِّنْ ذِكْرِيْۚ بَلْ لَّمَّا يَذُوْقُوْا عَذَابِ ۗ
A'unzila ‘alaihiż-żikru mim baininā, bal hum fī syakkim min żikrī, bal lammā yażūqū ‘ażāb(i).
Mengapa Al-Qur’an itu diturunkan kepada dia di antara kita?” Sebenarnya mereka dalam keraguan terhadap kitab-Ku. Akan tetapi, mereka (ragu karena) belum merasakan azab-Ku.
اَمْ عِنْدَهُمْ خَزَاۤىِٕنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيْزِ الْوَهَّابِۚ
Am ‘indahum khazā'inu raḥmati rabbikal-‘azīzil-wahhāb(i).
Atau, apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi?
اَمْ لَهُمْ مُّلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۗفَلْيَرْتَقُوْا فِى الْاَسْبَابِ
Am lahum mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, falyartaqū fil-asbāb(i).
Atau, apakah mereka mempunyai kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya? (Jika ada,) biarlah mereka menaiki tangga-tangga (ke langit).
Telah menceritakan kepada kami [Adam] Telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Khalid bin Yazid] dari [Sa'id bin Abu Hilal] dari [Zaid bin Aslam] dari…
Telah menceritakan kepada kami [Umar bin Hafs bin Ghiyats] telah menceritakan kepada kami [Ayahku] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] telah mencerita…
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] dan [Abu Kuraib] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [al-A'masy]…
Dalam meniti jalan tawakal, seringkali hati kita merasa cemas akan hasil akhir atau merasa perlu mengendalikan setiap variabel kehidupan. Surat Sad ayat 10 h…
Dalam menapaki jalan tawakal, seringkali hati kita merasa cemas akan keterbatasan rezeki atau pengaruh. Allah Subhanahu wa Ta'ala menegur kesombongan manusia…
Dalam surat Sad ayat 8, Allah SWT menyingkap akar keangkuhan kaum kafir Quraisy yang menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Mereka bertanya dengan nada meremeh…