← Al-Quran
44 · Makkiyyah

Ad-Dukhan

الدخان

Kabut · 59 ayat

Tulisan Arab:
Maqasid Surah Ad-Dukhan الدخان
Kabut · Makkiyyah · 59 ayat

Tema sentral

Surah Ad-Dukhan menegaskan keesaan Allah, keniscayaan hari kiamat, serta ganjaran bagi kaum beriman dan hukuman bagi kaum ingkar. Surah ini memperingatkan manusia tentang dahsyatnya azab bagi mereka yang mendustakan risalah kenabian, dengan mencontohkan kisah Firaun dan kaumnya sebagai pelajaran, sekaligus menyoroti kebenaran Al-Qur'an sebagai petunjuk yang jelas.

Maqasid (tujuan surah)

  • Menjelaskan kekuasaan Allah dalam menciptakan alam semesta dan menurunkan wahyu.

Ayat kunci

Tujuan & Pesan Inti

Maqasid Surah, Ad-Dukhan

Peringatan tentang kebenaran Al-Quran, ancaman azab bagi yang mendustakan, dan kepastian Hari Kiamat.

Tema Sentral

Surah Ad-Dukhan menegaskan kemuliaan Al-Quran yang diturunkan pada malam yang diberkahi sebagai rahmat dari Allah. Surah ini memberikan peringatan keras kepada kaum musyrikin Mekah yang meragukan kebenaran wahyu tersebut, mengingatkan mereka akan azab berupa kabut (dukhan) yang menyiksa akibat keingkaran mereka.

Selain itu, surah ini menceritakan kisah Nabi Musa dan Firaun sebagai bukti sejarah bahwa kesombongan akan berujung pada kehancuran. Pada akhirnya, tema sentral bermuara pada kepastian Hari Kiamat, di mana nasib orang-orang yang bertakwa di surga sangat kontras dengan penderitaan para pendosa di neraka.

Konteks Turunnya

Surah ini diturunkan di Mekah saat kaum musyrikin terus-menerus menolak dakwah Nabi Muhammad dan bersikap sombong. Allah menurunkan surah ini untuk memperingatkan mereka tentang azab kelaparan dan penderitaan yang menimpa mereka akibat penolakan tersebut. Pesan ini bertujuan untuk melunakkan hati yang keras dan mengingatkan mereka akan kekuasaan Allah.

Tujuan / Maqasid (4)
  • Menegaskan kemuliaan Al-Quran yang diturunkan pada malam yang diberkahi.
  • Mengingatkan manusia akan azab Allah di dunia dan akhirat bagi mereka yang mendustakan kebenaran.
  • Menjelaskan kehancuran Firaun dan kaumnya sebagai pelajaran bagi orang-orang yang sombong.
  • Menggugah kesadaran tentang kepastian Hari Pembalasan dan keadilan Allah.
Hikmah Utama (3)
  • Menghargai nikmat Al-Quran dengan membacanya dan merenungkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Menghindari sifat sombong karena sejarah membuktikan bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan menyelamatkan seseorang dari azab Allah.
  • Menjadikan ujian dan kesulitan sebagai pengingat untuk segera bertaubat dan kembali kepada Allah.
Munasabah

Surah Ad-Dukhan melanjutkan tema dari Surah Az-Zukhruf tentang kebenaran wahyu dan penolakan kaum musyrikin. Setelah Ad-Dukhan, Surah Al-Jasiyah kembali menegaskan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Ketiganya merupakan bagian dari kelompok surah Hawamim yang fokus pada kemuliaan Al-Quran dan tauhid.

Kaitan Sehari-Hari
  • Situasi Merasa aman dari teguran Allah saat berbuat salah.

    Pesan surah Azab bisa datang kapan saja, seperti kabut yang tiba-tiba menyelimuti.

    Langkah kecil Segera beristigfar setiap kali menyadari kesalahan kecil maupun besar.

  • Situasi Terlalu bangga dengan jabatan atau harta.

    Pesan surah Kisah Firaun menunjukkan bahwa harta dan kekuasaan akan ditinggalkan.

    Langkah kecil Bersedekah hari ini untuk mengingatkan diri bahwa harta hanyalah titipan.

  • Situasi Menjalani hidup tanpa tujuan yang jelas.

    Pesan surah Hari Kiamat adalah waktu pemisahan yang pasti antara yang benar dan salah.

    Langkah kecil Menuliskan satu tujuan akhirat yang ingin dicapai dan merencanakan langkahnya.

Amalan dari Maqasid

Tadabbur Al-Quran Malam Hari

Surah ini diawali dengan penyebutan malam yang diberkahi saat Al-Quran diturunkan. Menghidupkan malam dengan membaca Al-Quran mendekatkan diri pada keberkahan tersebut.

Cara praktis Membaca beberapa ayat Al-Quran beserta terjemahannya sebelum tidur atau saat sepertiga malam.

Tantangan Hari Ini

Hari ini, luangkan waktu 10 menit untuk membaca Al-Quran di tempat yang tenang dan renungkan satu ayat yang paling menyentuh hati.

Ayat Kunci (3)
  • Ayat 3 Menegaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada malam yang penuh berkah sebagai peringatan bagi manusia.
  • Ayat 10 Peringatan keras tentang datangnya azab berupa kabut yang nyata bagi mereka yang mendustakan.
  • Ayat 58 Menjelaskan bahwa Al-Quran dimudahkan dalam bahasa manusia agar mereka mau mengambil pelajaran.

Pelajaran Tadabbur untuk Ad-Dukhan

9 langkah pendalaman per pelajaran: bacaan, kosakata, asbab, tafsir, munasabah, kuis, renungan, amalan, hafalan.

ﷺ Hadits yang menggemakan tema Surat Ad-Dukhan

Cosine-similarity antara centroid surat dan korpus hadits Kutub Sittah (shahih/hasan). Lompat ke hadits yang seakar dengan ajaran surat ini.

✦ Refleksi tadabbur populer di Surat Ad-Dukhan

Insight terstruktur paling diapresiasi komunitas, masing-masing membaca satu ayat dari surat ini dengan grounding hadits shahih + tafsir klasik.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


Warna Tajwid

Warnai huruf Al-Quran sesuai hukum tajwid (qalqalah, ghunnah, ikhfa', mad, dll). Bantu bacaan lebih tepat.

✓ Warna aktif

Panduan warna Tajwid
  • Ghunnah (dengung)
  • Qalqalah (pantulan)
  • Ikhfa' (samar)
  • Ikhfa' Syafawi
  • Iqlab (pembalikan)
  • Idgham Bighunnah
  • Idgham Bilaghunnah
  • Idgham Syafawi
  • Idgham Mutajanisain / Mutaqaribain
  • Mad Thabi'i (2 harakat)
  • Mad Jaiz (2/4/6 harakat)
  • Mad Wajib Muttasil (4-5)
  • Mad Lazim (6 harakat)
  • Hamzah Wasl / huruf tak dibaca / Lam Syamsiyah

Pewarnaan tajwid bersumber dari mushaf berwarna standar (alquran.cloud / KFGQPC).

Ad-Dukhan · 1
﴿ 1 ﴾

حمٓ

Ḥā mīm.

Ḥā Mīm.

Ad-Dukhan · 2
﴿ 2 ﴾

وَٱلْكِتَـٰبِ ٱلْمُبِينِ

Wal-kitābil-mubīn(i).

Demi Kitab (Al-Qur’an) yang jelas.

Ad-Dukhan · 3
﴿ 3 ﴾

إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ فِى لَيْلَةٍ مُّبَـٰرَكَةٍ‌ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Innā anzalnāhu fī lailatim mubārakatin innā kunnā munżirīn(a).

Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.

Ad-Dukhan · 4
﴿ 4 ﴾

فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Fīhā yufraqu kullu amrin ḥakīm(in).

Pada (malam itu) dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

Ad-Dukhan · 5
﴿ 5 ﴾

أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ‌ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ

Amram min ‘indinā, innā kunnā mursilīn(a).

(Hal itu merupakan) urusan (yang besar) dari sisi Kami. Sesungguhnya Kamilah yang mengutus (para rasul)

Ad-Dukhan · 6
﴿ 6 ﴾

رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ‌ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Raḥmatam mir rabbik(a), innahū huwas-samī‘ul-‘alīm(u).

sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,

Ad-Dukhan · 7
﴿ 7 ﴾

رَبِّ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَآ‌ۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ

Rabbis-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, in kuntum mūqinīn(a).

yaitu Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya jika kamu orang-orang yang yakin.

Ad-Dukhan · 8
﴿ 8 ﴾

لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ‌ۖ رَبُّكُمْ وَرَبُّ ءَابَآئِكُمُ ٱلْأَوَّلِينَ

Lā ilāha illā huwa yuḥyī wa yumīt(u), rabbukum wa rabbu ābā'ikumul-awwalīn(a).

Tidak ada tuhan selain Dia (yang) menghidupkan dan mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.

Ad-Dukhan · 9
﴿ 9 ﴾

بَلْ هُمْ فِى شَكٍّ يَلْعَبُونَ

Bal hum fī syakkiy yal‘abūn(a).

Akan tetapi, mereka dalam keraguan; mereka bermain-main.

Ad-Dukhan · 10
﴿ 10 ﴾

فَٱرْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ

Fartaqib yauma ta'tis-samā'u bidukhānim mubīn(in).

Maka, nantikanlah hari (ketika) langit mendatangkan kabut asap yang tampak jelas

Ad-Dukhan · 11
﴿ 11 ﴾

يَغْشَى ٱلنَّاسَ‌ۖ هَـٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Yagsyan-nās(a), hāżā ‘ażābun alīm(un).

(yang) meliputi manusia (durhaka). Ini adalah azab yang sangat pedih.

Ad-Dukhan · 12
﴿ 12 ﴾

رَّبَّنَا ٱكْشِفْ عَنَّا ٱلْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ

Rabbanaksyif ‘annal-‘ażāba innā mu'minūn(a).

(Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang mukmin.”

Ad-Dukhan · 13
﴿ 13 ﴾

أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلذِّكْرَىٰ وَقَدْ جَآءَهُمْ رَسُولٌ مُّبِينٌ

Annā lahumuż-żikrā wa qad jā'ahum rasūlum mubīn(un).

Bagaimana mereka dapat menerima peringatan (setelah turun azab), padahal (sebelumnya) seorang Rasul (Nabi Muhammad) benar-benar telah datang kepada mereka (untuk) memberi penjelasan.

Ad-Dukhan · 14
﴿ 14 ﴾

ثُمَّ تَوَلَّوْاْ عَنْهُ وَقَالُواْ مُعَلَّمٌ مَّجْنُونٌ

Ṡumma tawallau ‘anhu wa qālū mu‘allamum majnūn(un).

Kemudian, mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia (Nabi Muhammad) diajari (oleh orang lain) lagi gila.”

Ad-Dukhan · 15
﴿ 15 ﴾

إِنَّا كَاشِفُواْ ٱلْعَذَابِ قَلِيلاً‌ۚ إِنَّكُمْ عَآئِدُونَ

Innā kāsyiful-‘ażābi qalīlan innakum ‘ā'idūn(a).

Sesungguhnya (kalau) Kami melenyapkan azab itu sebentar saja, pasti kamu akan kembali (ingkar).

Ad-Dukhan · 16
﴿ 16 ﴾

يَوْمَ نَبْطِشُ ٱلْبَطْشَةَ ٱلْكُبْرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ

Yauma nabṭisyul baṭsyatal kubrā, innā muntaqimūn(a).

(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang besar. Sesungguhnya Kami adalah pemberi balasan.

Ad-Dukhan · 17
﴿ 17 ﴾

۞ وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَآءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ

Wa laqad fatannā qablahum qauma fir‘auna wa jā'ahum rasūlun karīm(un).

Sungguh, Kami benar-benar telah menguji kaum Fir‘aun sebelum mereka dan telah datang (pula) seorang rasul yang mulia (Musa) kepada mereka.

Ad-Dukhan · 18
﴿ 18 ﴾

أَنْ أَدُّوٓاْ إِلَىَّ عِبَادَ ٱللَّهِ‌ۖ إِنِّى لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

An addū ilayya ‘ibādallāh(i), innī lakum rasūlun amīn(un).

(Musa berkata,) “Kembalikanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya.

Ad-Dukhan · 19
﴿ 19 ﴾

وَأَن لَّا تَعْلُواْ عَلَى ٱللَّهِ‌ۖ إِنِّىٓ ءَاتِيكُم بِسُلْطَـٰنٍ مُّبِينٍ

Wa al lā ta‘lū ‘alallāh(i), innī ātīkum bisulṭānim mubīn(in).

Janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah karena sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.

Ad-Dukhan · 20
﴿ 20 ﴾

وَإِنِّى عُذْتُ بِرَبِّى وَرَبِّكُمْ أَن تَرْجُمُونِ

Wa innī ‘użtu birabbī wa rabbikum an tarjumūn(i).

Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari ancamanmu untuk merajamku.

Ad-Dukhan · 21
﴿ 21 ﴾

وَإِن لَّمْ تُؤْمِنُواْ لِى فَٱعْتَزِلُونِ

Wa il lam tu'minū lī fa‘tazilūn(i).

Jika kamu tidak beriman kepadaku, biarkanlah aku (menyampaikan pesan-pesan Tuhanku).”

Ad-Dukhan · 22
﴿ 22 ﴾

فَدَعَا رَبَّهُۥٓ أَنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ قَوْمٌ مُّجْرِمُونَ

Fa da‘ā rabbahū anna hā'ulā'i qaumum mujrimūn(a).

Kemudian, dia (Musa) berdoa kepada Tuhannya (seraya berkata,) “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum pendurhaka.”

Ad-Dukhan · 23
﴿ 23 ﴾

فَأَسْرِ بِعِبَادِى لَيْلاً إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ

Fa asri bi‘ibādī lailan innakum muttaba‘ūn(a).

(Allah berfirman,) “Oleh karena itu, berjalanlah dengan hamba-hamba-Ku pada malam hari. Sesungguhnya kamu akan dikejar.

Ad-Dukhan · 24
﴿ 24 ﴾

وَٱتْرُكِ ٱلْبَحْرَ رَهْوًا‌ۖ إِنَّهُمْ جُندٌ مُّغْرَقُونَ

Watrukil-baḥra rahwā(n), innahum jundum mugraqūn(a).

Biarkanlah laut itu terbelah. Sesungguhnya mereka adalah bala tentara yang akan ditenggelamkan.”

Ad-Dukhan · 25
﴿ 25 ﴾

كَمْ تَرَكُواْ مِن جَنَّـٰتٍ وَعُيُونٍ

Kam tarakū min jannātiw wa ‘uyūn(in).

Betapa banyak taman-taman dan mata-mata air yang mereka tinggalkan,

Ad-Dukhan · 26
﴿ 26 ﴾

وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ

Wa zurū‘iw wa maqāmin karīm(in).

kebun-kebun serta tempat-tempat kediaman yang indah,

Ad-Dukhan · 27
﴿ 27 ﴾

وَنَعْمَةٍ كَانُواْ فِيهَا فَـٰكِهِينَ

Wa na‘matin kānū fīhā fākihīn(a).

juga kesenangan-kesenangan yang dapat mereka nikmati di sana.

Ad-Dukhan · 28
﴿ 28 ﴾

كَذَٲلِكَ‌ۖ وَأَوْرَثْنَـٰهَا قَوْمًا ءَاخَرِينَ

Każālik(a), wa auraṡnāhā qauman ākharīn(a).

Demikianlah (Allah menyiksa mereka). Kami wariskan (semua) itu kepada kaum yang lain.

Ad-Dukhan · 29
﴿ 29 ﴾

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ ٱلسَّمَآءُ وَٱلْأَرْضُ وَمَا كَانُواْ مُنظَرِينَ

Famā bakat ‘alaihimus-samā'u wal-arḍ(u), wa mā kānū munẓarīn(a).

Langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu.

Ad-Dukhan · 30
﴿ 30 ﴾

وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِىٓ إِسْرَٲٓءِيلَ مِنَ ٱلْعَذَابِ ٱلْمُهِينِ

Wa laqad najjainā banī isrā'īla minal-‘ażābil-muhīn(i).

Sungguh, Kami benar-benar telah menyelamatkan Bani Israil dari siksaan yang menghinakan,

Ad-Dukhan · 31
﴿ 31 ﴾

مِن فِرْعَوْنَ‌ۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَالِيًا مِّنَ ٱلْمُسْرِفِينَ

Min fir‘aun(a), innahū kāna ‘āliyam minal-musrifīn(a).

(yaitu) dari (siksaan) Fir‘aun. Sesungguhnya dia adalah orang yang sombong lagi termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Ad-Dukhan · 32
﴿ 32 ﴾

وَلَقَدِ ٱخْتَرْنَـٰهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ

Wa laqadikhtarnāhum ‘alā ‘ilmin ‘alal-‘ālamīn(a).

Sungguh, dengan (dasar) pengetahuan, Kami pilih mereka di atas seluruh alam (semua bangsa pada masa itu).

Ad-Dukhan · 33
﴿ 33 ﴾

وَءَاتَيْنَـٰهُم مِّنَ ٱلْأَيَـٰتِ مَا فِيهِ بَلَـٰٓؤٌاْ مُّبِينٌ

Wa ātaināhum minal-āyāti mā fīhi balā'um mubīn(un).

Telah Kami berikan kepada mereka sebagian tanda-tanda (kebesaran Kami) sesuatu yang di dalamnya terdapat cobaan yang nyata.

Ad-Dukhan · 34
﴿ 34 ﴾

إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ لَيَقُولُونَ

Inna hā'ulā'i layaqūlūn(a).

Sesungguhnya mereka itu pasti akan berkata,

Ad-Dukhan · 35
﴿ 35 ﴾

إِنْ هِىَ إِلَّا مَوْتَتُنَا ٱلْأُولَىٰ وَمَا نَحْنُ بِمُنشَرِينَ

In hiya illā mautatunal-ūlā wa mā naḥnu bimunsyarīn(a).

“Tidak ada (kematian) selain kematian di dunia ini dan kami tidak akan dibangkitkan.

Ad-Dukhan · 36
﴿ 36 ﴾

فَأْتُواْ بِـَٔـابَآئِنَآ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ

Fa'tū bi'ābā'inā in kuntum ṣādiqīn(a).

Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu orang-orang yang benar.”

Ad-Dukhan · 37
﴿ 37 ﴾

أَهُمْ خَيْرٌ أَمْ قَوْمُ تُبَّعٍ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ‌ۚ أَهْلَكْنَـٰهُمْ‌ۖ إِنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ

Ahum khairun am qaumu tubba‘(in), wal-lażīna min qablihim, ahlaknāhum innahum kānū mujrimīn(a).

Apakah mereka yang lebih baik atau kaum Tubba‘ dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah para pendurhaka.

Ad-Dukhan · 38
﴿ 38 ﴾

وَمَا خَلَقْنَا ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَـٰعِبِينَ

Wa mā khalaqnas-samāwāti wal-arḍa wa mā bainahumā lā‘ibīn(a).

Tidaklah Kami ciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya secara main-main.

Ad-Dukhan · 39
﴿ 39 ﴾

مَا خَلَقْنَـٰهُمَآ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Mā khalaqnāhumā illā bil-ḥaqqi wa lākinna akṡarahum lā ya‘lamūn(a).

Tidaklah Kami ciptakan keduanya, kecuali dengan hak. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

Ad-Dukhan · 40
﴿ 40 ﴾

إِنَّ يَوْمَ ٱلْفَصْلِ مِيقَـٰتُهُمْ أَجْمَعِينَ

Inna yaumal-faṣli mīqātuhum ajma‘īn(a).

Sesungguhnya hari keputusan (hari Kiamat) itu adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya,

Ad-Dukhan · 41
﴿ 41 ﴾

يَوْمَ لَا يُغْنِى مَوْلًى عَن مَّوْلًى شَيْــًٔا وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ

Yauma lā yugnī maulan ‘am maulan syai'aw wa lā hum yunṣarūn(a).

(yaitu) hari (ketika) seorang teman setia sama sekali tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepada teman lainnya dan mereka tidak akan mendapat pertolongan,

Ad-Dukhan · 42
﴿ 42 ﴾

إِلَّا مَن رَّحِمَ ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ

Illā mar raḥimallāh(u), innahū huwal-‘azīzur-raḥīm(u).

kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Ad-Dukhan · 43
﴿ 43 ﴾

إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ

Inna syajarataz-zaqqūm(i).

Sesungguhnya pohon zaqum itu

Ad-Dukhan · 44
﴿ 44 ﴾

طَعَامُ ٱلْأَثِيمِ

Ṭa‘āmul-aṡīm(i).

adalah makanan orang yang bergelimang dosa.

Ad-Dukhan · 45
﴿ 45 ﴾

كَٱلْمُهْلِ يَغْلِى فِى ٱلْبُطُونِ

Kal-muhl(i), yaglī fil-buṭūn(i).

(Zaqum itu) seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut,

Ad-Dukhan · 46
﴿ 46 ﴾

كَغَلْىِ ٱلْحَمِيمِ

Kagalyil-ḥamīm(i).

seperti mendidihnya air yang sangat panas.

Ad-Dukhan · 47
﴿ 47 ﴾

خُذُوهُ فَٱعْتِلُوهُ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلْجَحِيمِ

Khużūhu fa‘‘tilūhu ilā sawā'il-jaḥīm(i).

Peganglah dia (wahai malaikat Zabaniyah), kemudian seretlah sampai ke tengah-tengah (neraka) Jahim.

Ad-Dukhan · 48
﴿ 48 ﴾

ثُمَّ صُبُّواْ فَوْقَ رَأْسِهِۦ مِنْ عَذَابِ ٱلْحَمِيمِ

Ṡumma ṣubbū fauqa ra'sihī min ‘azābil-ḥamīm(i).

Kemudian, tuangkanlah di atas kepalanya azab berupa air yang sangat panas.

Ad-Dukhan · 49
﴿ 49 ﴾

ذُقْ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْكَرِيمُ

Żuq, innaka antal-‘azīzul-karīm(u).

(Dikatakan kepadanya,) “Rasakanlah! Sesungguhnya engkau (dalam kehidupan dunia) benar-benar (merasa sebagai orang) yang perkasa lagi mulia.

Ad-Dukhan · 50
﴿ 50 ﴾

إِنَّ هَـٰذَا مَا كُنتُم بِهِۦ تَمْتَرُونَ

Inna hāżā mā kuntum bihī tamtarūn(a).

Sesungguhnya (azab) ini adalah sesuatu yang selalu kamu ragukan.”

Ad-Dukhan · 51
﴿ 51 ﴾

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ أَمِينٍ

Innal-muttaqīna fī maqāmin amīn(in).

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman,

Ad-Dukhan · 52
﴿ 52 ﴾

فِى جَنَّـٰتٍ وَعُيُونٍ

Fī jannātiw wa ‘uyūn(in).

(yaitu) di dalam taman-taman dan mata-mata air.

Ad-Dukhan · 53
﴿ 53 ﴾

يَلْبَسُونَ مِن سُندُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُّتَقَـٰبِلِينَ

Yalbasūna min sundusiw wa istabraqim mutaqābilīn(a).

Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal seraya (duduk) berhadapan.

Ad-Dukhan · 54
﴿ 54 ﴾

كَذَٲلِكَ وَزَوَّجْنَـٰهُم بِحُورٍ عِينٍ

Każālik(a), wa zawwajnāhum biḥūrin ‘īn(in).

Demikianlah (keadaan penghuni surga) dan Kami menjadikan mereka berpasangan dengan bidadari yang bermata elok.

Ad-Dukhan · 55
﴿ 55 ﴾

يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَـٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ

Yad‘ūna fīhā bikulli fākihatin āminīn(a).

Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram.

Ad-Dukhan · 56
﴿ 56 ﴾

لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلْمَوْتَ إِلَّا ٱلْمَوْتَةَ ٱلْأُولَىٰ‌ۖ وَوَقَـٰهُمْ عَذَابَ ٱلْجَحِيمِ

Lā yażūqūna fīhal-mauta illal-mautatal-ūlā, wa waqāhum ‘ażābal-jaḥīm(i).

Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya selain kematian pertama (di dunia). Allah melindungi mereka dari azab (neraka) Jahim

Ad-Dukhan · 57
﴿ 57 ﴾

فَضْلاً مِّن رَّبِّكَ‌ۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

Faḍlam mir rabbika żālika huwal-fauzul-‘aẓīm(u).

sebagai karunia dari Tuhanmu. Itulah kemenangan yang sangat agung.

Ad-Dukhan · 58
﴿ 58 ﴾

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَـٰهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Fa innamā yassarnāhu bilisānika la‘allahum yatażakkarūn(a).

Sesungguhnya Kami telah memudahkannya (Al-Qur’an) dengan bahasamu (Arab) supaya mereka mendapat pelajaran.

Ad-Dukhan · 59
﴿ 59 ﴾

فَٱرْتَقِبْ إِنَّهُم مُّرْتَقِبُونَ

Fartaqib innahum murtaqibūn(a).

Maka, tunggulah (kehancuran mereka)! Sesungguhnya mereka itu (juga sedang) menunggu.